Suratan Makna: 02/01/2013 - 03/01/2013

Hari Ke 19: Shaum Pertama

Posted by ridwan yahya Thursday, February 21, 2013 9 Comment/s

Hari Ke 19: Shaum Pertama

Setengah empat kurang kami dibangunkan oleh mereka yang sekarang adalah bagiannya untuk piket masak. Dan sekarang adalah hari pertama bagi kami untuk menjalankan ibadah shaum. Saat mereka bangunkan kami, masakan yang mereka buat telah siap untuk disajikan. Maka, saat itu juga kami langsung cuci muka kemudian santap sahur. Mengenai makanan sahur tersebut, sebenarya bukanlah orang piket yang masak, namun Ibu warga sini yang dengan baik hati berinisiatif untuk memasakkan sahur buat kami. Kesediaan beliau itu tidaklah diminta oleh siapa-siapa, namun —sekali lagi, insya Allah— atas inisiatif beliau sendirilah yang membuatkannya untuk kami.

Sebelum adzan shubuh berkumandang —alhamdulillah— semuanya telah selesai. Sebagian dari kami memilih baca qur’an untuk menunggu shubuh, sedangkan sebagian lagi ada juga yang tengah sibuk dengan laptopnya yang memutar lagu In Team berjudul kalimah cinta. Setelah tiga lagu dimainkan, barulah adzan shubuh berkumandang dan lagu pun dimatikan. Yang masih di kamar segera menyiapkan diri mereka untuk pergi ke Mushalla, ada yang masih di kamar mandi mengambil air wudlu, dan ada juga yang sudah duluan berada di Mushalla dari tadi. Geliat ramadlan di sini kami rasakan sangat berbeda dengan atmosfir di kampung kami masing-masing, ternyata di sini tampak lebih sepi dari apa yang kita perkirakan sebelumnya. Sungguh, mengingat ngingat seperti ini, kami pun jadi rindu akan suasana kampung sendiri, jadi ingin segera pulang. Namun, hadirnya kesan yang tercipta di sini juga tidak dapat kami pungkiri keberadaannya. Warga yang ramah, rukun, dan solid adalah nilai tersendiri yang membuat jempol kami mengacung buat mereka.

Hari ini kami kehilangan satu personel tim yang cukup diandalkan keberadaannya, Yohan harus pergi ke Surabaya memenuhi panggilan kantornya. Di sana dia akan tugas ramadlan selama satu minggu, lalu kembali lagi ke tempat KKN untuk hari-hari penutupannya. Dia berangkat pagi ini bersama motor kerjanya yang selalu ia bawa ke manapun, termasuk ke tempat KKN ini. Di sini, motor tersebut mesti banyak berurusan dengan jalanan yang kurang bersahabat, karena di sini rata-rata jalannya pada berlubang dan bebatuan semua, beda dengan medan di Surabaya yang mulus-mulus saja.

Pagi sekarang yang tepatnya berada di bulan ramadlan cukup berbeda dengan pagi di beberapa hari sebelumnya, kali ini kami tidak harus menunggu-nunggu sarapan pagi dimulai, dan apapun yang kami lakukan pada pagi-pagi ini bukanlah untuk menunggu sarapan pagi disajikan. Namun, justru pagi ini menjadi terasa lebih panjang waktunya jika digunakan untuk mengerjakan suatu proyek yang besar. Hal tersebut dikarenakan, waktu luang yang biasanya digunakan untuk menunggu sarapan pagi, kini tiada. Namun, sekarang waktu tersebut digantikan oleh waktu kerja yang panjang sampai menjelang siang.

Sebagaimana pagi sekarang, kami harus melanjutkan pekerjaan kami yang kemarin belum terselesaikan, yaitu mengecat Mushalla. Di sini kami mengkombinasikan dua warna antara putih dan hijau, putih ditempatkan untuk dinding dan langit-langit, sedangkan hijau untuk pagar kayu Mushalla. Pengecatan dilakukan secara bergantian, dikarenakan peralatan yang kurang mencukupi. Jika yang satu tengah mengecat, maka yang lainnya membersihkan tembok atau kayu yang hendak dicat dari kotoran yang dapat mempengaruhi warna cat. Proyek pengecatan ini memakan waktu yang cukup lama sekali, dimulai sejak pagi-pagi dan berakhir saat menjelang siang. Bahkan, setelah dzuhur pun pengecatan masih berlanjut, karena meskipun hanya sekedar Mushalla sederhana, bagian Mushalla yang perlu dicat cukup banyak sekali. Malah, kami beranggapan bahwa pengecatan ini juga akan berlanjut sampai besok hari. Dan ternyata memang benar, ketika pengecatan dihentikan saat ashar tiba maka terpaksa pengecatan akan dilanjutkan pada besok paginya. Namun, —alhamdulillah— selama beberapa hari mengecat kami tidak direpotkan oleh cuaca yang kurang bersahabat sebagaimana pada hari-hari sebelumnya yang sering diguyuri hujan. Sehingga, dengan cuaca yang baik ini pengecatan pun bisa berjalan dengan lancar dan tanpa ada hambatan.

Saat menjelang maghrib, Husairi tampak lebih aktif dalam menyiapkan hidangan berbuka bagi kami. Husairi memang bisa diandalkan, mungkin karena hubungannya yang baik dengan Ibu tetangga, kami pun bisa dapat kiriman untuk hidangan berbuka. Sehingga, dia yang memang bagiannya piket hari ini tidak harus repot-repot lagi menyiapkan makanan untuk kami. Cukup menyajikannya saja, sudah jadi. Sebenarnya bukanlah Husairi saja yang pergaulannya cukup baik dengan warga sini, Pa Che dan ketua kami Irsyad juga perlu diperhitungkan sebagai pembuka jalan hubungan yang baik bagi kami dengan warga sini. Memang, terkadang di antara kami ada yang susah ketika mesti bergaul dengan warga sekitar, oleh karena itu dengan adanya sosok-sosok seperti mereka ini sangatlah penting bagi kami demi mengangkat nama mahasiswa KKN secara keseluruhan.

Alhamdulillah, bersamaan dengan berkumandangnya adzan maghrib maka kami pun berbuka, es kelapa degan buatan Ibu memang ampuh untuk menghapus haus dan dahaga kami setelah seharian berpuasa. Meskipun sederhana, tapi kami cukup mensyukuri atas nikmat yang diberikan Allah melalui Ibu tetangga kami tersebut. Hanya karena kebaikannya yang tulus ikhlas itu saja kami menjadi senang dengan keluarga beliau, sehingga kami merasa tidak enak juga saat dibuatkan masakan olehnya. Mau menolak pemberian beliau yang seolah-olah terlalu memanjakan kami, takutnya akan menimbulkan suatu kesalahpahaman. Kami menjadi bingung, dan dengan kebingungan tersebut hanya menimbulkan sikap diam kami terhadap segala pemberian beliau.

Saat tarawih tiba, saya menjadi menyesal telah banyak menghabiskan makanan berat ketika ba’da maghrib tadi. Mengingat sekarang adalah waktunya bagi saya untuk mengimami shalat tarawih di Mushalla sini yang sudah penuh diisi oleh jama’ah ibu-ibu dan bapak-bapak, serta beberapa anak muda. Perut ini terasa begah karena terlalu kekenyangan. Andaikan tadinya saya merasa bakal seperti ini, kelak saya akan urungkan niat saya untuk makan sebelum isya seperti tadi. Namun,ternyata ketika saya tengah mengimami, begah itu tidak terlalu terasa oleh saya. Saya hanya fokus dengan shalat saya yang takutnya banyak menemui kekeliruan di dalamnya. Karena, saya sendiri baru pertama kali menjalani tugas sebagai imam tarawih seperti sekarang ini. Jadi, saya cukup hati-hati dengan setiap bacaan yang diucapkan. Awalnya saya agak gugup berdiri sebagai imam di depan orang-orang sekampung, tapi sedikit demi sedikit saya pun bisa tenang menghadapinya.

Setelah giliran saya mengimami tarawih, kini tugasnya teman saya untuk berceramah di depan jama’ah yang semuanya asli orang Jawa, sedangkan teman saya ini adalah orang sumatera yang canggung untuk berbahasa Jawa. Terpaksa, bagaimanapun juga yang penting dia berceramah meski menggunakan bahasa Indonesia yang bagi sebagian kecil warga kampung sini tidak memahaminya. Usai tarawih, kegiatan di Mushalla pada Hari Ke 19: Shaum Pertama ini pun tetap berlanjut dengan tadarrusan yang dibacakan oleh beberapa teman kami yang cukup konsisten untuk menghidupkan suasana Mushalla dengan cara tersebut. []

Hari Ke 18: Pengecatan Mushalla

Posted by ridwan yahya Tuesday, February 12, 2013 13 Comment/s


Ketua pos kami sedikit kecewa dengan keputusan pemerintah yang seakan-akan telah menggagalkan puasa pada hari hari ini, padahal semalam beliau bersama warga telah melaksanakan shalat tarawih dan syukuran menyambut bulan suci Ramadlan. Kekecewaan tersebut ia tampakkan saat bangun pagi pukul setengah empat tadi. Awalnya ia bersikukuh untuk tetap puasa pada hari ini meskipun pemerintah telah memutuskan puasa pada hari sabtu, tapi karena dia kurang dukungan dari yang lain maka dengan agak terpaksa dia pun tidak jadi sahur pada pagi itu. Sebenarnya terserah saja dia mau puasa kapan juga, jika mau puasa hari ini berarti ikut Muhammadiyah. Tapi, esensinya bukan masalah ikut siapanya, malah yang perlu dicamkan alasannya dia ikut Muhammadiyah atau pemerintah itu apa? jangan sampai hanya sekadar untuk ikut-ikutan saja, tanpa ada ilmu dan ijtihad sama sekali.

Menjelang shubuh tiba, lampu Mushalla telah dihidupkan sebagai langkah pertama untuk menarik jamaah melalui pancaran cahayanya. Namun, upaya tersebut tampak biasa saja, sehingga tidak ada cara lain bagi kami kecuali mengumandangkan adzan pada waktunya. Pada awal kedatangan kami di sini, Mushalla masih tampak sepi dari jamaah. Tapi, akhir-akhir ini —alhamdulillah— ada perkembangan meskipun dalam jumlah yang sedikit dan itu juga jamaah yang masih dalam lingkungan keluarga Pak Tarmin sendiri. 

Apalagi shubuh, dzuhur, dan ashar yang dahulu jamaahnya tidak ada yang mengisi selain dari kami, sekarang ada perkembangan. Pada waktu shalat shubuh, selain dari kami ada beberapa jamaah yang masih dari keluarga Pak Tarmin sendiri. Pada waktu shalat dzuhur, jumlah jamaah hampir sama dengan waktu shubuh. Dimulai dari Ashar ini, anak-anak TPA yang mengaji cukup meramaikan isi Mushalla dengan jumlah mereka yang cukup banyak. Saat maghrib dan isya, Mushalla diisi oleh keluarga Pak Tarmin dan sebagian anak TPA yang belum pulang. Tapi, karena sekarang musim Ramadlan, shalat isya di Mushalla menjadi penuh sekali. Dan jamaah yang membludak pada waktu tersebut, dikarenakan warga sekitar yang hendak menjalankan shalat tarawih berjamaah di sini. 

Saat shalat shubuh selesai Pak Tarmin dan jamaah perempuan tampak masih ada pada tempatnya guna mengikuti wirid, namun ketika kultum pagi disampaikan Pak Tarmin dan keluarganya membubarkan diri dari Mushalla. Sedangkan, kami berusaha untuk tetap istiqomah melangsungkan kultum setiap harinya sebelum bubar dari Mushalla. Namun, setelah kultum pun belum bisa bubar begitu saja, karena seringkali Pak Ketua mengadakan rapat koordinasi sebagai gambaran aktifitas pada hari ini. Dulu rapat tersebut berupa evaluasi terkait keberadaan kita di sini, namun akhir-akhir ini entah kenapa evaluasi diganti menjadi koordinasi yang di antara keduanya jelas-jelas sangat berbeda pengertiannya. Meskipun begitu, kami masih tetap berada dalam satu jalur kebersamaan melalui adanya rapat semacam itu.

Usai dari Mushalla, seperti biasa yang bagiannya piket sekarang adalah saatnya untuk menyibukkan diri mempersiapkan makanan buat kami sarapan pagi. Hari ini adalah hari terakhir bagi kami untuk makan pada pagi hari dan hari terakhir bagi kami untuk makan siang saat sebelum bulan suci Ramadlan datang. Meskipun begitu, makanan yang disajikan pada hari ini tetap saja sebagaimana biasanya, tidak ada yang istimewa. Mungkin, hanya sedikit tambahan lauk sisa makanan semalam yang membuat beda lauk pagi ini. Tapi, mau bagaimanapun juga, selayaknya kita tetap bersyukur meski suatu saat berada dalam keadaan yang kurang kita kehendaki sekalipun.

Usai makan tadi, pagi ini kami tidak terlalu disibukkan oleh suatu kegiatan apapun, apakah pergi ke ladang, ada proyek pengecoran, atau pergi silaturahmi ke rumah warga. Kegiatan kami hari ini cukup santai-santai saja, sedikitnya ada kerjaan pun hanya tadi saja menemani teman memperbaiki sound system Mushalla. Itu pun cuma nonton saja, soalnya saya memang tidak mengerti kalau masalah begituan. Jadi, mendingan diam saja, salah-salah bisa jadi saya malah kesetrum. 

Mengingat hari ini adalah hari jum’at, maka pukul sebelas kami hentikan aktifitas kami selain persiapan untuk shalat jum’at. Pada jam-jam sekitar itulah saatnya kamar mandi menjadi antrian bagi kami semua, namun tidak perlu memerlukan waktu yang lama karena setengah jam setelahnya kami pun berangkat menuju masjid yang jaraknya terbilang jauh. Sebagian dari kami ada juga yang numpang ikut Pak Tarmin yang memakai motor. Ada juga yang awalnya jalan kaki, tapi pas di tengah perjalanan ada warga yang baik hati kasih boncengan untuk dua orang di antara kami. Tapi, yang lebih malang lagi ada dari kami yang sepanjang perjalanannya ditempuh melalui jalan kaki saja, subhanAllah.

Meskipun saat kami berangkat jum’atan agak berceceran, tapi saat kepulangannya kami bersamaan dan ramai-ramai jalan kaki dengan beberapa warga lainnya yang tidak mengendarai motor. Sejam setelah tibanya kami di rumah, tiba-tiba di luar terdapat satu kardus alat-alat pengecatan yang terdiri dari cat tembok, cat kayu, kuas, dan lain-lain, namun entah siapa yang telah membawanya ke sini. Namun, yang jelas saat itu juga kami langsung berinisiatif untuk mengecat Mushalla, mengingat sudah lama kami berencana untuk mengecat Mushalla tersebut yang warnanya sudah banyak yang lusuh. Namun, sayangnya rencana kami itu selalu digagalkan oleh ketiadaan anggaran, dengan alasan bahwa dana yang bersumber dari sponsor belum cair. Tapi, sekarang —alhamdulillah— permintaan kami dijawab, meski agak terlambat ditanggapinya.

Ada waktu sejam setengah untuk mengecat sebelum ashar tiba, namun tampaknya mustahil sekali jika harus selesai dalam waktu yang sesingkat itu. Dan memang hal itu terbukti dengan hasil kerja yang hanya bisa menyelesaikan 30% dari keseluruhan persentase pekerjaan kami yang dilakukan sampai adzan ashar berkumandang. Ba’da asharnya, Pa Che bersama beberapa orang lainnya malah melanjutkan pengecetan di tengah aktifitas anak-anak mengaji. Tapi, hanya sekadar pengecatan ringan yang dilakukan pada pagar kayu bagian luarnya saja.

Di luar menjelang tibanya adzan isya berkumandang, terlihat banyak sekali warga yang berdatangan ke Mushalla, volume ini sangatlah berbeda dengan waktu-waktu shalat lainnya. Saya jadi sedikit menyangsikan jka Mushalla sesederhana ini mampu menampung banyaknya warga yang berdatangan. Bapak-bapak, pemuda, dan anak-anak ada semua di hari pertama tarawih ini, belum lagi ibu-ibu yang memadati sisi kanan Mushalla yang jumlahnya bisa mengisi penuh bagian tersebut. Ditambah juga dengan jama’ah yang datangnya terlambat, yang sudah pasti akan menempati bagian paling belakang yang dekat dengan pintu pagar. Jadi, semua bagian Mushalla terpadati penuh oleh jamaah shalat isya dan tarawih kali ini. Tapi, alhamdulillah sejumlah warga yang telah datang ke Mushalla, mampu ditampung dan dapat menjalankan shalatnya secara khusyuk. Usai tarawih, aktifitas Mushalla berlanjut pada tadarrusan yang berakhir pada pukul sembilan malam sekaligus mengakhiri Hari Ke 18: Pengecatan Mushalla ini. []

Hari Ke 17: Sebar al-Qur'an

Posted by ridwan yahya Friday, February 8, 2013 4 Comment/s

Hari Ke 17: Sebar al-Qur'an

Beberapa hari ini langit terlihat begitu mendung, pagi, siang, dan malam tidak ada hentinya menampakkan raut cakrawala yang kelabu. Pemandangan seperti ini tidak jauh lagi akan berujung pada turunnya hujan ke bumi Purwodadi secara berkala. Bagi siapapun yang mempunyai kepentingan untuk menjemur, hujan ini bisa menjadi sesuatu yang tidak diinginkan karena secara bersamaan sinar matahari yang dibutuhkan untuk cepat mengeringkan pakaian tidak bisa muncul. Ditambah lagi dengan kepentingan warga sini yang hendak pergi berladang, namun jalanan dihadang oleh arsiran hujan. 

Tapi, di sisi lain hujan sangat diharapkan sekali bagi warga yang butuh dengan kuota air yang cukup guna mengisi sumur dan bak-bak mandi mereka. Belum lagi tanaman-tanaman yang membutuhkan air hujan itu sendiri, dan hewan-hewan ternak yang juga perlu air untuk minum. Oleh karena itu, betapa semuanya berjalan seimbang dan penuh dengan perhitungan yang  tepat oleh yang menciptakan.

Pagi hari berjalan seperti biasanya, Umam dan Irsyad bertugas hari ini untuk piket kebersihan sekaligus masak. Pergerakan mereka cukup baik, mereka tidak terlalu disibukkan oleh persiapan makan pagi yang bagi mereka itu cukup memerlukan waktu yang tidak seberapa saja. Justru mereka cukup cekatan membersihkan semua bagian rumah mulai dari menyapu, mengepel, merapikan kursi, dan lain-lain. Kolaborasi pekerjaan antara Irsyad dan Umam ini dianggap yang terbaik di antara kami. Perpaduan daya kreatifitas yang dipunyai oleh keduanya cukup berperan dalam menciptakan situasi yang kondusif pada rumah pos satu ini.

Sambil menunggu masakan pagi siap, seperti biasa saya menyibukkan diri dengan netbook Acer saya. Sekarang tidak ada waktu untuk berkomunikasi dengan Aibara lagi, karena tampaknya kiriman pesan saya kurang diharapkan saat kesibukan selalu meliputi hari-harinya. Di samping itu, malas juga kudu jalan kaki ke tanjakan jalan yang dua tingkat tersebut, ditambah dengan hanya sekadar untuk menarik sinyal Indosat yang nyangkut-nyangkut di pohon kelapa. Lebih baik saya memantapkan tulisan saya yang sering tertunda oleh berbagai macam kegiatan di sini yang cukup menguras tenaga.

Cukup lama kami menunggu aksi Umam dan Irsyad di dapur, berharap pekerjaan mereka di sana bisa menciptakan karya yang memuaskan untuk kami. Dan akhirnya beberapa lama kemudian mereka menjawab kondisi kami dengan sarapan pagi buatan mereka berdua. Sarapan pagi tidak menyita waktu yang terlalu lama, tapi persiapannya lah yang membuat kami menunggu-nunggu. 

Usai sarapan pagi, semua bersiap-siap untuk sibuk dengan kegiatan masing-masing yang sudah ditentukan tadi pagi setelah kultum. Kali ini saya berencana untuk membagikan al-Qur’an ke Mushalla-Mushalla dan Masjid yang ada di sekitar Dusun Sumber Blimbing ini. Menurut salah satu jama’ah Masjid yang kami temui saat membagikan al-Qur’an, di sini terdapat tiga Mushalla dan satu Masjid yang tersebar dalam jarak yang agak berjauhan.

Operasi kami yang rencananya dijalankan saat pagi hari tersebut, justru tertunda karena situasi yang kurang kondusif. Dan akhirnya kami bisa jalan saat sore hari tiba. Sebelum itu, siang harinya Yasin minta ditemani keluar untuk mencari tukang cukur. Sebelum berangkat kami cukup direpotkan dengan kendaraan yang belum ada, rencananya mau pinjam ke Bapak tapi sayang motornya sedang dipakai ke ladang. Akhirnya, kami kembali ke rumah dan ternyata motor Yohan lagi nganggur. Tanpa pikir panjang lagi, Yasin pun meminjamnya. Pukul setengah dua kami meluncur membelah jalan kampung yang cukup basah habis disirami hujan. Saat di jalan, kami belum cukup yakin di mana tempat cukur tersebut berada. Maka, kami pun bertanya, tapi sayangnya kami bertanya ke satu orang yang masih membuat kami kebingungan. Sehingga, kami pun sempat bolak-balik di jalan raya Donomulyo yang kiri kanannya masih agak kosong dari bangunan.

Tidak lama setelah bolak-balik tadi, akhirnya kami menemukan tempat cukur juga. tempat cukur tersebut terletak di dekat gapura perbatasan antara Desa Purwodadi dengan Purworejo, tidak jauh dari sana terdapat warnet. Mengenai warnet, di Donomulyo sini sangat jarang sekali. Mungkin, hanya satu-dua saja yang jaraknya jauh dari tempat KKN kami. Termasuk tempat yang tengah kami singgahi sekarang ini, tempatnya benar-benar jauh dari pos I. Saat Yasin sedang gilirannya dicukur, rencananya saya mau menyempatkan diri ke warnet tapi dicegah sama dia, dan ternyata giliran dia dicukur memang tidak menghabiskan waktu yang lama. 

Dari tempat cukur, kami bertolak kembali pulang dan singgah dulu di pos empat. Pos ini terletak di sekitar perbatasan antara Desa Purwodadi dengan Desa Purworejo, yang dari sini juga dekat jika mau pergi ke pasar Donomulyo. Sesuai namanya, pos empat ini dihuni oleh empat orang, yaitu Amin, Sugiero alias Sugiono, Miftahuddin, dan Arshavin alias Munawwir. Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa pos empat ini merupakan pecahan dari pada pos tiga yang dihuni oleh orang kesekretariatan. Di pos empat ini terdapat sebuah Masjid yang bernama Eyang Soponyono, Soponyono ini sama halnya dengan “siapa nyana” yang berarti siapa kira atau siapa sangka. Lebih jauh lagi kenapa bisa disebut Soponyono, karena siapa sangka bahwa di daerah terpencil seperti ini ternyata ada seorang sosok yang terpandang, maksudnya Eyang Soponyono ini. 

Terkait Eyang Soponyono, sebelum tahun 1912 beliau adalah seorang pangeran dari kesultanan Yogyakarta yang mengasingkan diri ke Malang Selatan. Hal tersebut beliau lakukan guna menghindari pendudukan Belanda yang sarat dengan kekejaman terhadap daerah asal beliau waktu itu. Kini di lokasi itu berdiri Masjid dan tidak jauh dari Masjid tersebut terdapat bangunan berupa makam keluarga beliau yang berjumlah lima kuburan. Menurut penuturan salah seorang teman di sana, tempat tersebut sering ramai sekali dikunjungi oleh orang-orang dari berbagai daerah. Bahkan, orang-orang besar pun tidak luput dari daya tarik makam Eyang Soponyono ini. Termasuk, keluarga kesultanan Jogja yang juga pernah datang ke tempat tersebut. Apalagi, musim-musim sekarang yang sedang berdekatan dengan bulan Ramadlan, sudah pasti ramai dikunjungi.

Ba’da ashar, kami pun pulang dari pos empat menuju pos tiga. Di pos tiga, Yasin mempunyai kepentingan dengan ketua KKN untuk menarik kembali uang iuran KKN yang pernah ia bayar sebelumnya. Setelah percakapan yang cukup alot, akhirnya Yasin memenangkan haknya mendapatkan duit dari ketua KKN itu sejumlah empat ratus ribu. Setelah mendapatkan uangnya, lalu kami pergi meninggalkan pos tersebut dan pulang kembali menuju pos kami sendiri. 

Maghrib di tempat kami sekarang mendadak jadi ramai sekali, banyak bapak-bapak yang berkumpul di depan rumah Pak Tarmin guna melangsungkan acara syukuran penyambutan bulan suci Ramadlan. Dalam acara tersebut, sebagaimana pengajian warga lainnya banyak menyuguhkan makanan yang mustahil bagi kami untuk menghabiskannya dalam satu duduk. Sehingga, pada akhirnya makanan tersebut yang awalnya dimakan di tempat, malah dibawa pulang juga ke rumah masing-masing. Baru kali ini saya tahu ada acara syukuran, demi menyambut bulan suci Ramadlan dengan suguhan yang banyak sekali. Namun, bagaimana persiapan kita yang akan mengarungi lautan Ramadlan secara total dengan setiap amalan didalamnya yang dapat diterima oleh Allah SWT?

Usai acara tersebut, isya di Mushalla pun menjadi penuh dan berbeda dengan seperti biasa yang jamaah laki-lakinya hanya kami-kami saja. Hal ini dikarenakan setelah isya nanti di Mushalla tersebut akan dilaksanakan shalat tarawih berjamaah. Entah siapa yang memutuskan jika hari ini dimulai tarawih, apakah mungkin mereka ini bareng dengan Muhammadiyah, mau puasa besok? Karena pertanyaan tersebut hanya sebatas dalam hati, maka biarlah mereka tarawih ba’da isya. Sedangkan, saya memilih diam dan menunggu keputusan pemerintah yang waktu ini belum sah. Sebenarnya saya tidak diam juga, sebelum isya waktu itu saya berupaya melalui ketua pos kami agar mengkonfirmasi dulu, apa ikut Muhammadiyah atau Pemerintah? Kalau puasa besok, berarti ikut Muhammadiyah. Sedangkan pemerintah kemungkinan puasa di hari lusanya. Tapi, seolah-olah saja dia tahu segalanya tentang perkara ini dan menjawab bahwa kita ikut pemerintah dan pemerintah akan puasa besok. Saya bantah lagi, bahwa yang puasa besok itu Muhammadiyah, pemerintah belum ada keputusan karena sekarang masih sidang. Dia pun malah berpaling dan meninggalkan saya pergi. 

Baiklah, akhirnya hanya saya bersama Yasin yang tidak ikut tarawih pada Hari Ke 17: Sebar al-Qur'an ini, karena kami akan mengikuti pemerintah yang keputusannya belum bulat. Setelah tarawih selesai, kemudian saya pergi menuju rumah tetangga guna menonton siaran langsung sidang isbat yang menetapkan bahwa Ramadlan jatuh pada besok lusanya, Sabtu, 21 Juli 2012, bukan jum’at. Akhirnya, yang tarawih tadi mengurungkan niatnya untuk puasa hari jum’at, dan beralih pada hari sabtu. []

Hari Ke 16: Rizki yang Tak Terduga

Posted by ridwan yahya Thursday, February 7, 2013 3 Comment/s

Hari ke 16: Rizki yang Tak Terduga

Setengah empat di sini seakan sudah menjadi tradisi untuk bangun pagi, sampai meskipun tidak bangun pada jam tersebut setidaknya sudah ada yang membangunkan. Terkait yang susah dibangunkan, banyak alasan yang menyebabkan orang tersebut tidak langsung bangun. Mungkin kelelahan, tidur terlalu malam, atau alasan positif apa saja yang menghalanginya untuk bangun dini hari. Meskipun dini hari susah bangun, tapi shubuhnya tetap bangun untuk shalat. Kemungkinan waktu shalat shubuh tidak bangun itu sangat kecil, walaupun ada, sungguh keterlaluan sekali. 

Ba’da shubuhnya kami semua wirid, kemudian berlanjut ke kultum. Di kampus, kegiatan ba’da shubuh ini bukanlah kultum, tapi kajian kitab yang berbeda dengan kultum itu sendiri. Kajian kitab ini punya waktu yang lebih lama, bisa mencapai maksimal satu jam atau sekurang-kurangnya setengah jam saja. Dan yang mengisi bukan dari jajaran mahasiswa, namun para ustadz sendiri yang tinggal di sekitar kampus. Kajian tersebut bertempat di beberapa lokal yang terpisah menurut angkatannya masing-masing, bukan di Masjid yang sudah ada jadwalnya sendiri dan ditempati oleh kajian lainnya. Namun, dulu kajian kitab ini dilangsungkan di Mushalla, dan semua mahasiswa di tiap angkatan berkumpul di sana dalam satu ruangan yang sebenarnya kurang luas. 

Perubahan itu didasari terhadap efektifitas proses pembelajaran pada kajian kitab tersebut, mengingat tidak sedikit mahasiswa yang sudah semester sekian tapi kemampuan baca kitabnya masih kurang. Oleh karena itu, kajian kitab sekarang dipisah-pisah menurut semesternya. Sedangkan terkait kultum yang kami adakan  di sini menjadi pengganti dari pada rutinitas, dalam melangsungkan kajian kitab  yang ada di kampus pada setiap ba’da shubuhnya. Jika kami mengadakan kegiatan yang sama seperti kajian kitab di kampus, jujur di antara kami masih belum ada yang cukup expert untuk memimpin kajian di depan teman-temannya yang lain.

Usai kultum pagi, saya, Zakir, dan Yohan langsung pamit mengundurkan diri dari Mushalla. Sebenarnya, setelah kultum masih ada rapat koordinasi. Tapi, seolah-olah kami telah mengetahui apa yang akan diinstruksikan ketua, maka kami pun langsung menuju rumah untuk menyiapkan makan pagi. Karena, instruksi bagi yang piket pada setiap harinya sama saja, selain piket bersih-bersih dan masak kami dicukupkan untuk tinggal menjaga rumah saja. Sedangkan, yang lain mesti aktif menyebar keluar rumah dan mesti berinteraksi dengan warga-warga sekitar.

Usai makan pagi, waktu itu selain kami bertiga sebagian ada yang sibuk ke Balai Desa, karena kebetulan hari ini diadakan acara pengobatan gratis dan bazar murah yang kami adakan di tempat tersebut. Dalam pelaksanaannya, kami bekerja sama dengan Politeknik Malang yang kebetulan mengadakan acara serupa dalam waktu yang bersamaan dengan kami. Namun, yang menjadi alasan mereka bergabung dengan kami adalah pihak Politeknik belum mengantongi perijinan dari Desa dan Kabupaten, sedangkan kami sudah. Tapi, mereka sudah mempersiapkan tim medis lengkap dengan barang-barang pengobatan lainnya yang kami belum cukup matang untuk itu. Jadi, di antara kami mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing dan peranan untuk saling melengkapi satu sama lain, sehingga acara pengobatan gratis pun bisa berjalan dengan lancar. 

Di sudut lain dari Balai Desa ada bazar murah yang dikelola oleh kami sendiri, yang terlepas dari kerja sama dengan Politeknik seperti pada acara pengobatan gratis tadi. Menurut penuturan seorang teman yang ada di TKP, banyak warga yang sangat antusias terhadap acara tersebut. Hal itu dikarenakan harga rata-rata yang dipatok pada barang-barang yang dijajakan terbilang sangat menghebohkan warga. Maka dari itu, banyak juga warga yang berebut menginginkan barang yang sama. Akibatnya, teman saya yang bertugas melayani pelanggan yang membludak itu pun kebingungan untuk mengurusinya. 

Meskipun pembeli terbilang banyak, tetap saja masih ada pakaian yang tersisa. Tapi, sisanya tersebut kami serahkan semuanya ke pihak Desa yang mungkin lebih tahu siapa yang membutuhkan pakaian-pakaian tersebut. Jadi, anggap saja pakaian-pakaian tersebut telah habis tidak tersisa. Namun, ada saja insiden yang hampir menjadi perselisihan serius di antara kami pada acara tersebut. Sejumlah pakaian yang telah dipesan sengaja disimpan rapi di bawah meja dagangan, tapi seorang teman yang karena ketidaktahuannya malah menjual baju-baju tersebut begitu saja. Akhirnya, orang tersebut menjadi sasaran makian teman-teman lainnya yang butuh sekali dengan pakaian tersebut. sempat, baju-baju itu diminta lagi dari pembelinya tapi pembeli tersebut enggan mengembalikan lagi.Terlepas dari ketegangan di atas, masih ada lagi kesalahpahaman lainnya yang menampakkan acara tersebut kurang terkoordinir. Tapi bagaimanapun juga kami tetap mengapresiasi terselenggaranya acara tersebut yang cukup membantu warga untuk memenuhi sedikit kebutuhannya.

Di tempat lain, kami yang bertugas piket masak sedikit kebingungan hendak masak apa siang itu. Tapi, ternyata Irma datang ke dapur kami seolah-olah dia tahu jawaban tepat atas semua kebingungan kami bertiga. Siang itu dia membawa sejumlah lauk yang mantap sekali untuk kami santap, kebetulan karena sebagian dari kami ada yang masih di Balai Desa, jadi lauk itu pun sangat cukup sekali buat kami semua yang ada di rumah. Memang, keluarga Irma ini baik sekali kepada kami, kami pikir hampir setiap hari keluarganya mengantar makanan buat kami. Kalau bukan makanan berat, camilan yang datang, atau lauk pauk yang rasanya enak sekali juga diantarnya secara tidak terduga. Subhanallah.

Siang menjelang asharnya kami didatangi lagi oleh dua orang dari Balai Desa, kedatangan mereka ini bukan untuk mengantarkan makanan buat kami. Tapi, satu dari dua orang ini adalah teman saya dari pos lain yang mengantar satunya lagi yang merupakan dosen kami dari Surabaya. Kedatangan beliau ke sini sebagai kunjungan rutin dosen STAIL ke lokasi KKN yang dilakukan setiap minggu, pada setiap pekan tersebut beliau bergantian dengan dosen lainnya guna memantau perkembangan  kegiatan yang ada di sini. Sebelum Ashar, beliau kembali lagi ke pos tiga saat hujan siang itu mulai reda.

Sore hari kami kembali dikirimi oleh keluarganya Irma setoples besar keripik singkong yang gurih sekali. Lagi-lagi kedatangannya tidak diduga-duga oleh kami sebelumnya, sungguh tidak nyana. Rizki memang tidak ke mana, apalagi hari ini rizki tersebut datang begitu saja dan tidak diduga sebelumnya. Namun, hal ini jangan sampai membuat kita menjadi sosok yang terlalu bergantung pada uluran tangan tetangga yang sering memberi kita santunan tersebut, contohnya meskipun tetangga sering memberi lauk untuk kita makan, tapi di dapur kompor kita sendiri harus tetap mengepul. Karena, datangnya pemberian itu tidak pada waktu yang ditentukan. 

Demikianlah Hari ke 16: Rizki yang Tak Terduga, semoga bermanfaat. []

Hari Ke 15: Petik Pucuk Tembakau

Posted by ridwan yahya Wednesday, February 6, 2013 11 Comment/s

Hari Ke 15: Petik Pucuk Tembakau
Ilustrasi

Terkait hari ini kami terbilang cukup bebas beraktifitas, tapi bagaimanapun juga semestinya kami tidak tinggal diam saja meski dalam keadaan seperti ini. Seperti biasa kami bisa jalan-jalan di sekitar area pedusunan, singgah-singgah di rumah warga atau ke ladangnya juga. Aktifitas tersebut kami lakukan setelah sarapan pagi selesai semua, memastikan dahulu siapa yang keluar rumah dan siapa yang tinggal di rumah yang mesti piket kebersihan dan masak. 

Bagi teman-teman yang tugas masak pagi, mereka mesti pagi-pagi menanak nasi agar sarapan bisa dilaksanakan sesegera mungkin. Makanya, kalau bisa nasi sudah dimasak sebelum shalat shubuh, karena kegiatan shalat shubuh di Mushalla berlanjut ke wirid pagi dan kultum, belum lagi rapat koordinasi yang semuanya itu membutuhkan waktu sampai jam lima lebih dua puluh menit. Jika pada jam tersebut nasi masih baru dimasak, maka tunggu saja 90 menit ke depan nasi tersebut baru bisa diangkat. Sedangkan lauknya tidaklah memakan waktu yang terlalu lama, karena dari sembilah puluh menit yang ada cukup tujuh puluh persen dari waktu tersebut lauk pun sudah bisa disiapkan. 

Tapi, ada juga yang bagiannya piket masak ini lebih memilih untuk masak nasi goreng buat sarapan paginya, dengan alasan nasi semalam masih ada sisanya. Pemilihan nasi goreng sebagai menu sarapan pagi ini hanya memerlukan waktu kurang lebih tiga puluh menit saja, tidak seperti menyajikan menu biasanya yang menyita waktu cukup lama. Namun, yang pasti penyajian menu nasi goreng di pagi hari jangan sampai setiap hari. Karena, mungkin dapat menyebabkan berbagai resiko yang tidak diinginkan. Oleh karena itu, kami sudah mengusahakan untuk tidak mengkonsumsinya terlalu sering.

Hari ini yang bertugas piket masak adalah bagiannya Marhalim, Pa Che, dan Husairi. Kebetulan tadi pagi mereka menyajikan menu nasi goreng yang tidak terlalu memakan waktu terlalu lama, hanya cukup memasak satu macam lauk saja sebagai tambahannya masakan pun jadi. Pukul tujuh pagi sarapan sudah selesai, saatnya bersiap-siap memenuhi ajakan Ibu tetangga untuk pergi ke ladang tembakau yang luasnya sejauh mata memandang. Sebelumnya kami sudah pernah diajak ke ladang miliknya yang lain, dan baru kali ini kami terjun langsung ke ladang tembakaunya yang beberapa minggu lagi akan dipanen.

Selama di ladang tembakau, kami membantu beliau untuk mencabuti pucuk terakhir yang tumbuh di setiap tanamannya. Menurut Ibu, Hal ini dianjurkan supaya tembakau tersebut cepat dipanen. Dari sekian banyaknya tembakau yang tumbuh, banyak sekali pucuk yang belum kena cabut. Sehingga kerja kami pagi itu harus lebih keras lagi, mencabuti pucuk sebanyak mungkin sampai tidak ada yang terlewatkan oleh kami. Di tengah pekerjaan, Ibu berinisiatif menawari kami degan miliknya, lalu disuruhnya Rauf agar memanjat pohon yang ada di sekitar ladang tembakaunya. Sayang, dari beberapa kelapa yang dipetik semuanya hanya kelapa cengkir saja yang didapat. 

Selain memotongi pucuk tembakau, kami juga membantu untuk memunguti daun-daun yang mati kekeringan. Kerja ini juga tidak kalah lamanya seperti memotongi pucuk tembakau tadi, sampai saya sendiri yang sedang memakai kaos hitam sangat terasa panasnya sinar matahari pagi yang menjelang siang tersebut. Setelah beberapa lama kemudian, akhirnya kami pun pulang ke rumah. Ada waktu sejam setengah sebelum dzuhur datang, maka kami pun singgah dulu di rumah Ibu sambil menikmati fasilitas di dalamnya. Lumayan, bisa nonton TV. Lagian, sudah lama dan jarang-jarang juga saya nonton TV. Bola yang menjadi program siaran favorit saya saja hampir nggak pernah ditonton lagi, apalagi yang lain. Mumpung sekarang lagi ada kesempatan, jadi dimanfaatin saja. Tapi, bagaimanapun juga sebelum dzuhur kami mesti balik ke rumah untuk persiapan shalat dzuhur.

Ba’da dzuhur, makanan pun telah siap untuk disantap. Kali ini, Husairi yang tadi ditinggal sendiri oleh rekan piketnya dibantu oleh Nur dan Ibunya masak di dapur. Otomatis masakan yang kami santap rasanya enak sekali, dan racikan bumbu yang dituangkan benar-benar terasa. Beda dengan bumbu yang biasa dibuat yang terkesan kurang jelas rasanya. 

Sehabis makan, siang itu saya habiskan dengan menulis. Namun, seperti biasa sejam sebelum ashar tiba saya sempatkan untuk tidur siang membalas aktifitas di ladang tadi pagi yang cukup melelahkan. Namun, saat ashar tiba saya tidak langsung bangun begitu saja, mesti ada yang membangunkan. Memang, sedikit susah jika saya tidak dibangunkan oleh orang lain. Saat keluar menuju kamar mandi saya sedikit malu jika terlihat oleh orang luar, karena raut muka yang baru bangun tidur dan mata yang masih bengkak-bengkak tampak jelas jika tersorot oleh cahaya luar rumah. Maka, saya pun berjalan dengan terburu-buru berharap tidak ada orang yang melihat saya. Sesampainya di belakang rumah, kondisi sudah aman.

Ba’da ashar tampak banyak sekali anak-anak yang hendak mengaji, namun tenaga pengajar yang biasa menangani anak-anak tersebut kini sedang banyak urusan di luar. Mau tidak mau saya mesti menemani teman saya yang sendirian ngajar itu, sebenarnya dia tidak sendirian juga karena ada Nur yang biasa mengajar di Mushalla itu. Tapi, yang benar saja mereka mengajar berduaan seperti itu, nggak genah. Maka dari itu, saya bantu mereka juga untuk mengurusi anak-anak mengaji di Mushalla.

Sebagaimana biasa, jam lima lewat anak-anak baru bisa bubar. Kebanyakan dari mereka pada pulang ke rumahnya, tapi sebagian ada juga yang masih tinggal di Mushalla. Karena, mereka yang tinggal ini akan les belajar pada usai maghrib nanti. Tidak diduga, usai maghrib kami diajak Pak Tarmin ke acara syukuran yang diadakan oleh tetangga sebelah. Sedangkan, yang mengurus anak-anak les kembali diambil alih oleh teman saya yang biasa mengajari mereka. Katanya, syukuran itu diadakan dalam rangka mensyukuri sepeda motor yang baru dibeli oleh yang punya hajat. Acara tersebut singkat saja, sehingga sebelum isya tiba acara sudah selesai. Dari acara tersebut banyak sekali makanan yang disuguhkan, sampai-sampai kami merasa tidak sanggup jika harus menghabiskan makanan tersebut di tempat. Jadi, kami membungkusnya saja lalu dibagikan di rumah, karena kebetulan rumah lagi ramai oleh anak-anak yang les tadi.

Menjelang isya di Hari Ke 15: Petik Pucuk Tembakau ini tiba, tidak disangka Abang semester datang bertamu ke Pos kami. Bang Beni, mahasiswa semester akhir bersama temannya yang belum saya kenali itu menyempatkan diri singgah ke tempat kami. Kebetulan, bang Beni ini adalah orang asli Malang Selatan juga yang lagi libur dari kuliahnya. Tapi, Ramadlan nanti beliau akan kembali ke Surabaya guna menjalankan tugas Ramadlan yang diterimanya dari STAIL. Ba’da isya beliau pamit, karena khawatir beliau akan kemalaman di jalan. []

Gambar: http://www.antarafoto.com/bisnis/v1343184001/buruh-petik-tembakau

Hari Ke 14: Pergelaran Tabligh Akbar

Posted by ridwan yahya Tuesday, February 5, 2013 2 Comment/s

Hari Ke 14: Pergelaran Tabligh Akbar
Ilustrasi
Jika hari kemarin sibuk dengan acara pengajian, sekarang saya harus banyak berurusan dengan kamar mandi. Akibat dari semalam yang terlalu kebanyakan makan, maka sekarang saya merasakan konsekuensinya. Betapa perut ini tidak enak sekali rasa-rasanya, mungkin inilah yang dinamakan dengan begah. Pagi ini saja saya sudah beberapa kali pergi buang air besar, baru sejam setengah tadi buang air sekarang malah pergi buang air lagi. Tahu begini, saya jadi menyesal telah makan cukup banyak di pengajian-pengajian kemarin itu. 

Padahal jam delapan nanti kami akan dijemput oleh mobil pick up yang mengantar kami ke tempat acara Tabligh Akbar yang akan diselenggarakan nanti malam. Pagi ini kami hanya akan membantu mempersiapkan acara tersebut, bersama teman-teman Pos lainnya yang juga bergabung dengan kami. Sebelum berangkat saya pastikan diri saya siap untuk kerja bakti di sana, maka dari itu saya juga meyakinkan jika perut saya baik-baik saja selama berada di Pos lima tempat acara diselenggarakan tersebut.

Ketika mobil datang, hanya kami bertiga saja yang diangkut, yaitu saya, Zakir, dan Basirun. Sedangkan, yang lainnya telah pergi duluan, ada yang dengan motor berdua, bahkan ada juga yang jalan kaki menempuh jarak kurang lebih satu kilometer dari sini ke tempat tersebut. Dan beberapa orang saja yang tinggal di rumah yaitu mereka yang lagi tugas piket kebersihan dan masak. 

Tiba di tempat, kami langsung gabung bersama teman-teman dari Pos lain dan warga sekitar untuk berkoordinasi menyetting tempat acara sebaik mungkin. Panggung minimalis yang juga merupakan mimbar tempat penceramah tampil, terletak di depan masjid. Dikarenakan tanah kosong yang tersedia kurang luas, maka lahan yang biasanya digunakan untuk tanaman kami sulap menjadi tempat duduk bagi para tamu. Begitupun juga dengan teras rumah warga di sekitar lokasi, yang kami jadikan sebagai tempat lesehannya. Tidak lupa juga dengan tempat parkir yang ditempatkan persis di bahu jalan yang cukup lebar untuk menampung motor dan mobil yang parkir. 

Ada sekitar tiga jam, waktu yang kami habiskan untuk gotong royong tersebut, dan sekarang saatnya kami pulang ke pos masing-masing dengan satu tumpangan yang sama yaitu mobil pick up. Dari Pos lima, awalnya teman-teman minta pergi ke Sumber Blimbing dulu, katanya pengen keliling dulu ke Pos I kami. Jika seandaikan mau ke Sumber Blimbing dulu, maka mobil harus diputar balik. Dan bagaimanapun juga sopir yang lebih tahu, oleh karena itu mobil pun lurus saja searah dengan posisi parkirannya. Jadi, kami pun pergi menuju Pos dua dulu yang tempatnya cukup jauh ke pedalaman. Selanjutnya kami menuju ke Pos tiga yang tempatnya cukup strategis untuk menjangkau posko lainnya, tapi tetap jauh-jauh juga. Tidak usah berhenti terlalu lama, setelah mereka turun,  mobil pun kembali melaju menuju pos selanjutnya yaitu Pos empat. Pos empat ini adalah pos pecahan dari pada Pos tiga, begitupun juga dengan Pos lima yang merupakan pecahan dari pada Pos dua. Jadi awalnya KKN kami ini berjumlah tiga Posko saja, tapi dikarenakan Desa Purwodadi ini cukup luas, maka pergerakan kami pun lebih ekspansif lagi dengan pembentukan Pos yang baru. 

Dari Pos empat, mobil terus melaju menuju jalan raya Donomulyo untuk singgah sebentar di sebuah bengkel mobil. Dari sana, barulah mobil kembali ke jalanan utama Desa Purwodadi dan melewati lagi Posko-Posko yang tadi telah disinggahi termasuk Pos lima tempat kami kerja bakti tadi. Terhitung satu jam lamanya kami berada di atas mobil, selama itu juga kami cukup kepayahan menghadapi panasnya matahari siang yang lumayan panas, ditambah mobil yang kami tumpangi tersebut melaju dengan performa yang kurang baik. Namun, dari pada itu semua kami cukup menikmati perjalanan pulang tersebut. Baru kali itu saya bisa berkeliling desa yang sarat dengan kesan dan siratan makna yang terkandung di dalamnya. Betapa tidak, seolah-olah saya, Rauf, dan Basirun tengah berlomba menyapa orang-orang yang kami lewati dari atas mobil reot itu. Yang di ladang, di depan rumah, dan di jalanan tidak luput dari kami yang hanya mengandalkan kata “monggo” saja ketika menyapa orang-orang tersebut. Meskipun begitu, setiap mereka yang kami sapa tampak senang juga.

Ba’da dzuhur kami tiba di rumah, kemudian ke kamar mandi mengambil wudlu lalu shalat. Di sudut lain, makan siang sudah menunggu kami. Maka, ketika shalat telah selesai kami langsung menyerbu dapur. Perjalanan yang lama tadi cukup menguras perut saya, sehingga betapa lahapnya kami menyantap makanan itu. Usai makan, saya pun beranjak menuju kamar untuk bergelut dengan tulisan yang baru. Sebelum Ashar tiba, saya tutup aktifitas siang ini dengan tidur lelap sampai adzan dikumandangkan.

Seperti biasa, ba’da Ashar geliat aktifitas sore hari diramaikan oleh anak-anak TPA yang mengaji di Mushalla. Namun, kali ini yang mengajar cukup satu orang saja, mengingat banyak dari kami yang tengah bersiap-siap pergi menuju acara Tabligh Akbar yang kami selenggarakan di Pos lima. Namun, sampai Maghrib usai mobil yang dijanjikan akan menjemput kami belum datang juga. Tapi, tidak lama kemudian mobil yang ditunggu-tunggu pun datang juga. Bersama kami ada beberapa warga yang ikut ke pengajian tersebut, termasuk mbah Supi yang pernah saya ceritakan kemarin. Meskipun sudah termasuk sepuh, namun beliau masih cukup bugar untuk menghadiri pengajian-pengajian seperti ini. Mengingat di kampugnya saja, saya sering lihat beliau juga yang selalu hadir di tiap acara yang warga selenggarakan.

Tiba di tempat, adzan Isya tengah dikumandangkan oleh seorang teman kami yang asli Papua. Suaranya begitu bagus sekali, sempat saya kira bahwa suara adzan tersebut bersumber dari music player yang diputar. Tapi, setelah saya dengar dengan seksama, ternyata suara adzan itu adalah suara dia, tidak nyana. Selang satu jam kemudian, barulah acara pun bisa dimulai. Dimulai dengan sambutan dari ketua Takmir Masjid setempat, kemudian sambutan dari Kepala Desa, Pak Suyono yang saat penyambutan kami beliau tidak hadir karena ada urusan di luar. Kemudian dilanjutkan ke acara inti yaitu Mau’idzah-hasanah yang disampaikan oleh Ust. Ahmad Najib yang didatangkan dari Kota Malang. Selama satu jam lebih beliau tampil di panggung, menggugah semua jamaah yang datang dari berbagai dusun sekitar desa Purwodadi.

Pukul sepuluh lebih acara pun selesai, semua warga berhamburan membubarkan diri dari tempat acara menuju jalan utama. Kontan jalanan pun jadi ramai, namun tidak menyebabkan kemacetan sama sekali. Di tempat lain, kami masih harus beres-beres dan mempreteli semua atribut-atribut tempat acara yang digelar secepat mungkin. Panggung, tenda, kursi-kursi dan yang lainnya mesti kami bereskan malam itu juga, mumpung semuanya masih kumpul jadi kami tidak menunda-nundanya lagi.

Tapi, karena tadi kami datang satu mobil bersama warga, maka kami pamit duluan. Di tengah jalan gerimis mulai turun, namun tidak terlalu membasahi kami yang lagi menumpang mobil terbuka. Setibanya di rumah gerimis tetap saja masih gerimis, entah kapan dikonversikan menjadi hujan yang lebat, yang penting kami sudah tiba di rumah dan sekarang saatnya untuk langsung tidur saja dan menyudahi Hari Ke 14: Pergelaran Tabligh Akbar ini. []
Gambar: http://www.solopos.com/2011/08/15/tabligh-akbar-3-111457

Hari Ke 13: Terkagum Aksi Vokal Seekor Burung

Posted by ridwan yahya Monday, February 4, 2013 0 Comment/s

Ilustrasi
Saya tidak menyangka jika hari ini akan sibuk sekali, hal ini bukan karena saya tidak mengetahui adanya agenda yang sudah ada, namun saya sedikit menganggap enteng terhadap acara-acara yang saya ikuti tersebut. Sehingga, saat di tengah acara yang lagi berlangsung baru saya sadari ketidaksiapan saya tersebut untuk mengikutinya. Kesibukan yang sejatinya mengaitkan ketahanan fisik dan mental, namun kali ini justru malah melibatkan perut juga yang harus tahan digempur bertubi-tubi oleh berbagai makanan yang disajikan pada setiap acara yang diikuti. 

Acara-acara kegiatan hari ini yang terbilang belum siap untuk diikuti tersebut berawal dari pagi hari yang biasanya ada kegiatan, namun pagi ini kami terasa kosong. Tidak seperti kemarin-kemarin yang setiap pagi setelah sarapan selalu ada kerjaan di luar, semacam di ladang atau kerja bakti bersama warga sekitar. Pagi ini kami sangat terbuai oleh agenda yang kosong seperti ini, ketiadaan informasi dari wakil ketua yang sekiranya ada sesuatu yang mesti kami kerjakan menjadi alasan kuat kami terkait jam pagi yang kosong tersebut. Hanya saja pagi itu saya bersama Zakir berinisiatif pergi bersilaturahmi ke daerah warga, apa di ladangnya ataupun cuma di rumahnya saja. Maksud kami supaya pagi itu tidak terlalu kosong untuk dilewatkan. Sebenarnya, bagi saya pribadi kekosongan ini masih bisa saja ditambal oleh kegiatan saya sendiri, saya bisa menenggelamkan diri pada cerita harian yang saya tulis. Namun, karena hal itu tercium agak egosentris maka lebih baik saya pergi bersilaturahmi ke ladang warga bersama Zakir menyusul Yohan dan Husairi yang sudah duluan pergi. 

Saat di tengah perjalanan menuju ladang kami melihat mbah Supi yang tengah santai di depan rumahnya, melihat beliau kami pun langsung menyapanya. Sapaan yang maksudnya hanya sekadar menyapa saja itu beliau balas dengan ajakannya agar kami singgah dulu. Baiklah, tidak ada salahnya kami mengobrol-ngobrol bareng beliau. Di depan rumah beliau kami ngomong ngaloer ngidul, dan ada setengah jam lebih kami habiskan waktu di tempat tersebut. Dalam obrolannya secara total kami berdua menggunakan bahasa Indonesia, namun beliau yang biasa berbahasa Jawa malah agak memaksakan diri untuk berbahasa Indonesia juga. Memang, bagusnya harus seperti itu biar obrolan kami dapat dimengerti oleh satu sama lainnya. Bersamaan dengan kicauan burung yang tergantung bersama sangkarnya di depan rumah, kami terus saja mengobrol meski tidak mengerti dengan bahasa jawa beliau yang sesekali keluar.

Sesekali juga saya melirik anggunnya burung yang aktif bergerak di dalam sangkarnya yang sempit, kami juga ditakjubkan oleh aksi vocal burung tersebut yang lihai memainkan berbagai suara. Entah burung apa namanya itu, yang jelas kehebatannya itu bisa menyerupai nada suara tokek dan suara-suara lain yang tidak saya ketahui. Bersama Zakir, saya terkagum-kagum dengan burung tersebut sampai-sampai lupa bahwa kami tengah berbincang-bincang dengan mbah Supi. Di sebelah burung tersebut, ada burung sejenis yang lebih muda dengan bulu-bulunya yang masih acak-acakan. Burung ini belum bisa menyerupai lihainya burung yang dewasa dalam memainkan berbagai macam suara kayak tadi, hanya suara kicauan anak burung saja.

Tidak lama setelah suguhan mengagumkan itu, kami pun pamit meninggalkan kediaman mbah Supi. Kemudian, selanjutnya kami memutuskan untuk balik saja ke rumah. Di tengah perjalanan sebelum ke rumah, kami merubah niat dan menuju rumah tetangga yang sering kami singgahi ladangnya. Di rumah tersebut, bukan suguhan macam-macam yang kami dapati namun di sana kami enjoy menonton TV. Sebelum dzuhur tiba, barulah kami balik ke rumah menyiapkan diri untuk shalat berjamaah di Mushalla karo rencang-rencang. 

Kesibukan saya hari ini dimulai saat ba’da dzuhur, waktu itu kami diundang khataman oleh sebuah rumah yang berada tidak jauh dari tempat kami. Sebelumnya saya sendiri belum tahu khataman itu seperti apa, jadi baru kali ini saya tahu setelah mengikuti acara tersebut.  Pada khataman ini kami seolah-olah dianggap sebagai tamu kehormatan oleh sang tuan rumah, karena selain kami hanya ada Pak Tarmin, Pak Darkoun, dan saudaranya Pak Tarmin saja yang mengikuti khataman tersebut. Jalan acaranya adalah pertama Juz satu sampai tiga puluh ditulis berurutan, kemudian setiap orang melingkari satu nomor juz dari ketiga puluh tersebut. Kemudian, nomor yang dilingkari tersebut dibaca oleh orang yang melingkarinya. Setiap satu juz yang selesai dibaca, maka beralih ke juz lainnya yang belum dilingkari nomornya di kertas yang disediakan tadi. Begitulah seterusnya, sampai semua juz terbaca. Dan salah satu dari kami membacanya menggunakan pengeras suara yang menghadap ke jalanan.

Sebelum khataman usai, kami disuguhi makanan yang banyak sekali oleh tuan rumah. Sehabis makan-makan, kami juga masih dibungkusi makanan sebanyak tiga tingkat, yang pertama makanan besar, kedua makanan ringan, ketiga makanan besar tapi dalam porsi yang lebih kecil. Usai dibungkusi itu, barulah kami bisa meninggalkan tempat yang cukup royal tersebut. 

Acara kedua diselenggarakan sebelum Isya, yang ini pengajian biasa namun suguhannya sama luar biasanya dengan acara tadi siang. Di tengah acara kami disuguhi makan dan sebelum pamitan juga dibungkusi makanan lagi. Dipikir-pikir makanan tadi siang saja masih ada, sekarang siapa yang mau menghabiskan makanan yang baru didapat ini? Masing-masing teman ada, kasih ke tetangga semuanya pada ikut acara juga. Baiklah, akan saya simpan buat besok dan tinggal dihangatkan saja nanti. Pulang dari pengajian itu langsung kami shalat Isya, tidak lama setelah shalat kami diajak oleh Pak Tarmin menghadiri ngaji lagi di rumah warganya. Suguhannya sama, makanan yang banyak telah disediakan bagi kami. Ada makanan besar yang dimakan di tempat, lalu ada juga makanan yang dibungkus dan dibawa pulang. 

Dengan tiga bungkus makanan yang ada, saya menjadi sedikit kebingungan bagaimana menghabiskannya. Selain dibesokkan, makanan ini juga dicampur dengan yang lain. Jadi, yang bagian piket tidak usah capek-capek masak, cukup menghangatkan saja makanan yang sudah ada tersebut. Setelah pulang dari pengajian yang ketiga ini, mata saya sudah terlalu lelah untuk dipaksa terbuka lebih lama. Pada khataman tadi siang saja saya sudah setengah mati menahan kantuk yang sangat, namun karena dapat giliran baca yang dijaharkan pakai speaker, maka ngantuk tersebut menjadi hilang. Tapi, bagaimanapun juga sekarang lebih baik saya langsung tidur saja dan akhiri Hari Ke 13: Terkagum Aksi Vokal Seekor Burung, biar makanan ini urusannya dilanjutkan besok pagi. []
Gambar: http://www.kumpulangambar.com/gambar-burung.php

Hari Ke 12: Hujan Pertama

Posted by ridwan yahya 0 Comment/s

Ilustrasi

Terbangun dari lelapnya tidur tadi malam, saya langsung ke luar rumah hendak menuju kamar mandi yang berada di luar. Tersadar dari tidur yang lelap malam tadi, Kultum yang disampaikan oleh Pa Che, telah cukup mengakhiri kegiatan kami di Mushalla pada shubuh tadi. Usai itu, kini saatnya saya, Zakir, dan Yohan sibuk menyiapkan makanan untuk sarapan pagi. Persiapan yang kami lakukan kali ini cukup terlambat, karena kami mulai memasak nasi saja pukul lima lebih dua puluh menit. Berbeda dengan biasanya, yang pukul lima pas sudah bisa dimasak. Keterlambatan ini menuai sedikit protes dari teman-teman saat makanan telah siap disajikan. Karena, mereka merasa sudah terlalu lama menunggu kami menyiapkan makanan yang baru disajikan pada pukul tujuh lebih dua puluh menit.

Agenda hari ini seakan-akan terpending dari segala aktifitas, dikarenakan air hujan yang secara terus menerus turun semenjak tengah malam tadi. Hujannya tidak deras sama sekali, namun butiran airnya tidak henti-henti jatuh sepanjang hari. Seusai sarapan pagi, kami yang biasanya pergi menyebar ke mana pun yang kami kehendaki kini hanya bisa terkurung di dalam rumah. Seolah-olah menanti hujan berhenti, kami benar-benar hanya bisa diam dan tinggal di rumah saja. Jikalau kami memaksakan pergi keluar atau ke ladang, dikhawatirkan tidak ada yang punyanya sama sekali. Maka dari itu, kami lebih memilih untuk tinggal diam di sekitar rumah saja. 

Menyempitnya ruang gerak kami hari ini, terlihat saat beberapa orang dari kami yang biasanya suka pergi ke ladang, namun kali ini dia hanya bisa pergi ke rumah tetangga saja yang jaraknya memang tidak seberapa jauh dari rumah yang kami tinggali. Bagi saya, Zakir, dan Yohan yang merupakan petugas kebersihan dan masak hari ini, menganggap situasi ini biasa saja. Karena, dengan menjadi petugas piket, maka semua kewajiban yang mesti dilaksanakan hanya ada di sekitar rumah saja. Di tengah rintikan hujan waktu itu, saya berada di Mushalla untuk membersihkan tempat tersebut yang sebenarnya tidak tampak kotor sama sekali, karena Mushalla tersebut memang setiap hari dibersihkan. Namun, karena sudah menjadi agenda tempat yang mesti dibersihkan, maka mau tidak mau Mushalla tersebut mesti disapu dan dipel bersih. Serta tidak lupa kaca jendela dan langit-langitnya mesti dibersihkan terlebih dahulu juga.

Di tempat lain, Zakir tengah sibuk membersihkan rumah berikut dengan dapur yang kotor sehabis tadi dipakai masak. Sedangkan, Yohan pergi keluar belanja keperluan dapur. Namun, di sudut lain teman-teman yang tidak bertugas tengah asyik dengan kesibukannya mesing-masing. Menurut salah seorang teman saya, kalau dingin-dingin kayak begitu condong kepingin tidur terus. Alasannya, karena situasi yang memang mendukung untuk begitu ditambah lagi kalau mau berkatifitas juga tidak bisa, tidak seperti biasanya.

Semenjak pertama kami berada di sini, belum pernah ada hujan sama sekali selain hujan yang tengah mengguyur Desa Purwodadi ini. Dan sekalinya hujan turun, sepanjang hari butiran air dari langit tidak ada henti-hentinya jatuh bersamaan dengan dinginnya angin yang berhembus. Menurut warga yang saya temui, di daerah tersebut memang sudah lumayan lama tidak turun hujan yang dimungkinkan juga karena sekarang sudah menginjak musim panas, ujarnya. Sehingga, hujan yang turun ini berlangsung hanya sesekali saja. Menyimak sedikit penjelasan tersebut, maka saya pun memaklumi dan tidak heran lagi jika hujan ini tidak bosan-bosan mengguyuri tanah Sumber Blimbing. Namun, yang disayangkan pakaian yang saya jemur mesti menjadi korban karena hujan tersebut. Semua jemuran yang digantung di belakang rumah menjadi basah semua, padahal sudah dijemur seharian kemarin dan lupa belum saya angkat.

Saat bersih-bersih di Mushalla, tampak dua anak tetangga yang sedang dimandikan di tengah guyuran hujan. Terlihat juga Rauf yang lagi sibuk mengurusi dua anak yang bernama Adil dan Dafa itu. Karena masih bocah, asik saja kedua anak-anak itu mandi di luaran rumah sambil telanjang. Sehingga, terlihat jelas bagaimana bentuk tubuh Adil yang gendut, berbeda dengan tubuh kecil Dafa yang kurus-kurus. Usai dimandikan oleh Rauf, kemudian Dafa dan Adil diambil alih oleh Nur yang biasa mereka sebut sebagai mbak Nung. 

Sedikit menyinggung Nur, seperti yang pernah diceritakan sebelumnya kalau dia adalah anaknya Pak Tarmin sang Kepala Dusun, dia baru saja lulus dari MAN yang ada di Donomulyo sini. Sebelum keberadaan kami, Nur berperan sebagai pengganti Bapaknya yang mengajar anak-anak mengaji di Mushalla. Namun, saat kedatangan kami di sini peranan Nur tergeser oleh kami, dan sekarang dia Cuma perlu menyimak dan sedikit membantu kami mengajari anak-anak TPA. Dengan posisi kami sekarang, harapannya bisa memberikan sesuatu yang baru, yang bermuatan positif demi berlangsungnya aktifitas TPA di Mushalla. Mengingat Mushalla ini adalah sentral dari pada Dusun Blimbing yang membuat semua warga dusun berkumpul di sini. Contohnya, selain kegiatan belajar mengajar seperti TPA, Mushalla ini juga setiap malam minggunya sering menyelenggarakan acara pengajian yang dikhususkan untuk remaja-remaja sini. Adapun pengisinya adalah seorang ustadz yang didatangkan jauh dari luar desa sini, tapi yang terakhir ini dari kami yang mengisi acara pengajian tersebut.

Sampai siang tiba, entah apalagi yang kami lakukan setelah tadi terakhir saya bersih-bersih di Mushalla. Tapi, saat sebelum dzuhur tiba, kami bertiga kembali sibuk menyiapkan makanan siang yang diperuntukkan bagi semua anggota Pos I. Usai makan siang, kini bagiannya  Yohan yang mesti mencuci piring dan membersihkan dapur yang berantakan sehabis dipakai barusan. Kalau Yohan sibuk dengan kewajibannya, maka kami berdua bebas melaksanakan aktifitas apapun. Oleh karena itu, saya langsung buka Netbook guna melakukan kebiasaan saya. 

Sampai tibanya Ashar, aktifitas menulis itu saya akhiri dengan tidur siang. Pada sore hari hujan masih saja mengguyuri tempat kami. Seakan tanpa hentinya, di saat ramainya geliat aktifitas Mushalla pun suara rintikan hujan mengiringi paduan suara anak-anak TPA yang tidak beraturan. Meskipun begitu, anak TPA tetap semangat menjalani  proses belajar bersama kakak-kakak KKN-nya. 

Kumandang adzan Maghrib menggema ke sekitar dusun Sumber Blimbing yang basah, dalam keadaan seperti itu semakin sedikit saja jama’ah yang tertarik untuk pergi shalat ke Mushalla. Namun, beberapa orang di antara kami ada juga yang masih pergi mengisi Mushalla di RT sebelah dengan konsekuensi tidak terlalu banyak orang yang mengapresiasi panggilan ke Mushalla. Meskipun begitu, insya Allah kami tetap konsisten untuk mengisi Mushalla tersebut dan tidak mau kalah dengan Pak Darkoun yang merupakan ketua jamaah di sana.

Ba’da Isya pada Hari Ke 12: Hujan Pertama ini, beberapa orang kembali dari Mushalla Baitussalam tersebut. Selama di sana Pak Darkoun lah ketua jama’ah yang menemani mereka mengobrol ngaloer ngidul. Setibanya di rumah itu, mereka langsung menuju dapur guna menyantap jatah makan malam mereka yang telah disiapkan sedari ba’da Maghrib tadi. Sedangkan, yang lainnya telah duluan makan sebelum Isya datang. []

Gambar: http://andrilex.blogspot.com/2012/04/tentang-hujan.html

Hari Ke 11: Kerja Bakti bersama Warga

Posted by ridwan yahya Sunday, February 3, 2013 0 Comment/s


Hari ini warga cukup disibukkan dengan agenda memperbaiki jalanan rusak, tepatnya jalan menanjak yang sering kami singgahi untuk mencari sinyal HP. Di samping jalanan yang menanjak, di sana juga banyak sekali lubang-lubang berbatu yang cukup membahayakan pengendara yang melintasi jalan tersebut. 

Sebelum kami terjun ke lapangan, seperti biasa kami disibukkan oleh urusan pribadi. Ada yang pergi ke tanjakan untuk teleponan, ada yang sibuk di depan laptop, dan ada juga beberapa orang yang lebih memilih tidur-tiduran sambil menunggu tibanya sarapan pagi disiapkan. Sedangkan saya sendiri, satu dari sebelas anggota Pos I memilih untuk melanjutkan tulisan terkait hari kemarin yang belum selesai.

Dua puluh menit setelah sarapan pagi, barulah kami turun ke jalanan untuk kerja bakti bersama warga Dusun Sumber Blimbing yang sudah tiba duluan di lokasi. Dalam pengerjaannya, pertama kami membersihkan lubang-lubang yang tersebar di badan jalan dari batu dan kerikil. Sebagian dari kami melakukannya dengan cara menyapu, sedangkan yang tidak kebagian mendapatkan sapu maka cukup pakai tangan saja. Setelah lubang-lubang di jalanan bersih dari bebatuan, selanjutnya saya dengan yang lainnya harus bolak-balik menyuplai pasir dan koral yang ada di dekat Pos kami. Kerja begini kami lakukan secara bergantian, beberapa orang yang berpasangan mengangkut pasir melalui karung yang dibentangkan oleh dua buah bambu yang dimasukkan ke sisi karungnya. Ada juga yang mengangkutnya dengan menggunakan Artco, yang bebannya terasa lebih berat dibandingkan berdua membawa pasir menggunakan karung tadi. Jelas, ini karena Artco yang dibawa oleh satu orang saja. Tapi, bagi orang sudah biasa bawa beginian, mungkin ini akan terasa biasa saja.

Terhitung ada tiga jam lebih, kami bekerja bakti bersama warga memperbaiki jalanan yang rusak. Sebenarnya jalan yang ada di Dusun Sumber Blimbing ini rata-rata sudah diaspal semua. Namun, karena telah dimakan usia, maka banyak yang mengalami kerusakan semacam lubang-lubang besar  yang mengganggu dan membuat jalan tersebut tampak jelek. Jalanan yang rusak itu, warga tambal dengan campuran semen saja. Bukan dengan aspal yang bisa merogoh kocek lebih banyak lagi, karena terkait dana perbaikan jalan ini, hanya tergantung pada dana warga dusun yang peduli untuk berpartisipasi. Jadi, jangan heran jika tambalannya hanya dengan beberapa sak semen saja. Meskipun ditambal dengan campuran semen, tapi jalanan pun menjadi lebih mulus untuk dilalui.

Akhirnya sebelum Dzuhur tiba, kerja bakti dapat diselesaikan. Mahasiswa KKN yang ikut membantu, langsung pergi meninggalkan jalanan guna membersihkan diri ke kamar mandi yang seketika itu menjadi rebutan mahasiswa untuk mandi. Dalam keadaan tubuh yang segar, waktu shalat dzuhur pun kami lalui dengan tenang. Sebelum makan siang siap, terlihat bagiannya Marhalim, Pa Che, dan Husairi tengah sibuk meracik masakan untuk kami. Setengah jam setelah usainya shalat dzuhur, barulah kami bisa merasakan hidangan makan siang yang cukup mengobati kegundahan perut kami yang habis dikuras pada kerja bakti tadi.

Setelah makan, mayoritas dari kami langsung pergi tidur siang. Hal ini dilakukan dalam rangka membalas aktifitas tadi pagi yang cukup melelahkan dan menguras tenaga. Tiba waktu Ashar, seperti biasa anak-anak TPA sudah stand by di Mushalla mendahului kakak-kakaknya ini. Terhitung ada setiap hari geliat aktifitas sore hari di Mushalla ini tidak pernah libur dari kegiatan mengaji anak-anak. Meskipun begitu, tampak antusiasme anak-anak yang mengaji tidaklah surut sama sekali. Berbeda jika kemarin-kemarin kami mengajar di Surabaya, setiap TPA pasti ada hari liburnya. Terkait murid-muridnya pun kami merasa lebih mudah mengatur anak-anak sini, tidak terlalu banyak membuat keributan sendiri. Lima belas menit sebelum Maghrib, Mushalla pun sepi dari anak-anak TPA yang pulang ke rumahnya masing-masing. Tinggal kami saja yang meramaikannya sekarang, itupun kami dibagi lagi karena ada beberapa orang di antara kami yang mesti ke Mushalla luar guna menghidupkan aktifitas Shalat Fardlu di sana. Terkait Mushalla itu, kami memutuskan sebuah ketetapan baru untuk mengisi Mushalla Baitussalam tersebut yang ada di RT sebelah. Jadi, setiap waktu shalat tiba, maka di antara kami pasti ada yang pergi ke Mushalla sana. 

Ba’da Isya, dua orang yang bertugas mengisi Mushalla tadi kembali pulang ke rumah. Mereka yang datang itu kemudian mengambil jatah makan malamnya yang telah disiapkan sebelum Isya tadi.  Sebelum Hari Ke 11: Kerja Bakti bersama Warga kami akhiri, kebanyakan dari kami pergi silaturahmi ke rumah tetangga yang sudah akrab-akrab dengan kami. []

Hari Ke 10: Antara Shalat Isya dengan Yasinan

Posted by ridwan yahya 0 Comment/s

Shubuh ini saya lalui di sebuah Mushalla yang minim jama’ah itu, Baitussalam namanya. Sebelumnya, saya tidak berencana jika akan shalat di tempat tersebut. Namun, karena Basirun mengajak saya, maka saya pun langsung memenuhi ajakan tersebut. Waktu masih menunjukkan pukul empat pagi, saat kami bertiga berangkat menuju Mushalla tersebut yang berjarak setengah kilo meter dari rumah pos. Di tengah jalanan yang masih gelap, saya, Basirun, dan Yasin mengisi perjalanan dengan obrolan ngaloer ngidul. Sehingga, tak terasa jika kami telah sampai di Mushalla yang dituju.

Pintu yang menyambung ke pagar kayu Mushalla, melintang pada sebuah jalan yang mengantar kami masuk ke dalam Mushalla itu. Pintu Mushalla yang masih tertutup, lalu ditambah juga dengan lampunya yang belum menyala mengartikan bahwa belum ada orang selain kami bertiga di sana. Saat lampunya dinyalakan cahayanya sudah mulai redup, mungkin tidak lama lagi lampu ini akan diganti. 

Sebelum adzan shubuh berkumandang, kami melakukan shalat tahiyyatul masjid yang tidak lama setelah shalat tersebut waktu shubuh pun datang. Dengan suara terbaiknya, Yasin mengambil peranan sebagai muadzin Shubuh ini. Di tengah adzan yang berkumandang, datang seorang bapak-bapak yang sebelumnya telah diceritakan. Beliau adalah ketua jama’ah Mushalla tersebut, namun sayang selama ini beliau kesusahan menggaet jama’ah yang terdiri dari warga sekitar Mushalla. Terkait bapak ini, beliau mempunyai satu anak laki-laki yang sudah 10 tahun mondok dan sekarang tengah menjalani masa tugasnya di daerah Bromo. Menurut beliau, anaknya itu kini telah mengislamkan lima orang asli sana yang sebagaimana diketahui bahwa mayoritas penduduk Bromo, khususnya suku Tengger adalah beragama Hindu. Kini, beliau pun merindukan anaknya, karena beliau merasa sudah cukup lama tidak berjumpa dengan anak semata wayangnya itu.

Setelah iqamat, kemudian beliau maju menjadi imam. Suaranya begitu keras dan menggelegar ke seisi Mushalla. Tapi, sayang makharijul-huruf yang beliau ucapkan banyak yang tidak sampai, pikir kami mungkin itu karena faktor usia beliau yang sudah tergolong sepuh. Ketika shalat masih pada rakaat pertama, shaf kami ditambah lagi oleh seorang jama’ah yang usianya lebih tua ketimbang ketua jam’ah Mushalla tadi. Selesai shalat shubuh, lalu kami sedikit berbincang-bincang. Namun, dari apa yang diperbincangkan banyak yang tidak saya mengerti karena obrolannya yang berbahasa jawa.

Pukul lima lebih sepuluh menit, kami pun pamit meninggalkan Mushalla dengan dua orang bapak-bapak yang masih tinggal di sana. Saat keluar Mushalla ternyata langit masih gelap juga, tapi sekarang tidak terlalu seperti waktu berangkat tadi. Lima belas menit kemudian kami tiba di rumah Pos, di ruang tengah ada anggota Pos III juga yang kumpul bersama anggota Pos kami. Mereka datang ke sini guna berkoordinasi terkait program pengobatan gratis yang segera dilaksanakan.

Sebelum sarapan pagi siap, ada waktu sejam lebih buat saya santai-santai bersama netbook saya. Belum ada sejam saya pun merasa bosan, kemudian saya beranjak pergi ke tanjakan jalan guna mencari sinyal HP lalu menghubungi Aibara. Namun, kayaknya di sana dia lagi sibuk bersiap-siap untuk hari pertama kerjanya. Katanya, dia kerja di sebuah perusahaan penerbitan lalu menjabat sebagai editor PAI. Mendengar berita tersebut, saya pun jadi bahagia. Akhirnya, beberapa bulan mengharapkan kerja di sebuah penerbitan, kini tercapai juga. Memang, Aibara ini orangnya suka sekali bergelut dengan buku-buku, dan tentunya juga dia suka menulis. Maka, ketika kini dia bekerja di tempat semacam itu, insya Allah dia akan menjalaninya dengan senang hati. Sadar akan keadaannya yang lagi repot, maka saya pun mengakhirinya. Lalu, saya turun lagi dan balik ke rumah. Sesampainya di rumah,  Basirun, Yasin, dan Rauf belum juga selesai menyiapkan sarapannya. Sambil menunggu sarapan jadi, kemudian saya kembali ke netbook saya guna menulis lagi. Lima belas menit kemudian barulah sarapan pagi itu siap untuk disantap, dan saya pun beranjak meninggalkan tulisan saya sementara.

Setelah sarapan, kemudian kami membantu Pak Tarmin yang sedang mengayak pasir di samping Mushalla. Dua jam lamanya kami mengayak pasir yang banyak itu, lalu kami lanjut ke sebuah sumur yang ada di belakang rumah untuk menggalinya. Sebelum adzan berkumandang, semua kerjaan sudah kelar. Setelah Dzuhur, yang bagian piket masak sibuk menyiapkan makan siang. Namun, tidak memerlukan waktu lama, makanan pun jadi. Hidangan yang disajikan tidaklah begitu istimewa, biasa saja seperti kebanyakan menu yang telah dibuat. Sampai tiba Ashar kuhabiskan waktu dengan tidak ada mood menulis sama sekali, terlalu banyak kekecewaan pada hari ini sehingga kuberalih untuk langsung tidur saja.

Seorang teman menyadarkan saya jika Ashar telah tiba, aksinya itu memang berbarengan dengan berkumandangnya adzan dari Mushalla. Basirun pun maju menjadi Imam, memimpin kami mendirikan shalat Ashar berjamaah. Geliat aktifitas ba’da Ashar menyambung ramainya aktifitas shalat berjamaah tadi yang telah banyak diisi oleh anak-anak TPA mengaji. Terlihat betapa antusiasnya raut wajah anak-anak, yang tengah menyimak tayangan tata cara berwudlu yang benar yang ditampilkan pada sebuah proyektor/LCD. Kegiatan ini tidak berlangsung lama, karena dari sejam setengah belajar ngaji, waktu mereka mesti dibagi dengan belajar membaca al-Qur’an, menulis aksara Arab, dan lain-lain.

Seusai mengaji, gemuruh suara islami di Mushalla tidak surut begitu saja. Sambil menanti tibanya waktu Maghrib, Fahrurrazi dengan sigap menyetel murottal dari laptopnya. Lalu, dua puluh menit kemudian barulah adzan dikumandangkan. Sampai tibanya Isya, yang bertugas piket lagi sibuk-sibuknya menyiapkan makan malam kami. Sebelum yasinan yang akan dimulai sebelum Isya, makan malam kami sudah siap. Di antara kami yang tinggal di Pos hanya saya, Marhalim, dan Yasin, sedangkan yang lainnya pergi yasinan ke rumah warga yang dapat giliran untuk menggelar acara tersebut. Memang, yasinan di kampung sini biasa digelar di rumah warga secara bergilir, tidak seperti di tempat lainnya yang biasa dilaksanakan di Masjid saja. Lalu,  menurut saya sendiri yang menjadi permasalahan di sini adalah pelaksanaan yasinan ini terlalu mepet ke waktu shalat Isya. Sehingga, seringkali waktunya Isya tiba malah ditabrak begitu saja hanya karena yasinan itu. Dan saya rasa, hal ini tidak hanya terjadi pada acara yasinan saja, tapi acara-acara pengajian warga yang lainnya juga selalu dilaksanakan saat waktu shalat Isya tiba. Hal di atas sangat dikhawatirkan dapat memunculkan paradigma menyimpang terkait pentingnya mendirikan shalat awal waktu pada waktu-waktu shalat lainnya.

Tampak lima menit setelah saya shalat Isya di Mushalla, datang teman-teman yang baru selesai ngaji yasinan. Mereka langsung menuju Mushalla untuk shalat Isya yang belum sempat mereka laksanakan di tempat yasinan tadi. Saking sibuknya karena belum shalat, adzan Isya yang sudah dikumandangkan dua puluh menit yang lalu mau dikumandangkan lagi oleh mereka yang baru datang ini. Namun, kami cegah.

Sebelum menutup Hari Ke 10: Antara Shalat Isya dengan Yasinan ini, kebanyakan dari kami pergi keluar untuk bersilaturahmi ke rumah warga sekitar yang sebagian besar telah kami kenal, dan sering bertemu di banyak kesempatan pula. []

Hari Ke 7: Panen Kacang

Posted by ridwan yahya Saturday, February 2, 2013 2 Comment/s

Terkait hari ini, Pak Ketua membagi anggotanya menjadi 3 bagian. Yang pertama, piket masak dan kebersihan rumah tetap tinggal dan fokus mengurusi rumah. Kedua, bagian saya dan Zakir yang mesti membantu Pak Tarmin mengecor di depan rumah. Bagi saya mengecor ini sesuatu yang menantang bagi saya, karena saya sendiri kurang ada pengalaman sebelumnya terkait aktifitas ini. Ketiga, lima orang sisanya mesti pergi ke ladang-ladang membantu siapapun warga yang ditemui di ladangnya. Pak ketua menegaskan agar ketika kita pergi ke ladang tidak selalu pergi ke tempat yang sama atau kebun yang itu-itu saja.

Ba’da shubuh kami bersiap-siap menjalankan apa yang dikomandokan oleh Irsyad, yang bagian piket masak dan kebersihan rumah sudah sibuk duluan menyiapkan nasi untuk sarapan kami. Sedangkan yang lain, persiapan mereka masih terbilang santai-santai saja karena rata-rata semua kegiatan dilakukan setelah makan pagi. Beda lagi dengan Irsyad yang sudah siap-siap pergi ke Kepanjen, bilangnya mau follow-up kerjasama dengan pemerintah sana terkait acara pengobatan gratis yang akan segera dilaksanakan. Dan kebetulan dia adalah panitia intinya. 

Kali ini yang bagiannya masak baru bisa menyiapkan sarapan jam tujuh lebih 10 menit, beda dengan hari-hari biasanya yang sudah siap pada jam tujuh kurang dua puluh menit saja. Alasan jelasnya saya kurang tahu kenapa. Apakah karena nasinya telat? Tidak. Apa mungkin mereka masak menu spesial? Mana ada,  sarapan pagi yang mereka siapkan gak ada bedanya dengan yang lain. Biasa-biasa saja. Namun, baiklah kami tetap mensyukurinya. 

Setengah jam kemudian, semua urusan makan sudah terselesaikan. Selanjutnya, kami siap-siap menempati pos kami yang telah ditentukan. Bagian saya dengan Zakir menunggu dimulainya proyek ngecor kamar mandi yang dimulai oleh Pak Tarmin, namun dalam penantian kami berdua tiba-tiba Yasin mengajak kami ke ladang dan bilang bahwa ngecor nggak jadi, Pak Tarminnya saja pergi ke ladang. Ya, sudah. Kami pun langsung bangkit dari tempat duduk, terus ganti baju lalu pergi bareng-bareng ke ladang. 

Kali ini kami hendak menuju ke sebuah ladang yang belum pernah saya singgahi, tapi kalau lewat mungkin pernah, saat kami membantu warga mengerjakan mega proyek tandon yang ada di atas bukit. Di ladang ini, sang pemilik meminta kami untuk membantunya panen kacang tanah. Di tengah perjalanan menuju ladang, kami temui bapak-bapak yang lagi sibuk mengurusi kambing yang baru selesai dieksekusi. Di antara bapak-bapak itu ada Pak Tarmin yang terlibat langsung mengurusi kambing nahas tersebut. 

Sepuluh menit kemudian kami pun tiba di ladang Ibu yang kami belum tahu namanya tersebut. Padahal, sering sekali kami menemuinya. Saya sendiri tanya ke teman-teman, mereka juga malah nggak tahu. Setibanya itu, saya, Zakir, Rauf, Umam, dan Basirun dengan nafsunya mencabuti tanaman kacang yang kebanyakan sudah matang tersebut. Karena saking nafsunya, Zakir malah sempat salah cabut. Tapi, maklum sih, cabutan pertama. Mungkin, yang pertama itu dia memang belum bisa membedakan mana tanaman kacang yang dimaksud.

Terhitung ada sejam lebih kami habiskan waktu di sana. Di tengah kekhusyuan kami yang lagi serius mencabuti kacang tersebut, tiba-tiba Bapak pemilik kebun menawari kami kelapa muda miliknya yang masih nangkring di pohon. Baiklah, karena ada Rauf kami pun terima tawaran Bapak tadi. Dan dengan senang hati pula Rauf bersedia kami andalkan. Namun, sayang Rauf tidak terlalu mahir dalam memilih kelapa yang masih muda. Karena, terlihat dari buah kelapa yang dipetik masih dapat yang tua juga.

Setelah makan kelapa muda, kemudian Bapak menawari kami makan kacang bakar. Bagi saya kacang bakar tersebut adalah sesuatu yang baru, saya baru menikmatinya di kebun itu. Kali ini Bapak yang bertindak sendiri membakar kacang tanah yang masih mengikat dengan tumbuhannya, jika kacang-kacang tersebut terlepas atau jatuh-jatuh maka berarti kacang tersebut matang dan sudah siap disantap. Saat kacang tanah tersebut masak dan siap dimakan, warna aslinya berubah menjadi hitam dan menyatu dengan dedaunan yang terbakar. Kami yang hendak makannya pun harus rela hitam-hitaman dengan kacang tersebut. Karena banyaknya kacang yang dibakar, maka kacang pun kami bungkus dan dibawa pulang ke rumah. Selain itu, kami juga membawa dua karung kacang tanah lainnya yang dibawa pulang  ke rumah Ibu. Terkait kacang tanah tersebut, sebenarnya belum waktunya untuk dipanen. Namun, Bapak pemilik kebun tersebut rela demi kami yang kemungkinan hanya sekali berada di kampungnya. Oleh karena itu, beliau bersedia menunjukkan aktifitas panen kacang tanah yang meskipun belum pada saatnya.

Sepulang dari kebun, saya langsung meluncur ke kamar mandi guna membersihkan diri. Karena, sebagaimana biasa sehabis dari kebun badan selalu menjadi gatal-gatal.  Setelah mandi, waktu pas menunjukan shalat dzuhur dengan keadaan tubuh yang terasa lebih segar dari pada sebelumnya. Beranjak ke waktu makan, lagi-lagi yang bagian piket ini telat menyiapkan. Terlalu berlarut-larut mengurusi urusannya di dapur. 

Ada waktu dua jam sebelum Ashar tiba, namun mood lagi malas beraktifitas yang menguras tenaga dan pikiran saya. Sehingga, yang tadinya berencana memanfaatkan waktu siang itu dengan menulis, malah tidak jadi. Sedangka, yang lain sibuk menyiapkan laporan kegiatan KKN per satu minggu yang akan dikumpulkan besoknya. Katanya, dari Surabaya akan ada dua orang dosen pembina lapangan yang datang ke setiap Pos KKN guna memantau perkembangan kegiatan kami di sini. Oleh, karena itu sebaik mungkin kami menyiapkan laporan tersebut yang nantinya akan diserahkan dan disahkan oleh beliau-beliau itu.

Ba’da Ashar, geliat aktifitas yang paling ramai berlangsung di Mushalla. Seperti biasanya di sana anak-anak belajar dan mengaji al-Qur’an dengan antusias sekali, menurut saya itu terjadi karena mereka merasakan suasana baru yang menampilkan sosok-sosok pengajar yang berbeda dari sebelumnya. Di tempat lain, sebagian dari pada kami aktif membantu Pak Tarmin mengerjakan proyek pembangunan kamar mandi yang beberapa hari kemarin sempat tertunda. 

Menjelang Maghrib, Pak Kamis, Ketua KKN kami datang dengan motor sekretariatnya. Kedatangan beliau ke Pos I guna menindaklanjuti semua program-program yang telah dicanangkan pada jauh-jauh hari sebelumnya. Pak Kamis beruntung sekali datang ke sini –seakan-akan beliau mempunyai kesaktian mencium bau makanan dari jarak jauh– malam hari menjelang Isyanya beliau ikut beserta kami ke sebuah pengajian yang di dalamnya menyuguhkan berbagai macam hidangan makanan yang banyak sekali. Setiap menu yang disajikan tidak luput dari daging di dalamnya, entah daging ayam ataupun daging kambing. Royalnya acara malam itu tidak sebatas sajian makanan yang dihidangkan di tengah-tengah acara saja, namun saat acara mau selesai pun setiap tamu diberi satu keranjang makanan dengan porsi yang besar sekali. Kontan, Pak Kamis pun merasa beruntung, bahagia dan sejahtera berada di Pos kami. 

Usai pengajian itu, Pak kamis pun pulang kembali ke sekretariat yang kali ini dia ditemani oleh Umam dan Yohan yang hendak menghadiri rapat koordinasi di tempat tersebut. Sekembalinya Umam dan Yohan dari rapat, waktu telah menunjukkan jam setengah sebelas malam yang saatnya bagi kami semua penghuni Pos I untuk istirahat dan menutup rangkaian acara pada Hari Ke 7: Panen Kacang ini . []