KERANGKA FILSAFAT CAR / PTK | Suratan Makna

KERANGKA FILSAFAT CAR / PTK

Posted by Unknown Monday, March 5, 2012 0 Comment/s

A. Sejarah Singkat PTK
PTK atau penelitian tindak kelas (classroom action reseach), adalah sebuah penelitian yang dilakukan oleh guru, dalam meneliti keadaan suatu kelas tertentu, sebagai proses perbaikan pembelajaran yang ada di sebuah kelas, guna untuk mencapai sebuah hasil pembelajaran yang baik. Penelitian kelas dimana guru melakukan peranan sebagai peneliti dan kelas sebagai laboratorium.

Yang mana PTK pertama kali dikenalkan oleh Kurt Lewin. Pada waktu itu, PTK dipakai untuk mendeskripsikan penelitian yang merupakan perpaduan antara pendekatan eksperimental dalam bidang ilmu social dengan program tindakan social untuk menanggapi masalah social Spesifik.

Sebenarnya PTK sudah dilaksanakan oleh guru sejak ada proses pembelajaran secara klasikal, meskipun tidak disadari oleh guru. Pada saat itu sudah dilakukan upaya perbaikan proses pembelajaran di kelas, namun pada saat itu belum dinamakan PTK. Sejak ada proses pembelajaran, praktis PTK sudah ada, hanya saja belum ada laporan secara tertulis tentang upaya perbaikan pembelajaran di dalam kelas.

Sebelum PTK banyak dikenal orang, sudah ada penelitian yang berkaitan dengan kegiatan kelas, yang dikenal dengan Penelitian Kelas (Classroom Research) dan penelitian tindakan (action research). Pada dasarnya, PTK berawal dari penelitian tindakan yang pada proses perkembangannya menekuni salah satu kawasan pendidikan, yang kita kenal dengan “kelas”. Jadi PTK dapat dinyatakan sebagai perpaduan antara penelitian tindakan dan penelitian kelas. 

B. Karakteristik PTK Emansipatori dan Liberating
Dalam PTK  ini tidak hanya memiliki satu atau dua karakteristik saja, akan tetapi memiliki banyak karakteristik, PTK memeliki sejumlah karakteristik sebagai berikut : Bersifat siklis, artinya PTK terlihat siklis-siklis (perencanaan, pemberian tindakan, pengamatan dan refleksi), sebagai prosedur baku penelitian. Bersifat longitudinal, artinya PTK harus berlangsung dalam jangka waktu tertentu (misalnya 2-3 bulan) secara kontinyu untuk memperoleh data yang diperlukan, bukan "sekali tembak" selesai pelaksanaannya.

Bersifat partikular-spesifik jadi tidak bermaksud melakukan generalisasi dalam rangka mendapatkan dalil-dalil. Hasilnyapun tidak untuk digenaralisasi meskipun mungkin diterapkan oleh orang lain dan ditempat lain yang konteksnya mirip.

Bersifat partisipatoris, dalam arti guru sebagai peneliti sekali gus pelaku perubahan dan sasaran yang perlu diubah. Ini berarti guru berperan ganda, yakni sebagai orang yang meneliti sekali gus yang diteliti pula. Penelitian PTK tidak untuk digenerelasikan sebab hanya dilakukan dikelas tertentu dan waktu tertentu.

Bersifat emik (bukan etik), artinya PTK memandang pembelajaran menurut sudut pandang orang dalam yang tidak berjarak dengan yang diteliti; bukan menurut sudut pandang orang luar yang berjarak dengan hal yang diteliti. Bersifat kaloboratif atau kooperatif, artinya dalam pelaksanaan PTK selalu terjadi kerja sama atau kerja bersama antara peneliti (guru) dan pihak lain demi keabsahan dan tercapainya tujuan penelitian. Emansipasi guru selalu dikaitkan dengan istilah atau konsep profesi, sebagai guru yang professional. 

Bersifat kasuistik, artinya PTK menggarap kasus-kasus spesifik atau tertentu dalam pembelajaran yang sifatnya nyata dan terjangkau oleh guru; menggarap masalah-masalah besar. Menggunakan konteks alamiah kelas, artinya kelas sebagai ajang pelaksanaan PTK tidak perlu dimanipulasi dan atau direkayasa demi kebutuhan, kepentingan dan tercapainya tujuan penelitian. Mengutamakan adanya kecukupan data yang diperlukan untuk mencapai tujuan penelitian, bukan kerepresentasifan (keterwakilan jumlah) sampel secara kuantitatif.

Selain itu berdasarkan pengertiannya, kita dapat mengetahui bahwa ciri atau karakteristik dari PTK dibandingkan dengan penelitian lain, diantaranya:
1.    Masalah pada PTK muncul dari kesadaran pada diri guru, yang hasur diperbaiki dengan prakarsa perbaikan dari guru itu sendiri, bukan oleh guru dari luar. Dengan demikian, masalah dalam PTK berasal dari permasalahan nyata dan actual yang terjadi dalam pembelajaran di kelas. Dengan kata lain, PTK berfokus pada masalah praktis bukan problem teoritis.
2.    PTK merupakan penelitian yang dilakukan melalui refleksi diri ( self reflective inquiry ). Untuk melakukan refleksi, sebaiknya guru bertanya pada diri sendiri, misalnya :
-    Apakah penjelasannya terlalu cepat ?
-    Apakah saya sudah memberikan contoh konkrit dan mamadai ?
-    Apakah bahasa yang saya gunakan mudah dipahami siswa ?
3.    PTK dilakukan didalam kelas, focus penelitian adalah pada kegiatan pembelajaran di kelas, yang berupa prilaku guru dan siswa dalam berinteraksi.
4.    PTK bertujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran yang dilakukan secara bertahap dan terus menerus selama PTK dilakukan. Oleh sebab itu, dalam PTK dikenal adanya siklus tindakan yang  meliputi: perencanaan-pelaksanaan –observasi- refleksi- revisi ( perencanaa ulang ).
5.    PTK merupakan bagian penting dari upaya pengembangan profesional guru, karena PTK mampu membelajarkan guru untuk berfikir kritis dan sistematis, mampu membiasakan guru untuk menulis dan membuat cacatan.

C.    Pembelajaran Replektif
Pembelajaran replektif sama halnya juga merupakan pembelajaran melalui pengalaman yang di alami oleh murid itu.

Sebenarnya metode  pembelajaran ini telah lama hilang dari dunia pendidikan, yang mana di Indonesia saat ini tidak lagi memperhatikan segi metode ini, yang ada adalah bagaimana terjadi proses tranformasi nilai-nilai ilmu saja, tanpa melihat bagaimana proses pengalaman murid-murid dalam mendapatkan ilmu-ilmu tersebut.

Oleh karena itu pembelajaran reflektif menjadi sebuah solusi saat ini. karena hal ini dianggap tepat karena demikianlah yang terjadi di tengah dunia pendidikan di Indonesia. Dimesi-dimensi reflektif dalam pembelajaran telah cukup lama diabaikan dalam prakteknya. Hal keterpurukan kualitas pendidikan di negeri ini tentu sudah menjadi perhatian umum. Namun yang justru terasa langka adalah elaborasi lebih dalam dan serius akan penyebab dan solusi atas keterpurukan yang terjadi. 

Sehingga refleksi dalam proses pembelajaran penting bagi pengajar lebih-lebih bagi pembelajar. Sudah seharusnya signifikasi pembelajaran adalah konstruktivisme, yang pada hakikat belajarnya adalah proses pembangunan makna yang memiliki visibilitas.

Untuk sampai tahap itu maka salah satu prinsip pembelajaran dalam konteks konstruktivisme disini adalah dengan menerapkan refleksi didalamnya.
Oleh karena  itu, dalam hal ini penerapan metode yang didasarkan pada pengalaman siswa sendiri jauh lebih baik. Walaupun saat ini sebagian besar yang terjadi di sekolah yaitu, ketika terjadi proses belajar mengajar, sebagian besar waktu mereka digunakan untuk memperhatikan materi yang disampaikan di kelas. Dengan penjabaran metode belajar ini tentu akan memberikan pencerahan dan menolong para guru dalam melaksanankan pembelajaran yang efektif di kelas.

D. PTK dalam konteks confidensi dan prestise
Media, Teknologi, dan Pembelajaran konteks belajar dan itu berdampak pada hasil belajar siswa. LEARNING Belajar adalah proses pengembangan pengetahuan, ketrampilan-ketrampilan, atau pengembangan tingkah laku sebagai interaksi individu, menyangkut fasilitas-fasilitas fisik, psikologis, metode pembelajaran, media, dan teknologi. Belajar adalah proses yang dilakukan sepanjang waktu oleh individu manapun.

Dengan demikian, belajar adalah proses yang melibatkan proses seleksi, pengaturan, dan penyampaian pesan yang pantas kep ... rasakan, dengan atau tanpa
kegunaan dari media teknologi dan pembalajaran. Jika guru merasa dengan benar siswanya sebagai manusia, dihormati, dan mereka memiliki motivasi, dengan atau tanpa bantuan media dan teknologi, mereka akan memandang siswa yang terlibat dalam pembelajaran.

Yang menjadi hal penting dari teknologi adalah bagaimana teknologi itu ditampilkan di dalam kelas, tetapi lebih penting adalah bagaimana seorang guru menuntun siswa dalam menggunakan media dan teknologi di dalam kelas. ... percaya bahwa belajar yang efektif terjadi ketika pebelajar (siswa) terlibat dalam tugas-tugas autentik yang berhubungan dengan konteks-konteks yang bermakna.

Kemudian ukuran terakhir dari pembelajaran berbasis pada kemampuan pebelajar (siswa) dalam menggunakan pengetahuan untuk memfasilitasi cara berpikir akan kehidupan sesungguhnya. Social-Psychological Perspectiv Psikologi sosial merupakan tradisi lain yang sudah dibentuk dalam studi belajar dan pembelajaran. Psikologi sosial melihat d ... diri dari perspektif behaviorisme. Paham ini merupakan pandangan yang mempelopori dan menjadi peletak dasar lahirnya teori-teori pembelajaran kontemporer dan modern.

Perspektif behaviorisme berpendapat bahwa belajar merupakan aktifitas yang dapat diukur dan dikendalikan mulai dari perencanaan sampai dengan hasil yang ingin dicapai. Semua komponen belajar merupakan variabel yang dapat dikontrol dan dikendalikan dengan sangat baik oleh guru. Meskipun dalam pelaksanaannya terdapat berbagai kendala. Dalam sejarah, media dan teknologi memiliki pengaruh terhadap pendidikan. Contohnya, komputer dan internet telah mempengaruhi proses pembelajaran sampai saat ini.

Aturan-aturan dari pendidik dan pebelajar telah berubah karena dipengaruhi media dan teknologi yang digunakan di dalam kelas.Perubahan ini sangat esensial,
karena sebagai penuntun dalam proses pembelajaran, pendidik (guru) berhak menguji media dan teknologi dalam konteks belajar dan itu berdampak pada hasil belajar siswa. Belajar adalah proses pengembangan pengetahuan, ketrampilan-ketrampilan, atau pengembangan tingkah laku sebagai interaksi individu, menyangkut fasilitas-fasilitas fisik, psikologis, metode pembelajaran, media, dan teknologi. Belajar adalah proses yang dilakukan sepanjang waktu oleh individu manapun.

Dengan demikian, belajar adalah proses yang melibatkan proses seleksi, pengaturan, dan penyampaian pesan yang pantas kepada lingkungan dan
bagaimana cara pebelajar berinteraksi dengan informasi tersebut. Dengan demikian hal ini melihat beberapa pandangan-pandangan psikologis dan pandangan-pandangan filusuf. Pembahasan kali ini juga akan menggambarkan berbagai aturan dari media dalam belajar dan menampilkan metode-metode yang berbeda, seperti presentasi-presentasi, demonstrasi-demonstrasi, dan diskusi-diskusi akan teknologi yang berhubungan dengan belajar.

E. Macam - Macam Kebenaran
1. The Correspondence theory of truth
Teori ini sampai tingkat tertentu sudah dimunclkan Aristoteles, mengatakan hal yang ada sebagai tidak ada, atau yang tidak ada sebagai ada, adalah salah. Sebaliknya, mengatakan yang ada sebagai ada, atau yang tidak ada sebagai tidak ada, adalah benar. Dengan ini Aristoteles sudah meletakkan dasar bagi teori kebenaran sebagai persesuaian bahwa kebenaran adalah persesuaian antara apa yang dikatakan dengan kenyataan. Jadi suatau pernyataan dianggap benar jika apa yang dinyatakan memiliki keterkaitan (correspondence) dengan kenyataan yang diungkapkan dalam pernyataan itu.

Menurut teori ini, kebenaran adalah soal kesesuaian antara apa yang diklaim sebagai diketahui dengan kenyataan yang sebenarnya. Benar dan salah adalah soal sesuai tidaknya apa yang dikatakan dengan kenyataan sebagaimana adanya. Atau dapat pula dikatakan bahwa kebenaran terletak pada kesesuaian antara subjek dan objek, yaitu apa yang diketahui subjek dan realitas sebagaimana adanya. Kebenaran sebagai persesuaian juga disebut sebagai kebenaran empiris, karena kebenaran suatu pernyataan proposisi, atau teori, ditentukan oleh apakah pernyataan, proposisi atau teori didukung fakta atau tidak.

Suatu ide, konsep, atau teori yang benar, harus mengungkapkan relaitas yang sebenarnya.Kebenaran terjadi pada pengetahuan. Pengetahuan terbukti benar dan menjadi benar oleh kenyataan yang sesuai dengan apa yang diungkapkan pengetahuan itu. Oleh karena itu, bagi teori ini, mengungkapkan realitas adalah hal yang pokok bagi kegiatan ilmiah. Dalam mengungkapkan realitas itu, kebenaran akan muncul dengan sendirinya ketika apa yang dinyatakan sebagai benar memang sesuai dengan kenyataan. Berkaitan dengan teori ini, ada beberapa hal yang perlu dicatat, yaitu:

pertama, teori ini sangat ditekankan oleh aliran empirisisme yang mengutamakan pengalaman dan pengamatan inderawi sebagai sumber utama pengetahuan manusia. Maka, teori ini sangat menghargai pengamatan, percobaan atau pengujian empiris untuk mengungkapkan kenyataan yang sebenarnya. Sehubungan dengan itu, teori ini lebih mengutamakan cara kerja dan pengetahuan aposteriori, yaitu pengetahuan yang terungkap hanya melalui dan setelah pengalaman dan percobaan empiris.

Kedua, teori ini juga cenderung menegaskan dualitas antara subjek dan objek, antara si pengenal dan yang dikenal.Dengan titik tolak dualitas tersebut, teori ini lalu menekankan pentingnya objek bagi kebenaran pengetahuan manusia.Bahkan bagi teori ini yang paling berperan bagi kebenaran pengatahuan manusia adalah objek. Subjek atau akal budi hanya mengolah lebih jauh apa yang diberikan oleh objek.
Ketiga, teori ini sangat menekankan bukti (evidence) bagi kebenaran suatu pengetahuan.Tetapi bukti ini bukan diberikan secara apriori oleh akal budi. Bukti ini bukan konstruksi akal budi, bukan hasil imajinasinya, melainkan adalah apa yang disodorkan oleh objek yang dapat ditangkap oleh panca indera manusia. Kebenaran akan terbukti dengan sendirinya jika apa yang dinyatakan dalam proposisi sesuai kenyataan sebagaimana diungkapnya.

2. The Coherence Theory of truth
Jika teori kebenaran sebagai persesuaian dianut oleh keum empiris, maka teori yang kedua ini, yaitu teori kebenaran sebagai keteguhan, dianut oleh kaum rasionalis seperti Leibniz, Spinoza, Descartes, Hegel, dlsb. Menurut teori ini, kebenaran tidak ditemukan dalam kesesuaian antara proposisin dengan kenyataanmelainkan dalam relasi antara proposisi baru dengan proposisi yang sudah ada.maka suatu pengetahuan, teori, pernyataan, proposisi, atau hipotesis dianggap benar jika proposisi itu meneguhkan dan konsisten dengan proposisi sebelumnya yang dianggap benar.

Bagi kaum rasionalis, pengetahuan tidak mungkin bisa keluar dari pikiran atau akal budi manusia untuk berhadapan langsung dengan realitas, dan dari situ bisa diketahui apakah pengetahuan itu benar atau tidak.Matematika dan ilmu-ilmu pasti lainnya sangat menekankan teori ini.

Menurut para penganut teori ini, mengatakan bahwa suatu pernyataan atau proposisi benar atau salah, adalah mengatakan bahwa proposisi itu berkaitan dan meneguhkan proposisi atau pernyataan yang lain atau tidak. Dengan kata lain, pernyataan itu benar jika pernyataan itu cocok dengan sistem pemikiran yang ada.

Maka kebenaran sesunguhnya hanya berkaitan dengan implikasi logis dari sistem pemikiran yang ada. Misalnya: (1) Semua manusia pasti mati; (2) Sokrates adalah manusia; (3) Sokrates pasti mati. Kebenaran (3) hanya merupakan implikasi logis dari sistem pemikiran yang ada, yaitu (1) Semua manusia pasti mati, dan (2) Sokrates adalah manusia.Dalam arti ini, kebenaran (3) sesungguhnya sudah terkandung dalam kebenaran (1).Oleh karena itu, kebenaran (3) tidak ditentukan oleh apakah dalam kenyataannya Sokrates mati atau tidak.

Sebagai perbandingan, kita dapat membuat pembedaan antara kebenaran empiris dan kebenaran logis sebagai berikut: Kebenaran Empiris: 1) mementingkan objek; 2) menghargai cara kerja induktif dan aposteriori; dan 3) lebih mengutamakan pengamatan indera. Kebenaran Logis: 1) mementingkan subjek; 2) menghargai cara kerja deduktif dan apriori; dan 3) lebih mengutamakan penalaran akal budi.

Pentingnya kedua kebenaran ini sangat ditekankan oleh Imanuel kant. Bagi Kant, baik akal budi maupun panca indera mempunyai peran penting untuk melahirkan pengetahuan manusia. Karena syarat mutlak bagi adanya pengetahuan adalah kebenaran, Kant pun sangat menekankan baik kebenaran logis yang diperoleh melalui penalaran akal budi, maupun kebenaran empiris yang diperoleh dengan bantuan panca indera yang menyodorkan data-data tertentu.

Pentingnya keduakebenaran ini secara saling menunjang terutama agar kita tidak terjebak pada silogisme dan retorika kosong. Karena seringkali suatu pernyataan sangat benar dari segi logis, tetapi sama sekali tidak didukung oleh fakta empiris.

F. Etika dalam Penelitian Tindakan Kelas
Tujuan filosofis dalam Penelitian Tidakan Kelas adalah perubahan kearah yang lebih baik. Perubahan kearah yang lebih baik terserbut dibidani dengan cara memecahkan permasalahan pembelajaran dan perbaikan pembelajaran di kelas yang dilakukan oleh praktisi pembelajaran, guru itu sendiri (Fatchan, 2009: 11).
Dengan kata lain, perubahan apapun yang akan dilakukan praktisi pendidikan dalam kaitanya dengan belajar dan pembelajaran yang pasti akan melibatkan dan mempengaruhi banyak pihak selain siswa seperti teman sejawat, atasan, bahkan orang tua maka perubahan tersebut dalam prosesnya harus dilakukan secara etis.

Berikut adalah uraian singkat tentang prinsip-prinsip etis yang perlu diperhatikan dalam melakukan Penelitain Tindakan Kelas :

1. Kelengkapan Dokumen
Dalam melakukan penelitian, peneliti hendaknya menyertakan beberapa kelengkapan berupa surat izin kepada subject penelitian dan pihak-pihak yang terkait dengan kegiatan penelitian tersebut.
2. Negosiasi Akses
Perizinan tempat misalny adalah hal yang terbelit-belit dalam birokrasi namun hal ini tidak boleh terlewat. Dengan menguatarakan niat kita dengan baik kepada pihak yang berwenang, bukan tidak mungkin akses kita ke dalam, misalnya sekolahan, akan lebih baik lagi.

a.   Dengan yang berwenang: pihak yang berwenang di sekolah seperti kepala sekolah adalah orang yang akan memberikan izin dalam penelitian. Adapun bila dalam penelitian ada perubahan, maka pihak yang pertama kali berhak tahu adalah kepala sekolah.
b.   Peserta: selayaknya peneliti tidak menempatkan peserta atau subject penelitian sebagai “kelinci percobaan” namun lebih kepada partner dalam penelitian. Peneliti perlu menegaskan ini berkali-kali di dalam maupu di luar kelas sehingga pada saat penelitian peserta penelitian tidak canggung dan merasa ditekan kebebasanya untuk bersikap sealami mungkin. Selain itu instrument berupa surat pemberitahuan akan penelitain juga harus disertakan.
c.   Orang Tua: karena PTK melibatkan peserta didik maka ada baiknya surat yang diberikan kepada murid-murid diteruskan kepada orang tua. Dengan demikian orang tua tidak akan khawatir dan bertanya-tanya bila nantinya ada perbedaan kelakuan atau sikap pada peserta didik selama proses penelitian.

3. Menjaga Kerahasiaan
Seperti diutarakan jauh diatas mengenai privasi, maka sudah selayaknya peneliti menjaga wilayah privasi siswa, guru, orang tua, bahkan institusi bila hal ini diperlukan.

a. Kerahasiaan infromasi: hendaknya peneliti menegaskan akan melaporkan informasi yang termasuk zona public untuk mengetahuinya. Dan pelaporanya itupun harus sesuai dengan peraturan-peraturan terkait yang berlaku. Adapun informasi-informasi yang bersifat privasi hendaknya tidak dilaporkan. Kalaupun terpaksa dilaporkan maka harus minta izin kepada pihak yang terkait dan merahasiakan identitasnya.
b. Kerahasiaan Identitas: dalam penyebutan identitas baik individu maupun tempat hendaknya peneliti minta izin dengan pihak terkait terlebih dahulu. Pun dalam penyebutan, peneliti bisa menggunakan insial, kode, nomor dan sebagainya dan menghindari penggunaan nama fiktif karena mungkin akan ada kesamaan dengan realitas mengingat penyebutan nama adalah hal yang sensitive.
c. Kerahasiaan data: kerahasiaan data adalah hal yang penting dalam penelitian. Data yang pada hakikatnya informasi yang dibutuhkan oleh peneliti akan dipertanggung jawabkan kelak oleh karena itu keorisinilan, validitas, dan reliabilitas data harus dijaga. Begitu juga bila data tersebut menyangkut privasi, maka perlu sedianya untuk meminta izin terlebih dahulu sebelum digunakan.
d. Menjamin Hak Peserta Untuk Mengundurkan Diri dari Penelitian: seperti dalam program tevelisi bertemakan horror, bila peserta merasa tidak nyaman dengan penelitian maka kita harus meyakinkan peserta penelitian untuk “angkat tangan”. Tentu saja izin ini tidak serta merta diberikan, namun harus melalui beberapa tanya jawab yang intens dan kekeluargaan dengan peneliti.
e. Menjaga Kepercayaan: hal yang paling sering muncul bukanlah salah satu pihak yang menghianati pihak lain, namun kerusakan kepercayaan ini disebabkan karena kurangnya keterbukaan dalam komunikasi antara peneliti dengan peserta. Sebaiknya bila ragu-ragu dalam melangkah, peneliti melakukan pengecekan ulang kepada yang terkait.
f. Mejaga Kode Etik profesionalitas dan Akademik: sebagai kaum akademik selayaknya peneliti selalu mengingat bahwa kegiatan PTK adalah kegiatan professional yang menuntut tanggunjawab dan komitmen pribadi. Segala kegiatan PTK harus memenuhi persyaratan akademik yang telah ditentukan.

BAB III
KESIMPULAN

PTK banyak dikenal orang, sudah ada penelitian yang berkaitan dengan kegiatan kelas, yang dikenal dengan Penelitian Kelas (Classroom Research) dan penelitian tindakan (action research). Pada dasarnya, PTK berawal dari penelitian tindakan yang pada proses perkembangannya menekuni salah satu kawasan pendidikan, yang kita kenal dengan “kelas”. Jadi PTK dapat dinyatakan sebagai perpaduan antara penelitian tindakan dan penelitian kelas. 

Dimesi-dimensi reflektif dalam pembelajaran telah cukup lama diabaikan dalam prakteknya. Hal keterpurukan kualitas pendidikan di negeri ini tentu sudah menjadi perhatian umum. Namun yang justru terasa langka adalah elaborasi lebih dalam dan serius akan penyebab dan solusi atas keterpurukan yang terjadi. 

Bersifat emik (bukan etik), artinya PTK memandang pembelajaran menurut sudut pandang orang dalam yang tidak berjarak dengan yang diteliti; bukan menurut sudut pandang orang luar yang berjarak dengan hal yang diteliti. Bersifat kaloboratif atau kooperatif, artinya dalam pelaksanaan PTK selalu terjadi kerja sama atau kerja bersama antara peneliti (guru) dan pihak lain demi keabsahan dan tercapainya tujuan penelitian. Bersifat kasuistik, artinya PTK menggarap kasus-kasus spesifik atau tertentu dalam pembelajaran yang sifatnya nyata dan terjangkau oleh guru; menggarap masalah-masalah besar.

Perspektif behaviorisme berpendapat bahwa belajar merupakan aktifitas yang dapat diukur dan dikendalikan mulai dari perencanaan sampai dengan hasil yang ingin dicapai. Semua komponen belajar merupakan variabel yang dapat dikontrol dan dikendalikan dengan sangat baik oleh guru. Meskipun dalam pelaksanaannya terdapat berbagai kendala. Dalam sejarah, media dan teknologi memiliki pengaruh terhadap pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA

Fatchan, Ahmad; Dasna, Wayan. 2009. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Surabaya: Jenggala Pustaka
http://main.man1bojonegoro.com/index.php/component/content/article/48-artikel-guru/124-sejarah-penelitian-tindak-kelas
http://www.m-edukasi.web.id/2012/04/karakteristik-ptk-penelitian-tindakan.html
http://www.abdulrahmansaleh.com/2011/03/karakteristik-ptk-penelitina-tindakan.html
http://blog.pasca.gunadarma.ac.id/2012/08/01/model-pembelajaran-reflektif/
Supardi, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: Bumi Aksara. 2011
Wiriatmaja, Rochiati, Metode Penelitian Tindakan Kelas, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA

Judul : KERANGKA FILSAFAT CAR / PTK
Ditulis Oleh : Unknown
Rating Blog : 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke https://suratanmakna.blogspot.com/2013/03/kerangka-filsafat-car-ptk.html. Sekali lagi terima kasih sudah singgah membaca artikel ini. ^_^

0 Comment/s: