Suratan Makna: Kuliah
Showing posts with label Kuliah. Show all posts
Showing posts with label Kuliah. Show all posts

Manajemen Konflik dan Negosiasi

Posted by Unknown Thursday, November 29, 2012 1 Comment/s
A.    Abstrak
Manajemen Konflik & Negosiasi
Sudah menjadi sebuah dinamika jika konflik terjadi pada suatu ruang tertentu yang di dalamnya menuntut suatu unit untuk terlibat. Dalam organisasi yang terdiri dari berbagai jenis orang, dimungkinkan ada suatu persaingan yang terjadi dalam bentuk kewajaran atau tidak itu sangat sulit. Sebab yang dinamakan persaingan meskipun dinamakan persaingan sehat pada dasarnya dapat pula mengarah dan dapat menyebabkan terjadinya konflik. Persaingan sehat yang terjadi dalam suatu organisasi diharapkan dapat menimbulkan efek yang mengarah pada positif. Dimana pihak-pihak yang ada di dalamnya ditekankan agar berperilaku sportif.
Pada dasarnya konflik yang masih lemah tidak akan berdampak negatif dan tidak akan banyak merugikan. Hanya saja antara pihak berkonflik kurang enak untuk berkomunikasi secara langsung. Sedangkan dalam persaingan sehat ketegangan-ketegangan itu tidak akan terjadi.
Apabila sistem komunikasi dan informasi tidak memenuhi sasarannya, timbullah salah paham atau orang tidak saling mengerti. Selanjutnya hal ini akan menjadi salah satu sebab timbulnya konflik atau pertentangan dalam sebuah organisasi.

Pergerakan Salafi

Posted by Unknown 1 Comment/s
ABSTRAKSI

Pergerakan SalafiSalafi adalah manhaj (metode beragama), kita lebih biasa menyebutnya sebagai Jama’ah Salafiyin. Kaum Salafiyyun pada hakikatnya tidak pernah menjadi satu jama’ah atau kelompok saja. Istilah Salafiyyun adalah terminologi baru yang sulit diketahui kapan mulai tersebarnya. Sebelumnya, salafi bukan merupakan sebuah madzhab dan ia juga bukan kelompok terorganisasi. Ia merupakan semangat yang menyebar ke dunia Islam semenjak masa tabiin.
Ada yang bisa kita petik di sini terkait persamaan gerakan Salafi dengan Hidayatullah. Dari keduanya, terdapat hasrat untuk mengamalkan Islam secara utuh dan nyata dengan totalitas yang benar-benar, serta dari semuanya itu sesuai dengan apa yang telah dituntunkan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam.
Disamping itu terdapat pula perbedaan yang cukup mencolok di antara keduanya, yaitu terkait dengan struktur keorganisasiannya. Jika Hidayatullah yang strukturnya jelas (ada ketua sampai ke bawah), berbeda dengan Salafi yang hakikatnya mereka sendiri bukanlah organisasi sama sekali.

Usaha–Usaha Mengatasi Kesulitan Belajar

Posted by Unknown 0 Comment/s
Usaha-Usaha mengatasi Kesulitan Belajar
Tugas pendidik atau guru adalah mempersiapkan generasi bangsa agar mampu menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya dikemudian hari sebagai khalifah Allah di bumi. Dalam menjalankan tugas ini pendidikan berupaya mengembangkan potensi (fitrah) sebagai anugrah Allah yang tersimpan dalam diri anak, baik yang bersifat jasmaniah maupun ruhaniah, melalui pembelajaran sebuah pengetahuan, kecakapan, dan pengalaman berguna bagi hidupnya. Dengan demikian pendidikan yang pada hakekatnya adalah untuk memanusiawikan manusia memiliki arti penting bagi kehidupan anak. Hanya pendidikan yang efektif yang mampu meningkatkan kualitas hidup dan mengantarkan anak survive dalam hidupnya.
Beberapa cara mengatasi kesulitan dalam belajar dapat dilakukan dengan cara belajar yang efektif dan efisien. Cara demikian merupakan problematika yang perlu mendapatkan perhatian cukup serius. Orang tua dan Guru Kelas kerap kali memberikan saran-saran kepada siswa agar rajin belajar karena rajin adalah pangkal cerdas. Orang cerdas akan mampu mengembangkan dirinya sesuai dengan perkembangan zaman yang serba kompleks.

Belajar: Jenis-Jenis dan Kesulitannya

Posted by Unknown 0 Comment/s
E.   Jenis-Jenis Belajar
Belajar: Jenis-Jenis dan Kesulitannya
1.      Belajar Abstrak : Belajar dengan menggunakan cara – cara berfikir abstrak. Tujuan : pemecahan masalah – masalah yang tidak nyata.
2.      Belajar Ketrampilan : menggunakan gerakan – gerakan motorik. Tujuan : penguasaan keterampilan jasmaniah tertentu
3.      Belajar sosial ; Memahami masalah dan teknik pemecahan masalah sosial. Tujuan : mengatur dorongan nafsu pribadi demi kepentingan bersama.
4.      Belajar Pemecahan Masalah : mengunakan metode ilmiah, berfikir sistematis, teratur, dan teliti. Tujuan : perolehan kemampuan dan kecakapan kognitif.
5.      Belajar apresiasi : Belajar mempertimbangkan arti penting atau nilai, seni, bahasa dan lain – lain
6.      Belajar Kebiasaan : Pembentukan dan perbaikan kebiasaan yang ada. Tujuan : perolehan kebiasaan – kebiasaan yang positif
7.      Belajar Pengetahuan : Penyelidikan yang mendalam terhadap obyek pengetahuan tertentu
8.      Belajar Rasional : Berfikir logis dan rasional. Tujuan : rational Problem Solving

Faktor–Faktor yang Mempengaruhi Belajar

Posted by Unknown 0 Comment/s
Faktor–Faktor yang Mempengaruhi Belajar
1.      Faktor Internal Siswa
Faktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu dan dapat memengaruhi hasil belajar individu. Faktor-faktor internal ini meliputi faktor fisiologis dan faktor psikologis.
a)         Fisiologis
Faktor-faktor fisiologis adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu. Faktor-faktor ini dibedakan menjadi dua macam:
Pertama, keadaan tonus jasmani. Keadaan tonus jasmani pada umumnya sangat memengaruhi aktivitas belajar seseorang. kondisi fisik yang sehat dan bugar akan memberikan pengaruh positif terhadap kegiatan belajar individu. Sebaliknya, kondisi fisik yang lemah atau sakit akan menghambat tercapainya hasil belajar yang maksimal. Oleh karena itu keadaan tonus jasmani sangat memengaruhi proses belajar, maka perlu ada usaha untuk menjaga kesehatan jasmani.

Belajar: Aktifitas dan Teori

Posted by Unknown 0 Comment/s
A.    Definisi
Belajar: Aktifitas dan TeoriBanyak definisi para ahli terkait apa yang dimaksud dengan belajar, di antaranya yaitu apa yang dikemukakan berikut ini:
1.      Menurut Aliran Behaviorisme (BF. Skiner, Pavlov, dan Guthrie): Proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif. Adaptasi akan optimal jika ada reinforcement. Timbulnya tingkah laku adalah karena adanya hubungan antara stimulus dan respons.
2.      Menurut Chaplin dalam Dictionary of Psychology: Perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat dari latihan dan pengalaman
3.      Menurut M. Sobry Sutikno dalam bukunya yang berjudul Menuju Pendidikan Bermutu (2004), mengartikan belajar sebagai suatu proses usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan yang baru sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

Efektifitas Internet sebagai Media Komunikasi Alternatif

Posted by Unknown Wednesday, June 6, 2012 3 Comment/s
Efektifitas Internet sebagai Media Komunikasi Alternatif
Di tengah keadaan yang semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, turut serta menyeret situasi yang mengharuskan akses komunikasi menjadi serba cepat, mudah, dan efisien. Keadaan semacam itu tidaklah dapat dipungkiri lagi, mengingat masyarakat dunia yang semakin konsumtif terhadap produk-produk yang diasumsikan dapat memudahkan urusan mereka. Termasuk akses komunikasi yang berjalan dalam berbagai bidang yang menuntut tingkat efisiensi dan efektifitas pencapaiannya.
Dalam rangka memenuhi tuntutan komunikasi yang efektif, maka keefektifan penggunaan internetlah yang digadang-gadang mampu sebagai alternatif baru dalam hal ragamnya media komunikasi yang ada pada perkembangan zaman ini. Karena, Internet berawal sebagai media komunikasi. Komunikasi ibarat jantung. Entah itu komunikasi oral, visual, maupun tekstual. Tanpa jantung, seseorang tidak mungkin hidup. Beberapa dari jenis komunikasi yang ada, kini telah diotomatisasi lewat komputer, atau kita mengakrabinya dengan internet. Pada dasarnya internet tidak memberikan solusi baru yang radikal dalam cara kita berkomunikasi, justru mengintegrasikan teknologi yang ada untuk meningkatkan keefektifan berkomunikasi.

Prinsip-Prinsip: Explore Mind Share

Posted by Unknown Tuesday, April 3, 2012 3 Comment/s
Suatu usaha yang berjalan dalam dinamika kehidupan masyarakat yang terus berkembang, sangatlah memerlukan prinsip-prinsip tertentu yang difokuskan sebagai wahana untuk menciptakan sebuah prestasi yang cemerlang. Demi keberhasilan suatu bisnis yang dijalankanpun, prinsip-prinsip yang diagungkan sangatlah dibutuhkan demi tegaknya bisnis yang dikelola tersebut. Namun, paparan yang diangkat kali ini tidaklah memperbincangkan dunia bisnis, melainkan sebuah manajemen dalam dakwah. Hanya saja, tak ada salahnya prinsip-prinsip yang dikembangkan dalam dunia bisnis dapat ditiru ke dalam dunia dakwah yang berlangsung dan penuh keefektifan.
Sebagaimana yang telah disinggung, berikut  adalah prinsip-prinsip yang dimaksud:

SALES MAGIC

Posted by Unknown Wednesday, March 28, 2012 4 Comment/s
   Dalam menerjuni sebuah bidang yang di dalamnya tidak terlepas pada suatu interaksi yang melibatkan individu-individu, diperlukan tahap-tahap yang sistematis guna melancarkan usaha yang dimaksud. Dan apa yang selalu diusahakan ketika berada di tengah masyarakat, sangatlah membutuhkan peran masyarakat itu sendiri yang akan memberikan suatu respon terhadap apa yang telah kita datangkan untuk mereka.

A Team

Posted by Unknown Monday, March 19, 2012 0 Comment/s

Sekumpulan angsa yang terbang di angkasa terbentuk dalam sebuah formasi yang tertentu, formasi itu menunjukan bahwa  sekawanan unggas tersebut tengah berada dalam keadaan suatu tim. Dalam sebuah tim terdapat unsur-unsur manajemen yang menjadikan tim tersebut dinamis. Layaknya organisasi, tim tersebut mempunyai arah yang dituju, dan mempunyai tujuan yang hendak dicapai dengan berbagai komponen usaha pencapaian yang berbeda.

KERANGKA FILSAFAT CAR / PTK

Posted by Unknown Monday, March 5, 2012 0 Comment/s

A. Sejarah Singkat PTK
PTK atau penelitian tindak kelas (classroom action reseach), adalah sebuah penelitian yang dilakukan oleh guru, dalam meneliti keadaan suatu kelas tertentu, sebagai proses perbaikan pembelajaran yang ada di sebuah kelas, guna untuk mencapai sebuah hasil pembelajaran yang baik. Penelitian kelas dimana guru melakukan peranan sebagai peneliti dan kelas sebagai laboratorium.

Yang mana PTK pertama kali dikenalkan oleh Kurt Lewin. Pada waktu itu, PTK dipakai untuk mendeskripsikan penelitian yang merupakan perpaduan antara pendekatan eksperimental dalam bidang ilmu social dengan program tindakan social untuk menanggapi masalah social Spesifik.

Sebenarnya PTK sudah dilaksanakan oleh guru sejak ada proses pembelajaran secara klasikal, meskipun tidak disadari oleh guru. Pada saat itu sudah dilakukan upaya perbaikan proses pembelajaran di kelas, namun pada saat itu belum dinamakan PTK. Sejak ada proses pembelajaran, praktis PTK sudah ada, hanya saja belum ada laporan secara tertulis tentang upaya perbaikan pembelajaran di dalam kelas.

Sebelum PTK banyak dikenal orang, sudah ada penelitian yang berkaitan dengan kegiatan kelas, yang dikenal dengan Penelitian Kelas (Classroom Research) dan penelitian tindakan (action research). Pada dasarnya, PTK berawal dari penelitian tindakan yang pada proses perkembangannya menekuni salah satu kawasan pendidikan, yang kita kenal dengan “kelas”. Jadi PTK dapat dinyatakan sebagai perpaduan antara penelitian tindakan dan penelitian kelas. 

B. Karakteristik PTK Emansipatori dan Liberating
Dalam PTK  ini tidak hanya memiliki satu atau dua karakteristik saja, akan tetapi memiliki banyak karakteristik, PTK memeliki sejumlah karakteristik sebagai berikut : Bersifat siklis, artinya PTK terlihat siklis-siklis (perencanaan, pemberian tindakan, pengamatan dan refleksi), sebagai prosedur baku penelitian. Bersifat longitudinal, artinya PTK harus berlangsung dalam jangka waktu tertentu (misalnya 2-3 bulan) secara kontinyu untuk memperoleh data yang diperlukan, bukan "sekali tembak" selesai pelaksanaannya.

Bersifat partikular-spesifik jadi tidak bermaksud melakukan generalisasi dalam rangka mendapatkan dalil-dalil. Hasilnyapun tidak untuk digenaralisasi meskipun mungkin diterapkan oleh orang lain dan ditempat lain yang konteksnya mirip.

Bersifat partisipatoris, dalam arti guru sebagai peneliti sekali gus pelaku perubahan dan sasaran yang perlu diubah. Ini berarti guru berperan ganda, yakni sebagai orang yang meneliti sekali gus yang diteliti pula. Penelitian PTK tidak untuk digenerelasikan sebab hanya dilakukan dikelas tertentu dan waktu tertentu.

Bersifat emik (bukan etik), artinya PTK memandang pembelajaran menurut sudut pandang orang dalam yang tidak berjarak dengan yang diteliti; bukan menurut sudut pandang orang luar yang berjarak dengan hal yang diteliti. Bersifat kaloboratif atau kooperatif, artinya dalam pelaksanaan PTK selalu terjadi kerja sama atau kerja bersama antara peneliti (guru) dan pihak lain demi keabsahan dan tercapainya tujuan penelitian. Emansipasi guru selalu dikaitkan dengan istilah atau konsep profesi, sebagai guru yang professional. 

Bersifat kasuistik, artinya PTK menggarap kasus-kasus spesifik atau tertentu dalam pembelajaran yang sifatnya nyata dan terjangkau oleh guru; menggarap masalah-masalah besar. Menggunakan konteks alamiah kelas, artinya kelas sebagai ajang pelaksanaan PTK tidak perlu dimanipulasi dan atau direkayasa demi kebutuhan, kepentingan dan tercapainya tujuan penelitian. Mengutamakan adanya kecukupan data yang diperlukan untuk mencapai tujuan penelitian, bukan kerepresentasifan (keterwakilan jumlah) sampel secara kuantitatif.

Selain itu berdasarkan pengertiannya, kita dapat mengetahui bahwa ciri atau karakteristik dari PTK dibandingkan dengan penelitian lain, diantaranya:
1.    Masalah pada PTK muncul dari kesadaran pada diri guru, yang hasur diperbaiki dengan prakarsa perbaikan dari guru itu sendiri, bukan oleh guru dari luar. Dengan demikian, masalah dalam PTK berasal dari permasalahan nyata dan actual yang terjadi dalam pembelajaran di kelas. Dengan kata lain, PTK berfokus pada masalah praktis bukan problem teoritis.
2.    PTK merupakan penelitian yang dilakukan melalui refleksi diri ( self reflective inquiry ). Untuk melakukan refleksi, sebaiknya guru bertanya pada diri sendiri, misalnya :
-    Apakah penjelasannya terlalu cepat ?
-    Apakah saya sudah memberikan contoh konkrit dan mamadai ?
-    Apakah bahasa yang saya gunakan mudah dipahami siswa ?
3.    PTK dilakukan didalam kelas, focus penelitian adalah pada kegiatan pembelajaran di kelas, yang berupa prilaku guru dan siswa dalam berinteraksi.
4.    PTK bertujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran yang dilakukan secara bertahap dan terus menerus selama PTK dilakukan. Oleh sebab itu, dalam PTK dikenal adanya siklus tindakan yang  meliputi: perencanaan-pelaksanaan –observasi- refleksi- revisi ( perencanaa ulang ).
5.    PTK merupakan bagian penting dari upaya pengembangan profesional guru, karena PTK mampu membelajarkan guru untuk berfikir kritis dan sistematis, mampu membiasakan guru untuk menulis dan membuat cacatan.

C.    Pembelajaran Replektif
Pembelajaran replektif sama halnya juga merupakan pembelajaran melalui pengalaman yang di alami oleh murid itu.

Sebenarnya metode  pembelajaran ini telah lama hilang dari dunia pendidikan, yang mana di Indonesia saat ini tidak lagi memperhatikan segi metode ini, yang ada adalah bagaimana terjadi proses tranformasi nilai-nilai ilmu saja, tanpa melihat bagaimana proses pengalaman murid-murid dalam mendapatkan ilmu-ilmu tersebut.

Oleh karena itu pembelajaran reflektif menjadi sebuah solusi saat ini. karena hal ini dianggap tepat karena demikianlah yang terjadi di tengah dunia pendidikan di Indonesia. Dimesi-dimensi reflektif dalam pembelajaran telah cukup lama diabaikan dalam prakteknya. Hal keterpurukan kualitas pendidikan di negeri ini tentu sudah menjadi perhatian umum. Namun yang justru terasa langka adalah elaborasi lebih dalam dan serius akan penyebab dan solusi atas keterpurukan yang terjadi. 

Sehingga refleksi dalam proses pembelajaran penting bagi pengajar lebih-lebih bagi pembelajar. Sudah seharusnya signifikasi pembelajaran adalah konstruktivisme, yang pada hakikat belajarnya adalah proses pembangunan makna yang memiliki visibilitas.

Untuk sampai tahap itu maka salah satu prinsip pembelajaran dalam konteks konstruktivisme disini adalah dengan menerapkan refleksi didalamnya.
Oleh karena  itu, dalam hal ini penerapan metode yang didasarkan pada pengalaman siswa sendiri jauh lebih baik. Walaupun saat ini sebagian besar yang terjadi di sekolah yaitu, ketika terjadi proses belajar mengajar, sebagian besar waktu mereka digunakan untuk memperhatikan materi yang disampaikan di kelas. Dengan penjabaran metode belajar ini tentu akan memberikan pencerahan dan menolong para guru dalam melaksanankan pembelajaran yang efektif di kelas.

D. PTK dalam konteks confidensi dan prestise
Media, Teknologi, dan Pembelajaran konteks belajar dan itu berdampak pada hasil belajar siswa. LEARNING Belajar adalah proses pengembangan pengetahuan, ketrampilan-ketrampilan, atau pengembangan tingkah laku sebagai interaksi individu, menyangkut fasilitas-fasilitas fisik, psikologis, metode pembelajaran, media, dan teknologi. Belajar adalah proses yang dilakukan sepanjang waktu oleh individu manapun.

Dengan demikian, belajar adalah proses yang melibatkan proses seleksi, pengaturan, dan penyampaian pesan yang pantas kep ... rasakan, dengan atau tanpa
kegunaan dari media teknologi dan pembalajaran. Jika guru merasa dengan benar siswanya sebagai manusia, dihormati, dan mereka memiliki motivasi, dengan atau tanpa bantuan media dan teknologi, mereka akan memandang siswa yang terlibat dalam pembelajaran.

Yang menjadi hal penting dari teknologi adalah bagaimana teknologi itu ditampilkan di dalam kelas, tetapi lebih penting adalah bagaimana seorang guru menuntun siswa dalam menggunakan media dan teknologi di dalam kelas. ... percaya bahwa belajar yang efektif terjadi ketika pebelajar (siswa) terlibat dalam tugas-tugas autentik yang berhubungan dengan konteks-konteks yang bermakna.

Kemudian ukuran terakhir dari pembelajaran berbasis pada kemampuan pebelajar (siswa) dalam menggunakan pengetahuan untuk memfasilitasi cara berpikir akan kehidupan sesungguhnya. Social-Psychological Perspectiv Psikologi sosial merupakan tradisi lain yang sudah dibentuk dalam studi belajar dan pembelajaran. Psikologi sosial melihat d ... diri dari perspektif behaviorisme. Paham ini merupakan pandangan yang mempelopori dan menjadi peletak dasar lahirnya teori-teori pembelajaran kontemporer dan modern.

Perspektif behaviorisme berpendapat bahwa belajar merupakan aktifitas yang dapat diukur dan dikendalikan mulai dari perencanaan sampai dengan hasil yang ingin dicapai. Semua komponen belajar merupakan variabel yang dapat dikontrol dan dikendalikan dengan sangat baik oleh guru. Meskipun dalam pelaksanaannya terdapat berbagai kendala. Dalam sejarah, media dan teknologi memiliki pengaruh terhadap pendidikan. Contohnya, komputer dan internet telah mempengaruhi proses pembelajaran sampai saat ini.

Aturan-aturan dari pendidik dan pebelajar telah berubah karena dipengaruhi media dan teknologi yang digunakan di dalam kelas.Perubahan ini sangat esensial,
karena sebagai penuntun dalam proses pembelajaran, pendidik (guru) berhak menguji media dan teknologi dalam konteks belajar dan itu berdampak pada hasil belajar siswa. Belajar adalah proses pengembangan pengetahuan, ketrampilan-ketrampilan, atau pengembangan tingkah laku sebagai interaksi individu, menyangkut fasilitas-fasilitas fisik, psikologis, metode pembelajaran, media, dan teknologi. Belajar adalah proses yang dilakukan sepanjang waktu oleh individu manapun.

Dengan demikian, belajar adalah proses yang melibatkan proses seleksi, pengaturan, dan penyampaian pesan yang pantas kepada lingkungan dan
bagaimana cara pebelajar berinteraksi dengan informasi tersebut. Dengan demikian hal ini melihat beberapa pandangan-pandangan psikologis dan pandangan-pandangan filusuf. Pembahasan kali ini juga akan menggambarkan berbagai aturan dari media dalam belajar dan menampilkan metode-metode yang berbeda, seperti presentasi-presentasi, demonstrasi-demonstrasi, dan diskusi-diskusi akan teknologi yang berhubungan dengan belajar.

E. Macam - Macam Kebenaran
1. The Correspondence theory of truth
Teori ini sampai tingkat tertentu sudah dimunclkan Aristoteles, mengatakan hal yang ada sebagai tidak ada, atau yang tidak ada sebagai ada, adalah salah. Sebaliknya, mengatakan yang ada sebagai ada, atau yang tidak ada sebagai tidak ada, adalah benar. Dengan ini Aristoteles sudah meletakkan dasar bagi teori kebenaran sebagai persesuaian bahwa kebenaran adalah persesuaian antara apa yang dikatakan dengan kenyataan. Jadi suatau pernyataan dianggap benar jika apa yang dinyatakan memiliki keterkaitan (correspondence) dengan kenyataan yang diungkapkan dalam pernyataan itu.

Menurut teori ini, kebenaran adalah soal kesesuaian antara apa yang diklaim sebagai diketahui dengan kenyataan yang sebenarnya. Benar dan salah adalah soal sesuai tidaknya apa yang dikatakan dengan kenyataan sebagaimana adanya. Atau dapat pula dikatakan bahwa kebenaran terletak pada kesesuaian antara subjek dan objek, yaitu apa yang diketahui subjek dan realitas sebagaimana adanya. Kebenaran sebagai persesuaian juga disebut sebagai kebenaran empiris, karena kebenaran suatu pernyataan proposisi, atau teori, ditentukan oleh apakah pernyataan, proposisi atau teori didukung fakta atau tidak.

Suatu ide, konsep, atau teori yang benar, harus mengungkapkan relaitas yang sebenarnya.Kebenaran terjadi pada pengetahuan. Pengetahuan terbukti benar dan menjadi benar oleh kenyataan yang sesuai dengan apa yang diungkapkan pengetahuan itu. Oleh karena itu, bagi teori ini, mengungkapkan realitas adalah hal yang pokok bagi kegiatan ilmiah. Dalam mengungkapkan realitas itu, kebenaran akan muncul dengan sendirinya ketika apa yang dinyatakan sebagai benar memang sesuai dengan kenyataan. Berkaitan dengan teori ini, ada beberapa hal yang perlu dicatat, yaitu:

pertama, teori ini sangat ditekankan oleh aliran empirisisme yang mengutamakan pengalaman dan pengamatan inderawi sebagai sumber utama pengetahuan manusia. Maka, teori ini sangat menghargai pengamatan, percobaan atau pengujian empiris untuk mengungkapkan kenyataan yang sebenarnya. Sehubungan dengan itu, teori ini lebih mengutamakan cara kerja dan pengetahuan aposteriori, yaitu pengetahuan yang terungkap hanya melalui dan setelah pengalaman dan percobaan empiris.

Kedua, teori ini juga cenderung menegaskan dualitas antara subjek dan objek, antara si pengenal dan yang dikenal.Dengan titik tolak dualitas tersebut, teori ini lalu menekankan pentingnya objek bagi kebenaran pengetahuan manusia.Bahkan bagi teori ini yang paling berperan bagi kebenaran pengatahuan manusia adalah objek. Subjek atau akal budi hanya mengolah lebih jauh apa yang diberikan oleh objek.
Ketiga, teori ini sangat menekankan bukti (evidence) bagi kebenaran suatu pengetahuan.Tetapi bukti ini bukan diberikan secara apriori oleh akal budi. Bukti ini bukan konstruksi akal budi, bukan hasil imajinasinya, melainkan adalah apa yang disodorkan oleh objek yang dapat ditangkap oleh panca indera manusia. Kebenaran akan terbukti dengan sendirinya jika apa yang dinyatakan dalam proposisi sesuai kenyataan sebagaimana diungkapnya.

2. The Coherence Theory of truth
Jika teori kebenaran sebagai persesuaian dianut oleh keum empiris, maka teori yang kedua ini, yaitu teori kebenaran sebagai keteguhan, dianut oleh kaum rasionalis seperti Leibniz, Spinoza, Descartes, Hegel, dlsb. Menurut teori ini, kebenaran tidak ditemukan dalam kesesuaian antara proposisin dengan kenyataanmelainkan dalam relasi antara proposisi baru dengan proposisi yang sudah ada.maka suatu pengetahuan, teori, pernyataan, proposisi, atau hipotesis dianggap benar jika proposisi itu meneguhkan dan konsisten dengan proposisi sebelumnya yang dianggap benar.

Bagi kaum rasionalis, pengetahuan tidak mungkin bisa keluar dari pikiran atau akal budi manusia untuk berhadapan langsung dengan realitas, dan dari situ bisa diketahui apakah pengetahuan itu benar atau tidak.Matematika dan ilmu-ilmu pasti lainnya sangat menekankan teori ini.

Menurut para penganut teori ini, mengatakan bahwa suatu pernyataan atau proposisi benar atau salah, adalah mengatakan bahwa proposisi itu berkaitan dan meneguhkan proposisi atau pernyataan yang lain atau tidak. Dengan kata lain, pernyataan itu benar jika pernyataan itu cocok dengan sistem pemikiran yang ada.

Maka kebenaran sesunguhnya hanya berkaitan dengan implikasi logis dari sistem pemikiran yang ada. Misalnya: (1) Semua manusia pasti mati; (2) Sokrates adalah manusia; (3) Sokrates pasti mati. Kebenaran (3) hanya merupakan implikasi logis dari sistem pemikiran yang ada, yaitu (1) Semua manusia pasti mati, dan (2) Sokrates adalah manusia.Dalam arti ini, kebenaran (3) sesungguhnya sudah terkandung dalam kebenaran (1).Oleh karena itu, kebenaran (3) tidak ditentukan oleh apakah dalam kenyataannya Sokrates mati atau tidak.

Sebagai perbandingan, kita dapat membuat pembedaan antara kebenaran empiris dan kebenaran logis sebagai berikut: Kebenaran Empiris: 1) mementingkan objek; 2) menghargai cara kerja induktif dan aposteriori; dan 3) lebih mengutamakan pengamatan indera. Kebenaran Logis: 1) mementingkan subjek; 2) menghargai cara kerja deduktif dan apriori; dan 3) lebih mengutamakan penalaran akal budi.

Pentingnya kedua kebenaran ini sangat ditekankan oleh Imanuel kant. Bagi Kant, baik akal budi maupun panca indera mempunyai peran penting untuk melahirkan pengetahuan manusia. Karena syarat mutlak bagi adanya pengetahuan adalah kebenaran, Kant pun sangat menekankan baik kebenaran logis yang diperoleh melalui penalaran akal budi, maupun kebenaran empiris yang diperoleh dengan bantuan panca indera yang menyodorkan data-data tertentu.

Pentingnya keduakebenaran ini secara saling menunjang terutama agar kita tidak terjebak pada silogisme dan retorika kosong. Karena seringkali suatu pernyataan sangat benar dari segi logis, tetapi sama sekali tidak didukung oleh fakta empiris.

F. Etika dalam Penelitian Tindakan Kelas
Tujuan filosofis dalam Penelitian Tidakan Kelas adalah perubahan kearah yang lebih baik. Perubahan kearah yang lebih baik terserbut dibidani dengan cara memecahkan permasalahan pembelajaran dan perbaikan pembelajaran di kelas yang dilakukan oleh praktisi pembelajaran, guru itu sendiri (Fatchan, 2009: 11).
Dengan kata lain, perubahan apapun yang akan dilakukan praktisi pendidikan dalam kaitanya dengan belajar dan pembelajaran yang pasti akan melibatkan dan mempengaruhi banyak pihak selain siswa seperti teman sejawat, atasan, bahkan orang tua maka perubahan tersebut dalam prosesnya harus dilakukan secara etis.

Berikut adalah uraian singkat tentang prinsip-prinsip etis yang perlu diperhatikan dalam melakukan Penelitain Tindakan Kelas :

1. Kelengkapan Dokumen
Dalam melakukan penelitian, peneliti hendaknya menyertakan beberapa kelengkapan berupa surat izin kepada subject penelitian dan pihak-pihak yang terkait dengan kegiatan penelitian tersebut.
2. Negosiasi Akses
Perizinan tempat misalny adalah hal yang terbelit-belit dalam birokrasi namun hal ini tidak boleh terlewat. Dengan menguatarakan niat kita dengan baik kepada pihak yang berwenang, bukan tidak mungkin akses kita ke dalam, misalnya sekolahan, akan lebih baik lagi.

a.   Dengan yang berwenang: pihak yang berwenang di sekolah seperti kepala sekolah adalah orang yang akan memberikan izin dalam penelitian. Adapun bila dalam penelitian ada perubahan, maka pihak yang pertama kali berhak tahu adalah kepala sekolah.
b.   Peserta: selayaknya peneliti tidak menempatkan peserta atau subject penelitian sebagai “kelinci percobaan” namun lebih kepada partner dalam penelitian. Peneliti perlu menegaskan ini berkali-kali di dalam maupu di luar kelas sehingga pada saat penelitian peserta penelitian tidak canggung dan merasa ditekan kebebasanya untuk bersikap sealami mungkin. Selain itu instrument berupa surat pemberitahuan akan penelitain juga harus disertakan.
c.   Orang Tua: karena PTK melibatkan peserta didik maka ada baiknya surat yang diberikan kepada murid-murid diteruskan kepada orang tua. Dengan demikian orang tua tidak akan khawatir dan bertanya-tanya bila nantinya ada perbedaan kelakuan atau sikap pada peserta didik selama proses penelitian.

3. Menjaga Kerahasiaan
Seperti diutarakan jauh diatas mengenai privasi, maka sudah selayaknya peneliti menjaga wilayah privasi siswa, guru, orang tua, bahkan institusi bila hal ini diperlukan.

a. Kerahasiaan infromasi: hendaknya peneliti menegaskan akan melaporkan informasi yang termasuk zona public untuk mengetahuinya. Dan pelaporanya itupun harus sesuai dengan peraturan-peraturan terkait yang berlaku. Adapun informasi-informasi yang bersifat privasi hendaknya tidak dilaporkan. Kalaupun terpaksa dilaporkan maka harus minta izin kepada pihak yang terkait dan merahasiakan identitasnya.
b. Kerahasiaan Identitas: dalam penyebutan identitas baik individu maupun tempat hendaknya peneliti minta izin dengan pihak terkait terlebih dahulu. Pun dalam penyebutan, peneliti bisa menggunakan insial, kode, nomor dan sebagainya dan menghindari penggunaan nama fiktif karena mungkin akan ada kesamaan dengan realitas mengingat penyebutan nama adalah hal yang sensitive.
c. Kerahasiaan data: kerahasiaan data adalah hal yang penting dalam penelitian. Data yang pada hakikatnya informasi yang dibutuhkan oleh peneliti akan dipertanggung jawabkan kelak oleh karena itu keorisinilan, validitas, dan reliabilitas data harus dijaga. Begitu juga bila data tersebut menyangkut privasi, maka perlu sedianya untuk meminta izin terlebih dahulu sebelum digunakan.
d. Menjamin Hak Peserta Untuk Mengundurkan Diri dari Penelitian: seperti dalam program tevelisi bertemakan horror, bila peserta merasa tidak nyaman dengan penelitian maka kita harus meyakinkan peserta penelitian untuk “angkat tangan”. Tentu saja izin ini tidak serta merta diberikan, namun harus melalui beberapa tanya jawab yang intens dan kekeluargaan dengan peneliti.
e. Menjaga Kepercayaan: hal yang paling sering muncul bukanlah salah satu pihak yang menghianati pihak lain, namun kerusakan kepercayaan ini disebabkan karena kurangnya keterbukaan dalam komunikasi antara peneliti dengan peserta. Sebaiknya bila ragu-ragu dalam melangkah, peneliti melakukan pengecekan ulang kepada yang terkait.
f. Mejaga Kode Etik profesionalitas dan Akademik: sebagai kaum akademik selayaknya peneliti selalu mengingat bahwa kegiatan PTK adalah kegiatan professional yang menuntut tanggunjawab dan komitmen pribadi. Segala kegiatan PTK harus memenuhi persyaratan akademik yang telah ditentukan.

BAB III
KESIMPULAN

PTK banyak dikenal orang, sudah ada penelitian yang berkaitan dengan kegiatan kelas, yang dikenal dengan Penelitian Kelas (Classroom Research) dan penelitian tindakan (action research). Pada dasarnya, PTK berawal dari penelitian tindakan yang pada proses perkembangannya menekuni salah satu kawasan pendidikan, yang kita kenal dengan “kelas”. Jadi PTK dapat dinyatakan sebagai perpaduan antara penelitian tindakan dan penelitian kelas. 

Dimesi-dimensi reflektif dalam pembelajaran telah cukup lama diabaikan dalam prakteknya. Hal keterpurukan kualitas pendidikan di negeri ini tentu sudah menjadi perhatian umum. Namun yang justru terasa langka adalah elaborasi lebih dalam dan serius akan penyebab dan solusi atas keterpurukan yang terjadi. 

Bersifat emik (bukan etik), artinya PTK memandang pembelajaran menurut sudut pandang orang dalam yang tidak berjarak dengan yang diteliti; bukan menurut sudut pandang orang luar yang berjarak dengan hal yang diteliti. Bersifat kaloboratif atau kooperatif, artinya dalam pelaksanaan PTK selalu terjadi kerja sama atau kerja bersama antara peneliti (guru) dan pihak lain demi keabsahan dan tercapainya tujuan penelitian. Bersifat kasuistik, artinya PTK menggarap kasus-kasus spesifik atau tertentu dalam pembelajaran yang sifatnya nyata dan terjangkau oleh guru; menggarap masalah-masalah besar.

Perspektif behaviorisme berpendapat bahwa belajar merupakan aktifitas yang dapat diukur dan dikendalikan mulai dari perencanaan sampai dengan hasil yang ingin dicapai. Semua komponen belajar merupakan variabel yang dapat dikontrol dan dikendalikan dengan sangat baik oleh guru. Meskipun dalam pelaksanaannya terdapat berbagai kendala. Dalam sejarah, media dan teknologi memiliki pengaruh terhadap pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA

Fatchan, Ahmad; Dasna, Wayan. 2009. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Surabaya: Jenggala Pustaka
http://main.man1bojonegoro.com/index.php/component/content/article/48-artikel-guru/124-sejarah-penelitian-tindak-kelas
http://www.m-edukasi.web.id/2012/04/karakteristik-ptk-penelitian-tindakan.html
http://www.abdulrahmansaleh.com/2011/03/karakteristik-ptk-penelitina-tindakan.html
http://blog.pasca.gunadarma.ac.id/2012/08/01/model-pembelajaran-reflektif/
Supardi, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: Bumi Aksara. 2011
Wiriatmaja, Rochiati, Metode Penelitian Tindakan Kelas, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010

Model Pembelajaran Tematik

Posted by Unknown Monday, February 27, 2012 0 Comment/s

A.    Hakikat Model Pembelajaran
Sebelum kita membahas tentang model pembelajaran, terlebih dahulu akan kita kaji apakah yang dimaksud dengan model? Secara menyeluruh model dimaknakan sebagai suatu obyek atau konsep yang digunakan untuk merepresentasikan sesuatu hal. Sesuatu yang nyata dan dikonversi untuk sebuah bentuk yang lebih komprehensip.

Sedangkan model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, computer, kurikulum, dan lain 

 Adapun soekamto, dkk , mengemukakan maksud dari model pembelajaran adalah : “kerangka konseptual yang melukiskan prosedur dalam sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktifitas belajar mengajar”. 

Ciri-ciri model pengajaran1.    Rasional teoritik logis, dalam model ini guru memandu siswa menguraikan rencana pemecahan masalah menjadi tahap-tahap kegiatan; guru memberi contoh mengenai penggunaan keterampilan dan strategi yang dibutuhkan supaya tugas-tugas tersebut dapat diselesaikan. Guru menciptakan suasana kelas yang fleksibel dan berorientasi pada upaya penyelidikan oleh siswa.

2.    Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar (tujuan pembelajaran yang akan dicapai), model-model pembelajaran dapat diklasifikasikan berdasrkan tujuan pembelajarannya, sintaks (pola urutannya) dan sifat lingkungan belajarnya. 

3.    Tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil. Sintaks (pola urutan) dari suatu model pembelajaran adalah pola yang menggambarkan urutan alur tahap-tahap keseluruhan yang pada umunnya disetai dengan serangkaian kegiatan pembelajaran. Sintaks dari suatu model pembelajaran tertentu menunjukan dengan jelas kegiatan-kegiatan apa yang harus dilakukan oleh guru atau siswa.

4.    Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai, tiap model pembelajaran membutuhkan system pengelolaan dan lingkungan yang sedikit berbeda.
Selain ciri-ciri khusus pada suatu model pembelajaran, menurut nieveen, suatu model pembelajaran dikatakan baik jika memenuhi criteria yaitu: pertama, sahih (valid), jika 1). Apakah model yang dikembangkan didasarkan pada rasioanl teoritik yang kuat; 2). Apakah terdapat konsistensi internal. Kedua, praktis, jika 1) apa yang dikembangkan dapat diterapkan; 2) kenyataannya bahwa apa yang dikembangkan tersebut dapat diterapkan. Ketiga, efektif, jika 1) ahli dan praktisi berdasar pengalamannya menyatakan bahwa model tersebut efektif; 2) secara oprasional model tersebut memberikan hasil sesuai dengan yang diharapkan.

Arends, menyeleksi enam model pengajaran yang sering dan praktis digunakan guru dalam mengajar, yaitu: presentasi, pengajaran langsung, pengajaran konsep, pembelajaran kooperatif, pengajaran berdasarkan masalah, dan diskusi kelas. Arends dan pakar lain berpendapat, bahwa tidak ada satu model pembelajaran yang paling baik diantara yang lainnya, karena masing-masing model pembelajaran dapat dirasakan baik, apabila telah diuji cobakan untuk mengajarkan materi pelajaran tertentu. Oleh karena itu dari beberapa model pembelajaran yang ada perlu kiranya diseleksi model pembelajaran yang mana yang paling baik untuk mengajarkan suatu materi tertentu.

B.    Hakikat Model Pembelajaran Tematik
1.    Istilah dan pengertian
Pembelajaran Tematik sebagai model pembelajaran termasuk salah satu tipe/jenis daripada model pembelajaran terpadu. Istilah pembelajaran tematik pada dasarnya adalah model pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa.

John dewey mengungkapkan bahwa pembelajaran terpadu adalah pendekatan untuk mengembangkan pengetahuan siswa dalam pembentukan pengetahuan berdasarkan pada interaksi dengan dan pengalaman kehidupannya. Menurut. raka joni bahwa pembelajaran terpadu merupakan suatu system pembelajaran yang memungkinkan siswa secara individual maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip keilmuan secara holistic, bermakna, dan otentik. 

Lebih lanjut hadi subroto  menegaskan, pembelajaran terpadu adalah pembelajaran yang diawali dengan suatu pokok bahasan atau tema tertentu yang dikaitkan dengan pokok bahasan yang lain, konsep tertentu dikaitkan dengan konsep lain, yang dilakukan secara spontan atau direncanakan, baik dalam satu bidang studi atau lebih, dan dengan beragam pengalaman belajar siswa, maka pembelajaran menjadi lebih bermakna. Maka pada umumnya pembelajaran tematik/terpadu adalah pembelajaran yang menggunakan tema tertentu untuk mengaitkan antara beberapa isi mata pelajaran dengan pengalaman kehidupan nyata sehari-hari siswa sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna bagi siswa.

Keuntungan dari penerapan pembelajaran tematik : pertama, mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu. Kedua, siswa mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar mata pelajaran dalam tema yang sama. Ketiga, pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan. Keempat, kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengaitkan mata pelajaran lain dengan pengalaman pribadi peserta didik. Kelima, Peserta didik lebih mampu merasakan manfaat dan makna belajar. Keenam, siswa lebih bergairah dalam belajar. Ketujuh, guru dapat menghemat waktu dalam mengajar.

Berdasarkan bebagai pengertian tersebut di atas, dapatlah diambil kesimpulan bahwa pembelajaran tematik/terpadu merupakan suatu model pembelajaran yang memadukan beberapa matei pembelajaran dari berbagai standard kompetensi dasar dari satu atau beberapa mata pelajaran. Penerapan pembelajaran ini dapat dilakukan melalui tiga pendekatan yakni penentuan berdasarkan keterkaitan standar kompetensi dan kompetensi dasar, tema, dan masalah yang dihadapi.
 
2.    Prinsip dasar pembelajaran tematik
Secara umum prinsip-prinsip pembelajaran tematik dapat diklasifikasikan menjadi:
a.    Prinsip penggalian tema. Prinsip ini merupakan prinsip utama (focus) dalam pembelajaran tematik. Artinya tema-tema yang saling tumpang tindih dan ada keterkaitan menjadi target utama dalam pembelajaran.
b.    Prinsip pengelolaan pembelajaran. Pengelolaan pembelajaran dapat optimal apabila guru mampu menempatkan dirinya dalam keseluruhan proses. Artinya, guru harus mampu menempatkan diri sebagai fasilitator dan mediator dalam proses pembelajaran.
c.    Prinsip evaluasi. Evaluasi pada dasarnya menjadi focus dalam setiap kegiatan. Bagaimana suatu kerja dapat diketahui hasilnya apabila tidak dilakukan evaluasi.
d.    Prisip reaksi. Dampak pengiring (nurturant effect) yang penting bagi perilaku secara sadar belum tersentuh oleh guru dalam KBM (kegiatan belajar mengajar). Karena itu guru dituntut agar mampu merencanakan dan melaksanakan pembelajaran sehingga tercapai secara tuntas tujuan-tujuan pembelajaran. Guru harus bereaksi terhadap aksi siswa dalam semua peristiwa serta tidak mengarahkan aspek yang sempit melainkan ke suatu kesatuan yang utuh dan bermakna.

3.    Arti penting pembelajaran tematik
Pembelajaran tematik, sebagai model pembelajaran memiliki arti penting dalam membangun kompetensi peserta didik, antara lain: pertama, pembelajaran tematik lebih menekankan pada keterlibatan siswa dalam proses belajar secara aktif dalam proses pembelajaran, sehingga siswa dapat memperoleh pangalaman langsung dan terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang dipelajarinya. Kedua, pembelajaran tematik lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan sesuatu. 

 Selain itu juga ada beberapa alasan yang mendasari pembelajaran tematik memiliki arti penting, antara lain: petama, Dunia anak adalah dunia nyata. Kedua, Proses pemahaman anak terhadap suatu konsep dalam suatu peristiwa/obyek lebih terorganisir. Ketiga, Pembelajran akan lebih bermakna. Keempat, Memberi peluang siswa untuk mengembangkan kemampuan diri. Kelima, Memperkuat kemampuan yang diperoleh. Keenam, Efisiensi waktu.
Menurut Kunandar, Pembelajaran tematik mempunyai kelebihan yakni: petama, Menyenangkan karena berangkat dari minat dan kebutuhan peserta didik. Kedua, Memberikan pengalaman dan kegiatan belajar mengajar yang relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan peserta didik. Ketiga, Hasil belajar dapat bertahan lama karena lebih berkesan dan bermakna. Keempat, Mengembangkan keterampilan berpikir peserta didik sesuai dengan persoalan yang dihadapi. Kelima, Menumbuhkan keterampilan sosial melalui kerja sama. Keenam, Memiliki sikap toleransi, komunikasi dan tanggap terhadap gagasan orang lain. Ketujuh, Menyajikan kegiatan yang bersifat nyata sesuai dengan persoalan yang dihadapi dalam lingkungan peserta didik.

Selain kelebihan di atas pembelajaran tematik memiliki beberapa kelemahan. Kelemahan pembelajaran tematik tersebut terjadi apabila dilakukan oleh guru tunggal. Misalnya seorang guru kelas kurang menguasai secara mendalam penjabaran tema sehingga dalam pembelajaran tematik akan merasa sulit untuk mengaitkan tema dengan mateti pokok setiap mata pelajaran. Di samping itu, jika skenario pembelajaran tidak menggunakan metode yang inovatif maka pencapaian Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar tidak akan tercapai karena akan menjadi sebuah narasi yang kering tanpa makna.

4.    Karakteristik pembelajaran tematik
Pembelajaran tematik memiliki beberapa ciri khas, yang telah disebutkan pada kelebihan-kelebihan pembelajaran tematik di atas. Selain itu, sebagai model pembelajaran di sekolah dasar/madrasah ibtida’iyah pembelajaran tematik memiliki karakteristik-karakteristk antara lain: berpusat siswa; memberikan pengalaman langsung; pemisahan mata pelajaran tidak begitu luas; menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran; bersifat fleksibel; hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa; dan menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan .
Selain itu pembelajaran tematik sebagai bagian dari pembelajaran terpadu juga memiliki karakter sebagaimana pembelajaran terpadu. Menurut depdikbud, pembelajaran terpadu sebagai suatu proses mempunyai beberapa karakteristik/ciri-ciri, yaitu: holistic, bermakna, otentik, dan aktif.

C.    Sintaks Model Pembelajaran Tematik
Sintaks pembelajaran tematik pada dasarnya mengikuti langkah-langkah (sintak) pembelajaran terpadu. Secara umum sintaks tersebut mengikuti tahap-tahap yang dilalui dalam setiap model pembeljaran yang meliputi tiga tahap yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, dan tahap evaluasi. Berkaitan dengan itu maka sintaks model pembelajaran tematik dapat direduksi dari berbagai model pembelajaran seperti model pembelajaran langsung (direct intructions), model pembelajran kooperatif (cooperative learning), maupun model pembelajaran berdasarkan masalah (problem based instructions). 

Menurut prabowo, langkah-langkah (sintaks) pembelajran terpadu secara khusus dapat dibuat tersendiri berupa langkah-langkah baru dengan sedikit ada perbedaan yakni sebagai berkut:
1.    Tahap perencanaan
a.    Menentukan jenis mata pelajaran dan jenis keterampilan yang dipadukan. Maksudnya karakteristik mata pelajaran menjadi pijakan untuk kegiatan awal ini.
b.    Memilih kajian materi, standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator. Maksudnya langkah ini akan mengarahkan guru untuk menentukan sub keterampilan dari masing-masing keterampilan yang dapat diintegrasikan dalam satu unit pelajaran.
c.    Menentukan sub keterampilan yang dipadukan. Secara umum keterampilan-keterampilan yang dikuasai meliputi, keterampilan berpikir (thingking skills), keterampilan social, dan keterampilan mengorganisasi, yang masing-masing teridiri atas sub-sub keterampilan.
d.    Merumuskan indikator hasil belajar. Berdasarkan kompetensi dasar dan sub keterampilan yang telah dipilih dirumuskan indikator. Setiap indikator dirumuskan berdasarkan kaedah penulisan yang meliputi: audience (peserta didik), behavior (perilaku yang diharapkan), condition (media/alat) dan degree (jenjang/jumlah).
e.    Menentukan langkah-langkah pembelajaran. Langkah ini diperlukan sebagai strategi guru untuk mengintegrasikan setiap sub keterampilan yang telah dipilih pada setiap langkah pembelajaran.

2.    Tahap pelaksanaan
Prinsip-prinsip utama dalam pelaksanaan pembelajaran terpadu, meliputi: pertama, guru hendaknya tidak menjadi single actor yang mendominasi dalam kegiatan pembelajaran melainkan guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran. Kedua, pemberian tanggung jawab individu dan kelompok harus jelas. Ketiga, guru perlu akomodatif terhadap ide-ide yang terkadang sama sekali tidak terpikirkan dalam proses perencanaan.
a.    Tahap evaluasi
Tahap evaluasi dapat berupa evaluasi proses pembelajaran dan evaluasi hasil pembelajaran. Tahap evaluasi menurut departemen pendidikan nasional, hendaknya meperhatikan prinsip evaluasi pembelajaran terpadu.
a.    Memberikan kesempatan kepada siswa melakukan evaluasi diri disamping bentuk evaluasi lainnya.
b.    Guru perlu mengajak para siswa untuk mengevaluasi perolehan belajar yang telah dicapai berdasarkan kriteria keberhasilan pencapaian tujuan yang akan dicapai.


DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. 2007. Materi Sosialisasi dan Pelatihan Kurikulum Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta.
Hadi subroto, Trisnodan ida siti herawati. 2003. pembelajaran terpadu, Jakarta: pusat penerbitan universitas terbuka.
Rusman. 2011. Model-Model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru, Jakarta: Rajawali Press.
Trianto. 2012. Mengembangkan Model pembelajaran Tematik, Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.
Sukamto, Tutik dkk. 1992. Prinsip Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Pusat Antar Universitas Untuk Peningkatan dan Pengembangan Aktivitas Pembelajaran Dijen Dikti Departemen Pendidikan dan Kebudayan RI.

 Gambar : anneahira.com

Pembelajaran Inquiry dan Discovery

Posted by Unknown 0 Comment/s

A.    PEMBELAJARAN INQUIRY
David L. Haury dalam artikelnya, Teaching Science Through Inquiry (1993) mengutip definisi yang diberikan oleh Alfred Novak: inquiry merupakan tingkah laku yang terlibat dalam usaha manusia untuk menjelaskan secara rasional fenomena-fenomena yang memancing rasa ingin tahu. Dengan kata lain, inquiry berkaitan dengan aktivitas dan keterampilan aktif yang fokus pada pencarian pengetahuan atau pemahaman untuk memuaskan rasa ingin tahu (Haury, 1993).

Salah satu metode pembelajaran dalam bidang Sains, yang sampai sekarang masih tetap dianggap sebagai metode yang cukup efektif adalah metode inquiry. Alasan rasional penggunaan metode inquiry adalah bahwa siswa akan mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai Sains dan akan lebih tertarik terhadap Sains jika mereka dilibatkan secara aktif dalam “melakukan” Sains. Investigasi yang dilakukan oleh siswa merupakan tulang punggung metode inquiry. Investigasi ini difokuskan untuk memahami konsep-konsep Sains dan meningkatkan keterampilan proses berpikir ilmiah siswa. Diyakini bahwa pemahaman konsep merupakan hasil dari proses berfikir ilmiah tersebut (Blosser, 1990).

Metode inquiry yang mensyaratkan keterlibatan aktif siswa terbukti dapat meningkatkan prestasi belajar dan sikap anak terhadap Sains (Haury, 1993). Dalam makalahnya Haury menyatakan bahwa metode inquiry membantu perkembangan antara lain scientific literacy dan pemahaman proses-proses ilmiah, pengetahuan vocabulary dan pemahaman konsep, berpikir kritis, dan bersikap positif. Dapat disebutkan bahwa metode inquiry tidak saja meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep dalam Sains saja, melainkan juga membentuk sikap keilmiahan dalam diri siswa.

Walaupun dalam praktiknya aplikasi metode pembelajaran inquiry sangat beragam, tergantung pada situasi dan kondisi sekolah, namun dapat disebutkan bahwa pembelajaran dengan metode inquiry memiliki 5 komponen yang umum yaitu Question, Student Engangement, Cooperative Interaction, Performance Evaluation, dan Variety of Resources (Garton, 2005).
a.    Question. Pembelajaran biasanya dimulai dengan sebuah pertanyaan pembuka yang memancing rasa ingin tahu siswa dan atau kekaguman siswa akan suatu fenomena. Siswa diberi kesempatan untuk bertanya, yang dimaksudkan sebagai pengarah ke pertanyaan inti yang akan dipecahkan oleh siswa.
b.     Student Engangement. Dalam metode inquiry, keterlibatan aktif siswa merupakan suatu keharusan sedangkan peran guru adalah sebagai fasilitator.
c.    Cooperative Interaction. Siswa diminta untuk berkomunikasi, bekerja berpasangan atau dalam kelompok, dan mendiskusikan berbagai gagasan.
d.    Performance Evaluation. Dalam menjawab permasalahan, biasanya siswa diminta untuk membuat sebuah produk yang dapat menggambarkan pengetahuannya mengenai permasalahan yang sedang dipecahkan.
e.     Variety of Resources. Siswa dapat menggunakan bermacam-macam sumber belajar, misalnya buku teks, website, televisi, video, poster, wawancara dengan ahli, dan lain sebagainya.

Tingkatan Inquiry
Ada tiga tingkatan inkuiri berdasarkan variasi bentuk keterlibatannya dan intensitas keterlibatan siswa, yaitu:
a. Inkuiri tingkat pertama
Inkuiri tingkat pertama merupakan kegiatan inkuiri di mana masalah dikemukakan oleh guru atau bersumber dari buku teks kemudian siswa bekerja untuk menemukan jawaban terhadap masalah tersebut di bawah bimbingan yang intensif dari guru. Inkuiri tipe ini, tergolong kategori inkuiri terbimbing (guided inquiry) menurut kriteria Bonnstetter, (2000); Marten-Hansen, (2002), dan Oliver-Hoyo (2004). Sedangkan Orlich (1998) menyebutnya sebagai pembelajaran penemuan (discovery learning) karena siswa dibimbing secara hati-hati untuk menemukan jawaban terhadap masalah yang dihadapkan kepadanya.

b. Inkuiri Bebas
Inkuiri tingkat kedua dan ketiga menurut Callahan (1992) dan Bonnstetter (2000) dapat dikategorikan sebagai inkuiri bebas (unguided Inquiry) menurut definisi Orlich (1998). Dalam inkuiri bebas, siswa difasilitasi untuk dapat mengidentifikasi masalah dan merancang proses penyelidikan. Siswa dimotivasi untuk mengemukakan gagasannya dan merancang cara untuk menguji gagasan tersebut. Untuk itu siswa diberi motivasi untuk melatih keterampilan berpikir kritis seperti mencari informasi, menganalisis argumen dan data, membangun dan mensintesis ide-ide baru, memanfaatkan ide-ide awalnya untuk memecahkan masalah serta menggeneralisasikan data.
Guru berperan dalam mengarahkan siswa untuk membuat kesimpulan tentatif yang menjadikan kegiatan belajar lebih menyerupai kegiatan penelitian seperti yang biasa dilakukan oleh para ahli. alam kelas.

B.    PEMBELAJARAN DISCOVERY
DR. J. Richard Suchman (dalam Widdiharto: 2004) mencoba mengalihkan kegiatan belajar-mengajar dari situasi yang didominasi guru ke situasi yang melibatkan siswa dalam proses mental melalui tukar pendapat yang berwujud diskusi, seminar, dan sebagainya. Salah satu bentuknya disebut Guided Discovery Lesson (pelajaran dengan penemuan terpimpin).

Sebagai model pembelajaran dari sekian banyak model pembelajaran yang ada, penemuan terbimbing menempatkan guru sebagai fasilitator, guru membimbing siswa di mana ia diperlukan. Dalam model ini siswa didorong untuk berfikir sendiri, sehingga dapat menemukan´ prinsip umum berdasarkan bahan atau data yang telah disediakan oleh guru. Sampai seberapa jauh siswa dibimbing, tergantung pada kemampuannya dan materi yang sedang dipelajari.

Dengan metode ini, siswa dihadapkan kepada situasi di mana ia bebas menyelidiki dan menarik kesimpulan. Terkaan, intuisi dan mencoba-coba (trial and error) hendaknya dianjurkan. Guru bertindak sebagai penunjuk jalan, ia membantu siswa agar mempergunakan ide, konsep, dan keterampilan yang sudah mereka pelajari sebelumnya untuk mendapatkan pengetahuan yang baru. Pengajuan pertanyaan yang tepat oleh guru akan merangsang kreativitas siswa dan membantu mereka dalam menemukan pengetahuan baru tersebut.

Model ini membutuhkan waktu yang relatif banyak dalam pelaksanaannya, akan tetapi hasil belajar yang dicapai sebanding dengan waktu yang digunakan. Pengetahuan yang baru akan melekat lebih lama apabila siswa dilibatkan secara langsung dalam proses pemahaman dan mengkonstruksi sendiri konsep atau pengetahuan tersebut.

Model ini bisa dilakukan baik secara perorangan maupun kelompok. Agar pelaksanaan penemuan terbimbing berjalan dengan efektif, beberapa langkah yang mesti ditempuh oleh guru adalah sebagai berikut:
1. Merumuskan masalah yang akan diberikan kepada siswa dengan data secukupnya, yang dinyatakan dengan pernyataan atau pertanyaan. Perumusan harus jelas, hindari pernyataan yang menimbulkan salah tafsir sehingga arah yang ditempuh siswa tidak salah. Konsep atau prinsip yang harus ditemukan siswa melalui kegiatan tersebut perlu ditulis dengan jelas.
2. Diskusi sebagai pengarahan sebelum siswa melakukan kegiatan. Alat/bahan perlu disediakan sesuai dengan kebutuhan siswa dalam melaksanakan kegiatan.
3. Dari data yang diberikan guru, siswa menyusun, memproses, mengorganisir, dan menganalisis data tersebut. Dalam hal ini bimbingan guru dapat diberikan sejauh yang diperlukan saja. Bimbingan ini sebaiknya mengarahkan siswa untuk melangkah kearah yang hendak dituju, melalui pertanyaan-pertanyaan, atau LKS.
4. Kegiatan metode penemuan oleh siswa berupa penyelidikan/percobaan untuk menemukan konsep-konsep atau prinsip-prinsip yang telah ditetapkan.
5. Siswa menyusun konjektur (prakiraan) dari hasil analisis yang dilakukannya.
6. Bila dipandang perlu, konjektur yang telah dibuat oleh siswa tersebut di atas diperiksa oleh guru. Hal ini penting di lakukan untuk meyakinkan kebenaran prakiraan siswa, sehingga akan menuju arah yang hendak dicapai.
7. Proses berpikir kritis perlu dijelaskan untuk menunjukkan adanya mental operasional siswa, yang diharapkan dalam kegiatan. Apabila telah diperoleh kepastian tentang kebenaran konjektur tersebut, maka verbalisasi konjektur sebaiknya diserahkan juga kepada siswa untuk menyusunnya. Disamping itu perlu diiingat pulabahwa induksi tidak menjamin 100 % kebenaran konjektur.
8. Setelah siswa menemukan apa yang dicari, hendaknya guru menyediakan soal latihan atau soal tambahan untuk memeriksa apakah hasil penemuan itu benar.
9. Perlu dikembangkan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat terbuka, yang mengarah pada kegiatan yang dilakukan siswa.
10. Ada catatan guru yang meliputi penjelasan tentang hal-hal yang sulit dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil, terutama kalau penyelidikan mengalami kegagalan atau tak berjalan sebagaimana mestinya.

KESIMPULAN
Secara singkat dapat disimpulkan bahwa tujuan utama pendekatan inquiry dan discovery adalah untuk melatih kemampuan siswa dalam meneliti, menjelaskan fenomena, dan memecahkan masalah secara ilmiah. Karena pada dasarnya secara intuitif setiap individu cenderung melakukan kegiatan ilmiah (mencari tahu/memecahkan masalah). Kemampuan tersebut dapat dilatih sehingga setiap individu kelak dapat melakukan kegiatan ilmiahnya secara sadar (tidak intuitif lagi) dan dengan prosedur yang benar.


DAFTAR PUSTAKA

Hamalik. 1991. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: CV. Sinar Baru.
Prasojo, Budi, dkk. 2005. Seri Sains Teori dan Aplikasi Fisika untuk kelas 1 SMP. Bogor: PT. Ghalia Indonesia Printing.
Suparno, Paul. 2007. Metodologi Pembelajaran Fisika Konstruktivistik dan Menyenangkan. Yogyakarta: Universitas Sanata Drama.
Suryosubroto. 2002. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
http://bangkititahermawati.wordpress.com/ipa-kelas-vii/pembelajaran-inquiry-dan-discovery/

 Gambar : accessola.org

Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)

Posted by Unknown 0 Comment/s

Model pembelajaran berbasis masalah dikembangkan untuk pertama kalinya oleh Howard Barrows pada awal tahun 70-an dalam pembelajaran ilmu pendidikan medis di southern Illionis University  Shcool (Barrows,1980). Para siswa mempelajari berbagai kasus yang terjadi pada pasien yang mengidap penyakit kemudian mencari cara atau tehnik untuk penyembuhan yang harus dilakukan. Namun pada perkembangan selanjutnya model ini meluas pada pembelajaran ilmu pengetahuan di perguruan tinggi dan akhirnya dikembangkan di sekolah-sekolah menengah.

Model pengajaran berdasarkan masalah ini telah dikenal sejak zaman John Dewey. Menurut Dewey (dalam Trianto, 2009:91) belajar berdasarkan masalah adalah interaksi antara stimulus dan respon, merupakan hubungan antara dua arah belajar dan lingkungan. Lingkungan memberikan masukan kepada siswa berupa bantuan dan masalah, sedangkan sistem saraf otak berfungsi menafsirkan bantuan itu secara efektif sehingga masalah yang dihadapi dapat diselidiki, dinilai, dianalisis, serta dicari pemecahannya dengan baik.

Definisi pembelajaran berbasis massalah dari berbagai sumber yaitu :
1.    Pembelajran berbasih masalah merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang menyajikan masalah kontekstual sehingga merangsang siswa untuk belajar. Dalam kelas yang menerapkan pembelajaran berbasis masalah, siswa bekerja dalam tim untuk memecahkan masalah dunia nyata (real wolrd) (Major, Claire.H dan Palmer, Betsy, 2001).
2.    Pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu metode pembelajaran yang menantang siswa untuk “belajar bagaimana belajar” bekerja secara berkelompok untuk mencari solusi dari permasalahan dunia nyata. Masalah ini digunakan untuk mengikat siswa pada rasa ingin tahu pada pembelajaran yang dimaksud (Duch J.B, 1995).
3.     Pembelajaran berbasis masalah adalah strategi pembelajaran yang merangsang siswa aktif untuk memecahkan permasalahandalam situasi nyata (Evan Glazer, 2001).

Dari beberapa uraian mengenai pengertian pembelajaran berbasis masalah, dapat di simpulkan bahwa pembelajaran berbasis masalah (PMB) merupakan pembelajaran yang menghadapkan siswa pada masalah dunia nyata (real world) untuk memulai pembelajaran. Pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu pengembangan kurikulum dan model pembelajaran. Barbara J. Duch (1995 dalam karim et al,. 2007) mengemukakan bahwa : in problem based lerning (PBL), students are presented with an interesting, relevant problem “up front”. So that they can experience for them selves the process oe doing science ibrahim, (dalam Nurhasanah, 2007) menyatakan bahwa model PMB merupakan pembelajaran yang menyajikan massalah, yang kemudian digunakan untuk merangsang berpikir tingkat tinggi yang berorientasi pada masalah. Masalah diberikan pada siswa, sebelum siswa pempelajari konsep atau materi yang berkenaan dengan masalah yang harus dipecahkan. Dengan demikian untuk memecahkan masalah tersebut siswa akan mengetahui bahwa mereka membutuhkan pengetahuan baru yang harus dipelajari untuk memecahkan masalah yang diberikan (wood dalam Sugalayhudana, 2005).

Pembelajaran berbasis masalah merupakan pembelajaran dengan pendekatan konstruktivis, karena didini guru hanya berperan sebagai penyaji dapat meningkatkan pertumbuhan inkuiri dan intektual pada peserta didik. Prinsip utama pada pendekatan masalah, penanya, mengadakan dialog, pemberi fasilitas penelitian, menyiapkan dukungan dan dorongan yang dapat meningkatkan pertumbuhan   inkuiri dan intelektual pada peserta didik.

Pembelajaran berbasis masalah dilandasi teori konstruktivis. Pada pembelajaran ini dimulai dengan menyajikan masalah nyata yang penyelesaiannya membutuhkan kerjasama antar siswa, guru memandu siswa menguraikan rencana pemecahan masalah menjadi tahap-tahap kegiatan, guru memberi contoh mengenai penggunaan ketrampilan dan strategi yang dibutuhkan supaya tugas-tugas tersebut dibutuhkan supayatuggas-tugas tersebut dapat diselesaikan. Guru menciptakan suasana kelas yang fleksibel dan berorientasi pada upaya penyelidikan oleh siswa.

Karakteristik Pembelajaran Berbasis Masalah

Menurut Arends dalam Trianto, karakteristik pembelajarn berbasis masalah adalah:
1. Pengujian pertanyaan atau masalah.
Pembelajaran berdasarkan masalah mengorganisasikan pengajaran disekitar pertanyaan dan masalah yang keduanya secara sosial penting dan secara pribadi bermakna pada siswa.
2. Berfokus kepada keterkaitan antar disiplin.
Masalah yang akan diselidiki telah dipilih benar-benar nyata agar dalam pemecahannya siswa meninjau masalah itu dari banyak mata pelajaran.
3. Penyelidikan Autentik.
Siswa dituntut untuk menganalisis dan mendefinisikan maslah, mengembangkan hipotesis, membuat ramalan, mengumpulkan dan menganalisa informasi, melakukan eksperimen (jika diperlukan), membuat inferensi, dan merumuskan kesimpulan.
4. Menghasilkan produk dan memamerkannya.
Produk itu dapat berupa laporan, model fisik, video maupun program komputer.
5. Kolaborasi.

Pembelajaran berdasarkan masalah dicirikan oleh siswa yang berkerjasama satu dengan yang lainnya, secara berpasangan atau dalam kelompok kecil.
Adapun karakteristik PBM menurut Sovie dan Hughes (dalam Santyasa 2008:3) yaitu:
1. Belajar dimulai dengan suatu masalah.
2. Memastikan bahwa masalah yang diberikan berhubungan dengan dunia nyata siswa.
3. Mengorganisasikan pelajaran diseputar masalah, bukan seputar disiplin ilmu.
4. Memberikan tanggung jawab yang besar kepada siswa dalam membentuk dan menjalankan secara langsung proses belajar mereka sendiri.
5. Menggunakan kelompok kecil.
6. Menuntut siswa untuk mendemonstrasikan apa yang telah mereka pelajari dalam bentuk suatu produk atau kinerja.

Sesuai dengan karakteristik tersebut, pembelajaran berbasis masalah memilki tujuan:
a. Membantu siswa mengembangkan ketrampilan berfikir dan ketrampilan pemecahan masalah.
b. Belajar peranan orang dewasa yang autentik.
c. Menjadi pembelajar yang mandiri.

Setelah mengetahui uraian tentang karakteristik dan tujuan dari pembelajaran berbasis masalah maka sudah tampak sangat jelas bahwa dengan adanya masalah yang dapat dimunculkan oleh siswa dan guru, kemudian siswa dapat memperdalam pengetahuannya tentang apa yang mereka telah ketahui dan apa yang perlu diketahui untuk memecahkan masalah tersebut. Fokus masalah dalam pembelajaran berbasis masalah ini adalah masalah yang dapat diselesaikan siswa dan mampu mengembangkan kemampuan penalaran matematis siswa.

Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Berbasis Masalah
Dalam setiap pendekatan pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, begitupun dengan pembelajaran berbasis masalah, menurut Trianto, yaitu:
Kelebihannya adalah:
• Realistik dengan kehidupan siswa
• Konsep sesuai dengan kebutuhan siswa
• Memupuk sifat inquiri siswa
• Retensi konsep menjadi kuat
• Memupuk kemampuan problem solving

Selain memilki kelebihan, pembelajaran berbasis masalah juga memiliki kelamahhan, yaitu:
• Persiapan pembelajaran (alat, problem, konsep) yang kompleks
• Sulitnya mencari problem yang relevan
• Sering terjadi miss-konsepsi
• Memerlukan waktu yang cukup panjang

Sintaks Pembelajaran Berdasarkan Masalah
Pembelajaran berbasis masalah terdiri dari 5 fase dan perilaku. Fase-fase dan perilaku tersebut merupakan tindakan berpola. Pola ini diciptakan agar hasil pembelajaran dengan pengembangan pembelajaran berbasis masalah dapat diwujudkan.

 Pada fase pertama hal-hal yang perlu dielaborasi antara lain:
1.    Tujuan utama pembelajaran bukan untuk mempelajari sejumlah besar informasi baru tetapi untuk menginvestigasi berbagai permasalahan dan menjadi pembelajaran mandiri.
2.    Permasalahan atau pertanyaan yang diinvestigasi tidak memiliki jawaban mutlak “benar” dan sebagian besar permasalahan kompleks memiliki banyak solusi yang kadang-kadang saling bertentangan.
3.    Selama fase investigasi pelajaran, peserta didik didorong untuk melontarkan pertanyaan dan mencari informasi. Guru memberikan bantuan tetapi peserta didik mestinya berusaha bekerja secara mandiri atau dengan teman-temannya.
4.     Selama fase analisis dan penjelasan pelajaran, peserta didik didorong untuk mengekspresikan ide-idenya secara bebas dan terbuka.

Pada fase kedua, guru diharuskan untuk mengembangkan keterampilan kolaborasi di antara peserta didik dan membantu mereka untuk menginvestigasi masalah secara bersama-sama. Pada tahap ini pula guru diharuskan membantu peserta didik merencanakan tigas investigatif dan pelaporan.
Pada fase ketiga, guru membantu peserta didik menetukan metode investigasi. Penentuan tersebut didasarkan pada sifat masalah yang hendak dicari jawabnya atau dicari solusinya.
Pada fase keempat, penyelidikan diikuti dengan pembuatan artefak dan exhibits. Artefak dapat berupa laporan tertulis, termasuk rekaman proses yang memperhatikan situasi yang bermasalah dan solusi yang diusulkan. Exhibits adalah pedomantrasian atas produk hasil ivestigasi atau artefak tersebut.
Pada fase kelima, tugas guru adalah membantu peserta didik menganalisis dan mengevaluasi proses berpikir mereka sendiri dan keterampilan penyelidikan yang mereka gunakan. Terpenting dalam fase ini peserta didik mempunyai keterampilan berpikir sistimatik berdasarkan metode penelitian yang mereka gunakan.
Lingkungan belajar dan sistem pengelolaan pembelajaran berbasis masalah harus ditandai dengan keterbukaan, keterlibatan aktif peserta didik, dan atmosfer kebebasan intelektual. Penting pula dalam pengelolaan pembelajaran berbasis masalah memperhatikan hal-hal seperti situasi multitugas yang akan berimplikasi pada jalannya proses investigasi, tingkat kecepatan yang berbeda dalam penyelesain masalah, pekerjaan peserta didik,dan gerakan dan perilaku di luar kelas. 

Daftar Pustaka
 
Dahlan, M.D. (1990). Model-Model Mengajar. Bandung: Diponegoro. Sugiyono, Prof. Dr. (2008). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta
Duch, J. Barbara. (1995). Problem: A Key Factor in PBL. [Online]. Tersedia:http://www.udel.edu/pbl/cte/spr96-phys.html. [20 oktober 2012].
Glazer, Evan. (2001). Problem Based Instruction. In M. Orey (Ed.), Emerging perspective on learning, teching, and technology [Online]. Tersedia: http//www.coe.uga.edu/epltt/ProblemBasedInstruct.htm. [17 juni 2005].
Sudjana, D. (1982). Model Pembelajaran Pemecahan Masalah. Bandung : Lembang Penelitian IKIP Bandung
Suprijono Agus, 2009, Cooperative Learning, Pustaka Pelajar. Yogyakarta, 68

Gambar : kampus-info.com

Model Pembelajaran Kooperatif

Posted by Unknown 1 Comment/s

A.    Konsep dasar pembelajaran kooperatif
Model pembelajaran kelompok adalah rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Ada unsur penting dalam MPK, yaitu: (1). Adanya peserta dalam kelompok, (2). Adanya aturan kelompok, (3). Adanya upaya belajar setiap anggota kelompok, (4). Adanya tujuan yangharus dicapai.  

Peserta adalah siswa yang melakukan proses pembelajaran dalam setiap kelompok belajar. Pengelompokan siswa bisa ditetapkan berdasarkan pendekatan, di antaranya pengelompokan yang didasarkan atas minat dan bakat siswa, pengelompokan yang didasarkan atas campuran baik campuran yang ditinjau dari minat maupun campuran ditinjau dari kemampuan.
Aturan kelompok adalah segala sesuatu yang menjadi kesepakatan dari semua pihak yang terlibat, baik siswa sebagai perserta didik, maupun siswa sebagai anggota kelompok.
Uapaya belajar adalah segala aktivitas siswa untuk meningkatkan kemampuannya yang telah dimiliki maupun meningkatkan kemampuan baru, baik kemampuan dalam aspek pengetahuan, sikap, maupun keterampilan. 

Aspek tujuan dimaksudkan untuk memberikan arah perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Melalui tujuan yang jelas, setiap anggota kelompok dapat memahami sasaran setiap kegiatan balajar. 

Pembelajaran kooperatif merupakan model pembalajaran dengan menggunakan system pengelompokan/tim kecil, yaitu antara empat sampai eman orang yang mempunyai latar belakang kemampuan akademik, jenis kelamin, rasa tau seku yang berbeda. Hal yang menarik dari MPK adalah adanya harapan selain memiliki dampak pembelajaran yaitu berupa peningkatan prestasi belajar peserta didik juga mempunyai dampak pengiring seperti relasi social, penerimaan terhadap peserta didik yang dianggap lemah, harga diri, norma akdemik, penghargaan terhadap waktu, dan suka memberi pertolongan pada yang lain.

B.    Karakteristik dan prinsip-prinsip MPK
1.    Karakteristik Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif berbeda dengan strategi pembelajaran yang lain. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari proses pembalajaran yang lebih menekankan kepada proses kerja sama dalam kelompok. Tujuan yang ingin dicapai tidak hanya kemampuan akademik dalam pengertian penguasaan bahan pelajaran tetapi juga adanya unsur kerja sama yang menjadi ciri khas dari pembelajaran kooperatif.
a.    Pembelajran secara tim
Tim merupakan tempat untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu tim harus mampu membuat setiap siswa belajar. Semua anggota tim harus saling membantu untuk mencapai tujuan pembelajaran.
b.    Didasarkan pada manajemen kooperatif
Sebagaimana pada umumnya, manajemen mempunyai empat fungsi pokok, yaitu fungsi perencanaan, fungsi organisasi, fungsi pelaksanaan,dan fungsi control.
c.    Kemauan untuk bekerja sama
Keberhasilan pembelajaran kooperatif ditentukan oleh keberhasilan secara kelompok. Oleh sebab itu, prinsip kerja sama perlu ditekankan dalam proses pembalajaran kooperatif.
d.    Keterampilan bekerja sama
Kemauan untuk bekerja sama itu kemudian dipraktikkan memlalui aktivitas dan kegiatan yang tergambar dalam keterampilan bekerja sama, dengan demikian siswa perlu didorong untuk mau dan sanggup berinteraksi dan berkomunikasi dengan anggota lain.

2.    Prinsip-Prinsip Pembelajaran Kooperatif
Terdapat empat prinsip dasar pembelajaran kooperatif.
a.    Prinsip ketergantungan positif
Dalam pembalajaran kelompok, keberhasilan suatu penyelesaian tugas sangat tergantung pada usaha yang dilakukan setiap anggota kelompoknya. Oleh sebab itu, perlu disadari oleh setiap anggota kelompok keberhasilan penyelesaian tugas kelompok akan ditentukan oleh kinerja masing-masing anggota. Dengan demikian, semua anggota dalam kelompok akan merasa saling ketergantungan.
b.    Tanggung jawab perseorangan
Keberhasilan kelompok tergantung pada setiap anggotanya, maka setiap kelompok harus memiliki tanggung jawab sesuai tugasnya, setiap anggota harus msmberikan yang terbaik untuk keberhasilan kelompoknya.
c.    Interaksi tatap muka
Interaksi tatap muka akan memberikan pengalaman yang berharga kepada setiap anggota kelompok untuk bekerja sama, menghargai setiap perbedaan, memanfaatkan kelebihan masing-masing anggota, dan mengisi kekurangan masing-masing.
d.    Partisipasi dan komunikasi
Pembalajaran kooperatif  melatih siswa untuk dapat mampu berpartisipasi aktif dan berkomunikasi. Kemampuan ini sangat penting sebagai bekal meraka dalam kehidupan di masyarakat kelak.

C.    Prosedur Pembelajaran Kooperatif
Menurut Slavin (2009) di dalam pembelajaran kooperatif ada lima bentuk model yaitu : (1) penyajian kelas, (2) kegiatan belajar kelompok, (3) tes individual, (4) skor peningkatan individual, (5) pengakuan kelompok. 
Dalam pelaksanannya hendaknya didahulukan dengan informasi mengenai pentingnya materi yang akan dipelajari, tujuan pembelajaran, review singkat tentang pengetahuan prasyarat, dan bentuk kelompok. Setiap tahap akan dijelaskan sebagai berikut:

1.    Penyajian kela
Pada tahap penyajian kelas, guru memulai pembelajaran dengan menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa untuk belajar. Tahap ini diikuti dengan penyajian informasi sebagaimana pembelajaran yang berlangsung di kelas konvensional. Pada tahap peyajian ini guru dapat menggunakan berbagai metode atau pendekatan yang sesuai dengan materi yang akan diajarkan, misalnya dengan sedikit ceramah, tanya jawab, ekspositori, demonstrasi, penghrgaan dan tidak menutup kemungkinan untuk mengadakan aktivitas secara klasikal.

2.    Belajar kelompok.
Ide utama tahap ini adalah siswa bekerja dan belajar bersama di dalam kelompok. Waktu yang digunakan 2 jam pelajaran. Bahan yang diperlukan adalah dua lembaran kerja dan dua lembaran jawaban untuk setiap kelompok. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok kecil dengan jumlah anggota 4-5 orang dalam satu kelompok. Pemilihan anggota kelompok didasarkan pada tes yang dapat dijadikan dasar memilih seperti tes awal atau nilai rapor. Agar diskusi kelompok dapat berjalan dengan lancar maka pemilihan anggota kelompok perlu mempelihatkan kemampuan belajar setiap anggotanya.

3.    Tes Individual
Tes individual adalah tes yang digunakan untuk menguji kinerja unutk setiap siswa. Pada tahap ini siswa tidak diperkenankan untk saling memberitahu ata bekerjasama dengan siswa yang lain. Setiap siswa diharapkan berusaha untuk bertanggungjawab secara individual  untuk menjawab soal tes dan memberikan hasil yang terbaik sebagai kontribusinya kepada kelompok

4.    Memberikan Skor Peningkatan Individual
Pemberian skor peningkatan individual bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi setiap siswa agar dapat menunjukkan gambaran kinerja pencapaian tujuan dari hasil kerja maksimal setiap indiidu yang disumbangkan untuk kelompoknya.
Hasil tes setiap siswa diberikan poin kemajuan yang ditentukan berdasarkan selisih perolehan skor tes terdahulu (skor  tes dasar) dengan skor terbaru. Setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk menyumbangkan skor maksimal bagi kelompoknya.

5.    Pengakuan kelompok
Pengakuan kelompok adalah pemberian predikat kepada masing-masing kelompok. Predikat ini diperoleh dengan melihat skor kemajuan kelompok. Skor kemajan kelompok diperoleh dengan mengumpulkan skor kemajuan masing-masing anggota kelompok. Berdasarkan skor kemajuan kelompok  terebut guru memberikan hadiah (reward) berupa predikat kepada kelompok yang memenuhi kriteria tertentu. Adapun predikat yang mungkin diberikan, yaitu : kelompok sangat baik (super team), kelompok baik (great team), dan kelompok cukup (good team).

D.    Model-model Pembelajaran Kooperatif
Ada beberapa variasai jenis model dalam pembalajaran kooperatif, walaupun prinsip dasar dari pembalajaran ini tidak berubah, diantaranya:
1.    Model Student Teams Achievement Division (STAD)
Model ini dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-teman. Dalam STAD, siswa dibagi menjadi kelompok beranggotakan empat orang yang beragam kemampuan, jenis kelamin, dan sukunya. Jauh lebih Slavin memaparkan bahwa: “gagasan utama di belakang STAD adalah mamacu siswa agar saling mendorong dan membantu satu sama lain untuk menguasai keterampilan yang di ajarkan guru”
Para guru pengguna metode STAD untuk mengajarkan informasi akademik baru kepada siswa setiap minggu, baik melalui pengajian verbal maupun tertulis (Ibrahim, dkk, 2000 : 20).

Kelebihan dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah:
•    Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerjasama dengan siswa lain
•    Siswa dapat menguasai pelajaran yang disampaikan
•    Dalam proses belajar mengajar siswa saling ketergantungan positif 
•    Setiap siswa dapat saling mengisi satu sama lain

2.    Model Jigsaw
Model ini dikembangkan dan diujicoba oleh Ellito Aronson dan teman-temannya. Model jigsaw adalah sebuah model balajar kooperatif yang menitik beratkan pada kerja kelompok siswa dalam bentuk kelompok kecil. Dalam model ini guru membagi satuan informasi yang besar menjadi komponen-komponen kecil. Selanjutnya guru membagi siswa kedalam kelompok belajar kooperatif yang terdiri dari empat orang siswa sehingga setiap anggota bertanggung jawab terhadap penguasaan setiap komponen/subtopik yang ditugaskan guru dengan sebaik-baiknya.
Langkah-langkah model jigsaw dibagi menjadi enam tahapan, yaitu : 
•    Menyampaikan tujuan belajar dan membangkitkan motivasi
•    Menyajikan informasi kepada siswa dengan demonstrasi disertai penjelasan verbal, buku teks, atau bentuk lain
•    Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok belajar
•    Mengelola dan membantu siswa dalam belajar kelompok dan kerja di tempat duduk masing-masin
•    Mengetes penguasaan kelompok atas bahan ajar
•    Pemberian penghargaan atau pengakuan terhadap hasil belajar siswa


DAFTAR PUSTAKA
Lie, Anita (2002). Cooperative Learning: Mempraktikkan Cooperative Learning di ruang-ruang kelas. PT Grasindo: Jakarta
Rusman, (2011).  model-model pembelajaran. PT.Rajagrafindo Persada: Jakarta

Wina sanjaya, 2010, Strategi Pembelajaran. Prenada Media Group: Jakarta
Yamin, Martinis; Ansari, Bansu (2008). Taktik Mengembangkan Kemampuan Individual Siswa. Gaung Persada Press: Jakarta
http://www.sarjanaku.com/2011/01/pembelajaran-kooperatif-tipe-jigsaw.html

Gambar : tepenr06.wordpress.com