Suratan Makna

Cinta kepada Allah Melebihi Siapapun

Posted by Hyeongnim Wan Friday, January 2, 2015 0 Comment/s

Berikut adalah kisah Cinta kepada Allah Melebihi Siapapun yang dicontohkan oleh Buya Hamka kepada kita semua.

KETIKA dalam sebuah acara Buya Hamka dan istri beliau diundang, mendadak sang pembawa acara meminta istri Buya untuk naik panggung.
Asumsinya, istri seorang penceramah hebat pastilah pula sama hebatnya.

Naiklah sang istri, namun ia hanya bicara pendek.
“Saya bukanlah penceramah, saya hanyalah tukang masaknya sang Penceramah.” Lantas beliau pun turun panggung.

Dan berikut adalah penuturan Irfan, putra Buya, yang menuturkan bagaimana Buya sepeninggal istrinya atau Ummi Irfan.

“Setelah aku perhatikan bagaimana Ayah mengatasi duka lara sepeninggal Ummi, baru aku mulai bisa menyimak. Bila sedang sendiri, Ayah selalu kudengar bersenandung dengan suara yang hampir tidak terdengar. Menyenandungkan ‘kaba’. Jika tidak Ayah menghabiskan 5-6 jam hanya untuk membaca Al Quran.

Dalam kuatnya Ayah membaca Al Quran, suatu kali pernah aku tanyakan.

“Ayah, kuat sekali Ayah membaca Al-Quran?”, tanyaku kepada ayah.

“Kau tahu, Irfan. Ayah dan Ummi telah berpuluh-puluh tahun lamanya hidup bersama. Tidak mudah bagi Ayah melupakan kebaikan Ummi. Itulah sebabnya bila datang ingatan Ayah terhadap Ummi, Ayah mengenangnya dengan bersenandung. Namun, bila ingatan Ayah kepada Ummi itu muncul begitu kuat, Ayah lalu segera mengambil air wudhu. Ayah shalat Taubat dua rakaat. Kemudian Ayah mengaji. Ayah berupaya mengalihkannya dan memusatkan pikiran dan kecintaan Ayah semata-mata kepada Allah,” jawab Ayah.

“Mengapa Ayah sampai harus melakukan shalat Taubat?” tanyaku lagi.

“Ayah takut, kecintaan Ayah kepada Ummi melebihi kecintaan Ayah kepada Allah. Itulah mengapa Ayah shalat Taubat terlebih dahulu,” jawab Ayah lagi.

Permusuhan Yahudi dan Nasrani

Posted by Hyeongnim Wan Tuesday, December 30, 2014 0 Comment/s

Terkait dengan permusuhan Yahudi dan Nasrani ini Allah SWT berfirman :

"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah :" Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yangbenar)."

Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (QS. 2:120).

Ayat di atas menunjukkan kepada kita bahwa orang-orang kafir tidak akan pernah senang kpd orang Islam yang menampakkan keIslamannya.

Orang-orang yg menampakkan keIslamannya karena mengetahui dan jujur bahwa sesungguhnya petunjuk Allah itu adalah yang benar, karena mereka tahu tidak ada agama disisi Allah kecuali Islam.

Namun saat ini begitu banyak orang-orang yang mengaku Islam namun bangga dengan perbuatan orang-orang kafir dan justru mereka murka ketika ada orang Islam menjaga agamanya disetiap waktu dan kesempatan selalu menampilkan Islam.

Hal ini berdasarkan dari Qatadah meriwayatkan :" Telah disampaikan kepada kami bahwasanya Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pernah bersabda :" Akan tetap ada suatu kelompok dari umatku yang terus berjuang memegang teguh kebenaran, dimana orang-orang yg menentang mereka tidak dapat memberi mudharat kepada mereka, sehingga datang perintah (keputusan) Allah." ( Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan, hadits tsb dikeluarkan dalam kitab Shahih, dari Abdullah bin 'Amr). (Dikutip dari grup Line IHBTR-AMDK-BNIS)

Hari Ke 22: Membuat Laporan

Posted by Hyeongnim Wan Monday, September 9, 2013 2 Comment/s

Jelas sudah, semuanya. Ternyata keluarga besar Pak Tarmin sudah merencanakan ini dari jauh hari. Dari awal ramadlan beliau selalu menyediakan kami lauk untuk sahur dan berbuka, bersama Mba Umm, Mba Cici dan yang lainnya Pak Tarmin menyediakan kami hidangan bermacam-macam yang pada awalnya membuat kami kebingungan untuk menyikapi hal tersebut. Betapa tidak, setiap hari kami disuguhi makanan terus bagai sekawanan orang yang terpandang dari negeri kerajaan yang karenanya kami pun tidak menolak sama sekali. Tapi, yang jelas bagaimanapun kami merasa tidak enak sekali, apakah pelayanan itu tidak memakan biaya yang banyak?

Setelah kami konfirmasi, terciptalah sebuah kesepakatan untuk menyisihkan uang kas kami kepada keluarganya Pak Tarmin guna kebutuhan masaknya. Mudah-mudahan dengan penyerahan uang tersebut bisa memperjelas keadaan, walau sebenarnya dari awal beliau ikhlas menyuguhi kami. Lagian, buat apa uang kas yang sedianya selalu turun setiap minggunya selain untuk kebutuhan masak? Oleh karena itu, kami menyerahkan saja uang tersebut pada keluarga Pak Tarmin.

Agenda kami hari ini adalah kembali melanjutkan pekerjaan kami yang kemarin belum selesai, yaitu mengecat bagian Mushalla dan rumahnya Pak Tarmin. Pada bagian Mushalla ada bagian yang mesti ditambah dan diganti, yakni bagian langit-langit yang tampak sudah usang dan menambah bagian yang belum terpasang sama sekali. Pemasangan ini diserahkan kepada Pak Tarmin sendiri, karena beliau memang paling ahli untuk memasang langit-langit tersebut. Sedangkan kami cukup mengecat-ngecat saja bagian yang belum dicat, karena memang masih banyak bagian pengecatan tersebut yang belum terselesaikan.

Sebagaimana kesepakatan yang telah lalu, bahwa durasi pengecatan ini dicukupkan sampai menjelang siang saja selebihnya adalah waktu kami untuk istirahat atau santai-santai. Lebih jelasnya, pagi tadi pengecatan berakhir saat cat yang tersedia sudah habis terpakai semuanya, padahal masih ada bagian yang belum terselesaikan. Tapi, mau bagaimana lagi catnya memang sudah habis, terpaksa pekerjaan kami dihentikan pas menjelang siang tadi.
Sebelum dzuhur tiba, kebanyakan dari kami pada sibuk membersihkan diri setelah bekerja tadi. Sedangkan yang lainnya hanya siap-siap berwudlu saja, karena mungkin mereka ini tadi paginya sudah mandi atau mungkin yang cuma wudlu itu tidak ada rencana untuk mandi sama sekali. Meskipun begitu, insya Allah sore harinya pada mandi semua. Usai bersiap-siap, segera kami mengisi Mushalla yang pada waktu dzuhur ini tidak dihiasi oleh jama’ah perempuan. Jadi, bagian Mushalla yang biasanya dibagi dua dengan tirai hijab, kini menjadi satu saja.

Usai dzuhur itu kami disibukkan dengan kedatangan dosen DPL yang akan tiba besok hari, saat dosen tersebut datang kami mesti menyerahkan tugas laporan kegiatan KKN kami padanya. Oleh karena itu, siang ini kami mesti membuat laporan tersebut dengan sedikit mengingat-ngingat apa saja yang selama dua minggu ini telah kami kerjakan. Bagi yang merekam agenda selama dua minggu itu melalui catatan, tentunya hal ini mudah saja hanya tinggal menyalin catatan agenda tersebut ke lembar laporan kegiatan yang telah disediakan. Namun, perkara ini menjadi sangat merepotkan bagi mereka yang tidak ada catatan sama sekali, diperparah lagi dengan ingatan mereka yang pas-pasan. Mereka yang kebingungan mengisi laporan itu tidak kehabisan akal, cukup menyalin saja lembar laporan punya temannya atau tidak menyalin dari laporan kegiatan perkelompok. Masalah isi laporannya bagaimana, paling tidak jauh berbeda dengan kegiatan pribadi yang sudah dilaksanakan. Mengisi laporan tersebut tidaklah memakan waktu yang terlalu lama, sehingga saat semuanya telah beres sebagian dari kami langsung pergi tidur siang sampai ashar tiba.

Rupanya kumandang adzan belum mampu membangunkan kami yang lagi enak tidur siang, tapi untungnya selalu ada orang yang membangunkan kami, jadi barulah disadari kalau adzan tengah berkumandang. Berbeda dengan dzuhur tadi, shaf perempuan pada shalat ashar sekarang ramai diisi oleh jama’ahnya. Meskipun hanya diisi oleh anak-anak mengaji, tapi setidaknya shaf tersebut sudah ada yang mengisi dari pada dzuhur tadi yang tidak ada sama sekali. Tampaknya sore hari ini tidak ada kesibukan yang berarti, selain seperti biasa kami mesti menyiapkan diri kami untuk menghadapi aktifitas malam yang kebanyakan bertugas mengisi di Masjid dan Mushalla-Mushalla luar. Tapi, ada juga yang sekarang bagiannya piket, seperti biasa juga mesti menyiapkan hidangan berbuka kami nanti yang tinggal diambil saja dari salah satu keluarga besarnya Pak Tarmin.

Saat waktu berbuka tiba—alhamdulillah—es campur telah siap untuk kami santap. Dikarenakan es campur tersebut dibuatnya banyak, maka ada alasan bahwa satu gelas buat saya tidaklah cukup. Oleh karena itu, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menambah porsi lagi. Tidak lama setelah itu, kami bersiap-siap untuk shalat Maghrib dulu kemudian sesudah itu acara berbuka dilanjutkan lagi dengan makan makanan berat yang selalu kami nanti-nantikan kebersamaannya.

Bagi yang akan bertugas mengisi tarawih, tidak usah makan berlama-lama apalagi mengambil porsi yang banyak. Soalnya, sebelum berangkat mereka mesti menyiapkan diri sesiap mungkin, belum lagi resiko jika makan dengan porsi yang banyak karena khawatirnya akan menimbulkan masalah yang tidak diinginkan. Dengan begitu waktu maghrib terasa sangat pendek sekali, karena beberapa kesibukkan yang meliputi mereka. Sedangkan saya sendiri santai saja, karena saya sendiri sedang tidak ada tugas. Awalnya saya ada jadwal mengisi juga di Mushalla luar, tapi karena kami bertiga sedangkan kami memakai motor maka cukup dua orang saja yang berangkat, yaitu Yasin dan Marhalim. Mengenai jadwal saya mengisi hanya sekadar menemani saja, bukan mengisi dalam pengertian bertugas ceramah atau mengimami shalat tarawih. Oleh karena itu, saya mengisi di Mushalla sini saja menemani Husairi dan Irsyad yang sedang bertugas.

Saat waktu shalat tarawih lewat, suasana Ramadlan di pedusunan kami coba bangun kembali dengan kegiatan tadarrus yang dikumandangkan di Mushalla. Sayangnya, tidak bertahan sampai berjam-jam tadarrusan pun berakhir sebelum pukul sembilan malam pada Hari Ke 22: Membuat Laporan ini. []

Hari ke 21: Isya di Luar

Posted by Hyeongnim Wan Saturday, August 31, 2013 0 Comment/s
Setelah Hari Ke 20: Membantu Masak Bukaan. Sekarang pada Hari ke 21: Isya di Luar.

Tega sekali mereka ramai-ramai di sana makan sahur, sedangkan saya masih tertidur di kamar sendirian. Apa mereka mau membuat saya supaya tidak sahur dengan cara membiarkan saya terus tertidur? Untung saja saya bangun juga, ketika dalam tidur sayup-sayup saya mendengar ocehan mereka yang membuat ramai satu rumah. Saya terbangun, keluar kamar lalu melihat segerombolan dari mereka yang sudah mengisi penuh kursi ruang tengah yang melingkari meja di tengahnya. Di atas meja itu terlihat tidak ada ruang lagi melainkan semuanya telah diisi oleh hidangan sahur yang cukup beraneka ragam.

Sebelum menyantap sahur, saya pergi ke kamar mandi dulu untuk cuci muka. Menuju kamar mandi yang berada di luar rumah itu saya mesti melewati ruang tengah dulu yang karenanya saya pun bisa melihat apa yang mereka lakukan di ruang tengah tadi. Sekembalinya dari luar, saya langsung ke dapur mengambil bagian saya yang sudah di piring. Namun, sebelum di dapur itu saya mesti melewati ruang tengah lagi yang tampaknya tidak ada tempat lagi bagi saya untuk menduduki kursi bagus berwarna merah yang sudah diisi oleh mereka. Terpaksa, saya duduk di belakang mereka yang masih menyisakan kursi panjang yang tidak lebih bagus dari pada kursi merah tadi.

Menyantap sahur di kursi panjang yang tidak penuh diisi oleh orang telah membuat saya kedinginan, ketika pintu rumah yang dekat dengan ruang tengah itu terbuka lebar dan mempersilahkan hawa dingin dari luar untuk menyerang saya yang tengah sendirian menghadap langsung ke pintu tersebut. Berbeda dengan posisi mereka yang tidak menghadap langsung ke pintu dan ditambah lagi dengan panas tubuh mereka masing-masing yang dapat menghangatkan satu sama lainnya. Sehingga, meskipun hawa dingin itu masuk di saat posisi mereka yang tengah berdempetan, maka dinginnya itu tidak akan terlalu terasa sebagaimana yang saya rasakan dinginnya di belakang mereka. Disebabkan karena hal itu, makanya saya kurang menghendaki jika harus duduk di posisi tersebut yang mengakibatkan saya menjadi kedinginan oleh hawa pagi yang masuk. Namun, karena keterlambatan saya bangun tadi, saya menjadi kalah cepat untuk menempati posisi duduk yang enak buat santap sahur.

Sebelum shubuh berkumandang saya sempatkan untuk minum dua gelas, supaya nanti saat menjalani puasa mulut saya tidak terlalu kekeringan. Lalu, kami pun siap-siap ke Mushalla saat adzan tengah berkumandang. Pagi itu shaf laki-laki berjumlah lebih banyak dari pada shaf perempuan yang berjumlah lima orang saja dan itupun masih mereka yang merupakan keluarga besar Pak Tarmin. Usai shalat, aktifitas pribadi berjalan seperti biasa sampai tibanya pukul tujuh pagi yang merupakan saatnya bagi kami untuk melanjutkan proyek kami yang kemarin belum selesai, yaitu proyek pengecatan Mushalla. Berhubung sekarang catnya sudah beli lagi jadi pengecatan pun dilanjutkan. Tapi, sekarang kerjaan kami ditambah dengan pengecatan rumahnya Pak Tarmin yang pengerjaannya difokuskan pada bagian luar rumahnya saja.

Sebagaimana yang telah direncanakan, pukul tujuh kami langsung mengambil alat pengecatan yang baru dibeli lalu pengecatan pun dimulai. Pertama kami melanjutkan separuh dari Mushalla yang belum terselesaikan semuanya. Bagian Mushalla tersebut adalah dinding, langit-langit dan pagar kayu yang kemarin pengerjaannya terhenti disebabkan catnya yang telah habis. Setelah di Mushalla dirasa telah cukup, kemudian pengecatan beralih ke rumah Pak Tarmin. Rumah tersebut kami cat pada bagian luarnya saja, karena jika semua bagian rumahnya dicat tentunya cat yang tersedia tidak akan mencukupi. 

Memang warna bagian luar rumah beliau ini banyak yang sudah terkontaminasi oleh berbagai kotoran yang bermacam-macam. Sehingga, membuat warna asli tembok rumahnya menjadi pudar tidak karuan. Dan alasan lain kenapa bagian luar rumah beliau dicat, yaitu mengingat akhir-akhir ini adalah musimnya untuk berbenah rumah sebagai rangka penyambutan akan suasana Ramadlan dan Hari Raya nanti. Sebenarnya yang perlu dicat bukan hanya bagian luarnya saja, tapi bagian dalam pun seharusnya dicat juga karena warna bagian dalam pun sudah agak pudar. Namun, ini semua tergantung pada situasinya nanti, jika ada keputusan untuk mengecat bagian dalamnya juga maka —insya Allah— bisa. Tapi, kalau tidak, syukurlah.

Proses pengecatan pagi itu berjalan lancar sebagaimana yang diharapkan, namun tetap saja kami membutuhkan waktu yang cukup lama walaupun sudah dilakukan secara bersama-sama. Sehingga, sampai tibanya waktu menjelang dzuhur pun pengecatan belum selesai semuanya. Terpaksa, kami mesti melanjutkannya besok hari, sedangkan ba’da dzuhur telah kami proyeksikan waktunya untuk santai-santai tapi— insya Allah— santainya yang bermanfaat. Seusai shalat ashar, waktunya bagi kami untuk siap-siap menghadapi aktifitas malam hari, ada juga yang seperti biasa mengajar TPA di Mushalla. Sedangkan yang lain juga tidak kalah sibuknya mesti menyiapkan hidangan buka buat kami semua, meskipun sebenarnya tugas tersebut sudah lebih ringan dengan adanya peran Ibu yang selalu memasakkan hidangan buka buat kami.

Waktu buka telah tiba, kami mengawalinya dengan segelas bubur kacang ijo yang dibuat oleh Mbak Umm tadi sore, pada tiap gelas tersebut ditambah dengan agar-agar yang dicetak mirip es krim yang katanya dibuat oleh Nur. Tampaknya rizki di waktu buka ini seperti tidak ada habisnya, saat Pak Tarmin sedikit telat mengantarkan es campur untuk kami yang telah buka duluan dengan bubur kacang ijo dan dua macam agar-agar. Terpaksa, pemberian Pak Tarmin itu harus menganggur dahulu selama beberapa jam yang mungkin nantinya ada dari kami yang memakan suguhan beliau tersebut.

Ba’da maghribnya barulah kami menikmati makanan berat, hidangan yang beraroma pedas cukup menggoda kami untuk mencicipinya. Padahal kebanyakan dari kami sudah tahu persis bagaimana resikonya jika makan makanan pedas yang dapat mengganggu ritual shalat tarawih nanti. Namun, tampaknya resiko itu tidak terlalu diindahkan, manakala rasa lapar telah menggelayut dari tadi. Beberapa orang dari kami tampaknya menghiraukan resiko tersebut, termasuk saya sendiri yang nanti bakal tugas ceramah di Mushalla luar. Saya memilih bungkam saja jika harus makan karo sambel yang bisa membuat saya sibuk keluar masuk kamar mandi.

Usai makan-makan, kemudian kami bersiap-siap untuk berangkat tugas keluar guna mengisi Mushalla-Mushalla. Sedangkan, yang tugasnya di sini tetap tinggal untuk mengisi Mushalla sini bersama Pak Tarmin. Saya, Yasin dan Marhalim kini mengisi di Mushalla paling jauh yang berada di ujung dusun. Walaupun jaraknya jauh kami tetap berangkat dengan jalan kaki saja, menembus pekatnya jalanan kampung yang masih minim penerangan. Sebenarnya bisa saja kami pergi dengan motor, tapi karena kami bertiga maka jalan kaki saja, mengingat setiap motor yang kami pinjam pun tidak boleh dibawa bertiga.

Sebelum pulang kami disuruh mampir dulu ke salah satu rumah jamaah yang ada di sekitar Mushalla, di rumah tersebut kami disuguhi kolak pisang yang sudah lama saya tidak merasakannya. Beberapa lama setelah kami mencicipi kolak pisang tadi, maka kami pun pamit untuk pulang ke rumah. Di jalan sebelum kami tiba di rumah, ada Ibu warung yang memanggil kami dari pintu rumahnya untuk mampir mencicipi es dawet buatan beliau. Rizki memang tidak pandang situasi, meskipun kami sudah kenyang masih saja ada yang memberi. Awalnya Ibu itu mau menyajikannya di gelas supaya kami memakannya di tempat, namun kami langsung memintanya agar dibungkus saja karena keadaan perut kami yang sudah tidak memungkinkan. Tanpa ada raut wajah yang kecewa atas permintaan kami tersebut, beliau langsung saja membungkuskannya untuk kami. Dan tidak lama kemudian, kami pun pamit meninggalkannya. Sesampainya di rumah, es dawet itu pun habis disikat oleh teman-teman. 

Begitulah Hari ke 21: Isya di Luar ini, cukup melelahkan namun insyAllah bernilai ibadah. Aamiin.[]

Katakan Saya

Hyeongnim Wan, itulah saya di sini. Biasa dipanggil teman sebagai Yahya. Saya seseorang yang bisa juga dipanggil sebagai seorang blogger, namun tidak sekadar blogger melainkan blogger kader (bukan keder, lho). Karena saya meyakini menjadi seorang blogger pun tidak hanya sekadar nge-blog saja, ada entitas lain yang saya cari. Sesuatu yang menjadikan kegiatan ini tidak bernilai sia-sia. Semoga kumendapatkannya. Saya memulai Blogging sejak tahun 2011 hingga sekarang. Jawa Barat adalah daerah asal di mana saya pernah berada. Dan Saat ini saya adalah mahasiswa di sebuah . . .