Suratan Makna

Hari Ke 22: Membuat Laporan

Posted by Hyeongnim Wan Monday, September 9, 2013 2 Comment/s

Jelas sudah, semuanya. Ternyata keluarga besar Pak Tarmin sudah merencanakan ini dari jauh hari. Dari awal ramadlan beliau selalu menyediakan kami lauk untuk sahur dan berbuka, bersama Mba Umm, Mba Cici dan yang lainnya Pak Tarmin menyediakan kami hidangan bermacam-macam yang pada awalnya membuat kami kebingungan untuk menyikapi hal tersebut. Betapa tidak, setiap hari kami disuguhi makanan terus bagai sekawanan orang yang terpandang dari negeri kerajaan yang karenanya kami pun tidak menolak sama sekali. Tapi, yang jelas bagaimanapun kami merasa tidak enak sekali, apakah pelayanan itu tidak memakan biaya yang banyak?

Setelah kami konfirmasi, terciptalah sebuah kesepakatan untuk menyisihkan uang kas kami kepada keluarganya Pak Tarmin guna kebutuhan masaknya. Mudah-mudahan dengan penyerahan uang tersebut bisa memperjelas keadaan, walau sebenarnya dari awal beliau ikhlas menyuguhi kami. Lagian, buat apa uang kas yang sedianya selalu turun setiap minggunya selain untuk kebutuhan masak? Oleh karena itu, kami menyerahkan saja uang tersebut pada keluarga Pak Tarmin.

Agenda kami hari ini adalah kembali melanjutkan pekerjaan kami yang kemarin belum selesai, yaitu mengecat bagian Mushalla dan rumahnya Pak Tarmin. Pada bagian Mushalla ada bagian yang mesti ditambah dan diganti, yakni bagian langit-langit yang tampak sudah usang dan menambah bagian yang belum terpasang sama sekali. Pemasangan ini diserahkan kepada Pak Tarmin sendiri, karena beliau memang paling ahli untuk memasang langit-langit tersebut. Sedangkan kami cukup mengecat-ngecat saja bagian yang belum dicat, karena memang masih banyak bagian pengecatan tersebut yang belum terselesaikan.

Sebagaimana kesepakatan yang telah lalu, bahwa durasi pengecatan ini dicukupkan sampai menjelang siang saja selebihnya adalah waktu kami untuk istirahat atau santai-santai. Lebih jelasnya, pagi tadi pengecatan berakhir saat cat yang tersedia sudah habis terpakai semuanya, padahal masih ada bagian yang belum terselesaikan. Tapi, mau bagaimana lagi catnya memang sudah habis, terpaksa pekerjaan kami dihentikan pas menjelang siang tadi.
Sebelum dzuhur tiba, kebanyakan dari kami pada sibuk membersihkan diri setelah bekerja tadi. Sedangkan yang lainnya hanya siap-siap berwudlu saja, karena mungkin mereka ini tadi paginya sudah mandi atau mungkin yang cuma wudlu itu tidak ada rencana untuk mandi sama sekali. Meskipun begitu, insya Allah sore harinya pada mandi semua. Usai bersiap-siap, segera kami mengisi Mushalla yang pada waktu dzuhur ini tidak dihiasi oleh jama’ah perempuan. Jadi, bagian Mushalla yang biasanya dibagi dua dengan tirai hijab, kini menjadi satu saja.

Usai dzuhur itu kami disibukkan dengan kedatangan dosen DPL yang akan tiba besok hari, saat dosen tersebut datang kami mesti menyerahkan tugas laporan kegiatan KKN kami padanya. Oleh karena itu, siang ini kami mesti membuat laporan tersebut dengan sedikit mengingat-ngingat apa saja yang selama dua minggu ini telah kami kerjakan. Bagi yang merekam agenda selama dua minggu itu melalui catatan, tentunya hal ini mudah saja hanya tinggal menyalin catatan agenda tersebut ke lembar laporan kegiatan yang telah disediakan. Namun, perkara ini menjadi sangat merepotkan bagi mereka yang tidak ada catatan sama sekali, diperparah lagi dengan ingatan mereka yang pas-pasan. Mereka yang kebingungan mengisi laporan itu tidak kehabisan akal, cukup menyalin saja lembar laporan punya temannya atau tidak menyalin dari laporan kegiatan perkelompok. Masalah isi laporannya bagaimana, paling tidak jauh berbeda dengan kegiatan pribadi yang sudah dilaksanakan. Mengisi laporan tersebut tidaklah memakan waktu yang terlalu lama, sehingga saat semuanya telah beres sebagian dari kami langsung pergi tidur siang sampai ashar tiba.

Rupanya kumandang adzan belum mampu membangunkan kami yang lagi enak tidur siang, tapi untungnya selalu ada orang yang membangunkan kami, jadi barulah disadari kalau adzan tengah berkumandang. Berbeda dengan dzuhur tadi, shaf perempuan pada shalat ashar sekarang ramai diisi oleh jama’ahnya. Meskipun hanya diisi oleh anak-anak mengaji, tapi setidaknya shaf tersebut sudah ada yang mengisi dari pada dzuhur tadi yang tidak ada sama sekali. Tampaknya sore hari ini tidak ada kesibukan yang berarti, selain seperti biasa kami mesti menyiapkan diri kami untuk menghadapi aktifitas malam yang kebanyakan bertugas mengisi di Masjid dan Mushalla-Mushalla luar. Tapi, ada juga yang sekarang bagiannya piket, seperti biasa juga mesti menyiapkan hidangan berbuka kami nanti yang tinggal diambil saja dari salah satu keluarga besarnya Pak Tarmin.

Saat waktu berbuka tiba—alhamdulillah—es campur telah siap untuk kami santap. Dikarenakan es campur tersebut dibuatnya banyak, maka ada alasan bahwa satu gelas buat saya tidaklah cukup. Oleh karena itu, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menambah porsi lagi. Tidak lama setelah itu, kami bersiap-siap untuk shalat Maghrib dulu kemudian sesudah itu acara berbuka dilanjutkan lagi dengan makan makanan berat yang selalu kami nanti-nantikan kebersamaannya.

Bagi yang akan bertugas mengisi tarawih, tidak usah makan berlama-lama apalagi mengambil porsi yang banyak. Soalnya, sebelum berangkat mereka mesti menyiapkan diri sesiap mungkin, belum lagi resiko jika makan dengan porsi yang banyak karena khawatirnya akan menimbulkan masalah yang tidak diinginkan. Dengan begitu waktu maghrib terasa sangat pendek sekali, karena beberapa kesibukkan yang meliputi mereka. Sedangkan saya sendiri santai saja, karena saya sendiri sedang tidak ada tugas. Awalnya saya ada jadwal mengisi juga di Mushalla luar, tapi karena kami bertiga sedangkan kami memakai motor maka cukup dua orang saja yang berangkat, yaitu Yasin dan Marhalim. Mengenai jadwal saya mengisi hanya sekadar menemani saja, bukan mengisi dalam pengertian bertugas ceramah atau mengimami shalat tarawih. Oleh karena itu, saya mengisi di Mushalla sini saja menemani Husairi dan Irsyad yang sedang bertugas.

Saat waktu shalat tarawih lewat, suasana Ramadlan di pedusunan kami coba bangun kembali dengan kegiatan tadarrus yang dikumandangkan di Mushalla. Sayangnya, tidak bertahan sampai berjam-jam tadarrusan pun berakhir sebelum pukul sembilan malam pada Hari Ke 22: Membuat Laporan ini. []

Hari ke 21: Isya di Luar

Posted by Hyeongnim Wan Saturday, August 31, 2013 0 Comment/s
Setelah Hari Ke 20: Membantu Masak Bukaan. Sekarang pada Hari ke 21: Isya di Luar.

Tega sekali mereka ramai-ramai di sana makan sahur, sedangkan saya masih tertidur di kamar sendirian. Apa mereka mau membuat saya supaya tidak sahur dengan cara membiarkan saya terus tertidur? Untung saja saya bangun juga, ketika dalam tidur sayup-sayup saya mendengar ocehan mereka yang membuat ramai satu rumah. Saya terbangun, keluar kamar lalu melihat segerombolan dari mereka yang sudah mengisi penuh kursi ruang tengah yang melingkari meja di tengahnya. Di atas meja itu terlihat tidak ada ruang lagi melainkan semuanya telah diisi oleh hidangan sahur yang cukup beraneka ragam.

Sebelum menyantap sahur, saya pergi ke kamar mandi dulu untuk cuci muka. Menuju kamar mandi yang berada di luar rumah itu saya mesti melewati ruang tengah dulu yang karenanya saya pun bisa melihat apa yang mereka lakukan di ruang tengah tadi. Sekembalinya dari luar, saya langsung ke dapur mengambil bagian saya yang sudah di piring. Namun, sebelum di dapur itu saya mesti melewati ruang tengah lagi yang tampaknya tidak ada tempat lagi bagi saya untuk menduduki kursi bagus berwarna merah yang sudah diisi oleh mereka. Terpaksa, saya duduk di belakang mereka yang masih menyisakan kursi panjang yang tidak lebih bagus dari pada kursi merah tadi.

Menyantap sahur di kursi panjang yang tidak penuh diisi oleh orang telah membuat saya kedinginan, ketika pintu rumah yang dekat dengan ruang tengah itu terbuka lebar dan mempersilahkan hawa dingin dari luar untuk menyerang saya yang tengah sendirian menghadap langsung ke pintu tersebut. Berbeda dengan posisi mereka yang tidak menghadap langsung ke pintu dan ditambah lagi dengan panas tubuh mereka masing-masing yang dapat menghangatkan satu sama lainnya. Sehingga, meskipun hawa dingin itu masuk di saat posisi mereka yang tengah berdempetan, maka dinginnya itu tidak akan terlalu terasa sebagaimana yang saya rasakan dinginnya di belakang mereka. Disebabkan karena hal itu, makanya saya kurang menghendaki jika harus duduk di posisi tersebut yang mengakibatkan saya menjadi kedinginan oleh hawa pagi yang masuk. Namun, karena keterlambatan saya bangun tadi, saya menjadi kalah cepat untuk menempati posisi duduk yang enak buat santap sahur.

Sebelum shubuh berkumandang saya sempatkan untuk minum dua gelas, supaya nanti saat menjalani puasa mulut saya tidak terlalu kekeringan. Lalu, kami pun siap-siap ke Mushalla saat adzan tengah berkumandang. Pagi itu shaf laki-laki berjumlah lebih banyak dari pada shaf perempuan yang berjumlah lima orang saja dan itupun masih mereka yang merupakan keluarga besar Pak Tarmin. Usai shalat, aktifitas pribadi berjalan seperti biasa sampai tibanya pukul tujuh pagi yang merupakan saatnya bagi kami untuk melanjutkan proyek kami yang kemarin belum selesai, yaitu proyek pengecatan Mushalla. Berhubung sekarang catnya sudah beli lagi jadi pengecatan pun dilanjutkan. Tapi, sekarang kerjaan kami ditambah dengan pengecatan rumahnya Pak Tarmin yang pengerjaannya difokuskan pada bagian luar rumahnya saja.

Sebagaimana yang telah direncanakan, pukul tujuh kami langsung mengambil alat pengecatan yang baru dibeli lalu pengecatan pun dimulai. Pertama kami melanjutkan separuh dari Mushalla yang belum terselesaikan semuanya. Bagian Mushalla tersebut adalah dinding, langit-langit dan pagar kayu yang kemarin pengerjaannya terhenti disebabkan catnya yang telah habis. Setelah di Mushalla dirasa telah cukup, kemudian pengecatan beralih ke rumah Pak Tarmin. Rumah tersebut kami cat pada bagian luarnya saja, karena jika semua bagian rumahnya dicat tentunya cat yang tersedia tidak akan mencukupi. 

Memang warna bagian luar rumah beliau ini banyak yang sudah terkontaminasi oleh berbagai kotoran yang bermacam-macam. Sehingga, membuat warna asli tembok rumahnya menjadi pudar tidak karuan. Dan alasan lain kenapa bagian luar rumah beliau dicat, yaitu mengingat akhir-akhir ini adalah musimnya untuk berbenah rumah sebagai rangka penyambutan akan suasana Ramadlan dan Hari Raya nanti. Sebenarnya yang perlu dicat bukan hanya bagian luarnya saja, tapi bagian dalam pun seharusnya dicat juga karena warna bagian dalam pun sudah agak pudar. Namun, ini semua tergantung pada situasinya nanti, jika ada keputusan untuk mengecat bagian dalamnya juga maka —insya Allah— bisa. Tapi, kalau tidak, syukurlah.

Proses pengecatan pagi itu berjalan lancar sebagaimana yang diharapkan, namun tetap saja kami membutuhkan waktu yang cukup lama walaupun sudah dilakukan secara bersama-sama. Sehingga, sampai tibanya waktu menjelang dzuhur pun pengecatan belum selesai semuanya. Terpaksa, kami mesti melanjutkannya besok hari, sedangkan ba’da dzuhur telah kami proyeksikan waktunya untuk santai-santai tapi— insya Allah— santainya yang bermanfaat. Seusai shalat ashar, waktunya bagi kami untuk siap-siap menghadapi aktifitas malam hari, ada juga yang seperti biasa mengajar TPA di Mushalla. Sedangkan yang lain juga tidak kalah sibuknya mesti menyiapkan hidangan buka buat kami semua, meskipun sebenarnya tugas tersebut sudah lebih ringan dengan adanya peran Ibu yang selalu memasakkan hidangan buka buat kami.

Waktu buka telah tiba, kami mengawalinya dengan segelas bubur kacang ijo yang dibuat oleh Mbak Umm tadi sore, pada tiap gelas tersebut ditambah dengan agar-agar yang dicetak mirip es krim yang katanya dibuat oleh Nur. Tampaknya rizki di waktu buka ini seperti tidak ada habisnya, saat Pak Tarmin sedikit telat mengantarkan es campur untuk kami yang telah buka duluan dengan bubur kacang ijo dan dua macam agar-agar. Terpaksa, pemberian Pak Tarmin itu harus menganggur dahulu selama beberapa jam yang mungkin nantinya ada dari kami yang memakan suguhan beliau tersebut.

Ba’da maghribnya barulah kami menikmati makanan berat, hidangan yang beraroma pedas cukup menggoda kami untuk mencicipinya. Padahal kebanyakan dari kami sudah tahu persis bagaimana resikonya jika makan makanan pedas yang dapat mengganggu ritual shalat tarawih nanti. Namun, tampaknya resiko itu tidak terlalu diindahkan, manakala rasa lapar telah menggelayut dari tadi. Beberapa orang dari kami tampaknya menghiraukan resiko tersebut, termasuk saya sendiri yang nanti bakal tugas ceramah di Mushalla luar. Saya memilih bungkam saja jika harus makan karo sambel yang bisa membuat saya sibuk keluar masuk kamar mandi.

Usai makan-makan, kemudian kami bersiap-siap untuk berangkat tugas keluar guna mengisi Mushalla-Mushalla. Sedangkan, yang tugasnya di sini tetap tinggal untuk mengisi Mushalla sini bersama Pak Tarmin. Saya, Yasin dan Marhalim kini mengisi di Mushalla paling jauh yang berada di ujung dusun. Walaupun jaraknya jauh kami tetap berangkat dengan jalan kaki saja, menembus pekatnya jalanan kampung yang masih minim penerangan. Sebenarnya bisa saja kami pergi dengan motor, tapi karena kami bertiga maka jalan kaki saja, mengingat setiap motor yang kami pinjam pun tidak boleh dibawa bertiga.

Sebelum pulang kami disuruh mampir dulu ke salah satu rumah jamaah yang ada di sekitar Mushalla, di rumah tersebut kami disuguhi kolak pisang yang sudah lama saya tidak merasakannya. Beberapa lama setelah kami mencicipi kolak pisang tadi, maka kami pun pamit untuk pulang ke rumah. Di jalan sebelum kami tiba di rumah, ada Ibu warung yang memanggil kami dari pintu rumahnya untuk mampir mencicipi es dawet buatan beliau. Rizki memang tidak pandang situasi, meskipun kami sudah kenyang masih saja ada yang memberi. Awalnya Ibu itu mau menyajikannya di gelas supaya kami memakannya di tempat, namun kami langsung memintanya agar dibungkus saja karena keadaan perut kami yang sudah tidak memungkinkan. Tanpa ada raut wajah yang kecewa atas permintaan kami tersebut, beliau langsung saja membungkuskannya untuk kami. Dan tidak lama kemudian, kami pun pamit meninggalkannya. Sesampainya di rumah, es dawet itu pun habis disikat oleh teman-teman. 

Begitulah Hari ke 21: Isya di Luar ini, cukup melelahkan namun insyAllah bernilai ibadah. Aamiin.[]

Hari Ke 20: Membantu Masak Bukaan

Posted by Hyeongnim Wan Monday, March 4, 2013 4 Comment/s



Beranjak pada Hari Ke 20: Membantu Masak Bukaan, Pukul tiga pagi umam bangunkan saya tidur, bertanya siapa yang piket masak hari ini. Namun, dia telah bertanya kepada orangnya langsung, yaitu saya. Rengekannya meminta saya untuk cepat memanaskan sayur yang sudah dimasak kemarin dengan lauk yang saya sendiri baru lihat waktu itu, yakni telur kuah santan yang diberi oleh keluarga Pak Tarmin. Saat tengah di dapur sendirian, saya tidak menyadari jika Pak Tarmin berdiri di lawang pintu dapur.

“sayurnya sudah dipanaskan?” kejut Pak Tarmin.
“hh, belum” jawab saya yang baru menyadari bahwa itu beliau.

Segera, saya langsung menyalakan kompor di samping untuk memanaskan lauk pemberian beliau tersebut. Pagi itu hanya saya saja yang sibuk di dapur, partner piket saya, Zakir masih belum bangun juga. Sedangkan, satu lagi Yohan, pergi ke Surabaya dari kemarin. Tidak mengapa, wong cuma memanaskan tok. Beberapa lama kemudian, barulah dia datang ke dapur, membantu saya yang sudah dari tadi menyiapkan sahur di dapur. Gilirannya adalah menuangkan hidangan sahur dari panci ke piring-piring. Saat semuanya sudah siap, kita mesti sibuk lagi membangunkan teman-teman yang masih tidur. Namun, ketika saya membangunkan mereka bangkit dengan segera menyambut ajakan saya tersebut.

Tinggal beberapa menit saja adzan shubuh berkumandang, sehingga tidak ada waktu luang untuk tidur-tiduran lagi, namun semua siap-siap melaksanakan shalat shubuh di Mushalla. Mushalla sederhana yang jamaahnya lumayan ada peningkatan, termasuk pada shubuh kali ini yang saya rekam terdapat satu orang jamaah luar yang melaksanakan shalat shubuh bersama kami di sana. Tapi, bukannya seorang pemuda, melainkan orang tua yang datang dengan sepeda motornya. Sebelum pulang, beliau juga menyempatkan diri bersama kami untuk wirid pagi seusai shalat shubuhnya.

Untuk mengisi hari di suasana ramadlan kali ini kami tidak mempunyai agenda kegiatan apapun selain melanjutkan pengecatan Mushalla yang belum terselesaikan juga, masih tersisa 40% kerjaan lagi yang mesti kami selesaikan. Sebelum pengecatan itu saya sendiri sedang sibuk mencuci peralatan dapur yang kotor sehabis waktu sahur tadi dipakai. Sedangkan Zakir entah berada di mana, sebab ketika saya cari di kamar dia tidak ada. Adapun yang di luar hanya Marhalim, Basirun, dan Yasin yang sedang sibuk mengecat. Saat saya lagi sibuk-beres-beres di dapur, Yasin minta saya segera bantu mereka di Mushalla yang hanya ada dua orang, sedangkan yang lain pada pergi ke luar entah ke mana.

Sampai menjelang siang tiba, di Mushalla tetap hanya kami berempat saja yang sibuk mengecat. Pekerjaan kami itu terhenti ketika modal cat yang kami punya telah habis, sedangkan beberapa sudut bagian Mushalla masih ada yang belum kena cat. Terpaksa, penyelesaian pun harus tertunda sampai menunggu dana cadangan turun. Dan ketua bilang, cat baru akan segera dibeli besok hari, insya Allah. Menjelang siang, bagiannya yang tidak ada tadi baru balik ke rumah guna beristirahat setelah seharian beraktifitas di luar.

Sebelum adzan, semuanya dibereskan lagi karena Mushalla akan digunakan untuk shalat dzuhur. Setelah shalat, waktu yang berjalan terasa begitu hambar karena biasanya ba’da dzuhur kami selalu menunggu sesuatu yang bisa dimakan, yaitu makan siang. Namun, kini waktu seakan telah dikonversi secara halus dalam suasana Ramadlan yang lebih barakah jika digunakan untuk suatu hal yang bermanfaat dari pada hanya sekadar menunggu waktunya jam makan. Maka dari itu, waktu siang ini mesti disiasati supaya mengandung nilai ibadah yang dapat diterima oleh-Nya. Terserah, apa mau membaca, mengaji, menulis, yang penting bingkai aktifitas tersebut dalam frame ibadah.

Sore hari saya sedikit terkejut oleh Husairi yang meminta saya untuk menemani Ibu masak di rumahnya.

“yang bener, nih?!”
“bener”, pungkasnya.

Kalau sudah begini, ada indikasi kalau Ibu bakal membuatkan lagi makanan buka buat kami. Betapa bingungnya kami menghadapi dan membalas rizki yang mengalir melalui Ibu ini, tidak ada yang bisa diharapkan dari kami jika diharuskan membalas pelayanan besar beliau. Kami hanya bisa mendoakan Ibu yang masih merupakan keluarga besarnya Pak Tarmin ini, mudah-mudahan Allah melimpahkan kasih dan sayang-Nya pada mereka. Amin. 

Ketika saya bersama Zakir memenuhi panggilan Husairi tadi, ternyata benar, di dapurnya Ibu tengah masak-masak lalu kami pun dimintanya untuk membantu beliau. Segera, saya pun langsung mengambil alih sebuah penggorengan yang sedang tidak ada operatornya. Kerja saya hanya melanjutkan perkedel yang belum dimasak semuanya, awalnya saya dicegah beliau karena khawatirnya saya tidak bisa. Namun, ketika mendengar beberapa kata saya terkait cara menggoreng perkedel tersebut, maka Ibu pun percaya dengan sedikit memuji. Dan saat beliau melihat kerja saya menggoreng perkedel itu, bertambahlah pujiannya pada saya. Sebaliknya beliau malah menyindir hasil kerjanya Nur yang acak-acakan saat menggoreng perkedel tersebut. Di sudut lain ada Zakir yang terlihat sibuk tengah memindah-mindahkan nasi ke wadah yang berbeda, namun tidak memerlukan waktu yang lama dia mampu menyelesaikannya, lalu beralih menuangkan es cendol ke gelas-gelas.

Kerja kami dihentikan saat Ibu menginstruksikan kami untuk berhenti membantunya, karena memang semuanya telah selesai disiapkan. Atas perintah Ibu tersebut, maka kami pun pergi saja ke ruang tengah nonton TV bareng Rauf yang sudah dari tadi stand by di sana. Beberapa saat kemudian kami balik ke rumah lagi, mengingat kami mesti menyiapkan makanan untuk berbuka nanti yang tinggal disajikan saja.

Sebagaimana yang telah disiapkan tadi, sebelum shalat maghrib kami berbuka dengan es cendol buatan Ibu yang manis. Namun, sayang es cendol buatan Ibu tersebut tidak habis semuanya, karena ternyata Ibu membuatnya kebanyakan. Padahal, beberapa orang dari kami tengah berada di luar. Tahu begini, tadi kami tidak akan membuat banyak-banyak. Tapi, yang membuat bukan kami juga, sih. Ibu, kok. Ya, sudahlah, nanti malam habis tarawih juga mungkin ada yang minum lagi. Ibu yang membuatnya santai-santai saja, malah kita yang repot sendiri.

Ba’da maghrib, barulah kami menyantap-makanan yang berat. Sebagian dari kami yang malam ini tugasnya sebagai imam tarawih atau khotib tidak berani untuk makan banyak-banyak, karena mereka khawatir bakalan tidak kuat untuk mengimami atau berceramah dalam keadaan perut yang lagi penuh. Sedangkan saya sendiri tengah santai-santai saja, meskipun shalat tarawih nanti dalam keadaan perut yang kenyang. Karena yang penting sekarang saya sedang tidak mengimami ataupun menjadi khotib setelah tarawih. Memang, saya sendiri merasakan bagaimana ketika perut yang baru kenyang mesti mengimami shalat tarawih, sudah perasaan agak nervous malah ditambah lagi dengan keadaan perut yang tidak enak. Seperti kemarin, sebelum tarawih perasaan agak gugup, ditambah juga dengan perut yang baru kenyang. Huft, nggak enak banget. Tapi, —alhamdulillah— saat maju jadi imam lalu saya fokus dengan posisi tersebut, rasa gugup berangsur menghilang berikut dengan perut kenyang yang tidak saya rasakan lagi. Namun, tetap bagaimanapun juga kalau perut kekenyangan sungguh tidak enak sekali untuk bergerak.

Tidak lama setelah makan, yang bagiannya tugas tarawih ke Mushalla dan Masjid luar segera menyiapkan dirinya untuk berangkat, mengingat jarak yang akan mereka tempuh menuju tempat-tempat tersebut lumayan jauh dari sini. Salah-salah, mereka bisa terlambat bertugas jika terlalu berlama-lama di rumah. Di sisi lain, saya, Marhalim, dan Yasin tinggal di sini karena kami yang sekelompok tugasnya memang di Mushalla ini. Jika Marhalim jadi imam, Yasin sebagai khotibnya, sedangkan saya kosong saja karena bagian saya kemarin sudah. Bagiannya mereka berdua tugas ini, lebih lama waktu yang dihabiskannya ketimbang kemarin saya yang bertugas saat menjadi imam. Sehingga, waktu menunjukan pukul delapan tepat saat semuanya bubar dari Mushalla. 

Begitulah KKN di Hari Ke 20: Membantu Masak Bukaan ini, semoga bernilai manfaat. []

Hari Ke 19: Shaum Pertama

Posted by Hyeongnim Wan Thursday, February 21, 2013 9 Comment/s

Hari Ke 19: Shaum Pertama

Setengah empat kurang kami dibangunkan oleh mereka yang sekarang adalah bagiannya untuk piket masak. Dan sekarang adalah hari pertama bagi kami untuk menjalankan ibadah shaum. Saat mereka bangunkan kami, masakan yang mereka buat telah siap untuk disajikan. Maka, saat itu juga kami langsung cuci muka kemudian santap sahur. Mengenai makanan sahur tersebut, sebenarya bukanlah orang piket yang masak, namun Ibu warga sini yang dengan baik hati berinisiatif untuk memasakkan sahur buat kami. Kesediaan beliau itu tidaklah diminta oleh siapa-siapa, namun —sekali lagi, insya Allah— atas inisiatif beliau sendirilah yang membuatkannya untuk kami.

Sebelum adzan shubuh berkumandang —alhamdulillah— semuanya telah selesai. Sebagian dari kami memilih baca qur’an untuk menunggu shubuh, sedangkan sebagian lagi ada juga yang tengah sibuk dengan laptopnya yang memutar lagu In Team berjudul kalimah cinta. Setelah tiga lagu dimainkan, barulah adzan shubuh berkumandang dan lagu pun dimatikan. Yang masih di kamar segera menyiapkan diri mereka untuk pergi ke Mushalla, ada yang masih di kamar mandi mengambil air wudlu, dan ada juga yang sudah duluan berada di Mushalla dari tadi. Geliat ramadlan di sini kami rasakan sangat berbeda dengan atmosfir di kampung kami masing-masing, ternyata di sini tampak lebih sepi dari apa yang kita perkirakan sebelumnya. Sungguh, mengingat ngingat seperti ini, kami pun jadi rindu akan suasana kampung sendiri, jadi ingin segera pulang. Namun, hadirnya kesan yang tercipta di sini juga tidak dapat kami pungkiri keberadaannya. Warga yang ramah, rukun, dan solid adalah nilai tersendiri yang membuat jempol kami mengacung buat mereka.

Hari ini kami kehilangan satu personel tim yang cukup diandalkan keberadaannya, Yohan harus pergi ke Surabaya memenuhi panggilan kantornya. Di sana dia akan tugas ramadlan selama satu minggu, lalu kembali lagi ke tempat KKN untuk hari-hari penutupannya. Dia berangkat pagi ini bersama motor kerjanya yang selalu ia bawa ke manapun, termasuk ke tempat KKN ini. Di sini, motor tersebut mesti banyak berurusan dengan jalanan yang kurang bersahabat, karena di sini rata-rata jalannya pada berlubang dan bebatuan semua, beda dengan medan di Surabaya yang mulus-mulus saja.

Pagi sekarang yang tepatnya berada di bulan ramadlan cukup berbeda dengan pagi di beberapa hari sebelumnya, kali ini kami tidak harus menunggu-nunggu sarapan pagi dimulai, dan apapun yang kami lakukan pada pagi-pagi ini bukanlah untuk menunggu sarapan pagi disajikan. Namun, justru pagi ini menjadi terasa lebih panjang waktunya jika digunakan untuk mengerjakan suatu proyek yang besar. Hal tersebut dikarenakan, waktu luang yang biasanya digunakan untuk menunggu sarapan pagi, kini tiada. Namun, sekarang waktu tersebut digantikan oleh waktu kerja yang panjang sampai menjelang siang.

Sebagaimana pagi sekarang, kami harus melanjutkan pekerjaan kami yang kemarin belum terselesaikan, yaitu mengecat Mushalla. Di sini kami mengkombinasikan dua warna antara putih dan hijau, putih ditempatkan untuk dinding dan langit-langit, sedangkan hijau untuk pagar kayu Mushalla. Pengecatan dilakukan secara bergantian, dikarenakan peralatan yang kurang mencukupi. Jika yang satu tengah mengecat, maka yang lainnya membersihkan tembok atau kayu yang hendak dicat dari kotoran yang dapat mempengaruhi warna cat. Proyek pengecatan ini memakan waktu yang cukup lama sekali, dimulai sejak pagi-pagi dan berakhir saat menjelang siang. Bahkan, setelah dzuhur pun pengecatan masih berlanjut, karena meskipun hanya sekedar Mushalla sederhana, bagian Mushalla yang perlu dicat cukup banyak sekali. Malah, kami beranggapan bahwa pengecatan ini juga akan berlanjut sampai besok hari. Dan ternyata memang benar, ketika pengecatan dihentikan saat ashar tiba maka terpaksa pengecatan akan dilanjutkan pada besok paginya. Namun, —alhamdulillah— selama beberapa hari mengecat kami tidak direpotkan oleh cuaca yang kurang bersahabat sebagaimana pada hari-hari sebelumnya yang sering diguyuri hujan. Sehingga, dengan cuaca yang baik ini pengecatan pun bisa berjalan dengan lancar dan tanpa ada hambatan.

Saat menjelang maghrib, Husairi tampak lebih aktif dalam menyiapkan hidangan berbuka bagi kami. Husairi memang bisa diandalkan, mungkin karena hubungannya yang baik dengan Ibu tetangga, kami pun bisa dapat kiriman untuk hidangan berbuka. Sehingga, dia yang memang bagiannya piket hari ini tidak harus repot-repot lagi menyiapkan makanan untuk kami. Cukup menyajikannya saja, sudah jadi. Sebenarnya bukanlah Husairi saja yang pergaulannya cukup baik dengan warga sini, Pa Che dan ketua kami Irsyad juga perlu diperhitungkan sebagai pembuka jalan hubungan yang baik bagi kami dengan warga sini. Memang, terkadang di antara kami ada yang susah ketika mesti bergaul dengan warga sekitar, oleh karena itu dengan adanya sosok-sosok seperti mereka ini sangatlah penting bagi kami demi mengangkat nama mahasiswa KKN secara keseluruhan.

Alhamdulillah, bersamaan dengan berkumandangnya adzan maghrib maka kami pun berbuka, es kelapa degan buatan Ibu memang ampuh untuk menghapus haus dan dahaga kami setelah seharian berpuasa. Meskipun sederhana, tapi kami cukup mensyukuri atas nikmat yang diberikan Allah melalui Ibu tetangga kami tersebut. Hanya karena kebaikannya yang tulus ikhlas itu saja kami menjadi senang dengan keluarga beliau, sehingga kami merasa tidak enak juga saat dibuatkan masakan olehnya. Mau menolak pemberian beliau yang seolah-olah terlalu memanjakan kami, takutnya akan menimbulkan suatu kesalahpahaman. Kami menjadi bingung, dan dengan kebingungan tersebut hanya menimbulkan sikap diam kami terhadap segala pemberian beliau.

Saat tarawih tiba, saya menjadi menyesal telah banyak menghabiskan makanan berat ketika ba’da maghrib tadi. Mengingat sekarang adalah waktunya bagi saya untuk mengimami shalat tarawih di Mushalla sini yang sudah penuh diisi oleh jama’ah ibu-ibu dan bapak-bapak, serta beberapa anak muda. Perut ini terasa begah karena terlalu kekenyangan. Andaikan tadinya saya merasa bakal seperti ini, kelak saya akan urungkan niat saya untuk makan sebelum isya seperti tadi. Namun,ternyata ketika saya tengah mengimami, begah itu tidak terlalu terasa oleh saya. Saya hanya fokus dengan shalat saya yang takutnya banyak menemui kekeliruan di dalamnya. Karena, saya sendiri baru pertama kali menjalani tugas sebagai imam tarawih seperti sekarang ini. Jadi, saya cukup hati-hati dengan setiap bacaan yang diucapkan. Awalnya saya agak gugup berdiri sebagai imam di depan orang-orang sekampung, tapi sedikit demi sedikit saya pun bisa tenang menghadapinya.

Setelah giliran saya mengimami tarawih, kini tugasnya teman saya untuk berceramah di depan jama’ah yang semuanya asli orang Jawa, sedangkan teman saya ini adalah orang sumatera yang canggung untuk berbahasa Jawa. Terpaksa, bagaimanapun juga yang penting dia berceramah meski menggunakan bahasa Indonesia yang bagi sebagian kecil warga kampung sini tidak memahaminya. Usai tarawih, kegiatan di Mushalla pada Hari Ke 19: Shaum Pertama ini pun tetap berlanjut dengan tadarrusan yang dibacakan oleh beberapa teman kami yang cukup konsisten untuk menghidupkan suasana Mushalla dengan cara tersebut. []

Katakan Saya

Hyeongnim Wan, itulah saya di sini. Biasa dipanggil teman sebagai Yahya. Saya seseorang yang bisa juga dipanggil sebagai seorang blogger, namun tidak sekadar blogger melainkan blogger kader (bukan keder, lho). Karena saya meyakini menjadi seorang blogger pun tidak hanya sekadar nge-blog saja, ada entitas lain yang saya cari. Sesuatu yang menjadikan kegiatan ini tidak bernilai sia-sia. Semoga kumendapatkannya. Saya memulai Blogging sejak tahun 2011 hingga sekarang. Jawa Barat adalah daerah asal di mana saya pernah berada. Dan Saat ini saya adalah mahasiswa di sebuah . . .