Suratan Makna: 2011

Hati-Hati, Dampak Pudarnya Orientasi Diri

Posted by ridwan yahya Saturday, November 12, 2011 29 Comment/s

Hati-Hati, Dampak Pudarnya Orientasi Diri

1.   Banyak melewatkan waktu dengan percuma
2.   Hidup terkesan asal-asalan dan tidak   jelas
3.   Kegiatan terencana menjadi terbengkalai
4.   Terkesan menghindari berbagai amalan positif
5.   Emosi tidak terkendali
6.   Menganggap suatu perkara menjadi suatu hal yang berat
7.   Mengeluarkan seorang pejuang menjadi pecundang

Anjuran Nge-blog

Posted by ridwan yahya Thursday, November 10, 2011 19 Comment/s
Anjuran Nge-blog
      Di tengah berlangsungnya jam kuliah MediaKomunikasi, seorang dosen asyik berbicara membahas materinya yang diajarkan pada para Mahasiswa. Sesekali bapak itu menyinggung bahwa nge-blog adalah alternatif yang cukup tepat untuk dikategorikan sebagai media komunikasi yang efektif. Singgungan tersebut berawal dari keluhannya yang dirasakan terkait blog yang dimilikinya sedang bermasalah. Dikatakan bahwa blognya tidak kuat lagi untuk memposting tulisan-tulisannya yang sebagian besar isinya adalah materi-materi kuliah yang dikhususkan bagi mahasiswa kalau-kalau mahasiswa tersebut membutuhkannya. Namun, sayang kegiatan beliau itu harus terhambat sekian lamanya. Tidak ada posting baru lagi yang menghiasi template blognya yang cukup keren untuk seukuran seorang dosen. Jangankan diisi, disinggahi saja tidak.

Pasang Youtube Autoplay

Posted by ridwan yahya Sunday, November 6, 2011 10 Comment/s
Pasang Youtube Autoplay
        Dalam sebuah kotak komentar blog saya, ada temen blog yang menanyakan bagaimana caranya pasang video Youtube yang autoplay. Ditambah lagi tanpa buffering segala lagi. Sebenarnya saya juga dulu begitu, browsing sana-sini cari cara gimana bisa pasang Youtube yang main otomatis kayak yang sering saya lihat di blog temen2 Malaysia. Bahkan ditambah lagi mereka tu nggak pake gambar segala lagi. Heran, saya. Cari-cari nggak ketemu-ketemu.

Kenali ‘Idul Qurban

Posted by ridwan yahya Saturday, November 5, 2011 18 Comment/s

Kenali ‘Idul Qurban
“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah dirizkikan Allah kepada mereka” (QS. Al-Hajj: 34).

Tidak lama lagi Hari Raya Idul Adha akan kita singgahi. Sebagai seorang muslim, kiranya kita tahu apa esensi dari pada Hari Besar tersebut supaya kita tidak melewatkannya begitu saja. Hari Raya Idul Adha identik dengan Hari Raya Qurban yang sarat dengan nilai-nilai keIslaman yang terkandung padanya. Dinamakan demikian, karena pada hari tersebut umat islam sedianya melaksanakan Qurban yang berupa hewan-hewan ternak tertentu yang telah disyariatkan.

PENDEKATAN KLINIK-GENETIK

Posted by ridwan yahya Wednesday, November 2, 2011 3 Comment/s
1.    Studi Kasus Pendekatan Klinik
PENDEKATAN KLINIK-GENETIK
     Pada Pendekatan Klinik terdapat 5 komponen yang penting untuk ditelusuri, yaitu: 1) identifikasi status situasi bagi perlakuan kuratif, 2) pengumpulan data, pengujian kemampuan indera, kesehatan, pendidikan, mental, dan mengadakan penelaahan biografinya, 3) membuat diagnosis dan identifikasi faktor penyebabnya, 4) penyesuaian, perlakuan, dan terapi, 5) program tindak lanjut.
Dalam perkembangannya unit analisisnya tidak terbatas pada perorangan, melainkan dapat saja diperluas sehingga unit analisisnya satuan sosial tertentu. Studi kasus dengan unit analisis perorangan diperlukan penyuluh, pembimbing, konsultan psikologik, psikiater, dan neurologi. Sedangkan, studi kasus dengan unit analisissatuan sosial tertentu diperlukan oleh para pekerja sosial. Dengan sendirinyan komponen di atas perlu dimodifikasi menjadi studi derajat kesehatan, pendapatan, tingkat kriminalitas, dan hal lain yang diperkirakan relevan.

Jadilah Pemimpi

Posted by ridwan yahya Sunday, October 30, 2011 13 Comment/s
Jadilah Pemimpi
          Teringat masa kanak-kanak, saat masa-masa asyiknya untuk menghabiskan waktu dengan bermain. Baik bermain sambil belajar, maupun bermain hanya sekadar membiarkan waktu terlewatkan dengan begitu saja. pada masa kehidupan tersebut seoarang anak belum mampu mengorientasikan hidupnya untuk kehidupan dewasanya nanti dengan pasti. Rasa imajinasi yang tinggi lebih mendominasi atas apa yang terlintas dalam pikiran mereka. Dan dari berbagai macam informasi yang masuk pada diri mereka, membentuk segala apa yang mereka imajinasikan.
Tatkala seorang anak ditanya oleh gurunya tentang cita-cita hidup, anak itupun menjawabnya sebagaimana apa yang telah diimajinasikan dalam pikirannya setelah penerimaan informasi dari luar. Tapi, adakalanya sebagian anak yang kurang menerima informasi dari sekitarnya akan kebingungan menjawab pertanyaan tersebut. Bahkan menyatakan tidak tahu tentang apa yang dicita-citakannya.

Nganggur Bermanfaat

Posted by ridwan yahya Saturday, October 22, 2011 8 Comment/s
Nganggur Bermanfaat
Sabtu sore, 15 oktober  ’11 hanyalah hari biasa sebagaimana hari-hari sebelumnya. Nggak ada pekerjaan, nganggur, dan gak jelas. Coba liat teman saya yang lainnya, jelas, pada punya kerjaan semuanya. Menyebar menempati pos-pos TPA-nya masing-masing, ada juga yang jadi pencari donatur, dan lain-lain. Dulunya, sih.. saya juga termasuk salah satu dari mereka, jadi tenaga pengajar.  Tapi, semester baru sekarang ini sudah nggak lagi. Beda.
Namun, ya.. sebenarnya kerjaan ada aja, sih. Cuma belum ada komando aja dari atasan. Belum ada perintah langsung dari pondok untuk saya aktif bekerja sebagai security. Ya, security,, satpam! Begitulah kata-kata olokan temanku pada saya. Seakan-akan  kalo satpam itu adalah posisi rendahan.  Terus, ada juga yang bilang kalo saya nggak bakalan bisa keluyuran lagi. Hah, terserah. Tapi, aslinya saya kalem-kalem aja dibegituin. Biarin aja, emang orang “sakit” semua kok yang talking rubbish  kayak gitu. Nggak penting amat diladenin.

Pengantar Penulis Amatir

Posted by ridwan yahya Friday, October 14, 2011 1 Comment/s
Pengantar Penulis Amatir
       Saya menulis apa? Apa yang saya tulis? Itulah kalimat-kalimat pertama  yang terlintas dalam pikiran saya ketika memulai tulisan ini. Terkait dengan dua kalimat tanya di atas, sempat saya baca dalam sebuah buku yang dimiliki oleh salah satu teman saya di pondok yang berjudul Menulis Itu Jenius. Dari buku tersebut terdapat berbagai macam kalimat motivasi pada setiap halamannya, bagi setiap orang yang masih amatir dalam dunia menulis dan berminat untuk menyelaminya.
Dari sekian banyaknya kalimat motivasi yang dimuat pada buku tersebut, namun hanya satu kalimat yang mampu menjadi sebuah pelecut bagi saya untuk senantiasa terus menulis. Kalimat tersebut seakan memang ditakdirkan bagi saya untuk memahaminya pada awal saya membuka buku tersebut. Ajaibnya, hmm.. mungkin ngga ajaib juga, sih. Biasa aja. Pada awal saya menyentuh dan membukanya, saya tidak mencari halaman pertama dari buku tersebut ataupun kata-kata pendahuluannya, melainkan saya membuka buku itu dengan secara tidak sengaja langsung tertuju pada suatu halaman yang di dalamnya terdapat kalimat yang maknanya sungguh menghanyutkan saya pada lautan inspirasi dan samudera motivasi. Melecut jiwa saya yang berpotensi untuk selalu beraksi, mengukir segala makna yang tampak dalam berbagai macam fenomena, dan menorehkan rangkaian kata-katanya melalui sebuah pena.

Timbulnya Ilmu Pengetahuan

Posted by ridwan yahya Tuesday, October 11, 2011 0 Comment/s
Timbulnya Ilmu Pengetahuan
Pernahkah terlintas dalam benak kita bahwa pada masa-masa akademik yang pernah kita jalani ataupun yang tengah kita jalani  ini, kita berpikir tentang ilmu pengetahuan yang dipelajari sebagai materi-materi mata pelajaran yang kita tekuni di bangku sekolah? Bagaimanakah proses penyusunan ilmu yang sampai sekarang telah dapat dikemas secara rapi dan sistemik?

Teori Dasar Komunikasi

Posted by ridwan yahya Monday, October 10, 2011 0 Comment/s
Teori Dasar Komunikasi_Menurut Harold Laswell komunikasi itu adalah who? Says what? In which channel? To whom? Dan with what effect?
_Who?  Di sini adalah orang yang melakukan komunikasi dari pihak pertama, yaitu: Communicator, source, dan encoder.
_Says what?  Ini maksudnya adalah pesan atau sesuatu yang disampaikan. Bentuk penyampaiannya bisa secara verbal, maupun non-verbal.

Zakat Zuru' (Pertanian)

Posted by ridwan yahya Saturday, July 2, 2011 8 Comment/s
Hadeuh,, di tenGAh aSyik-aSyikNya ngebLog, ada aJA nii tUgas mAKaLAh yanG kudu diberesin. BAnyAk lagi. Yagh, meskIpun eKspresI yanG hadir hanYAlah kelUhan,  Namun saya sendiri taK lepas dari KewajIban tuk melaksanAkaNnya. semanGat-semanGatiin Aja Lagh. janGAn kalah semangaTnya Ma NgeBlog.. 
Ya sekalian buat referreNsi Postingan juga..

A.   Dalil Disyariatkannya Zakat Zuru’
Zakat zuru’ atau zakat hasil-hasil pertanian ditetapkan berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah. Dalil yang dapat diambil dari al-Qur’an antara lain firman Allah swt. yang artinya:

Pokok-Pokok Pemikiran Islam

Posted by ridwan yahya Wednesday, June 29, 2011 5 Comment/s
Pokok-Pokok Pemikiran Islam
Mas bro,, habis ngerjain makalah sekaligus langsung transferin aja deh ilmunya nii.. Aslinya banyak betul yang harus dikerjain. Tapi, kesempatan ini sebagian pokok-pokok pentingnya aja deh ya,, yang saya post. Selamat menikmati,, semoga bermanfaat..



FILSAFAT ISLAM


v Filsafat Islam ialah ilmu yang menuntun manusia untuk berfikir secara sistematis, radikal dan universal tentang hekekat segala sesuatu berdasarkan ajaran Islam.
v Asal usulnya merupakan perkembangan dari filsafat yunani yang di-Islamkan oleh para pemikir Islam.
v Manfaatnya untuk membendung pemikiran-pemikiran filsafat Yunani yang dapat meracuni pemikiran umat Islam.
v Keutamaannya lebih menekankan pada rasionalitas, sehingga tidak mudah mengakui kebenaran sesuatu, sebelum dibuktikan kebenarannya.
v Sumbernya adalah logika yang berjangkarkan ajaran Islam.
v Peletaknya adalah Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al-Farabi, Al-Ghazali, Al-Kindi, dan lain-lain.
v Hukumnya, terdapat perbedaan pendapat terkait mempelajarinya. Yang melarang beralasan di khawatirkan umat islam bisa terpengaruh oleh pemikiran filsafat Yunani, dan umat islam lebih condong menggunakan rasionya dalam memutuskan sesuatu bukan lagi al-Qur’an dan al-Hadits. Yang memperbolehkan beralasan  bahwa demi kemaslatahan umat kedepannya agar tidak tersesat, dan untuk membantah pemikiran-pemikiran menyimpang pemikir-pemikir barat.
v Objek kajian Filsafat Islam adalah membahas hakikat semua yang ada, sejak dari tahapan ontologi sampai metafisik. Filsafat islam juga membahas mengenai nilai-nilai yang meliputi dataran epistemologis, estetika dan etika. Dan juga membahas tema-tema fundamental dalam kehidupan manusia, yaitu Tuhan, Manusia, alam dan kebudayaan.
v Hubungannya dengan keilmuan Islam adalah bahwa posisi filsafat Islam merupakan  landasan adanya integrasi berbagai disiplin ilmu dan pendekatan yang makin beragam.
v Persoalan filsafat Islam: ontologi Islam, Estetika Islam, Teologi Islam, Kosmologi Islam, Epistemologi Islam, Etika Islam, Antropologi Islam, dan lain-lain.


ILMU KALAM


v Ilmu kalam merupakan sebuah disiplin ilmu yang membahas tentang Dzat dan sifat Allah beserta eksistensinya segala yang mungkin terjadi, mulai yang berkenaan dengan masalah materi sampai immateri yang berlandaskan ajaran Islam.
v Sumbernya adalah Al-qur’an. Dan salah satunya terapat pada QS. Al-Ikhlas: 3-4.
v Peletak Dasarnya adalah Abu Mansur Muhammad Al-Maturidi.
v Hukumnya adalah: pertama, Haram untuk mempelajarinya, berdasarkan QS. Ali Imran: ayat 7 dan QS. An-Nisa’: ayat 59. Kedua, Boleh mempelajarinya, berdasarkan QS. An-Nahl: ayat 125.
v Macam-macam aliran ilmu kalam: Murji’ah, Khawarij, Jabariyyah, Maturidiyyah, Mu’tazilah, Syia’h, dan lain-lain.
v Ilmu kalam merupakan disiplin ilmu ke-Islaman yang lebih menekankan pada pembicaraan terkait segala kalam Tuhan. Kalam ini biasanya mengarah pada pembicaraan argumentatif, baik secara rasional, maupun irrasional. Argumentasi rasional yang dimaksudkan adalah landasan pemahaman yang cenderung menggunakan metode berfikir filosofis, sedangkan argumentasi irrasional biasanya bertendensi pada argumentasi berupa dalil-dalil.
v Persoalan-persoalannya mencakup Wujud Allah, Sifat Ilmu, Qadla dan Qadlar, Sifat Allah, Keesaan Allah, Sifat Kalam, dan lain-lain.


TASAWUF


v Tasawuf  merupakan ilmu yang menjelaskan hal-hal tentang cara-cara mensucikan jiwa dan  cara memperbaiki akhlak untuk mencapai kebahagiaan yang abadi.
v Sumbernya adalah Al-Qur’an, As-Sunnah, Sirah Nabawiyyah, dan Sirah Sahabat.
v Hukum mempelajarinya adalah Fardhu ‘ain bagi laki-laki dan perempuan. Karena, manusia tak lepas dari segala penyakit hati dan kecacatannya.
v Fungsinya yakni mensucikan batin agar selalu berada dalam keadaan mencintai Allah.
v Peletak dasarnya adalah: Rabi'atul-Adawiyah, Imam Al-Ghazali, Zunnun al-Misri, Husein bin Mansur AI-Hallaj, Abu Yazid al-Bustami, dan lain-lain
v Macam-macam Ilmu Tasawuf adalah tasawuf ijabi, terbagi pada dua macam yaitu tasawuf salafi dan tasawuf sunni. Tasawuf salbi atau disebut juga tasawuf falsafi adalah tasawuf yang telah terpengaruh oleh faham-faham spitritual Dari barat dan timur.
v Faktor kemunculannya: pertama, reaksi atas kecenderungan terhadap hidup yang mengedepankan hawa nafsu. Kedua, berkembangnya teologi yang cenderung mengedepankan rasio yang kering dari aspek moral dan spiritual.
v Persoalannya adalah Mahabbah, Hakikat, Magam dan Hal, Ma’rifat, insan kamil, al hulul, dan wihdah al-wujud.

Yang Tak Terungkapkan

Posted by ridwan yahya Monday, June 20, 2011 11 Comment/s
Yang Tak Terungkapkan
Selayaknya apa yang saya tulis di blog semacam ini adalah apa yang sedang saya alami, segala peristiwa kehidupan yang terus berputar mengitari saya. Sebagaimana entry-entry sebelumnya yang telah dimuat. Namun, adakalanya segala situasi yang pernah menyinggahi ruang pengalaman hidup saya, sewaktu-waktu tidak akan pernah menghiasi blog sederhana ini. 

Bukan karena saya orang yang tertutup, ataupun orang yang setengah-setengah menggarap dan menghiasi blog personal macam ini. Hanya saja ketika reputasi seseorang telah tampil di sebuah media, sikap macam apa yang mesti ditampakkan. Laksana seorang atlet yang bertanding di sebuah gelanggang, sikap, mental, dan skill wajib ditampakkan. Pokoknya yang baik-baik, mesti.

Berkatalah yang Baik atau Diam

Posted by ridwan yahya Monday, June 13, 2011 10 Comment/s
Kita yang sudah terbiasa pada sebuah lingkungan yang menjunjung tinggi nilai etika, sopan santun, dan akhlaq-karimah mungkin kan merasa risih atau tidak betah sama sekali ketika suatu ketika harus berada pada lingkungan yang sebaliknya. Satu sama lain kita telah mengenal siapa teman kita meskipun hanya sebatas tahu namanya saja atau hanya tidak selalu bersama dengannya.

Back to Blogwalking

Posted by ridwan yahya Thursday, June 9, 2011 12 Comment/s
Back to Blogwalking
Alhamdulillah,, setelah beberapa hari cukup merasakan betapa sakitnya lutut yang bermasalah, akhirnya detik ini dan insya Allah hari-hari ke depan saya kan selalu tetap setiap untuk menyinggahi blog teman2 yang saya hormati. sakit lutut yang saya rasakan sangat cukup untuk menghentikan aktivitas saya untuk blogwalking kembali, bersilaturahmi dan menyapa teman2 semua. 

Sungguh disayangkan apa yang saya minati ketika bertamu ke blog teman2 harus terhentikan dengan hanya sebuah kondisi yang kurang menguntungkan, sakit. tapi, ya bagaimana lagi,, sudah kehendak yang di Atas. kita sii berharap ini semua bernilai kebaikan untuk kita sendiri yang terwujud dalam setiap langkah kehidupan. mau dikasih sehat, sakit, rasa sedih, dll. 

Sakit Lutut Nii..

Posted by ridwan yahya Friday, June 3, 2011 3 Comment/s
Sakit Lutut Nii..
Duuh,, kena sakit lagi, mas bro.. sekarang giliran lutut kananku ni yang sakit. kalau saya lipat ni kaki, terasa benar sakitnya. kudu dilurusin emank. gara-gara apa lagi ini ya..? berdasarkan fakta kronologis, tadi pagi sakitnya biasa-biasa aja, masih bisa saya abaikan.

Pas tadi sore saya menggowes sepeda buat pergi ngajar. Nha, dari sana ini lutut semakin sakit aja. sampai sekarang sakitnya ga ketulungan. kalau begini, gimana nanti saya bisa pulang dari warnet. kudu nginjak-nginjak pedal lagi.

"Mata Ikan"

Posted by ridwan yahya Tuesday, May 31, 2011 9 Comment/s
Berawal dari 2 minggu yang lalu saya baru merasakan sakitnya kena 'mata ikan', sebenarnya kemungkinan saja mata ikan ini sudah lama bersarang di telapak kaki saya namun saya belum merasakan gimana rasa sakitnya. Lagian saya heran, kok bisa-bisanya saya kena mata ikan. atas sebab apa mata ikan itu nongol di kaki saya? ngga tahu saya. padahal, saya selalu pake sandal kalau jalan. ya,, kecuali kalau jalan jarak deket aja, itu baru.

Awalnya saya malu ngakuin ke teman-teman kalau saya kena 'mata ikan'. ......ya, iyalah saya malu, setahu saya mata ikan itu penyakitnya,, gimana ya.. ogahlah pokoknya. Saat saya cerita ke mereka terkait mata ikan yang saya derita, sebagian mereka malah baru denger, yang sudah tahu malah jelek-jelekin saya. Huft, sabar aja lah..

Sejarah Peradaban Islam Dinasti Umayah

Posted by ridwan yahya Sunday, May 29, 2011 4 Comment/s

BAB I
  PENDAHULUAN

Sejarah Peradaban Islam Dinasti Umayah
Sepeninggal Ali bin Abu Thalib, gubernur Syam tampil sebagai penguasa Islam yang kuat. Masa kekuasaannya merupakan awal kedaulatan Bani Umayah. Keberhasilan Muawiyah dalam meraih jabatan khalifah dan membangun pemerintahan Bani Umayah bukan hanya akibat dari kemenangan diplomasi di Shiffin dan terbunuhnya Khalifah Ali saja, melainkan merupakan hasil akhir dari peristiwa-peristiwa politik yang dihadapinya dan karir politiknya yang cukup cemerlang.
Jika dirunut secara kronologis, keberhasilan Muawiyah dilatar-belakangi oleh beberapa faktor dan peristiwa politik sebagai berikut.
Pertama, sejak masa kekhalifahan Umar bin al-Khattab, kepribadian dan kematangan karir politiknya sudah nampak. Pada masa itu, ia diangkat menjadi gubernur Syam menggantikan Abu Ubaidah dan saudaranya, Yazid bin Muawiyah, yang meninggal dunia akibat serangan wabah penyakit yang sangat ganas. Dengan usianya yang masih muda, dia adalah politikus berpengalaman, dia tahu segala liku-liku persoalan. Karena itu, kedudukan Muawiyah sebagai gubernur ini terus bertahan hingga kekhalifahan Usman bin Affan dan awal kekhalifahan Ali bin Abu Thalib.
Kedua, pada awal pemerintahan Ali bin Abu Thalib, Muawiyah diminta untuk meletakkan jabatan, tetapi ia menolaknya. Bahkan ia tidak mengakui kekhalifahan Ali dan memanfaatkan peristiwa berdarah yang menimpa Usman bin Affan untuk menjatuhkan legalitas kekuasaan Ali dengan membangkitkan kemarahan rakyat dan menuduh Ali sebagai orang yang mendalangi pembunuhan Usman, jika Ali tidak dapat menemukan dan menghukum pembunuh yang sesungguhnya.
Ketiga, desakan Muawiyah tersebut mengakibatkan terjadinya pertempuran sengit antara pihaknya dan pihak Ali sebagai khalifah di kota tua Shiffin yang berakhir dengan proses tahkim (arbitrase) pada tahun 37 H.
Dengan catatan kronologi di atas, Muawiyah pun mampu mengambil alih kuasa kekhalifahan dari tangan pendukung Ali dengan langkah-langkah yang menunjukkan bahwa dia-lah politikus hebat, cakap, dan berpengalaman. Meskipun tak bisa dipungkiri juga akan segala modus kelicikan yang beliau lakukan demi sebuah tampuk kepemimpinan.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Berdirinya Dinasti Umayah
Dinasti Umayah mengambil nama keturunan dari Umayah ibn Abdi syams ibn Abdul manaf. Ia adalah salah seorang terkemuka persukuan pada zaman jahiliyah, bergandengan dengan pamannya Hasyim ibn ‘Abdi Manaf .
Dari nama umayah tersebut, maka dinasti itu di sebut Dinasti Umayah yang selama pemeritahanya telah terjadi pergantian sebanyak 14 orang khalifah. Mereka adalah Muawiyyah (661-68),Yazid I (680-683), Muawiyah dua(683), Marwan(683-685), Abdul malik(685 -705), al Walid I(705 -715), Sulaiman (715 -717), Umar II(717- 720), Yazid II (720-724), Hisyam (724-743), Yazid III(744), Ibrahim (744), dan Marwan II (744- 750 M).
Semasa kepemimpinan muawiyah peta Islam melebar ke timur sampai Kabul, Ghazni, Kandahar, Balakh, bahkan sampai kota Bukhara. Sementara itu, di front barat panglima Uqbah Ibn Nafi’ menaklukan Carthange (kartagona), ibu kota Binzantium di Ifriqiyah dan mendirikan masjid bersejarah Qayrawan dengan membangun pusat kegiatan militer di kota Qayrawan.
Pemerintahan corak Republik menjadi Monarchi (sulthanat/kingship) selain menerapkan corak pemeritahan yang turun temurun, kekuasan di tetapkan menjadi milik diri Dinasti Umayah. Ialah yang pertama memunculkan jurang antara Arab dan Mawalli. Ia pula yang pertama kali menerapkan Diwan Al-Khatim dan Diwan Al-Barid. Diwan-diwan itu kemudian berkembang maju pada masa Abdul Malik. Di bawah kepala dinas pos ini, ia juga bangun pos-pos pemeriksaan supaya mudah mengontrol gerak musuh.[1]
Namun tak bisa dipungkiri bahwa pada masa pemerintahannya, Muawiyah banyak sekali mendapatkan kecaman yang timbul dari berbagai kelompok masyarakat yang tidak merestui akan berdirinya Dinasti tersebut. Karena, dikatakan bahwa Muawiyah merebut kekuasaan atas jalan yang licik dan kotor. Tapi, meskipun demikian beliau masih saja tegar dalam menghadapi perlawanan tersebut dengan langkah penyelesaian yang akurat.

B.  Kemajuan Dinasti Umayyah
            Kemajuan Dinasti Umayyah dilakukan dengan ekspansi, sehingga menjadi negara islam yang  besar dan luas. Dari persatuan berbagai bangsa dibawah naungan islam lahirlah benih-benih kebudayaan dan peradaban islam yang baru. Meskipun demikian, Bani Umayyah lebih banyak memusatkan perhatian pada kebudayaan arab.[2]
            Kita bisa lihat pada zaman pemerintahan Abdul Malik, Salih Ibn Abdur Rahman, sekretaris al-Hajjaj, mencoba menjadikan bahasa arab sebagai bahasa resmi di seluruh negri. Meskipun, bahasa-bahasa asal tidak sepenuhnya dihilangkan. Dalam pada itu, orang-orang non arab telah banyak memeluk Islam dan mulai pandai menggunakan bahasa Arab. Perhatian bahasa Arab dimulai diberikan untuk menyempurnakan pengetahuan mereka tentang bahasa Arab. Hal inilah yang mendorong lahirnya seorang ahli bahasa seperti Sibawaih. Sejalan dengan itu, perhatian pada syair arab jahiliyah pun muncul kembali sehingga bidang sastra Arab mengalami kemajuan.
            Bidang pembangunan fisik pun tidak luput dari perhatian para khalifah bani umayyah. Masjid-masjid di semenanjung Arabia dibangun, katedral st. John di Damaskus diubah menjadi masjid. Dan kadetral di Hims digunakan sekaligus sebagai masjid dan gereja. Selain itu, di masa ini gerakan-gerakan ilmiyah telah berkembang pula, seperti dalam bidang keagamaan, sejarah, dan filsafat. Pusat kegiatan ilmiyah ini adalah Kuffah dan Basrah di Iraq.[3]
Di masa Umar bin Abdul Aziz pun, sering diundang para ulama dan fuqaha untuk mengkaji ilmu di dalam majelisnya. Pada masa beliau dilarang mencaci lawan politik dalam khutbah. Bidang keagamaan berjalan karena besarnya motivasi keagamaan pada masa itu, bidang filsafat berjalan karena umat Islam pada akhir Bani Umayyah terpaksa menggunakannya dalam perdebatan dengan kaum Yahudi dan Nasrani serta diantara sesama penganut Islam.

C. Perkembangan Dinasti Umayah
Pembangunan dan komunikasi yang kurang baik di berbagai provinsi dan kota, membuat Muawiyah berkonsultasi dengan majlis syura. Satu sisi ia cukup membuka ruang demokrasi dengan berkonsultasi dengan anggota dewan majlis syura, namun di sisi lain ia juga mengampanyekan bentuk pemerintahan monarki dengan mengangkat Yazid menjadi putera mahkota, bahkan ia menyampaikan barang siapa tidak terima jika islam maju –bersama kepemimpinan model kesultanannya- maka pedang yang akan meluruskannya. Karena hal tersebut, maka orang-orangpun berduyun-duyun menyatakan sumpah setia kepada Yazid.[4]
Sekalipun muawiyah tahu, bahwa kebanyakan sahabat terkemuka tidak terima dengan munculnya Yazid sebagai penggantinya, namun ia tetap membiarkannya. Contohnya Marwan, Gubernur Madinah yang datang ke Damaskus untuk memprotes kebijakan pengangkatan Yazid sebagai putera mahkota, namun akhirnya ia dipecat.
Masa kekuasaan Yazid sangat singkat yaitu pada 680-683. Ia dibaiat oleh rakyat dengan setengah hati terutama oleh penduduk Mekah dan Madinah. Meskipun pemerintahannya Monarki, namun masih terdapat majelis syura yang menandakan tetap Demokratis. Pada masanya, Yazid ditandai dengan tiga keburukan dan hanya satu kebaikan, yaitu pada tahun Pertama, cucu nabi, Husen terbunuh di Karbala menyebabkan golongan Syi’ah lahir secara sempurna dan menjadi penentang utama kekuasaannya. Tahun Kedua, tentara Yazid menyerang habis-habisan kota Madinah dalam peperangan di Harra yang mengakibatkan citra pasukan islam tercoreng di muka sendiri. Tahun Ketiga, tentara Yazid menyerang dan membakar Ka’bah. Setelah pembantaian di Karbala, mereka berontak dan mengaku Abdullah ibn Zubair menjadi khalifah mereka. Adapun kebaikan yang diperbuat Yazid yaitu mengangkat kembali Uqbah ibn Nafi’ menjadi gubernur kedua kalinya di Ifriqiyah/Qayrawan.[5]
Dari hal-hal yang terjadi pada masa khalifah Yazid, menunjukkan bahwa apabila kekuasaan sudah menjadi rebutan bagi seseorang, maka harapan keadilan dalam kepemimpinan kandas, karena yang ada dalam benak pemimpin yang demikian hanyalah kewibawaan dan pengaruh dirinya di mata rakyat saja, sehingga hak dan kewajiban sebagai pemimpin tidak 100% dijadikan sebagai amanah. Sebagaimana pada masa khalifah Yazid, sejak tahun pertama sampai terakhir penuh dengan keburukan bahkan merupakan masa yang paling buruk dalam sejarah seperti halnya keberanian tentara Yazid membakar Ka’bah yang sangat tidak mencerminkan ke-Islaman sedikitpun.
Abdul Malik setelah menjadi khalifah menghadapi yang banyak tantangan. Satu sisi muncul Muchtar sebagai pembela kematian Husen di karbala, disisi lain musuh utama Umayah, Abdullah ibn Zubair masih khalifah yang mengendalikan Mekah dan Madinah selama 9 tahun, selain itu Khawarij dan Syi’ah menggoyahkan pemerintahan Umayah. Semua lawan ia hadapi dengan cara yang berbeda dan akhirnya dapat membasmi kesemuanya. Saat menjelang wafat, Abdul Malik meninggalkan negara yang aman tentram, makmur, maka ia dijuluki sebagai pendiri Dinasti Umayah yang kedua.
Periode Abdul Malik mulai memasuki periode keemasan dinasti Umayah. Ia mampu mencetak mata uang  Arab dengan nama Dinar, Dirham, dan Fals. Kemudian dia mendirikan kas negara di Damaskus. Selain itu pertama kali dalam sejarah bahasa arab menggunakan titik (.) dan koma (,) dan memperbaharui Qawa’id yang sudah dimulai sejak Zaman Ali Bin Abi Thalib yang titugaskan kepada abu al-Aswad al-Duwaili. Disamping itu Abdul Malik juga meningkatkan pelayanan pos dan komunikasi, juga memperbaharui perpajakan.[6]
            Sungguh sangat tepat bahwa untuk mewujudkan kemajuan suatu negara yaitu menghidupkan kebiasaan yang telah terlupakan sebagaimana halnya Abdul Malik, ia menghidupkan kembali bahasa Arab yang merupakan bahasa utama kaum muslimin dan merupakan bahasa al-Qur’an namun sudah terlupakan,  ia menjadikan bahasa arab sebagai penyatu kaum sebagaimana halnya negara kita yang memiliki beragam bahasa, namun disatukan dalam satu bahasa, yaitu bahasa Indonesia sehingga memudahkan rakyatnya untuk saling mengenal satu sama lain.

D. Keruntuhan Bani Umayah
1.      Faktor Internal
Beberapa alasan mendasar yang sangat berpengaruh terhadap keruntuhan Dinasti Umayah adalah karena kekuasaan wilayah yang sangat luas tidak dibarengi dengan komunikasi yang baik, sehingga menyebabkan suatu kejadian yang mengancam keamanan tidak segera diketahui oleh pusat.
Selanjutnya mengenai lemahnya para khalifah yang memimpin. Di antara empat belas khalifah yang ada, hanya beberapa saja khalifah yang cakap, kuat, dan pandai dalam mengendalikan stabilitas negara. Selain itu, di antara mereka pun hanya bisa mengurung diri di istana dengan hidup bersama gundik-gundik, minum-minuman keras, dan sebagainya.
Situasi semacam ini pun mengakibatkan munculnya konflik antar golongan, para wazir dan panglima yang sudah berani korup dan mengendalikan negara.

2.      Faktor Eksternal
Intervensi luar yang berpotensi meruntuhkan kekuasaaan Dinasti Umayah berawal pada saat Umar II berkuasa dengan kebijakan yang lunak, sehingga baik Khawarij maupun Syiah tak ada yang memusuhinya. Namun, segala kelonggaran kebijakan-kebijakan tersebut mendatangkan konsekuensi yang fatal terhadap keamanan pemerintahannya. Semasa pemerintahan Umar II ini, gerakan bawah tanah yang dilakukan oleh Bani Abbas mampu berjalan lancar dengan melakukan berbagai konsolidasi dengan Khawarij dan Syiah yang tidak pernah mengakui keberadaan Dinasti Umayah dari awal. Setelah Umar II wafat, barulah gerakan ini melancarkan permusuhan dengan Dinasti Umayah.
Gerakan yang dilancarkan untuk mendirikan pemerintahan Bani Abbasyiah semakin kuat. Pada tahun 446 M mereka memproklamirkan berdirinya pemerintah Abbasyiah, namun Marwan menangkap pemimpinnya yang bernama Ibrahim lalu dibunuh. Setelah dibunuh, pucuk gerakan diambil alih oleh seorang saudaranya bernama Abul Abbas as-Saffah yang berangkat bersama-sama dengan keluarganya menuju Kuffah.[7] Abbasyiah berkewajiban untuk menundukkan dua kekuasaan Bani Umayah yang besar, yang satu dipimpin oleh Marwan bin Muhammad dan satu lagi oleh Yazid bin Umar bin Hubairah yang berpusat di Wasit.[8] Kedudukan kerajaan Abbasyiah tidak akan tegak berdiri sebelum khalifah-khalifah Umayah tersebut dijatuhkan terlebih dahulu.
            As-Saffah mengirim suatu angkatan tentara yang terdiri dari laskar pilihan untuk menentang Marwan, dan mengangkat pamannya Abdullah bin Ali untuk memimpin tentara tersebut. Antara pasukan Abdullah bin Ali dan Marwan pun bertempur dengan begitu sengitnya di lembah Sungai Dzab, yang sampai akhirnya pasukan Marwan pun kalah pada pertempuran itu.
            Setelah kekalahan itu, Marwan pun tak kuasa lagi menyusun kekuatan, sehingga negeri Syam pun satu demi satu jatuh ke tangan Abbasyiah. Ketika Syam ditaklukkan, Marwan melarikan diri ke Palestina dan berujung pada mautnya di daratan Mesir. Marwan tewas dipenggal kepalanya oleh pasukan Abbasyiah lalu dibawanya ke hadapan Khalifah Abu Abbas as-Saffah lantas bersujud.
            Sepeninggal Marwan, maka benteng terakhir Dinasti Umayah yang diburu Abbasyiah pun tertuju kepada Yazid bin Umar yang berkududukan di Wasit. Namun, pada saat itu Yazid mengambil sikap damai setelah mendengar berita kematian Marwan. Di tengah pengambilan sikap damai itu lantas Yazid ditawari jaminan keselamatan oleh Abu Ja’far al-Mansur yang akhirnya Yazid pun menerima baik tawaran tersebut dan disahkan oleh as-Saffah sebagai jaminannya. Namun, ketika Yazid dan pengikut-pengikutnya telah meletakkan senjata, Abu Muslim al-Khurasani menuliskan sesuatu kepada as-Saffah yang menyebabkan Khalifah Bani Abbasyiah itu membunuh Yazid beserta para pengikutnya.

E. Komparasi al-Khulafa’ al-Rasyidun dan Dinasti Umayah
Berikut ini hal-hal yang membedakan masa kepemimpinan al-Khulafa’ al-Rasyidun dan khalifah-khalifah dinasti umayah. Namun, khusus dalam masa kepemimpinan Khalifah Umar II, berbeda dengan khalifah-khalifah dari Dinasti Umayah yang lain. Berikut ini beberapa perbandingan tersebut, di antaranya sebagai berikut.
1.      Pada masa al-khulafa al-Rasyidun system pemerintahan dijalankan atas dasar al-Qur’an, hadits, dan ijma’, sedangkan pada masa Dinasti Umayah dalam menjalankan roda pemerintahan, perintah khalifah segala-galanya dan harus dipatuhi.
2.      Pada masa al-khulafa al-Rasyidun, khalifah menganggap sebagai pelayan masyarakat, sedangkan para khalifah dinasti umayah, menganggap diri mereka sebagai penguasa.
3.      Pada masa al-khulafa al-Rasyidun bertahan karena dukungan rakyat, sedangkan dinasti umayah para khalifah bertahan dengan kekuatan.
4.      Pada masa al-khulafa al-Rasyidun tidak ada satu sukuyang berkuasa terus menerus, sedang pada masa dinasti umayah dalam kekhalifahan hanya merekalah yang menguasai.
5.      Pada masa al-khulafa al-Rasyidun hak berbicara dijamin dan rakyat dapat langsung menghadap khalifah, sedangkan pada masa dinasti umayah hak bicara rakyat ditekan dan jika rakyat menghadap khalifahharus melewati perantara yang disebut hajib.
6.      Pada masa al-khulafa al-Rasyidun system demokrasi berjalan sedang pada masa dinasti umayah suara rakyat tidak dihiraukan.
7.      Pada masa al-khulafa al-Rasyidun tidak memiliki hak terhadap bait al-mal, sedang pada masa dinasti umayah bait al-mal menjadi miliki khalifah sendiri.
8.      Pada masa al-khulafa al-Rasyidun, pengaruh jahiliyyah berkurang, sementara pada masa dinasti umayah betambah.[9]
Berpijak dari perbandingan di atas, maka jelaslah bagaimana corak jalannya pemerintahan Dinasti Umayah. Track record Dinasti Umayah tidak sebaik catatan pemerintahan Khulafaur-Rasyidin. Pemerintahan Dinasti Umayah lebih banyak diwarnai dengan noda darah yang terhunus sayatan pedang pasukan Umayah yang tak mencerminkan sama sekali beragama Islam. Kebijakan yang diambil dan diterapkan hanya menjadi tameng kekuasaan yang menuntut keabsolutan. Memang, karenanya banyak sekali pemberontakan yang diselesaikan dengan tuntas, namun sejarah tetap mancatat akan ketidaksehatan pemerintahan yang dijalankan.


BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Dengan latar belakang keluarga Umayah yang sangat lihai dalam urusan politik pada masa jahiliyah, keberadaan Muawiyah sebagai khalifah peertama Dinasti Umayah di tengah-tengah masyarakat muslim kala itu sangatlah banyak menuai berbagai kecaman dari berbagai kalangan di bawahnya.
Beberapa golongan dengan terang-terangan  menentang dan tidak mengakui kedaulatan Bani Umayah ini sebagai kedaulatan yang Islami.
Hal itu terbukti dengan kinerja Muawiyah dalam membangun Dinastinya yang mendiskreditkan keberadaan Syiah (pengikut Ali), dengan mengambil sebuah tindakan untuk membunuh mereka semua, sekalipun masih dicurigai. Ditambah lagi dengan ulah khalifah penerusnya yang kebanyakan tak bermoral.
Terhitung hanyalah beberapa khalifah saja yang berkompeten dalam memangku jabatan khalifah yang disematkan kepada mereka. Dengan kecakapan, kepandaian, dan kepiawaian mereka dalam memimpin, mereka mampu menghadirkan berbagai kemajuan dengan sebuah pencapaian gemilang yang sangat berarti bagi perkembangan Islam waktu itu.
Namun, sikap amoral yang ditunjukan oleh khalifah-khalifah yang tak bertanggung jawab dalam mengemban amanat, membuat kedaulatan Bani Umayah berada pada ambang kehancuran. Ketidak sigapan sistem keamanan menangkal intervensi luar, memudahkan berbagai serangkaian usaha untuk melancarkan kudeta. Sampai akhirnya Dinasti Umayah pun jatuh ditumpas Abbasyiah.

B.       Hikmah
            Berpijak dari kesimpulan di atas, maka seyogianya kita mampu mengambil pelajaran yang sarat dengan nilai luhur keislaman dengan mencamkan pada diri kita bahwa jabatan yang besar dan tinggi yang tersemat pada diri kita, hendaknya kita mampu mensikapinya sebagai amanat yang kelak akan dipertanggungjawabkan. Bukan sebagai sarana atau fasilitas kepuasan hawa nafsu.
            Kita sendiri bisa melihat, bagaimana kedigdayaan Dinasti Umayyah runtuh karena penyalahgunaan jabatan pemerintahan. Sebagian khalifah, wazir, dan jajarannya yang gemar berfoya-foya, lalai dalam bertugas, bahkan tidak memerdulikan lagi nasib rakyatnya. Akibatnya mereka pun hancur diserang pasukan yang selalu fokus dan siap dalam kobaran semangat yang membara untuk menghancurkannya.
            Oleh karena itu, cukuplah sejarah menjadi sumber ibrah bagi kita untuk memperbaiki kualitas kehidupan dalam nuansa Islam yang senantiasa menaungi kita. Tidak perlu ada lagi pemimpin yang bersikap dan berlaku amoral yang hanya akan menjadi penyebab kehancuran suatu bangsa dan kaum.
DAFTAR PUSTAKA

Al-Usairy, Ahmad, Sejarah Islam. Jakarta: Akbar, 2007.
Jaelani, Bisri M., Ensiklopedi Islam. Yogyakarta: Panji Pustaka, 2007.
Karim, M. Abdul, Islam di Asia Tengah. Yogyakarta: Bagaskara, tidak ada tahun.
Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam III. Jakarta: PT. Al-Husna Zikra, 1997.
Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT. Rajafindo Persada, 2008.         



[1] M. Abdul Karim, Islam di Asia Tengah (Yogyakarta: Bagaskara, tidak ada tahun), hal. 56.
[2] Bisri M. Jaelani, Ensiklopedi Islam (Yogyakarta: Panji Pustaka, 2007), hal. 436
[3] Bisri M. Jaelani, loc. cit. hal. 437.
[4] Ibid. hal. 59.
[5] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: PT. Rajafindo Persada, 2008), hal. 37.
[6] Badri Yatim, op. cit; hal. 38.
[7] Ahmad al-Usairy, Sejarah Islam (Jakarta:Akbar, 2007), hal. 211.
[8] A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam III (Jakarta: PT. al-Husna Zikra, 1997), hal. 34.

[9] Ibid. hal. 65.

Sejarah Dakwah Masa Dinasti Abbasiyah

Posted by ridwan yahya Saturday, May 28, 2011 2 Comment/s
BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Sejarah Dakwah Masa Dinasti Abbasiyah
       Bermula dari konflik yang terjadi antara khalifah Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abi Sufyan, umat Islam berselisih dalam dua medan, yaitu imamah dan ushul, yang menyebabkan munculnya partai dan aliran Khawarij, Syi’ah, dan Murji’ah, serta Daulah Umayyah yang berpusat di Damaskus (40-132 H), kemudian Daulah Abbasiyah yang berpusat di Baghdad (132-656 H), di samping sisa Daulat Umayyah di Spanyol (138-403 H), dan Daulat Fathimiyyah/Isma’iliyyah di Mesir (297-567 H).
Dengan demikian Khilafah Islam terpecah dalam beberapa negara, dengan tradisi politik yang sejak munculnya Muawiyah menjadi Raja Arab (40-60 H) sudah bergeser dari doktrin politik Islam yang hakiki kepada monarkisme yang secara umum lebih mencerminkan nepotisme dan ambisi duniawi, dan diwarnai oleh konflik-konflik politik yang berkepanjangan.
Namun, dibalik pergolakan ambisi duniawi yang terus membuncah itu, Hasan bin Ali, Ibnu Abbas, dan Ibnu Umar tetap kukuh mempertahankan panji dakwah yang selalu menomersatukan kemurnian Islam. Sampai akhirnya pada kesempatan kali ini kami akan membahas berlanjutnya gerakan dakwah pada masa Dinasti Abbasiyah.