PENDEKATAN KLINIK-GENETIK | Suratan Makna

PENDEKATAN KLINIK-GENETIK

Posted by ridwan yahya Wednesday, November 2, 2011 3 Comment/s
1.    Studi Kasus Pendekatan Klinik
PENDEKATAN KLINIK-GENETIK
     Pada Pendekatan Klinik terdapat 5 komponen yang penting untuk ditelusuri, yaitu: 1) identifikasi status situasi bagi perlakuan kuratif, 2) pengumpulan data, pengujian kemampuan indera, kesehatan, pendidikan, mental, dan mengadakan penelaahan biografinya, 3) membuat diagnosis dan identifikasi faktor penyebabnya, 4) penyesuaian, perlakuan, dan terapi, 5) program tindak lanjut.
Dalam perkembangannya unit analisisnya tidak terbatas pada perorangan, melainkan dapat saja diperluas sehingga unit analisisnya satuan sosial tertentu. Studi kasus dengan unit analisis perorangan diperlukan penyuluh, pembimbing, konsultan psikologik, psikiater, dan neurologi. Sedangkan, studi kasus dengan unit analisissatuan sosial tertentu diperlukan oleh para pekerja sosial. Dengan sendirinyan komponen di atas perlu dimodifikasi menjadi studi derajat kesehatan, pendapatan, tingkat kriminalitas, dan hal lain yang diperkirakan relevan.
Dua wawasan baru yang perlu dimasukkan dalam mengadakan studi kasus termasuk tindak lanjutnya. Pertama, para pakar tidak lagi memandang bahwa setiap orang itu berperilaku tidak normal, tapi memandang bahwa orang pada umumnya berperilaku normal. Ketidaknormalan itu hanyalah penyimpangan. Kedua, orientasi klien mendatangi pekerja sosial telah berkembang tentang perlunya pekerja sosial mendatangi warga masyarakat yang besar kemungkinan warga tersebut tidak menyadari kesulitannya sendiri. Wawasan itu memberi konsekuensi upaya identifikasi dan upaya membuat diagnosis dan terapinya.
Identifikasi status situasi bagi keperluan kuratif mencakup upaya-upaya menajamkan objeknya, bukan pada subjeknya. Menajamkan kembali wawasan teoritik dan mampu memilih teknik studi yang tepat, yang mau dikerjakan itu adalah tindakan korektif atau tindakan pengembangan dan mengidentifikasi tingkat penyimpangan atau hambatan.
Pengumpulan data sebagai tahap kedua bagi studi kasus ini perlu diarahkan mencari faktor penyebab penyimpangan untuk landasan membuat diagnosis serta membuat terapinya. Biografi tentang sekolahnya dan tentang kehidupan keluarganya merupakan sumber utama bagi pengujian penyimpangannya. Data tersebut perlu dilengkapi dengan pengujian kesehatannya, kemampuannya, dan mentalnya.
Membuat diagnosis merupakan langkah ketiga bagi studi kasus Pendekatan Klinik. Sejumlah subjek memerlukan diagnosis khusus, seperti: a) kelompok tuna mental dan tuna daksa, b) kelompok tuna sosial, moral, dan emosional, c) mereka yang hasil belajarnya di bawah rata-rata, dan d) mereka yang bakat latinnya tidak dapat tersalur. Teknik-teknik diagnosisnya mencakup: tes kemampuan dasar, hasil belajar, dan kepribadian; observasi kebiasaan, sikap, dan reaksinya; menganalisis pekerjaan tertulis klien; menganalisis berbagai jawaban dan reaksi oral; wawancara, dan yang lainnya.
Langkah keempat dalam studi kasus ini adalah mengadakan berbagai penyesuaian, memberikan perlakuan dan membuat terapi. Pada tahap ini diagnosis yang telah dibuat diuji lagi sebelum dikenai perlakuan tertentu; menumbuhkan kesadaran orang tua maupun anak untuk siap mengadakan berbagai penyesuaian itu penting, misalnya proses terapi dari Carl Rogera yang “non-directive” atau “client-centered” yang digunakan. Sampai dangan langkah keempat pada berbagai forum kami sebut sebagai proses rehabilitasi, proses membuat subjek menjadi labil kembali, menjadi mampu untuk tumbuh dan bertindak normal.
Langkah kelima adalah tindak lanjut yang biasa kami sebut sebagai proses revalidasi; upaya menjadikan subjek menjadi valid, menjadi dapat diterima, diakui kemampuan partisipasinya, dan diberi peluang penuh untuk berprestasi.
Jadi, melalui Pendekatan Klinik; penelitian ditekankan pada berbagai tahap-tahap komponen yang dapat menentukan hasil penelitian kualitatif dengan baik. Tahap-tahap tersebut mengarahkan unit analisisnya dalam sistem pengarantinaan yang bertujuan menggapai validasi tertentu.

2.    Studi Kasus Pendekatan Genetik
Pendekatan Genetik berupaya mencari kebenaran ilmiah dengan cara mempelajari secara mendalam dan dalam jangka waktu yang lama. Bukan banyaknya individu dan juga bukan rerata yang menjadi dasar pertimbangan penarikan kesimpulan, melainkan didasarkan ketajaman peneliti melihat akan kecenderungan, pola, arah, interaksi banyak faktor, dan hal lain yang memicu dan menghambat perubahan. Perubahan genetik bertolak dari asumsi bahwa sesuatu itu berkembang dari yang elementer menjadi yang lebih sempurna; banyaknya hambatan, arah menjadi lebih sempurna akan tidak pernah tercapai, yang muncul adalah penyimpangan atau deviansi perkembangan.
Studi kasus dilihat dari dimensi tertentu, dapat juga disebut sebagai studi “longitudinal” diperlawankan dengan studi “cross sectional”. Studi “longitudinal” berupaya mengobservasi objeknya dalam jangka waktu yang lama dan terus menerus. Sedangkan, “cross sectional” berupaya mempersingkat waktu observasinya dengan cara mengobservasi pada beberapa tahap atau tingkat perkembangan tertentu, dengan harapan dari sejumlah tahap atau tingkat tersebut akan dapat dibuat kesimpulan yang sama dengan “longitudinal”.
Studi kasus sebagai studi “longitudinal” oleh Horton dan Hunt (1976) dibedakan menjadi retrospeksi dan prospektif. Studi kasus yang retrospektif telah lebih awal digunakan untuk kepentingan klinis. Objek studi ini adalah masalah penyimpangan yang terkait ke “broken home”, intelegensi rendah, dan psikoneurosis. Studi kasus prospektif mengambil objek perkembangan normal, baik individu, kelompok, atau satuan sosial lainnya. Seperti, kehidupan budaya, politik, lembaga kerja, atau lainnya. Studi kasus retrospektif, desainnya lebih mengarah ke keperluan kuratif, bukan untuk penelitian belaka. Studi kasus prospektif digunakan untuk keperluan penelitian, mencari kesimpulan, dan diharapkan dapat ditemukan pola, kecenderungan, arah, dan yang lainnya; yang dapat digunakan untuk membuat perkiraan-perkiraan perkembangan masa depan. Studi kasus untuk keperluan klinis subjek yang menjadi objek studi biasanya tunggal sehingga kasus dalam hal itu berarti kasus yang terjadi pada satu orang saja. Studi kasus prospektif jumlah subjeknya biasanya cukup banyak, lebih dari satu orang, mungkin pula berpuluh orang.
Ada lagi satu teknik studi yang kita kenal dengan nama “tracer studi”, yang kita terjemahkan dengan studi penelusuran. Dalam terapan asalnya adalah studi “ex post-facto” yang bukan hanya terhenti setelah selesai mengikuti pendidikan, tetapi dilacak terus sampai yang bersangkutan bekerja; jadi bukan berhenti pada efek langsung, tetapi dilanjutkan pada dampak yang lebih jauh lagi. “Tracer studi” dalam artinya yang sekarang telah diperluas menjadi studi “longitudinal” dan mengobservasi objek untuk diungkap pola, arah, kecenderungan dalam jangka waktu yang lama, berkelanjutan dan terus menerus.
Dengan deskripsi tersebut, “tracer studi” menjadi sama saja dengan Pendekatan Genetik atau pendekatan “longitudinal”. Bedanya dengan dua yang terakhir terletak pada desain penelitiannya. Desain penelitian “tracer studi” mengaksentuasikan peranan waktu dalam desain dan dalam teknik analisis. Sebagian besar analisisnya berada pada kawasan statistik kuantitatif, ada satu dua yang dapat dimodifikasi menjadi kualitatif dengan bantuan deskripsi numerik.

KESIMPULAN

Berpijak dari pembahasan di atas, maka dapatlah kami simpulkan bahwa Pendekatan Klinik-Genetik sangatlah penting dalam mengkaji sesuatu yang berada pada ranah penelitian.
     Terdapat 5 komponen yang penting untuk ditelusuri dalam Pendekatan Klinik, yaitu: 1) identifikasi status situasi bagi perlakuan kuratif, 2) pengumpulan data, pengujian kemampuan indera, kesehatan, pendidikan, mental, dan mengadakan penelaahan biografinya, 3) membuat diagnosis dan identifikasi faktor penyebabnya, 4) penyesuaian, perlakuan, dan terapi, dan 5) program tindak lanjut.
     Sedangkan Pendekatan Genetik didasarkan pada ketajaman peneliti melihat akan kecenderungan, pola, arah, interaksi banyak faktor, dan hal lain yang memicu dan menghambat perubahan. Perubahan genetik bertolak dari asumsi bahwa sesuatu itu berkembang dari yang elementer menjadi yang lebih sempurna.
     Demikianlah pembahasan makalah yang kami tulis di sini, semoga mampu memberikan tambahan wawasan yang lebih bagi kita semuanya.

gambar: maz-faiz.blogspot.com
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA

Judul : PENDEKATAN KLINIK-GENETIK
Ditulis Oleh : ridwan yahya
Rating Blog : 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://suratanmakna.blogspot.com/2011/11/pendekatan-klinik-genetik.html. Sekali lagi terima kasih sudah singgah membaca artikel ini. ^_^

3 Comment/s:

Nurmayanti Zain said...

ini mata pelajaran apa? kesehatan yaa :-?

yAhyA said...

buKAn,, ini mah MatkuL metoDologi Penelitian.. tAw kan..??

Kehadiran Makna'' Dalam Jiwa said...

wah wah, ne tgas dri dosen drs mahmudi cuy,,

ntr di send all ya sub bhsan ne ke email gw,,ntr donat satu buat luu dah,, hehe