Suratan Makna: 2013

Hari Ke 22: Membuat Laporan

Posted by ridwan yahya Monday, September 9, 2013 2 Comment/s

Jelas sudah, semuanya. Ternyata keluarga besar Pak Tarmin sudah merencanakan ini dari jauh hari. Dari awal ramadlan beliau selalu menyediakan kami lauk untuk sahur dan berbuka, bersama Mba Umm, Mba Cici dan yang lainnya Pak Tarmin menyediakan kami hidangan bermacam-macam yang pada awalnya membuat kami kebingungan untuk menyikapi hal tersebut. Betapa tidak, setiap hari kami disuguhi makanan terus bagai sekawanan orang yang terpandang dari negeri kerajaan yang karenanya kami pun tidak menolak sama sekali. Tapi, yang jelas bagaimanapun kami merasa tidak enak sekali, apakah pelayanan itu tidak memakan biaya yang banyak?

Setelah kami konfirmasi, terciptalah sebuah kesepakatan untuk menyisihkan uang kas kami kepada keluarganya Pak Tarmin guna kebutuhan masaknya. Mudah-mudahan dengan penyerahan uang tersebut bisa memperjelas keadaan, walau sebenarnya dari awal beliau ikhlas menyuguhi kami. Lagian, buat apa uang kas yang sedianya selalu turun setiap minggunya selain untuk kebutuhan masak? Oleh karena itu, kami menyerahkan saja uang tersebut pada keluarga Pak Tarmin.

Agenda kami hari ini adalah kembali melanjutkan pekerjaan kami yang kemarin belum selesai, yaitu mengecat bagian Mushalla dan rumahnya Pak Tarmin. Pada bagian Mushalla ada bagian yang mesti ditambah dan diganti, yakni bagian langit-langit yang tampak sudah usang dan menambah bagian yang belum terpasang sama sekali. Pemasangan ini diserahkan kepada Pak Tarmin sendiri, karena beliau memang paling ahli untuk memasang langit-langit tersebut. Sedangkan kami cukup mengecat-ngecat saja bagian yang belum dicat, karena memang masih banyak bagian pengecatan tersebut yang belum terselesaikan.

Sebagaimana kesepakatan yang telah lalu, bahwa durasi pengecatan ini dicukupkan sampai menjelang siang saja selebihnya adalah waktu kami untuk istirahat atau santai-santai. Lebih jelasnya, pagi tadi pengecatan berakhir saat cat yang tersedia sudah habis terpakai semuanya, padahal masih ada bagian yang belum terselesaikan. Tapi, mau bagaimana lagi catnya memang sudah habis, terpaksa pekerjaan kami dihentikan pas menjelang siang tadi.
Sebelum dzuhur tiba, kebanyakan dari kami pada sibuk membersihkan diri setelah bekerja tadi. Sedangkan yang lainnya hanya siap-siap berwudlu saja, karena mungkin mereka ini tadi paginya sudah mandi atau mungkin yang cuma wudlu itu tidak ada rencana untuk mandi sama sekali. Meskipun begitu, insya Allah sore harinya pada mandi semua. Usai bersiap-siap, segera kami mengisi Mushalla yang pada waktu dzuhur ini tidak dihiasi oleh jama’ah perempuan. Jadi, bagian Mushalla yang biasanya dibagi dua dengan tirai hijab, kini menjadi satu saja.

Usai dzuhur itu kami disibukkan dengan kedatangan dosen DPL yang akan tiba besok hari, saat dosen tersebut datang kami mesti menyerahkan tugas laporan kegiatan KKN kami padanya. Oleh karena itu, siang ini kami mesti membuat laporan tersebut dengan sedikit mengingat-ngingat apa saja yang selama dua minggu ini telah kami kerjakan. Bagi yang merekam agenda selama dua minggu itu melalui catatan, tentunya hal ini mudah saja hanya tinggal menyalin catatan agenda tersebut ke lembar laporan kegiatan yang telah disediakan. Namun, perkara ini menjadi sangat merepotkan bagi mereka yang tidak ada catatan sama sekali, diperparah lagi dengan ingatan mereka yang pas-pasan. Mereka yang kebingungan mengisi laporan itu tidak kehabisan akal, cukup menyalin saja lembar laporan punya temannya atau tidak menyalin dari laporan kegiatan perkelompok. Masalah isi laporannya bagaimana, paling tidak jauh berbeda dengan kegiatan pribadi yang sudah dilaksanakan. Mengisi laporan tersebut tidaklah memakan waktu yang terlalu lama, sehingga saat semuanya telah beres sebagian dari kami langsung pergi tidur siang sampai ashar tiba.

Rupanya kumandang adzan belum mampu membangunkan kami yang lagi enak tidur siang, tapi untungnya selalu ada orang yang membangunkan kami, jadi barulah disadari kalau adzan tengah berkumandang. Berbeda dengan dzuhur tadi, shaf perempuan pada shalat ashar sekarang ramai diisi oleh jama’ahnya. Meskipun hanya diisi oleh anak-anak mengaji, tapi setidaknya shaf tersebut sudah ada yang mengisi dari pada dzuhur tadi yang tidak ada sama sekali. Tampaknya sore hari ini tidak ada kesibukan yang berarti, selain seperti biasa kami mesti menyiapkan diri kami untuk menghadapi aktifitas malam yang kebanyakan bertugas mengisi di Masjid dan Mushalla-Mushalla luar. Tapi, ada juga yang sekarang bagiannya piket, seperti biasa juga mesti menyiapkan hidangan berbuka kami nanti yang tinggal diambil saja dari salah satu keluarga besarnya Pak Tarmin.

Saat waktu berbuka tiba—alhamdulillah—es campur telah siap untuk kami santap. Dikarenakan es campur tersebut dibuatnya banyak, maka ada alasan bahwa satu gelas buat saya tidaklah cukup. Oleh karena itu, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menambah porsi lagi. Tidak lama setelah itu, kami bersiap-siap untuk shalat Maghrib dulu kemudian sesudah itu acara berbuka dilanjutkan lagi dengan makan makanan berat yang selalu kami nanti-nantikan kebersamaannya.

Bagi yang akan bertugas mengisi tarawih, tidak usah makan berlama-lama apalagi mengambil porsi yang banyak. Soalnya, sebelum berangkat mereka mesti menyiapkan diri sesiap mungkin, belum lagi resiko jika makan dengan porsi yang banyak karena khawatirnya akan menimbulkan masalah yang tidak diinginkan. Dengan begitu waktu maghrib terasa sangat pendek sekali, karena beberapa kesibukkan yang meliputi mereka. Sedangkan saya sendiri santai saja, karena saya sendiri sedang tidak ada tugas. Awalnya saya ada jadwal mengisi juga di Mushalla luar, tapi karena kami bertiga sedangkan kami memakai motor maka cukup dua orang saja yang berangkat, yaitu Yasin dan Marhalim. Mengenai jadwal saya mengisi hanya sekadar menemani saja, bukan mengisi dalam pengertian bertugas ceramah atau mengimami shalat tarawih. Oleh karena itu, saya mengisi di Mushalla sini saja menemani Husairi dan Irsyad yang sedang bertugas.

Saat waktu shalat tarawih lewat, suasana Ramadlan di pedusunan kami coba bangun kembali dengan kegiatan tadarrus yang dikumandangkan di Mushalla. Sayangnya, tidak bertahan sampai berjam-jam tadarrusan pun berakhir sebelum pukul sembilan malam pada Hari Ke 22: Membuat Laporan ini. []

Hari ke 21: Isya di Luar

Posted by ridwan yahya Saturday, August 31, 2013 0 Comment/s
Setelah Hari Ke 20: Membantu Masak Bukaan. Sekarang pada Hari ke 21: Isya di Luar.

Tega sekali mereka ramai-ramai di sana makan sahur, sedangkan saya masih tertidur di kamar sendirian. Apa mereka mau membuat saya supaya tidak sahur dengan cara membiarkan saya terus tertidur? Untung saja saya bangun juga, ketika dalam tidur sayup-sayup saya mendengar ocehan mereka yang membuat ramai satu rumah. Saya terbangun, keluar kamar lalu melihat segerombolan dari mereka yang sudah mengisi penuh kursi ruang tengah yang melingkari meja di tengahnya. Di atas meja itu terlihat tidak ada ruang lagi melainkan semuanya telah diisi oleh hidangan sahur yang cukup beraneka ragam.

Sebelum menyantap sahur, saya pergi ke kamar mandi dulu untuk cuci muka. Menuju kamar mandi yang berada di luar rumah itu saya mesti melewati ruang tengah dulu yang karenanya saya pun bisa melihat apa yang mereka lakukan di ruang tengah tadi. Sekembalinya dari luar, saya langsung ke dapur mengambil bagian saya yang sudah di piring. Namun, sebelum di dapur itu saya mesti melewati ruang tengah lagi yang tampaknya tidak ada tempat lagi bagi saya untuk menduduki kursi bagus berwarna merah yang sudah diisi oleh mereka. Terpaksa, saya duduk di belakang mereka yang masih menyisakan kursi panjang yang tidak lebih bagus dari pada kursi merah tadi.

Menyantap sahur di kursi panjang yang tidak penuh diisi oleh orang telah membuat saya kedinginan, ketika pintu rumah yang dekat dengan ruang tengah itu terbuka lebar dan mempersilahkan hawa dingin dari luar untuk menyerang saya yang tengah sendirian menghadap langsung ke pintu tersebut. Berbeda dengan posisi mereka yang tidak menghadap langsung ke pintu dan ditambah lagi dengan panas tubuh mereka masing-masing yang dapat menghangatkan satu sama lainnya. Sehingga, meskipun hawa dingin itu masuk di saat posisi mereka yang tengah berdempetan, maka dinginnya itu tidak akan terlalu terasa sebagaimana yang saya rasakan dinginnya di belakang mereka. Disebabkan karena hal itu, makanya saya kurang menghendaki jika harus duduk di posisi tersebut yang mengakibatkan saya menjadi kedinginan oleh hawa pagi yang masuk. Namun, karena keterlambatan saya bangun tadi, saya menjadi kalah cepat untuk menempati posisi duduk yang enak buat santap sahur.

Sebelum shubuh berkumandang saya sempatkan untuk minum dua gelas, supaya nanti saat menjalani puasa mulut saya tidak terlalu kekeringan. Lalu, kami pun siap-siap ke Mushalla saat adzan tengah berkumandang. Pagi itu shaf laki-laki berjumlah lebih banyak dari pada shaf perempuan yang berjumlah lima orang saja dan itupun masih mereka yang merupakan keluarga besar Pak Tarmin. Usai shalat, aktifitas pribadi berjalan seperti biasa sampai tibanya pukul tujuh pagi yang merupakan saatnya bagi kami untuk melanjutkan proyek kami yang kemarin belum selesai, yaitu proyek pengecatan Mushalla. Berhubung sekarang catnya sudah beli lagi jadi pengecatan pun dilanjutkan. Tapi, sekarang kerjaan kami ditambah dengan pengecatan rumahnya Pak Tarmin yang pengerjaannya difokuskan pada bagian luar rumahnya saja.

Sebagaimana yang telah direncanakan, pukul tujuh kami langsung mengambil alat pengecatan yang baru dibeli lalu pengecatan pun dimulai. Pertama kami melanjutkan separuh dari Mushalla yang belum terselesaikan semuanya. Bagian Mushalla tersebut adalah dinding, langit-langit dan pagar kayu yang kemarin pengerjaannya terhenti disebabkan catnya yang telah habis. Setelah di Mushalla dirasa telah cukup, kemudian pengecatan beralih ke rumah Pak Tarmin. Rumah tersebut kami cat pada bagian luarnya saja, karena jika semua bagian rumahnya dicat tentunya cat yang tersedia tidak akan mencukupi. 

Memang warna bagian luar rumah beliau ini banyak yang sudah terkontaminasi oleh berbagai kotoran yang bermacam-macam. Sehingga, membuat warna asli tembok rumahnya menjadi pudar tidak karuan. Dan alasan lain kenapa bagian luar rumah beliau dicat, yaitu mengingat akhir-akhir ini adalah musimnya untuk berbenah rumah sebagai rangka penyambutan akan suasana Ramadlan dan Hari Raya nanti. Sebenarnya yang perlu dicat bukan hanya bagian luarnya saja, tapi bagian dalam pun seharusnya dicat juga karena warna bagian dalam pun sudah agak pudar. Namun, ini semua tergantung pada situasinya nanti, jika ada keputusan untuk mengecat bagian dalamnya juga maka —insya Allah— bisa. Tapi, kalau tidak, syukurlah.

Proses pengecatan pagi itu berjalan lancar sebagaimana yang diharapkan, namun tetap saja kami membutuhkan waktu yang cukup lama walaupun sudah dilakukan secara bersama-sama. Sehingga, sampai tibanya waktu menjelang dzuhur pun pengecatan belum selesai semuanya. Terpaksa, kami mesti melanjutkannya besok hari, sedangkan ba’da dzuhur telah kami proyeksikan waktunya untuk santai-santai tapi— insya Allah— santainya yang bermanfaat. Seusai shalat ashar, waktunya bagi kami untuk siap-siap menghadapi aktifitas malam hari, ada juga yang seperti biasa mengajar TPA di Mushalla. Sedangkan yang lain juga tidak kalah sibuknya mesti menyiapkan hidangan buka buat kami semua, meskipun sebenarnya tugas tersebut sudah lebih ringan dengan adanya peran Ibu yang selalu memasakkan hidangan buka buat kami.

Waktu buka telah tiba, kami mengawalinya dengan segelas bubur kacang ijo yang dibuat oleh Mbak Umm tadi sore, pada tiap gelas tersebut ditambah dengan agar-agar yang dicetak mirip es krim yang katanya dibuat oleh Nur. Tampaknya rizki di waktu buka ini seperti tidak ada habisnya, saat Pak Tarmin sedikit telat mengantarkan es campur untuk kami yang telah buka duluan dengan bubur kacang ijo dan dua macam agar-agar. Terpaksa, pemberian Pak Tarmin itu harus menganggur dahulu selama beberapa jam yang mungkin nantinya ada dari kami yang memakan suguhan beliau tersebut.

Ba’da maghribnya barulah kami menikmati makanan berat, hidangan yang beraroma pedas cukup menggoda kami untuk mencicipinya. Padahal kebanyakan dari kami sudah tahu persis bagaimana resikonya jika makan makanan pedas yang dapat mengganggu ritual shalat tarawih nanti. Namun, tampaknya resiko itu tidak terlalu diindahkan, manakala rasa lapar telah menggelayut dari tadi. Beberapa orang dari kami tampaknya menghiraukan resiko tersebut, termasuk saya sendiri yang nanti bakal tugas ceramah di Mushalla luar. Saya memilih bungkam saja jika harus makan karo sambel yang bisa membuat saya sibuk keluar masuk kamar mandi.

Usai makan-makan, kemudian kami bersiap-siap untuk berangkat tugas keluar guna mengisi Mushalla-Mushalla. Sedangkan, yang tugasnya di sini tetap tinggal untuk mengisi Mushalla sini bersama Pak Tarmin. Saya, Yasin dan Marhalim kini mengisi di Mushalla paling jauh yang berada di ujung dusun. Walaupun jaraknya jauh kami tetap berangkat dengan jalan kaki saja, menembus pekatnya jalanan kampung yang masih minim penerangan. Sebenarnya bisa saja kami pergi dengan motor, tapi karena kami bertiga maka jalan kaki saja, mengingat setiap motor yang kami pinjam pun tidak boleh dibawa bertiga.

Sebelum pulang kami disuruh mampir dulu ke salah satu rumah jamaah yang ada di sekitar Mushalla, di rumah tersebut kami disuguhi kolak pisang yang sudah lama saya tidak merasakannya. Beberapa lama setelah kami mencicipi kolak pisang tadi, maka kami pun pamit untuk pulang ke rumah. Di jalan sebelum kami tiba di rumah, ada Ibu warung yang memanggil kami dari pintu rumahnya untuk mampir mencicipi es dawet buatan beliau. Rizki memang tidak pandang situasi, meskipun kami sudah kenyang masih saja ada yang memberi. Awalnya Ibu itu mau menyajikannya di gelas supaya kami memakannya di tempat, namun kami langsung memintanya agar dibungkus saja karena keadaan perut kami yang sudah tidak memungkinkan. Tanpa ada raut wajah yang kecewa atas permintaan kami tersebut, beliau langsung saja membungkuskannya untuk kami. Dan tidak lama kemudian, kami pun pamit meninggalkannya. Sesampainya di rumah, es dawet itu pun habis disikat oleh teman-teman. 

Begitulah Hari ke 21: Isya di Luar ini, cukup melelahkan namun insyAllah bernilai ibadah. Aamiin.[]

Hari Ke 20: Membantu Masak Bukaan

Posted by ridwan yahya Monday, March 4, 2013 4 Comment/s



Beranjak pada Hari Ke 20: Membantu Masak Bukaan, Pukul tiga pagi umam bangunkan saya tidur, bertanya siapa yang piket masak hari ini. Namun, dia telah bertanya kepada orangnya langsung, yaitu saya. Rengekannya meminta saya untuk cepat memanaskan sayur yang sudah dimasak kemarin dengan lauk yang saya sendiri baru lihat waktu itu, yakni telur kuah santan yang diberi oleh keluarga Pak Tarmin. Saat tengah di dapur sendirian, saya tidak menyadari jika Pak Tarmin berdiri di lawang pintu dapur.

“sayurnya sudah dipanaskan?” kejut Pak Tarmin.
“hh, belum” jawab saya yang baru menyadari bahwa itu beliau.

Segera, saya langsung menyalakan kompor di samping untuk memanaskan lauk pemberian beliau tersebut. Pagi itu hanya saya saja yang sibuk di dapur, partner piket saya, Zakir masih belum bangun juga. Sedangkan, satu lagi Yohan, pergi ke Surabaya dari kemarin. Tidak mengapa, wong cuma memanaskan tok. Beberapa lama kemudian, barulah dia datang ke dapur, membantu saya yang sudah dari tadi menyiapkan sahur di dapur. Gilirannya adalah menuangkan hidangan sahur dari panci ke piring-piring. Saat semuanya sudah siap, kita mesti sibuk lagi membangunkan teman-teman yang masih tidur. Namun, ketika saya membangunkan mereka bangkit dengan segera menyambut ajakan saya tersebut.

Tinggal beberapa menit saja adzan shubuh berkumandang, sehingga tidak ada waktu luang untuk tidur-tiduran lagi, namun semua siap-siap melaksanakan shalat shubuh di Mushalla. Mushalla sederhana yang jamaahnya lumayan ada peningkatan, termasuk pada shubuh kali ini yang saya rekam terdapat satu orang jamaah luar yang melaksanakan shalat shubuh bersama kami di sana. Tapi, bukannya seorang pemuda, melainkan orang tua yang datang dengan sepeda motornya. Sebelum pulang, beliau juga menyempatkan diri bersama kami untuk wirid pagi seusai shalat shubuhnya.

Untuk mengisi hari di suasana ramadlan kali ini kami tidak mempunyai agenda kegiatan apapun selain melanjutkan pengecatan Mushalla yang belum terselesaikan juga, masih tersisa 40% kerjaan lagi yang mesti kami selesaikan. Sebelum pengecatan itu saya sendiri sedang sibuk mencuci peralatan dapur yang kotor sehabis waktu sahur tadi dipakai. Sedangkan Zakir entah berada di mana, sebab ketika saya cari di kamar dia tidak ada. Adapun yang di luar hanya Marhalim, Basirun, dan Yasin yang sedang sibuk mengecat. Saat saya lagi sibuk-beres-beres di dapur, Yasin minta saya segera bantu mereka di Mushalla yang hanya ada dua orang, sedangkan yang lain pada pergi ke luar entah ke mana.

Sampai menjelang siang tiba, di Mushalla tetap hanya kami berempat saja yang sibuk mengecat. Pekerjaan kami itu terhenti ketika modal cat yang kami punya telah habis, sedangkan beberapa sudut bagian Mushalla masih ada yang belum kena cat. Terpaksa, penyelesaian pun harus tertunda sampai menunggu dana cadangan turun. Dan ketua bilang, cat baru akan segera dibeli besok hari, insya Allah. Menjelang siang, bagiannya yang tidak ada tadi baru balik ke rumah guna beristirahat setelah seharian beraktifitas di luar.

Sebelum adzan, semuanya dibereskan lagi karena Mushalla akan digunakan untuk shalat dzuhur. Setelah shalat, waktu yang berjalan terasa begitu hambar karena biasanya ba’da dzuhur kami selalu menunggu sesuatu yang bisa dimakan, yaitu makan siang. Namun, kini waktu seakan telah dikonversi secara halus dalam suasana Ramadlan yang lebih barakah jika digunakan untuk suatu hal yang bermanfaat dari pada hanya sekadar menunggu waktunya jam makan. Maka dari itu, waktu siang ini mesti disiasati supaya mengandung nilai ibadah yang dapat diterima oleh-Nya. Terserah, apa mau membaca, mengaji, menulis, yang penting bingkai aktifitas tersebut dalam frame ibadah.

Sore hari saya sedikit terkejut oleh Husairi yang meminta saya untuk menemani Ibu masak di rumahnya.

“yang bener, nih?!”
“bener”, pungkasnya.

Kalau sudah begini, ada indikasi kalau Ibu bakal membuatkan lagi makanan buka buat kami. Betapa bingungnya kami menghadapi dan membalas rizki yang mengalir melalui Ibu ini, tidak ada yang bisa diharapkan dari kami jika diharuskan membalas pelayanan besar beliau. Kami hanya bisa mendoakan Ibu yang masih merupakan keluarga besarnya Pak Tarmin ini, mudah-mudahan Allah melimpahkan kasih dan sayang-Nya pada mereka. Amin. 

Ketika saya bersama Zakir memenuhi panggilan Husairi tadi, ternyata benar, di dapurnya Ibu tengah masak-masak lalu kami pun dimintanya untuk membantu beliau. Segera, saya pun langsung mengambil alih sebuah penggorengan yang sedang tidak ada operatornya. Kerja saya hanya melanjutkan perkedel yang belum dimasak semuanya, awalnya saya dicegah beliau karena khawatirnya saya tidak bisa. Namun, ketika mendengar beberapa kata saya terkait cara menggoreng perkedel tersebut, maka Ibu pun percaya dengan sedikit memuji. Dan saat beliau melihat kerja saya menggoreng perkedel itu, bertambahlah pujiannya pada saya. Sebaliknya beliau malah menyindir hasil kerjanya Nur yang acak-acakan saat menggoreng perkedel tersebut. Di sudut lain ada Zakir yang terlihat sibuk tengah memindah-mindahkan nasi ke wadah yang berbeda, namun tidak memerlukan waktu yang lama dia mampu menyelesaikannya, lalu beralih menuangkan es cendol ke gelas-gelas.

Kerja kami dihentikan saat Ibu menginstruksikan kami untuk berhenti membantunya, karena memang semuanya telah selesai disiapkan. Atas perintah Ibu tersebut, maka kami pun pergi saja ke ruang tengah nonton TV bareng Rauf yang sudah dari tadi stand by di sana. Beberapa saat kemudian kami balik ke rumah lagi, mengingat kami mesti menyiapkan makanan untuk berbuka nanti yang tinggal disajikan saja.

Sebagaimana yang telah disiapkan tadi, sebelum shalat maghrib kami berbuka dengan es cendol buatan Ibu yang manis. Namun, sayang es cendol buatan Ibu tersebut tidak habis semuanya, karena ternyata Ibu membuatnya kebanyakan. Padahal, beberapa orang dari kami tengah berada di luar. Tahu begini, tadi kami tidak akan membuat banyak-banyak. Tapi, yang membuat bukan kami juga, sih. Ibu, kok. Ya, sudahlah, nanti malam habis tarawih juga mungkin ada yang minum lagi. Ibu yang membuatnya santai-santai saja, malah kita yang repot sendiri.

Ba’da maghrib, barulah kami menyantap-makanan yang berat. Sebagian dari kami yang malam ini tugasnya sebagai imam tarawih atau khotib tidak berani untuk makan banyak-banyak, karena mereka khawatir bakalan tidak kuat untuk mengimami atau berceramah dalam keadaan perut yang lagi penuh. Sedangkan saya sendiri tengah santai-santai saja, meskipun shalat tarawih nanti dalam keadaan perut yang kenyang. Karena yang penting sekarang saya sedang tidak mengimami ataupun menjadi khotib setelah tarawih. Memang, saya sendiri merasakan bagaimana ketika perut yang baru kenyang mesti mengimami shalat tarawih, sudah perasaan agak nervous malah ditambah lagi dengan keadaan perut yang tidak enak. Seperti kemarin, sebelum tarawih perasaan agak gugup, ditambah juga dengan perut yang baru kenyang. Huft, nggak enak banget. Tapi, —alhamdulillah— saat maju jadi imam lalu saya fokus dengan posisi tersebut, rasa gugup berangsur menghilang berikut dengan perut kenyang yang tidak saya rasakan lagi. Namun, tetap bagaimanapun juga kalau perut kekenyangan sungguh tidak enak sekali untuk bergerak.

Tidak lama setelah makan, yang bagiannya tugas tarawih ke Mushalla dan Masjid luar segera menyiapkan dirinya untuk berangkat, mengingat jarak yang akan mereka tempuh menuju tempat-tempat tersebut lumayan jauh dari sini. Salah-salah, mereka bisa terlambat bertugas jika terlalu berlama-lama di rumah. Di sisi lain, saya, Marhalim, dan Yasin tinggal di sini karena kami yang sekelompok tugasnya memang di Mushalla ini. Jika Marhalim jadi imam, Yasin sebagai khotibnya, sedangkan saya kosong saja karena bagian saya kemarin sudah. Bagiannya mereka berdua tugas ini, lebih lama waktu yang dihabiskannya ketimbang kemarin saya yang bertugas saat menjadi imam. Sehingga, waktu menunjukan pukul delapan tepat saat semuanya bubar dari Mushalla. 

Begitulah KKN di Hari Ke 20: Membantu Masak Bukaan ini, semoga bernilai manfaat. []

Hari Ke 19: Shaum Pertama

Posted by ridwan yahya Thursday, February 21, 2013 9 Comment/s

Hari Ke 19: Shaum Pertama

Setengah empat kurang kami dibangunkan oleh mereka yang sekarang adalah bagiannya untuk piket masak. Dan sekarang adalah hari pertama bagi kami untuk menjalankan ibadah shaum. Saat mereka bangunkan kami, masakan yang mereka buat telah siap untuk disajikan. Maka, saat itu juga kami langsung cuci muka kemudian santap sahur. Mengenai makanan sahur tersebut, sebenarya bukanlah orang piket yang masak, namun Ibu warga sini yang dengan baik hati berinisiatif untuk memasakkan sahur buat kami. Kesediaan beliau itu tidaklah diminta oleh siapa-siapa, namun —sekali lagi, insya Allah— atas inisiatif beliau sendirilah yang membuatkannya untuk kami.

Sebelum adzan shubuh berkumandang —alhamdulillah— semuanya telah selesai. Sebagian dari kami memilih baca qur’an untuk menunggu shubuh, sedangkan sebagian lagi ada juga yang tengah sibuk dengan laptopnya yang memutar lagu In Team berjudul kalimah cinta. Setelah tiga lagu dimainkan, barulah adzan shubuh berkumandang dan lagu pun dimatikan. Yang masih di kamar segera menyiapkan diri mereka untuk pergi ke Mushalla, ada yang masih di kamar mandi mengambil air wudlu, dan ada juga yang sudah duluan berada di Mushalla dari tadi. Geliat ramadlan di sini kami rasakan sangat berbeda dengan atmosfir di kampung kami masing-masing, ternyata di sini tampak lebih sepi dari apa yang kita perkirakan sebelumnya. Sungguh, mengingat ngingat seperti ini, kami pun jadi rindu akan suasana kampung sendiri, jadi ingin segera pulang. Namun, hadirnya kesan yang tercipta di sini juga tidak dapat kami pungkiri keberadaannya. Warga yang ramah, rukun, dan solid adalah nilai tersendiri yang membuat jempol kami mengacung buat mereka.

Hari ini kami kehilangan satu personel tim yang cukup diandalkan keberadaannya, Yohan harus pergi ke Surabaya memenuhi panggilan kantornya. Di sana dia akan tugas ramadlan selama satu minggu, lalu kembali lagi ke tempat KKN untuk hari-hari penutupannya. Dia berangkat pagi ini bersama motor kerjanya yang selalu ia bawa ke manapun, termasuk ke tempat KKN ini. Di sini, motor tersebut mesti banyak berurusan dengan jalanan yang kurang bersahabat, karena di sini rata-rata jalannya pada berlubang dan bebatuan semua, beda dengan medan di Surabaya yang mulus-mulus saja.

Pagi sekarang yang tepatnya berada di bulan ramadlan cukup berbeda dengan pagi di beberapa hari sebelumnya, kali ini kami tidak harus menunggu-nunggu sarapan pagi dimulai, dan apapun yang kami lakukan pada pagi-pagi ini bukanlah untuk menunggu sarapan pagi disajikan. Namun, justru pagi ini menjadi terasa lebih panjang waktunya jika digunakan untuk mengerjakan suatu proyek yang besar. Hal tersebut dikarenakan, waktu luang yang biasanya digunakan untuk menunggu sarapan pagi, kini tiada. Namun, sekarang waktu tersebut digantikan oleh waktu kerja yang panjang sampai menjelang siang.

Sebagaimana pagi sekarang, kami harus melanjutkan pekerjaan kami yang kemarin belum terselesaikan, yaitu mengecat Mushalla. Di sini kami mengkombinasikan dua warna antara putih dan hijau, putih ditempatkan untuk dinding dan langit-langit, sedangkan hijau untuk pagar kayu Mushalla. Pengecatan dilakukan secara bergantian, dikarenakan peralatan yang kurang mencukupi. Jika yang satu tengah mengecat, maka yang lainnya membersihkan tembok atau kayu yang hendak dicat dari kotoran yang dapat mempengaruhi warna cat. Proyek pengecatan ini memakan waktu yang cukup lama sekali, dimulai sejak pagi-pagi dan berakhir saat menjelang siang. Bahkan, setelah dzuhur pun pengecatan masih berlanjut, karena meskipun hanya sekedar Mushalla sederhana, bagian Mushalla yang perlu dicat cukup banyak sekali. Malah, kami beranggapan bahwa pengecatan ini juga akan berlanjut sampai besok hari. Dan ternyata memang benar, ketika pengecatan dihentikan saat ashar tiba maka terpaksa pengecatan akan dilanjutkan pada besok paginya. Namun, —alhamdulillah— selama beberapa hari mengecat kami tidak direpotkan oleh cuaca yang kurang bersahabat sebagaimana pada hari-hari sebelumnya yang sering diguyuri hujan. Sehingga, dengan cuaca yang baik ini pengecatan pun bisa berjalan dengan lancar dan tanpa ada hambatan.

Saat menjelang maghrib, Husairi tampak lebih aktif dalam menyiapkan hidangan berbuka bagi kami. Husairi memang bisa diandalkan, mungkin karena hubungannya yang baik dengan Ibu tetangga, kami pun bisa dapat kiriman untuk hidangan berbuka. Sehingga, dia yang memang bagiannya piket hari ini tidak harus repot-repot lagi menyiapkan makanan untuk kami. Cukup menyajikannya saja, sudah jadi. Sebenarnya bukanlah Husairi saja yang pergaulannya cukup baik dengan warga sini, Pa Che dan ketua kami Irsyad juga perlu diperhitungkan sebagai pembuka jalan hubungan yang baik bagi kami dengan warga sini. Memang, terkadang di antara kami ada yang susah ketika mesti bergaul dengan warga sekitar, oleh karena itu dengan adanya sosok-sosok seperti mereka ini sangatlah penting bagi kami demi mengangkat nama mahasiswa KKN secara keseluruhan.

Alhamdulillah, bersamaan dengan berkumandangnya adzan maghrib maka kami pun berbuka, es kelapa degan buatan Ibu memang ampuh untuk menghapus haus dan dahaga kami setelah seharian berpuasa. Meskipun sederhana, tapi kami cukup mensyukuri atas nikmat yang diberikan Allah melalui Ibu tetangga kami tersebut. Hanya karena kebaikannya yang tulus ikhlas itu saja kami menjadi senang dengan keluarga beliau, sehingga kami merasa tidak enak juga saat dibuatkan masakan olehnya. Mau menolak pemberian beliau yang seolah-olah terlalu memanjakan kami, takutnya akan menimbulkan suatu kesalahpahaman. Kami menjadi bingung, dan dengan kebingungan tersebut hanya menimbulkan sikap diam kami terhadap segala pemberian beliau.

Saat tarawih tiba, saya menjadi menyesal telah banyak menghabiskan makanan berat ketika ba’da maghrib tadi. Mengingat sekarang adalah waktunya bagi saya untuk mengimami shalat tarawih di Mushalla sini yang sudah penuh diisi oleh jama’ah ibu-ibu dan bapak-bapak, serta beberapa anak muda. Perut ini terasa begah karena terlalu kekenyangan. Andaikan tadinya saya merasa bakal seperti ini, kelak saya akan urungkan niat saya untuk makan sebelum isya seperti tadi. Namun,ternyata ketika saya tengah mengimami, begah itu tidak terlalu terasa oleh saya. Saya hanya fokus dengan shalat saya yang takutnya banyak menemui kekeliruan di dalamnya. Karena, saya sendiri baru pertama kali menjalani tugas sebagai imam tarawih seperti sekarang ini. Jadi, saya cukup hati-hati dengan setiap bacaan yang diucapkan. Awalnya saya agak gugup berdiri sebagai imam di depan orang-orang sekampung, tapi sedikit demi sedikit saya pun bisa tenang menghadapinya.

Setelah giliran saya mengimami tarawih, kini tugasnya teman saya untuk berceramah di depan jama’ah yang semuanya asli orang Jawa, sedangkan teman saya ini adalah orang sumatera yang canggung untuk berbahasa Jawa. Terpaksa, bagaimanapun juga yang penting dia berceramah meski menggunakan bahasa Indonesia yang bagi sebagian kecil warga kampung sini tidak memahaminya. Usai tarawih, kegiatan di Mushalla pada Hari Ke 19: Shaum Pertama ini pun tetap berlanjut dengan tadarrusan yang dibacakan oleh beberapa teman kami yang cukup konsisten untuk menghidupkan suasana Mushalla dengan cara tersebut. []

Hari Ke 18: Pengecatan Mushalla

Posted by ridwan yahya Tuesday, February 12, 2013 13 Comment/s


Ketua pos kami sedikit kecewa dengan keputusan pemerintah yang seakan-akan telah menggagalkan puasa pada hari hari ini, padahal semalam beliau bersama warga telah melaksanakan shalat tarawih dan syukuran menyambut bulan suci Ramadlan. Kekecewaan tersebut ia tampakkan saat bangun pagi pukul setengah empat tadi. Awalnya ia bersikukuh untuk tetap puasa pada hari ini meskipun pemerintah telah memutuskan puasa pada hari sabtu, tapi karena dia kurang dukungan dari yang lain maka dengan agak terpaksa dia pun tidak jadi sahur pada pagi itu. Sebenarnya terserah saja dia mau puasa kapan juga, jika mau puasa hari ini berarti ikut Muhammadiyah. Tapi, esensinya bukan masalah ikut siapanya, malah yang perlu dicamkan alasannya dia ikut Muhammadiyah atau pemerintah itu apa? jangan sampai hanya sekadar untuk ikut-ikutan saja, tanpa ada ilmu dan ijtihad sama sekali.

Menjelang shubuh tiba, lampu Mushalla telah dihidupkan sebagai langkah pertama untuk menarik jamaah melalui pancaran cahayanya. Namun, upaya tersebut tampak biasa saja, sehingga tidak ada cara lain bagi kami kecuali mengumandangkan adzan pada waktunya. Pada awal kedatangan kami di sini, Mushalla masih tampak sepi dari jamaah. Tapi, akhir-akhir ini —alhamdulillah— ada perkembangan meskipun dalam jumlah yang sedikit dan itu juga jamaah yang masih dalam lingkungan keluarga Pak Tarmin sendiri. 

Apalagi shubuh, dzuhur, dan ashar yang dahulu jamaahnya tidak ada yang mengisi selain dari kami, sekarang ada perkembangan. Pada waktu shalat shubuh, selain dari kami ada beberapa jamaah yang masih dari keluarga Pak Tarmin sendiri. Pada waktu shalat dzuhur, jumlah jamaah hampir sama dengan waktu shubuh. Dimulai dari Ashar ini, anak-anak TPA yang mengaji cukup meramaikan isi Mushalla dengan jumlah mereka yang cukup banyak. Saat maghrib dan isya, Mushalla diisi oleh keluarga Pak Tarmin dan sebagian anak TPA yang belum pulang. Tapi, karena sekarang musim Ramadlan, shalat isya di Mushalla menjadi penuh sekali. Dan jamaah yang membludak pada waktu tersebut, dikarenakan warga sekitar yang hendak menjalankan shalat tarawih berjamaah di sini. 

Saat shalat shubuh selesai Pak Tarmin dan jamaah perempuan tampak masih ada pada tempatnya guna mengikuti wirid, namun ketika kultum pagi disampaikan Pak Tarmin dan keluarganya membubarkan diri dari Mushalla. Sedangkan, kami berusaha untuk tetap istiqomah melangsungkan kultum setiap harinya sebelum bubar dari Mushalla. Namun, setelah kultum pun belum bisa bubar begitu saja, karena seringkali Pak Ketua mengadakan rapat koordinasi sebagai gambaran aktifitas pada hari ini. Dulu rapat tersebut berupa evaluasi terkait keberadaan kita di sini, namun akhir-akhir ini entah kenapa evaluasi diganti menjadi koordinasi yang di antara keduanya jelas-jelas sangat berbeda pengertiannya. Meskipun begitu, kami masih tetap berada dalam satu jalur kebersamaan melalui adanya rapat semacam itu.

Usai dari Mushalla, seperti biasa yang bagiannya piket sekarang adalah saatnya untuk menyibukkan diri mempersiapkan makanan buat kami sarapan pagi. Hari ini adalah hari terakhir bagi kami untuk makan pada pagi hari dan hari terakhir bagi kami untuk makan siang saat sebelum bulan suci Ramadlan datang. Meskipun begitu, makanan yang disajikan pada hari ini tetap saja sebagaimana biasanya, tidak ada yang istimewa. Mungkin, hanya sedikit tambahan lauk sisa makanan semalam yang membuat beda lauk pagi ini. Tapi, mau bagaimanapun juga, selayaknya kita tetap bersyukur meski suatu saat berada dalam keadaan yang kurang kita kehendaki sekalipun.

Usai makan tadi, pagi ini kami tidak terlalu disibukkan oleh suatu kegiatan apapun, apakah pergi ke ladang, ada proyek pengecoran, atau pergi silaturahmi ke rumah warga. Kegiatan kami hari ini cukup santai-santai saja, sedikitnya ada kerjaan pun hanya tadi saja menemani teman memperbaiki sound system Mushalla. Itu pun cuma nonton saja, soalnya saya memang tidak mengerti kalau masalah begituan. Jadi, mendingan diam saja, salah-salah bisa jadi saya malah kesetrum. 

Mengingat hari ini adalah hari jum’at, maka pukul sebelas kami hentikan aktifitas kami selain persiapan untuk shalat jum’at. Pada jam-jam sekitar itulah saatnya kamar mandi menjadi antrian bagi kami semua, namun tidak perlu memerlukan waktu yang lama karena setengah jam setelahnya kami pun berangkat menuju masjid yang jaraknya terbilang jauh. Sebagian dari kami ada juga yang numpang ikut Pak Tarmin yang memakai motor. Ada juga yang awalnya jalan kaki, tapi pas di tengah perjalanan ada warga yang baik hati kasih boncengan untuk dua orang di antara kami. Tapi, yang lebih malang lagi ada dari kami yang sepanjang perjalanannya ditempuh melalui jalan kaki saja, subhanAllah.

Meskipun saat kami berangkat jum’atan agak berceceran, tapi saat kepulangannya kami bersamaan dan ramai-ramai jalan kaki dengan beberapa warga lainnya yang tidak mengendarai motor. Sejam setelah tibanya kami di rumah, tiba-tiba di luar terdapat satu kardus alat-alat pengecatan yang terdiri dari cat tembok, cat kayu, kuas, dan lain-lain, namun entah siapa yang telah membawanya ke sini. Namun, yang jelas saat itu juga kami langsung berinisiatif untuk mengecat Mushalla, mengingat sudah lama kami berencana untuk mengecat Mushalla tersebut yang warnanya sudah banyak yang lusuh. Namun, sayangnya rencana kami itu selalu digagalkan oleh ketiadaan anggaran, dengan alasan bahwa dana yang bersumber dari sponsor belum cair. Tapi, sekarang —alhamdulillah— permintaan kami dijawab, meski agak terlambat ditanggapinya.

Ada waktu sejam setengah untuk mengecat sebelum ashar tiba, namun tampaknya mustahil sekali jika harus selesai dalam waktu yang sesingkat itu. Dan memang hal itu terbukti dengan hasil kerja yang hanya bisa menyelesaikan 30% dari keseluruhan persentase pekerjaan kami yang dilakukan sampai adzan ashar berkumandang. Ba’da asharnya, Pa Che bersama beberapa orang lainnya malah melanjutkan pengecetan di tengah aktifitas anak-anak mengaji. Tapi, hanya sekadar pengecatan ringan yang dilakukan pada pagar kayu bagian luarnya saja.

Di luar menjelang tibanya adzan isya berkumandang, terlihat banyak sekali warga yang berdatangan ke Mushalla, volume ini sangatlah berbeda dengan waktu-waktu shalat lainnya. Saya jadi sedikit menyangsikan jka Mushalla sesederhana ini mampu menampung banyaknya warga yang berdatangan. Bapak-bapak, pemuda, dan anak-anak ada semua di hari pertama tarawih ini, belum lagi ibu-ibu yang memadati sisi kanan Mushalla yang jumlahnya bisa mengisi penuh bagian tersebut. Ditambah juga dengan jama’ah yang datangnya terlambat, yang sudah pasti akan menempati bagian paling belakang yang dekat dengan pintu pagar. Jadi, semua bagian Mushalla terpadati penuh oleh jamaah shalat isya dan tarawih kali ini. Tapi, alhamdulillah sejumlah warga yang telah datang ke Mushalla, mampu ditampung dan dapat menjalankan shalatnya secara khusyuk. Usai tarawih, aktifitas Mushalla berlanjut pada tadarrusan yang berakhir pada pukul sembilan malam sekaligus mengakhiri Hari Ke 18: Pengecatan Mushalla ini. []

Hari Ke 17: Sebar al-Qur'an

Posted by ridwan yahya Friday, February 8, 2013 4 Comment/s

Hari Ke 17: Sebar al-Qur'an

Beberapa hari ini langit terlihat begitu mendung, pagi, siang, dan malam tidak ada hentinya menampakkan raut cakrawala yang kelabu. Pemandangan seperti ini tidak jauh lagi akan berujung pada turunnya hujan ke bumi Purwodadi secara berkala. Bagi siapapun yang mempunyai kepentingan untuk menjemur, hujan ini bisa menjadi sesuatu yang tidak diinginkan karena secara bersamaan sinar matahari yang dibutuhkan untuk cepat mengeringkan pakaian tidak bisa muncul. Ditambah lagi dengan kepentingan warga sini yang hendak pergi berladang, namun jalanan dihadang oleh arsiran hujan. 

Tapi, di sisi lain hujan sangat diharapkan sekali bagi warga yang butuh dengan kuota air yang cukup guna mengisi sumur dan bak-bak mandi mereka. Belum lagi tanaman-tanaman yang membutuhkan air hujan itu sendiri, dan hewan-hewan ternak yang juga perlu air untuk minum. Oleh karena itu, betapa semuanya berjalan seimbang dan penuh dengan perhitungan yang  tepat oleh yang menciptakan.

Pagi hari berjalan seperti biasanya, Umam dan Irsyad bertugas hari ini untuk piket kebersihan sekaligus masak. Pergerakan mereka cukup baik, mereka tidak terlalu disibukkan oleh persiapan makan pagi yang bagi mereka itu cukup memerlukan waktu yang tidak seberapa saja. Justru mereka cukup cekatan membersihkan semua bagian rumah mulai dari menyapu, mengepel, merapikan kursi, dan lain-lain. Kolaborasi pekerjaan antara Irsyad dan Umam ini dianggap yang terbaik di antara kami. Perpaduan daya kreatifitas yang dipunyai oleh keduanya cukup berperan dalam menciptakan situasi yang kondusif pada rumah pos satu ini.

Sambil menunggu masakan pagi siap, seperti biasa saya menyibukkan diri dengan netbook Acer saya. Sekarang tidak ada waktu untuk berkomunikasi dengan Aibara lagi, karena tampaknya kiriman pesan saya kurang diharapkan saat kesibukan selalu meliputi hari-harinya. Di samping itu, malas juga kudu jalan kaki ke tanjakan jalan yang dua tingkat tersebut, ditambah dengan hanya sekadar untuk menarik sinyal Indosat yang nyangkut-nyangkut di pohon kelapa. Lebih baik saya memantapkan tulisan saya yang sering tertunda oleh berbagai macam kegiatan di sini yang cukup menguras tenaga.

Cukup lama kami menunggu aksi Umam dan Irsyad di dapur, berharap pekerjaan mereka di sana bisa menciptakan karya yang memuaskan untuk kami. Dan akhirnya beberapa lama kemudian mereka menjawab kondisi kami dengan sarapan pagi buatan mereka berdua. Sarapan pagi tidak menyita waktu yang terlalu lama, tapi persiapannya lah yang membuat kami menunggu-nunggu. 

Usai sarapan pagi, semua bersiap-siap untuk sibuk dengan kegiatan masing-masing yang sudah ditentukan tadi pagi setelah kultum. Kali ini saya berencana untuk membagikan al-Qur’an ke Mushalla-Mushalla dan Masjid yang ada di sekitar Dusun Sumber Blimbing ini. Menurut salah satu jama’ah Masjid yang kami temui saat membagikan al-Qur’an, di sini terdapat tiga Mushalla dan satu Masjid yang tersebar dalam jarak yang agak berjauhan.

Operasi kami yang rencananya dijalankan saat pagi hari tersebut, justru tertunda karena situasi yang kurang kondusif. Dan akhirnya kami bisa jalan saat sore hari tiba. Sebelum itu, siang harinya Yasin minta ditemani keluar untuk mencari tukang cukur. Sebelum berangkat kami cukup direpotkan dengan kendaraan yang belum ada, rencananya mau pinjam ke Bapak tapi sayang motornya sedang dipakai ke ladang. Akhirnya, kami kembali ke rumah dan ternyata motor Yohan lagi nganggur. Tanpa pikir panjang lagi, Yasin pun meminjamnya. Pukul setengah dua kami meluncur membelah jalan kampung yang cukup basah habis disirami hujan. Saat di jalan, kami belum cukup yakin di mana tempat cukur tersebut berada. Maka, kami pun bertanya, tapi sayangnya kami bertanya ke satu orang yang masih membuat kami kebingungan. Sehingga, kami pun sempat bolak-balik di jalan raya Donomulyo yang kiri kanannya masih agak kosong dari bangunan.

Tidak lama setelah bolak-balik tadi, akhirnya kami menemukan tempat cukur juga. tempat cukur tersebut terletak di dekat gapura perbatasan antara Desa Purwodadi dengan Purworejo, tidak jauh dari sana terdapat warnet. Mengenai warnet, di Donomulyo sini sangat jarang sekali. Mungkin, hanya satu-dua saja yang jaraknya jauh dari tempat KKN kami. Termasuk tempat yang tengah kami singgahi sekarang ini, tempatnya benar-benar jauh dari pos I. Saat Yasin sedang gilirannya dicukur, rencananya saya mau menyempatkan diri ke warnet tapi dicegah sama dia, dan ternyata giliran dia dicukur memang tidak menghabiskan waktu yang lama. 

Dari tempat cukur, kami bertolak kembali pulang dan singgah dulu di pos empat. Pos ini terletak di sekitar perbatasan antara Desa Purwodadi dengan Desa Purworejo, yang dari sini juga dekat jika mau pergi ke pasar Donomulyo. Sesuai namanya, pos empat ini dihuni oleh empat orang, yaitu Amin, Sugiero alias Sugiono, Miftahuddin, dan Arshavin alias Munawwir. Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa pos empat ini merupakan pecahan dari pada pos tiga yang dihuni oleh orang kesekretariatan. Di pos empat ini terdapat sebuah Masjid yang bernama Eyang Soponyono, Soponyono ini sama halnya dengan “siapa nyana” yang berarti siapa kira atau siapa sangka. Lebih jauh lagi kenapa bisa disebut Soponyono, karena siapa sangka bahwa di daerah terpencil seperti ini ternyata ada seorang sosok yang terpandang, maksudnya Eyang Soponyono ini. 

Terkait Eyang Soponyono, sebelum tahun 1912 beliau adalah seorang pangeran dari kesultanan Yogyakarta yang mengasingkan diri ke Malang Selatan. Hal tersebut beliau lakukan guna menghindari pendudukan Belanda yang sarat dengan kekejaman terhadap daerah asal beliau waktu itu. Kini di lokasi itu berdiri Masjid dan tidak jauh dari Masjid tersebut terdapat bangunan berupa makam keluarga beliau yang berjumlah lima kuburan. Menurut penuturan salah seorang teman di sana, tempat tersebut sering ramai sekali dikunjungi oleh orang-orang dari berbagai daerah. Bahkan, orang-orang besar pun tidak luput dari daya tarik makam Eyang Soponyono ini. Termasuk, keluarga kesultanan Jogja yang juga pernah datang ke tempat tersebut. Apalagi, musim-musim sekarang yang sedang berdekatan dengan bulan Ramadlan, sudah pasti ramai dikunjungi.

Ba’da ashar, kami pun pulang dari pos empat menuju pos tiga. Di pos tiga, Yasin mempunyai kepentingan dengan ketua KKN untuk menarik kembali uang iuran KKN yang pernah ia bayar sebelumnya. Setelah percakapan yang cukup alot, akhirnya Yasin memenangkan haknya mendapatkan duit dari ketua KKN itu sejumlah empat ratus ribu. Setelah mendapatkan uangnya, lalu kami pergi meninggalkan pos tersebut dan pulang kembali menuju pos kami sendiri. 

Maghrib di tempat kami sekarang mendadak jadi ramai sekali, banyak bapak-bapak yang berkumpul di depan rumah Pak Tarmin guna melangsungkan acara syukuran penyambutan bulan suci Ramadlan. Dalam acara tersebut, sebagaimana pengajian warga lainnya banyak menyuguhkan makanan yang mustahil bagi kami untuk menghabiskannya dalam satu duduk. Sehingga, pada akhirnya makanan tersebut yang awalnya dimakan di tempat, malah dibawa pulang juga ke rumah masing-masing. Baru kali ini saya tahu ada acara syukuran, demi menyambut bulan suci Ramadlan dengan suguhan yang banyak sekali. Namun, bagaimana persiapan kita yang akan mengarungi lautan Ramadlan secara total dengan setiap amalan didalamnya yang dapat diterima oleh Allah SWT?

Usai acara tersebut, isya di Mushalla pun menjadi penuh dan berbeda dengan seperti biasa yang jamaah laki-lakinya hanya kami-kami saja. Hal ini dikarenakan setelah isya nanti di Mushalla tersebut akan dilaksanakan shalat tarawih berjamaah. Entah siapa yang memutuskan jika hari ini dimulai tarawih, apakah mungkin mereka ini bareng dengan Muhammadiyah, mau puasa besok? Karena pertanyaan tersebut hanya sebatas dalam hati, maka biarlah mereka tarawih ba’da isya. Sedangkan, saya memilih diam dan menunggu keputusan pemerintah yang waktu ini belum sah. Sebenarnya saya tidak diam juga, sebelum isya waktu itu saya berupaya melalui ketua pos kami agar mengkonfirmasi dulu, apa ikut Muhammadiyah atau Pemerintah? Kalau puasa besok, berarti ikut Muhammadiyah. Sedangkan pemerintah kemungkinan puasa di hari lusanya. Tapi, seolah-olah saja dia tahu segalanya tentang perkara ini dan menjawab bahwa kita ikut pemerintah dan pemerintah akan puasa besok. Saya bantah lagi, bahwa yang puasa besok itu Muhammadiyah, pemerintah belum ada keputusan karena sekarang masih sidang. Dia pun malah berpaling dan meninggalkan saya pergi. 

Baiklah, akhirnya hanya saya bersama Yasin yang tidak ikut tarawih pada Hari Ke 17: Sebar al-Qur'an ini, karena kami akan mengikuti pemerintah yang keputusannya belum bulat. Setelah tarawih selesai, kemudian saya pergi menuju rumah tetangga guna menonton siaran langsung sidang isbat yang menetapkan bahwa Ramadlan jatuh pada besok lusanya, Sabtu, 21 Juli 2012, bukan jum’at. Akhirnya, yang tarawih tadi mengurungkan niatnya untuk puasa hari jum’at, dan beralih pada hari sabtu. []

Hari Ke 16: Rizki yang Tak Terduga

Posted by ridwan yahya Thursday, February 7, 2013 3 Comment/s

Hari ke 16: Rizki yang Tak Terduga

Setengah empat di sini seakan sudah menjadi tradisi untuk bangun pagi, sampai meskipun tidak bangun pada jam tersebut setidaknya sudah ada yang membangunkan. Terkait yang susah dibangunkan, banyak alasan yang menyebabkan orang tersebut tidak langsung bangun. Mungkin kelelahan, tidur terlalu malam, atau alasan positif apa saja yang menghalanginya untuk bangun dini hari. Meskipun dini hari susah bangun, tapi shubuhnya tetap bangun untuk shalat. Kemungkinan waktu shalat shubuh tidak bangun itu sangat kecil, walaupun ada, sungguh keterlaluan sekali. 

Ba’da shubuhnya kami semua wirid, kemudian berlanjut ke kultum. Di kampus, kegiatan ba’da shubuh ini bukanlah kultum, tapi kajian kitab yang berbeda dengan kultum itu sendiri. Kajian kitab ini punya waktu yang lebih lama, bisa mencapai maksimal satu jam atau sekurang-kurangnya setengah jam saja. Dan yang mengisi bukan dari jajaran mahasiswa, namun para ustadz sendiri yang tinggal di sekitar kampus. Kajian tersebut bertempat di beberapa lokal yang terpisah menurut angkatannya masing-masing, bukan di Masjid yang sudah ada jadwalnya sendiri dan ditempati oleh kajian lainnya. Namun, dulu kajian kitab ini dilangsungkan di Mushalla, dan semua mahasiswa di tiap angkatan berkumpul di sana dalam satu ruangan yang sebenarnya kurang luas. 

Perubahan itu didasari terhadap efektifitas proses pembelajaran pada kajian kitab tersebut, mengingat tidak sedikit mahasiswa yang sudah semester sekian tapi kemampuan baca kitabnya masih kurang. Oleh karena itu, kajian kitab sekarang dipisah-pisah menurut semesternya. Sedangkan terkait kultum yang kami adakan  di sini menjadi pengganti dari pada rutinitas, dalam melangsungkan kajian kitab  yang ada di kampus pada setiap ba’da shubuhnya. Jika kami mengadakan kegiatan yang sama seperti kajian kitab di kampus, jujur di antara kami masih belum ada yang cukup expert untuk memimpin kajian di depan teman-temannya yang lain.

Usai kultum pagi, saya, Zakir, dan Yohan langsung pamit mengundurkan diri dari Mushalla. Sebenarnya, setelah kultum masih ada rapat koordinasi. Tapi, seolah-olah kami telah mengetahui apa yang akan diinstruksikan ketua, maka kami pun langsung menuju rumah untuk menyiapkan makan pagi. Karena, instruksi bagi yang piket pada setiap harinya sama saja, selain piket bersih-bersih dan masak kami dicukupkan untuk tinggal menjaga rumah saja. Sedangkan, yang lain mesti aktif menyebar keluar rumah dan mesti berinteraksi dengan warga-warga sekitar.

Usai makan pagi, waktu itu selain kami bertiga sebagian ada yang sibuk ke Balai Desa, karena kebetulan hari ini diadakan acara pengobatan gratis dan bazar murah yang kami adakan di tempat tersebut. Dalam pelaksanaannya, kami bekerja sama dengan Politeknik Malang yang kebetulan mengadakan acara serupa dalam waktu yang bersamaan dengan kami. Namun, yang menjadi alasan mereka bergabung dengan kami adalah pihak Politeknik belum mengantongi perijinan dari Desa dan Kabupaten, sedangkan kami sudah. Tapi, mereka sudah mempersiapkan tim medis lengkap dengan barang-barang pengobatan lainnya yang kami belum cukup matang untuk itu. Jadi, di antara kami mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing dan peranan untuk saling melengkapi satu sama lain, sehingga acara pengobatan gratis pun bisa berjalan dengan lancar. 

Di sudut lain dari Balai Desa ada bazar murah yang dikelola oleh kami sendiri, yang terlepas dari kerja sama dengan Politeknik seperti pada acara pengobatan gratis tadi. Menurut penuturan seorang teman yang ada di TKP, banyak warga yang sangat antusias terhadap acara tersebut. Hal itu dikarenakan harga rata-rata yang dipatok pada barang-barang yang dijajakan terbilang sangat menghebohkan warga. Maka dari itu, banyak juga warga yang berebut menginginkan barang yang sama. Akibatnya, teman saya yang bertugas melayani pelanggan yang membludak itu pun kebingungan untuk mengurusinya. 

Meskipun pembeli terbilang banyak, tetap saja masih ada pakaian yang tersisa. Tapi, sisanya tersebut kami serahkan semuanya ke pihak Desa yang mungkin lebih tahu siapa yang membutuhkan pakaian-pakaian tersebut. Jadi, anggap saja pakaian-pakaian tersebut telah habis tidak tersisa. Namun, ada saja insiden yang hampir menjadi perselisihan serius di antara kami pada acara tersebut. Sejumlah pakaian yang telah dipesan sengaja disimpan rapi di bawah meja dagangan, tapi seorang teman yang karena ketidaktahuannya malah menjual baju-baju tersebut begitu saja. Akhirnya, orang tersebut menjadi sasaran makian teman-teman lainnya yang butuh sekali dengan pakaian tersebut. sempat, baju-baju itu diminta lagi dari pembelinya tapi pembeli tersebut enggan mengembalikan lagi.Terlepas dari ketegangan di atas, masih ada lagi kesalahpahaman lainnya yang menampakkan acara tersebut kurang terkoordinir. Tapi bagaimanapun juga kami tetap mengapresiasi terselenggaranya acara tersebut yang cukup membantu warga untuk memenuhi sedikit kebutuhannya.

Di tempat lain, kami yang bertugas piket masak sedikit kebingungan hendak masak apa siang itu. Tapi, ternyata Irma datang ke dapur kami seolah-olah dia tahu jawaban tepat atas semua kebingungan kami bertiga. Siang itu dia membawa sejumlah lauk yang mantap sekali untuk kami santap, kebetulan karena sebagian dari kami ada yang masih di Balai Desa, jadi lauk itu pun sangat cukup sekali buat kami semua yang ada di rumah. Memang, keluarga Irma ini baik sekali kepada kami, kami pikir hampir setiap hari keluarganya mengantar makanan buat kami. Kalau bukan makanan berat, camilan yang datang, atau lauk pauk yang rasanya enak sekali juga diantarnya secara tidak terduga. Subhanallah.

Siang menjelang asharnya kami didatangi lagi oleh dua orang dari Balai Desa, kedatangan mereka ini bukan untuk mengantarkan makanan buat kami. Tapi, satu dari dua orang ini adalah teman saya dari pos lain yang mengantar satunya lagi yang merupakan dosen kami dari Surabaya. Kedatangan beliau ke sini sebagai kunjungan rutin dosen STAIL ke lokasi KKN yang dilakukan setiap minggu, pada setiap pekan tersebut beliau bergantian dengan dosen lainnya guna memantau perkembangan  kegiatan yang ada di sini. Sebelum Ashar, beliau kembali lagi ke pos tiga saat hujan siang itu mulai reda.

Sore hari kami kembali dikirimi oleh keluarganya Irma setoples besar keripik singkong yang gurih sekali. Lagi-lagi kedatangannya tidak diduga-duga oleh kami sebelumnya, sungguh tidak nyana. Rizki memang tidak ke mana, apalagi hari ini rizki tersebut datang begitu saja dan tidak diduga sebelumnya. Namun, hal ini jangan sampai membuat kita menjadi sosok yang terlalu bergantung pada uluran tangan tetangga yang sering memberi kita santunan tersebut, contohnya meskipun tetangga sering memberi lauk untuk kita makan, tapi di dapur kompor kita sendiri harus tetap mengepul. Karena, datangnya pemberian itu tidak pada waktu yang ditentukan. 

Demikianlah Hari ke 16: Rizki yang Tak Terduga, semoga bermanfaat. []

Hari Ke 15: Petik Pucuk Tembakau

Posted by ridwan yahya Wednesday, February 6, 2013 11 Comment/s

Hari Ke 15: Petik Pucuk Tembakau
Ilustrasi

Terkait hari ini kami terbilang cukup bebas beraktifitas, tapi bagaimanapun juga semestinya kami tidak tinggal diam saja meski dalam keadaan seperti ini. Seperti biasa kami bisa jalan-jalan di sekitar area pedusunan, singgah-singgah di rumah warga atau ke ladangnya juga. Aktifitas tersebut kami lakukan setelah sarapan pagi selesai semua, memastikan dahulu siapa yang keluar rumah dan siapa yang tinggal di rumah yang mesti piket kebersihan dan masak. 

Bagi teman-teman yang tugas masak pagi, mereka mesti pagi-pagi menanak nasi agar sarapan bisa dilaksanakan sesegera mungkin. Makanya, kalau bisa nasi sudah dimasak sebelum shalat shubuh, karena kegiatan shalat shubuh di Mushalla berlanjut ke wirid pagi dan kultum, belum lagi rapat koordinasi yang semuanya itu membutuhkan waktu sampai jam lima lebih dua puluh menit. Jika pada jam tersebut nasi masih baru dimasak, maka tunggu saja 90 menit ke depan nasi tersebut baru bisa diangkat. Sedangkan lauknya tidaklah memakan waktu yang terlalu lama, karena dari sembilah puluh menit yang ada cukup tujuh puluh persen dari waktu tersebut lauk pun sudah bisa disiapkan. 

Tapi, ada juga yang bagiannya piket masak ini lebih memilih untuk masak nasi goreng buat sarapan paginya, dengan alasan nasi semalam masih ada sisanya. Pemilihan nasi goreng sebagai menu sarapan pagi ini hanya memerlukan waktu kurang lebih tiga puluh menit saja, tidak seperti menyajikan menu biasanya yang menyita waktu cukup lama. Namun, yang pasti penyajian menu nasi goreng di pagi hari jangan sampai setiap hari. Karena, mungkin dapat menyebabkan berbagai resiko yang tidak diinginkan. Oleh karena itu, kami sudah mengusahakan untuk tidak mengkonsumsinya terlalu sering.

Hari ini yang bertugas piket masak adalah bagiannya Marhalim, Pa Che, dan Husairi. Kebetulan tadi pagi mereka menyajikan menu nasi goreng yang tidak terlalu memakan waktu terlalu lama, hanya cukup memasak satu macam lauk saja sebagai tambahannya masakan pun jadi. Pukul tujuh pagi sarapan sudah selesai, saatnya bersiap-siap memenuhi ajakan Ibu tetangga untuk pergi ke ladang tembakau yang luasnya sejauh mata memandang. Sebelumnya kami sudah pernah diajak ke ladang miliknya yang lain, dan baru kali ini kami terjun langsung ke ladang tembakaunya yang beberapa minggu lagi akan dipanen.

Selama di ladang tembakau, kami membantu beliau untuk mencabuti pucuk terakhir yang tumbuh di setiap tanamannya. Menurut Ibu, Hal ini dianjurkan supaya tembakau tersebut cepat dipanen. Dari sekian banyaknya tembakau yang tumbuh, banyak sekali pucuk yang belum kena cabut. Sehingga kerja kami pagi itu harus lebih keras lagi, mencabuti pucuk sebanyak mungkin sampai tidak ada yang terlewatkan oleh kami. Di tengah pekerjaan, Ibu berinisiatif menawari kami degan miliknya, lalu disuruhnya Rauf agar memanjat pohon yang ada di sekitar ladang tembakaunya. Sayang, dari beberapa kelapa yang dipetik semuanya hanya kelapa cengkir saja yang didapat. 

Selain memotongi pucuk tembakau, kami juga membantu untuk memunguti daun-daun yang mati kekeringan. Kerja ini juga tidak kalah lamanya seperti memotongi pucuk tembakau tadi, sampai saya sendiri yang sedang memakai kaos hitam sangat terasa panasnya sinar matahari pagi yang menjelang siang tersebut. Setelah beberapa lama kemudian, akhirnya kami pun pulang ke rumah. Ada waktu sejam setengah sebelum dzuhur datang, maka kami pun singgah dulu di rumah Ibu sambil menikmati fasilitas di dalamnya. Lumayan, bisa nonton TV. Lagian, sudah lama dan jarang-jarang juga saya nonton TV. Bola yang menjadi program siaran favorit saya saja hampir nggak pernah ditonton lagi, apalagi yang lain. Mumpung sekarang lagi ada kesempatan, jadi dimanfaatin saja. Tapi, bagaimanapun juga sebelum dzuhur kami mesti balik ke rumah untuk persiapan shalat dzuhur.

Ba’da dzuhur, makanan pun telah siap untuk disantap. Kali ini, Husairi yang tadi ditinggal sendiri oleh rekan piketnya dibantu oleh Nur dan Ibunya masak di dapur. Otomatis masakan yang kami santap rasanya enak sekali, dan racikan bumbu yang dituangkan benar-benar terasa. Beda dengan bumbu yang biasa dibuat yang terkesan kurang jelas rasanya. 

Sehabis makan, siang itu saya habiskan dengan menulis. Namun, seperti biasa sejam sebelum ashar tiba saya sempatkan untuk tidur siang membalas aktifitas di ladang tadi pagi yang cukup melelahkan. Namun, saat ashar tiba saya tidak langsung bangun begitu saja, mesti ada yang membangunkan. Memang, sedikit susah jika saya tidak dibangunkan oleh orang lain. Saat keluar menuju kamar mandi saya sedikit malu jika terlihat oleh orang luar, karena raut muka yang baru bangun tidur dan mata yang masih bengkak-bengkak tampak jelas jika tersorot oleh cahaya luar rumah. Maka, saya pun berjalan dengan terburu-buru berharap tidak ada orang yang melihat saya. Sesampainya di belakang rumah, kondisi sudah aman.

Ba’da ashar tampak banyak sekali anak-anak yang hendak mengaji, namun tenaga pengajar yang biasa menangani anak-anak tersebut kini sedang banyak urusan di luar. Mau tidak mau saya mesti menemani teman saya yang sendirian ngajar itu, sebenarnya dia tidak sendirian juga karena ada Nur yang biasa mengajar di Mushalla itu. Tapi, yang benar saja mereka mengajar berduaan seperti itu, nggak genah. Maka dari itu, saya bantu mereka juga untuk mengurusi anak-anak mengaji di Mushalla.

Sebagaimana biasa, jam lima lewat anak-anak baru bisa bubar. Kebanyakan dari mereka pada pulang ke rumahnya, tapi sebagian ada juga yang masih tinggal di Mushalla. Karena, mereka yang tinggal ini akan les belajar pada usai maghrib nanti. Tidak diduga, usai maghrib kami diajak Pak Tarmin ke acara syukuran yang diadakan oleh tetangga sebelah. Sedangkan, yang mengurus anak-anak les kembali diambil alih oleh teman saya yang biasa mengajari mereka. Katanya, syukuran itu diadakan dalam rangka mensyukuri sepeda motor yang baru dibeli oleh yang punya hajat. Acara tersebut singkat saja, sehingga sebelum isya tiba acara sudah selesai. Dari acara tersebut banyak sekali makanan yang disuguhkan, sampai-sampai kami merasa tidak sanggup jika harus menghabiskan makanan tersebut di tempat. Jadi, kami membungkusnya saja lalu dibagikan di rumah, karena kebetulan rumah lagi ramai oleh anak-anak yang les tadi.

Menjelang isya di Hari Ke 15: Petik Pucuk Tembakau ini tiba, tidak disangka Abang semester datang bertamu ke Pos kami. Bang Beni, mahasiswa semester akhir bersama temannya yang belum saya kenali itu menyempatkan diri singgah ke tempat kami. Kebetulan, bang Beni ini adalah orang asli Malang Selatan juga yang lagi libur dari kuliahnya. Tapi, Ramadlan nanti beliau akan kembali ke Surabaya guna menjalankan tugas Ramadlan yang diterimanya dari STAIL. Ba’da isya beliau pamit, karena khawatir beliau akan kemalaman di jalan. []

Gambar: http://www.antarafoto.com/bisnis/v1343184001/buruh-petik-tembakau

Hari Ke 14: Pergelaran Tabligh Akbar

Posted by ridwan yahya Tuesday, February 5, 2013 2 Comment/s

Hari Ke 14: Pergelaran Tabligh Akbar
Ilustrasi
Jika hari kemarin sibuk dengan acara pengajian, sekarang saya harus banyak berurusan dengan kamar mandi. Akibat dari semalam yang terlalu kebanyakan makan, maka sekarang saya merasakan konsekuensinya. Betapa perut ini tidak enak sekali rasa-rasanya, mungkin inilah yang dinamakan dengan begah. Pagi ini saja saya sudah beberapa kali pergi buang air besar, baru sejam setengah tadi buang air sekarang malah pergi buang air lagi. Tahu begini, saya jadi menyesal telah makan cukup banyak di pengajian-pengajian kemarin itu. 

Padahal jam delapan nanti kami akan dijemput oleh mobil pick up yang mengantar kami ke tempat acara Tabligh Akbar yang akan diselenggarakan nanti malam. Pagi ini kami hanya akan membantu mempersiapkan acara tersebut, bersama teman-teman Pos lainnya yang juga bergabung dengan kami. Sebelum berangkat saya pastikan diri saya siap untuk kerja bakti di sana, maka dari itu saya juga meyakinkan jika perut saya baik-baik saja selama berada di Pos lima tempat acara diselenggarakan tersebut.

Ketika mobil datang, hanya kami bertiga saja yang diangkut, yaitu saya, Zakir, dan Basirun. Sedangkan, yang lainnya telah pergi duluan, ada yang dengan motor berdua, bahkan ada juga yang jalan kaki menempuh jarak kurang lebih satu kilometer dari sini ke tempat tersebut. Dan beberapa orang saja yang tinggal di rumah yaitu mereka yang lagi tugas piket kebersihan dan masak. 

Tiba di tempat, kami langsung gabung bersama teman-teman dari Pos lain dan warga sekitar untuk berkoordinasi menyetting tempat acara sebaik mungkin. Panggung minimalis yang juga merupakan mimbar tempat penceramah tampil, terletak di depan masjid. Dikarenakan tanah kosong yang tersedia kurang luas, maka lahan yang biasanya digunakan untuk tanaman kami sulap menjadi tempat duduk bagi para tamu. Begitupun juga dengan teras rumah warga di sekitar lokasi, yang kami jadikan sebagai tempat lesehannya. Tidak lupa juga dengan tempat parkir yang ditempatkan persis di bahu jalan yang cukup lebar untuk menampung motor dan mobil yang parkir. 

Ada sekitar tiga jam, waktu yang kami habiskan untuk gotong royong tersebut, dan sekarang saatnya kami pulang ke pos masing-masing dengan satu tumpangan yang sama yaitu mobil pick up. Dari Pos lima, awalnya teman-teman minta pergi ke Sumber Blimbing dulu, katanya pengen keliling dulu ke Pos I kami. Jika seandaikan mau ke Sumber Blimbing dulu, maka mobil harus diputar balik. Dan bagaimanapun juga sopir yang lebih tahu, oleh karena itu mobil pun lurus saja searah dengan posisi parkirannya. Jadi, kami pun pergi menuju Pos dua dulu yang tempatnya cukup jauh ke pedalaman. Selanjutnya kami menuju ke Pos tiga yang tempatnya cukup strategis untuk menjangkau posko lainnya, tapi tetap jauh-jauh juga. Tidak usah berhenti terlalu lama, setelah mereka turun,  mobil pun kembali melaju menuju pos selanjutnya yaitu Pos empat. Pos empat ini adalah pos pecahan dari pada Pos tiga, begitupun juga dengan Pos lima yang merupakan pecahan dari pada Pos dua. Jadi awalnya KKN kami ini berjumlah tiga Posko saja, tapi dikarenakan Desa Purwodadi ini cukup luas, maka pergerakan kami pun lebih ekspansif lagi dengan pembentukan Pos yang baru. 

Dari Pos empat, mobil terus melaju menuju jalan raya Donomulyo untuk singgah sebentar di sebuah bengkel mobil. Dari sana, barulah mobil kembali ke jalanan utama Desa Purwodadi dan melewati lagi Posko-Posko yang tadi telah disinggahi termasuk Pos lima tempat kami kerja bakti tadi. Terhitung satu jam lamanya kami berada di atas mobil, selama itu juga kami cukup kepayahan menghadapi panasnya matahari siang yang lumayan panas, ditambah mobil yang kami tumpangi tersebut melaju dengan performa yang kurang baik. Namun, dari pada itu semua kami cukup menikmati perjalanan pulang tersebut. Baru kali itu saya bisa berkeliling desa yang sarat dengan kesan dan siratan makna yang terkandung di dalamnya. Betapa tidak, seolah-olah saya, Rauf, dan Basirun tengah berlomba menyapa orang-orang yang kami lewati dari atas mobil reot itu. Yang di ladang, di depan rumah, dan di jalanan tidak luput dari kami yang hanya mengandalkan kata “monggo” saja ketika menyapa orang-orang tersebut. Meskipun begitu, setiap mereka yang kami sapa tampak senang juga.

Ba’da dzuhur kami tiba di rumah, kemudian ke kamar mandi mengambil wudlu lalu shalat. Di sudut lain, makan siang sudah menunggu kami. Maka, ketika shalat telah selesai kami langsung menyerbu dapur. Perjalanan yang lama tadi cukup menguras perut saya, sehingga betapa lahapnya kami menyantap makanan itu. Usai makan, saya pun beranjak menuju kamar untuk bergelut dengan tulisan yang baru. Sebelum Ashar tiba, saya tutup aktifitas siang ini dengan tidur lelap sampai adzan dikumandangkan.

Seperti biasa, ba’da Ashar geliat aktifitas sore hari diramaikan oleh anak-anak TPA yang mengaji di Mushalla. Namun, kali ini yang mengajar cukup satu orang saja, mengingat banyak dari kami yang tengah bersiap-siap pergi menuju acara Tabligh Akbar yang kami selenggarakan di Pos lima. Namun, sampai Maghrib usai mobil yang dijanjikan akan menjemput kami belum datang juga. Tapi, tidak lama kemudian mobil yang ditunggu-tunggu pun datang juga. Bersama kami ada beberapa warga yang ikut ke pengajian tersebut, termasuk mbah Supi yang pernah saya ceritakan kemarin. Meskipun sudah termasuk sepuh, namun beliau masih cukup bugar untuk menghadiri pengajian-pengajian seperti ini. Mengingat di kampugnya saja, saya sering lihat beliau juga yang selalu hadir di tiap acara yang warga selenggarakan.

Tiba di tempat, adzan Isya tengah dikumandangkan oleh seorang teman kami yang asli Papua. Suaranya begitu bagus sekali, sempat saya kira bahwa suara adzan tersebut bersumber dari music player yang diputar. Tapi, setelah saya dengar dengan seksama, ternyata suara adzan itu adalah suara dia, tidak nyana. Selang satu jam kemudian, barulah acara pun bisa dimulai. Dimulai dengan sambutan dari ketua Takmir Masjid setempat, kemudian sambutan dari Kepala Desa, Pak Suyono yang saat penyambutan kami beliau tidak hadir karena ada urusan di luar. Kemudian dilanjutkan ke acara inti yaitu Mau’idzah-hasanah yang disampaikan oleh Ust. Ahmad Najib yang didatangkan dari Kota Malang. Selama satu jam lebih beliau tampil di panggung, menggugah semua jamaah yang datang dari berbagai dusun sekitar desa Purwodadi.

Pukul sepuluh lebih acara pun selesai, semua warga berhamburan membubarkan diri dari tempat acara menuju jalan utama. Kontan jalanan pun jadi ramai, namun tidak menyebabkan kemacetan sama sekali. Di tempat lain, kami masih harus beres-beres dan mempreteli semua atribut-atribut tempat acara yang digelar secepat mungkin. Panggung, tenda, kursi-kursi dan yang lainnya mesti kami bereskan malam itu juga, mumpung semuanya masih kumpul jadi kami tidak menunda-nundanya lagi.

Tapi, karena tadi kami datang satu mobil bersama warga, maka kami pamit duluan. Di tengah jalan gerimis mulai turun, namun tidak terlalu membasahi kami yang lagi menumpang mobil terbuka. Setibanya di rumah gerimis tetap saja masih gerimis, entah kapan dikonversikan menjadi hujan yang lebat, yang penting kami sudah tiba di rumah dan sekarang saatnya untuk langsung tidur saja dan menyudahi Hari Ke 14: Pergelaran Tabligh Akbar ini. []
Gambar: http://www.solopos.com/2011/08/15/tabligh-akbar-3-111457

Hari Ke 13: Terkagum Aksi Vokal Seekor Burung

Posted by ridwan yahya Monday, February 4, 2013 0 Comment/s

Ilustrasi
Saya tidak menyangka jika hari ini akan sibuk sekali, hal ini bukan karena saya tidak mengetahui adanya agenda yang sudah ada, namun saya sedikit menganggap enteng terhadap acara-acara yang saya ikuti tersebut. Sehingga, saat di tengah acara yang lagi berlangsung baru saya sadari ketidaksiapan saya tersebut untuk mengikutinya. Kesibukan yang sejatinya mengaitkan ketahanan fisik dan mental, namun kali ini justru malah melibatkan perut juga yang harus tahan digempur bertubi-tubi oleh berbagai makanan yang disajikan pada setiap acara yang diikuti. 

Acara-acara kegiatan hari ini yang terbilang belum siap untuk diikuti tersebut berawal dari pagi hari yang biasanya ada kegiatan, namun pagi ini kami terasa kosong. Tidak seperti kemarin-kemarin yang setiap pagi setelah sarapan selalu ada kerjaan di luar, semacam di ladang atau kerja bakti bersama warga sekitar. Pagi ini kami sangat terbuai oleh agenda yang kosong seperti ini, ketiadaan informasi dari wakil ketua yang sekiranya ada sesuatu yang mesti kami kerjakan menjadi alasan kuat kami terkait jam pagi yang kosong tersebut. Hanya saja pagi itu saya bersama Zakir berinisiatif pergi bersilaturahmi ke daerah warga, apa di ladangnya ataupun cuma di rumahnya saja. Maksud kami supaya pagi itu tidak terlalu kosong untuk dilewatkan. Sebenarnya, bagi saya pribadi kekosongan ini masih bisa saja ditambal oleh kegiatan saya sendiri, saya bisa menenggelamkan diri pada cerita harian yang saya tulis. Namun, karena hal itu tercium agak egosentris maka lebih baik saya pergi bersilaturahmi ke ladang warga bersama Zakir menyusul Yohan dan Husairi yang sudah duluan pergi. 

Saat di tengah perjalanan menuju ladang kami melihat mbah Supi yang tengah santai di depan rumahnya, melihat beliau kami pun langsung menyapanya. Sapaan yang maksudnya hanya sekadar menyapa saja itu beliau balas dengan ajakannya agar kami singgah dulu. Baiklah, tidak ada salahnya kami mengobrol-ngobrol bareng beliau. Di depan rumah beliau kami ngomong ngaloer ngidul, dan ada setengah jam lebih kami habiskan waktu di tempat tersebut. Dalam obrolannya secara total kami berdua menggunakan bahasa Indonesia, namun beliau yang biasa berbahasa Jawa malah agak memaksakan diri untuk berbahasa Indonesia juga. Memang, bagusnya harus seperti itu biar obrolan kami dapat dimengerti oleh satu sama lainnya. Bersamaan dengan kicauan burung yang tergantung bersama sangkarnya di depan rumah, kami terus saja mengobrol meski tidak mengerti dengan bahasa jawa beliau yang sesekali keluar.

Sesekali juga saya melirik anggunnya burung yang aktif bergerak di dalam sangkarnya yang sempit, kami juga ditakjubkan oleh aksi vocal burung tersebut yang lihai memainkan berbagai suara. Entah burung apa namanya itu, yang jelas kehebatannya itu bisa menyerupai nada suara tokek dan suara-suara lain yang tidak saya ketahui. Bersama Zakir, saya terkagum-kagum dengan burung tersebut sampai-sampai lupa bahwa kami tengah berbincang-bincang dengan mbah Supi. Di sebelah burung tersebut, ada burung sejenis yang lebih muda dengan bulu-bulunya yang masih acak-acakan. Burung ini belum bisa menyerupai lihainya burung yang dewasa dalam memainkan berbagai macam suara kayak tadi, hanya suara kicauan anak burung saja.

Tidak lama setelah suguhan mengagumkan itu, kami pun pamit meninggalkan kediaman mbah Supi. Kemudian, selanjutnya kami memutuskan untuk balik saja ke rumah. Di tengah perjalanan sebelum ke rumah, kami merubah niat dan menuju rumah tetangga yang sering kami singgahi ladangnya. Di rumah tersebut, bukan suguhan macam-macam yang kami dapati namun di sana kami enjoy menonton TV. Sebelum dzuhur tiba, barulah kami balik ke rumah menyiapkan diri untuk shalat berjamaah di Mushalla karo rencang-rencang. 

Kesibukan saya hari ini dimulai saat ba’da dzuhur, waktu itu kami diundang khataman oleh sebuah rumah yang berada tidak jauh dari tempat kami. Sebelumnya saya sendiri belum tahu khataman itu seperti apa, jadi baru kali ini saya tahu setelah mengikuti acara tersebut.  Pada khataman ini kami seolah-olah dianggap sebagai tamu kehormatan oleh sang tuan rumah, karena selain kami hanya ada Pak Tarmin, Pak Darkoun, dan saudaranya Pak Tarmin saja yang mengikuti khataman tersebut. Jalan acaranya adalah pertama Juz satu sampai tiga puluh ditulis berurutan, kemudian setiap orang melingkari satu nomor juz dari ketiga puluh tersebut. Kemudian, nomor yang dilingkari tersebut dibaca oleh orang yang melingkarinya. Setiap satu juz yang selesai dibaca, maka beralih ke juz lainnya yang belum dilingkari nomornya di kertas yang disediakan tadi. Begitulah seterusnya, sampai semua juz terbaca. Dan salah satu dari kami membacanya menggunakan pengeras suara yang menghadap ke jalanan.

Sebelum khataman usai, kami disuguhi makanan yang banyak sekali oleh tuan rumah. Sehabis makan-makan, kami juga masih dibungkusi makanan sebanyak tiga tingkat, yang pertama makanan besar, kedua makanan ringan, ketiga makanan besar tapi dalam porsi yang lebih kecil. Usai dibungkusi itu, barulah kami bisa meninggalkan tempat yang cukup royal tersebut. 

Acara kedua diselenggarakan sebelum Isya, yang ini pengajian biasa namun suguhannya sama luar biasanya dengan acara tadi siang. Di tengah acara kami disuguhi makan dan sebelum pamitan juga dibungkusi makanan lagi. Dipikir-pikir makanan tadi siang saja masih ada, sekarang siapa yang mau menghabiskan makanan yang baru didapat ini? Masing-masing teman ada, kasih ke tetangga semuanya pada ikut acara juga. Baiklah, akan saya simpan buat besok dan tinggal dihangatkan saja nanti. Pulang dari pengajian itu langsung kami shalat Isya, tidak lama setelah shalat kami diajak oleh Pak Tarmin menghadiri ngaji lagi di rumah warganya. Suguhannya sama, makanan yang banyak telah disediakan bagi kami. Ada makanan besar yang dimakan di tempat, lalu ada juga makanan yang dibungkus dan dibawa pulang. 

Dengan tiga bungkus makanan yang ada, saya menjadi sedikit kebingungan bagaimana menghabiskannya. Selain dibesokkan, makanan ini juga dicampur dengan yang lain. Jadi, yang bagian piket tidak usah capek-capek masak, cukup menghangatkan saja makanan yang sudah ada tersebut. Setelah pulang dari pengajian yang ketiga ini, mata saya sudah terlalu lelah untuk dipaksa terbuka lebih lama. Pada khataman tadi siang saja saya sudah setengah mati menahan kantuk yang sangat, namun karena dapat giliran baca yang dijaharkan pakai speaker, maka ngantuk tersebut menjadi hilang. Tapi, bagaimanapun juga sekarang lebih baik saya langsung tidur saja dan akhiri Hari Ke 13: Terkagum Aksi Vokal Seekor Burung, biar makanan ini urusannya dilanjutkan besok pagi. []
Gambar: http://www.kumpulangambar.com/gambar-burung.php