Hari Ke 16: Rizki yang Tak Terduga | Suratan Makna

Hari Ke 16: Rizki yang Tak Terduga

Posted by ridwan yahya Thursday, February 7, 2013 3 Comment/s

Hari ke 16: Rizki yang Tak Terduga

Setengah empat di sini seakan sudah menjadi tradisi untuk bangun pagi, sampai meskipun tidak bangun pada jam tersebut setidaknya sudah ada yang membangunkan. Terkait yang susah dibangunkan, banyak alasan yang menyebabkan orang tersebut tidak langsung bangun. Mungkin kelelahan, tidur terlalu malam, atau alasan positif apa saja yang menghalanginya untuk bangun dini hari. Meskipun dini hari susah bangun, tapi shubuhnya tetap bangun untuk shalat. Kemungkinan waktu shalat shubuh tidak bangun itu sangat kecil, walaupun ada, sungguh keterlaluan sekali. 

Ba’da shubuhnya kami semua wirid, kemudian berlanjut ke kultum. Di kampus, kegiatan ba’da shubuh ini bukanlah kultum, tapi kajian kitab yang berbeda dengan kultum itu sendiri. Kajian kitab ini punya waktu yang lebih lama, bisa mencapai maksimal satu jam atau sekurang-kurangnya setengah jam saja. Dan yang mengisi bukan dari jajaran mahasiswa, namun para ustadz sendiri yang tinggal di sekitar kampus. Kajian tersebut bertempat di beberapa lokal yang terpisah menurut angkatannya masing-masing, bukan di Masjid yang sudah ada jadwalnya sendiri dan ditempati oleh kajian lainnya. Namun, dulu kajian kitab ini dilangsungkan di Mushalla, dan semua mahasiswa di tiap angkatan berkumpul di sana dalam satu ruangan yang sebenarnya kurang luas. 

Perubahan itu didasari terhadap efektifitas proses pembelajaran pada kajian kitab tersebut, mengingat tidak sedikit mahasiswa yang sudah semester sekian tapi kemampuan baca kitabnya masih kurang. Oleh karena itu, kajian kitab sekarang dipisah-pisah menurut semesternya. Sedangkan terkait kultum yang kami adakan  di sini menjadi pengganti dari pada rutinitas, dalam melangsungkan kajian kitab  yang ada di kampus pada setiap ba’da shubuhnya. Jika kami mengadakan kegiatan yang sama seperti kajian kitab di kampus, jujur di antara kami masih belum ada yang cukup expert untuk memimpin kajian di depan teman-temannya yang lain.

Usai kultum pagi, saya, Zakir, dan Yohan langsung pamit mengundurkan diri dari Mushalla. Sebenarnya, setelah kultum masih ada rapat koordinasi. Tapi, seolah-olah kami telah mengetahui apa yang akan diinstruksikan ketua, maka kami pun langsung menuju rumah untuk menyiapkan makan pagi. Karena, instruksi bagi yang piket pada setiap harinya sama saja, selain piket bersih-bersih dan masak kami dicukupkan untuk tinggal menjaga rumah saja. Sedangkan, yang lain mesti aktif menyebar keluar rumah dan mesti berinteraksi dengan warga-warga sekitar.

Usai makan pagi, waktu itu selain kami bertiga sebagian ada yang sibuk ke Balai Desa, karena kebetulan hari ini diadakan acara pengobatan gratis dan bazar murah yang kami adakan di tempat tersebut. Dalam pelaksanaannya, kami bekerja sama dengan Politeknik Malang yang kebetulan mengadakan acara serupa dalam waktu yang bersamaan dengan kami. Namun, yang menjadi alasan mereka bergabung dengan kami adalah pihak Politeknik belum mengantongi perijinan dari Desa dan Kabupaten, sedangkan kami sudah. Tapi, mereka sudah mempersiapkan tim medis lengkap dengan barang-barang pengobatan lainnya yang kami belum cukup matang untuk itu. Jadi, di antara kami mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing dan peranan untuk saling melengkapi satu sama lain, sehingga acara pengobatan gratis pun bisa berjalan dengan lancar. 

Di sudut lain dari Balai Desa ada bazar murah yang dikelola oleh kami sendiri, yang terlepas dari kerja sama dengan Politeknik seperti pada acara pengobatan gratis tadi. Menurut penuturan seorang teman yang ada di TKP, banyak warga yang sangat antusias terhadap acara tersebut. Hal itu dikarenakan harga rata-rata yang dipatok pada barang-barang yang dijajakan terbilang sangat menghebohkan warga. Maka dari itu, banyak juga warga yang berebut menginginkan barang yang sama. Akibatnya, teman saya yang bertugas melayani pelanggan yang membludak itu pun kebingungan untuk mengurusinya. 

Meskipun pembeli terbilang banyak, tetap saja masih ada pakaian yang tersisa. Tapi, sisanya tersebut kami serahkan semuanya ke pihak Desa yang mungkin lebih tahu siapa yang membutuhkan pakaian-pakaian tersebut. Jadi, anggap saja pakaian-pakaian tersebut telah habis tidak tersisa. Namun, ada saja insiden yang hampir menjadi perselisihan serius di antara kami pada acara tersebut. Sejumlah pakaian yang telah dipesan sengaja disimpan rapi di bawah meja dagangan, tapi seorang teman yang karena ketidaktahuannya malah menjual baju-baju tersebut begitu saja. Akhirnya, orang tersebut menjadi sasaran makian teman-teman lainnya yang butuh sekali dengan pakaian tersebut. sempat, baju-baju itu diminta lagi dari pembelinya tapi pembeli tersebut enggan mengembalikan lagi.Terlepas dari ketegangan di atas, masih ada lagi kesalahpahaman lainnya yang menampakkan acara tersebut kurang terkoordinir. Tapi bagaimanapun juga kami tetap mengapresiasi terselenggaranya acara tersebut yang cukup membantu warga untuk memenuhi sedikit kebutuhannya.

Di tempat lain, kami yang bertugas piket masak sedikit kebingungan hendak masak apa siang itu. Tapi, ternyata Irma datang ke dapur kami seolah-olah dia tahu jawaban tepat atas semua kebingungan kami bertiga. Siang itu dia membawa sejumlah lauk yang mantap sekali untuk kami santap, kebetulan karena sebagian dari kami ada yang masih di Balai Desa, jadi lauk itu pun sangat cukup sekali buat kami semua yang ada di rumah. Memang, keluarga Irma ini baik sekali kepada kami, kami pikir hampir setiap hari keluarganya mengantar makanan buat kami. Kalau bukan makanan berat, camilan yang datang, atau lauk pauk yang rasanya enak sekali juga diantarnya secara tidak terduga. Subhanallah.

Siang menjelang asharnya kami didatangi lagi oleh dua orang dari Balai Desa, kedatangan mereka ini bukan untuk mengantarkan makanan buat kami. Tapi, satu dari dua orang ini adalah teman saya dari pos lain yang mengantar satunya lagi yang merupakan dosen kami dari Surabaya. Kedatangan beliau ke sini sebagai kunjungan rutin dosen STAIL ke lokasi KKN yang dilakukan setiap minggu, pada setiap pekan tersebut beliau bergantian dengan dosen lainnya guna memantau perkembangan  kegiatan yang ada di sini. Sebelum Ashar, beliau kembali lagi ke pos tiga saat hujan siang itu mulai reda.

Sore hari kami kembali dikirimi oleh keluarganya Irma setoples besar keripik singkong yang gurih sekali. Lagi-lagi kedatangannya tidak diduga-duga oleh kami sebelumnya, sungguh tidak nyana. Rizki memang tidak ke mana, apalagi hari ini rizki tersebut datang begitu saja dan tidak diduga sebelumnya. Namun, hal ini jangan sampai membuat kita menjadi sosok yang terlalu bergantung pada uluran tangan tetangga yang sering memberi kita santunan tersebut, contohnya meskipun tetangga sering memberi lauk untuk kita makan, tapi di dapur kompor kita sendiri harus tetap mengepul. Karena, datangnya pemberian itu tidak pada waktu yang ditentukan. 

Demikianlah Hari ke 16: Rizki yang Tak Terduga, semoga bermanfaat. []
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA

Judul : Hari Ke 16: Rizki yang Tak Terduga
Ditulis Oleh : ridwan yahya
Rating Blog : 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://suratanmakna.blogspot.com/2013/02/hari-ke-16-rizki-yang-tak-terduga.html. Sekali lagi terima kasih sudah singgah membaca artikel ini. ^_^

3 Comment/s:

♥VPie◥♀◤MahaDhifa♥ said...

.. ouw,, ini maksudnya cerita diary gitu?!? cz aq pikir ada apa dengan rizki. he..86x. oia kayaknya aq gak asing, namun kok beda ya?!? emmmm,, ..

Hyeongnim Wan said...

@♥VPie◥♀◤MahaDhifa♥ ya, gitulah. :D
gak asing, tapi beda? apanya tuh?

♥VPie◥♀◤MahaDhifa♥ said...

.. kayaknya aq dulu pernah kesini n liat url nya. namun tampilannya kok beda?!? ato aq salah n gimana nich?!? jd bingunk aq. he..86x ..