Hari Ke 4: Giliran Piket | Suratan Makna

Hari Ke 4: Giliran Piket

Posted by ridwan yahya Friday, February 1, 2013 0 Comment/s

Hari Keempat, 6 Juli 12: Giliran Piket

Jam setengah empat saya beranjak dari tempat tidur, menerjang hawa dingin pagi itu saya pun meluncur ke kamar mandi. Dari semalam tadi perut saya terasa mules, mungkin karena terlalu banyak makan sambel buatan Rauf. Namun, saya akui sambel buatannya itu memang mantap. Tapi, menyesal juga kalau konsekuensinya harus begini, perut mules yang berujung ke tempat pemancingan lele. 

Adzan tiba, kami pun beranjak shalat shubuh berjamaah di Mushalla. Usai shalat dilanjutkan wirid, kemudian kultum pagi disampaikan oleh ust. Yohan yang didatangkan langsung dari Batang, Jateng. Penyampaiannya pun cukup singkat saja. 

Saat setelah kegiatan di Mushalla usai, kami pun bubar melanjutkan aktifitas pagi lainnya. Saya, Zakir, dan Yohan langsung sibuk di dapur yang memang hari itu merupakan jadwal kami piket masak. Sebuah cita rasa perpaduan asli antara daerah Cianjur, Balikpapan, dan Batang bercampur menjadi satu di dapur sederhana ini. Namun, karena mind set kita yang memang sudah sama dalam hal makanan, maka kami tanggalkan background cita rasa antardaerah itu pokoknya yang penting masak, buat masakan, lalu makan. Soal masakannya enak atau tidak ya.. anggap saja enak.

Disamping memasak, kami bertiga pun mesti membersihkan rumah yang kami tempati. Maka dari itu, tidak semuanya bertiga sibuk di dapur. Setelah masakan siap, anggota Pos dikumpulkan. Kami membentuk formasi melingkar sambil duduk bersila di luar rumah. Acara sarapan berlangsung tidak terlalu lama, karena kebanyakan anggota pos kami makannya cepat-cepat. 

Setelah sarapan, proyek terbaru dijalankan. Pak Tarmin bersama warganya pergi ke jalanan untuk memperbaiki jalan-jalan yang rusak. Semua warga yang semalam tadi dikumpulkan di acara pengajian telah diinstruksikan untuk kerja bakti esok paginya. Tiga orang di dapur, sementara yang lainnya ikut Pak Tarmin menyusul warga yang sudah ada di TKP. Saya kurang tahu persis apa yang terjadi di jalanan dusun sana, yang jelas warga dan mahasiswa KKN tengah sibuk mengecor dan perbaiki jalan-jalan yang rusak. 

Setelah urusan di rumah selesai, jam setengah sepuluh saya ikut teman-teman ke kebun milik warga. Bersama pemiliknya ada saya, Yasin, Husairi, Basirun, Umam, dan Rauf. Serta tidak ketinggalan juga Nur Alfiah anak Pak Tarmin bersama anak warga lain yang belum saya kenal, bilangnya mereka cuma mau cari sinyal HP.  Dalam perjalanan menuju kebun yang dituju, di kiri-kanan kami ada ladang milik warga yang banyak ditumbuhi berbagai macam tanaman, namun yang jadi primadona di sini adalah tembakau dan sawit termasuk di kebun milik warga yang akan kami singgahi ini.
Setibanya di kebun, perburuan pertama tertuju pada pohon kelapa. Ibu pemilik kebun meminta kami memanjat pohon yang rendahan saja, namun Rauf kurang menghiraukannya. Akibatnya, setiap kelapa yang ia petik malah dapat yang tua terus. Berbeda dengan Husairi yang panjat pohon lebih rendah, ia selalu dapat yang muda. Jika Rauf dan Husairi sedang di atas pohon, kami yang dibawah cuma bisa bantu pungutin saja, lebih-lebih saya bisa bantuin doa. Sehabis metik kelapa, coklat juga diembat sama Rauf. Memang rauf nih.. tapi, pas tahu ada makanan saya ikut makan juga sih. 

Selama di kebun kami tidak hanya menjarahi hasilnya saja, tapi Ibu sebagai pemilik kebun juga kami bantu. Ada jagung yang baru dipanen kami bantu kupasin, ada barang yang perlu dibawa kami bawain. Pokoknya seimbang lah, antara makan hasil kebun dengan membantu pemiliknya.

Jam setengah sebelas, kami pun pulang membawa hasil yang membanggakan. Alhamdulillah. Kemudian kami pun bersiap-siap pergi shalat jum’at ke Masjid. Untuk shalat jum’at saja, kami harus menempuh jarak yang lumayan jauh antara Pos ke Masjid yang dituju. Ada sekitar 700 m jarak yang mesti ditempuh oleh kami untuk shalat jum’at di Masjid itu. Awalnya kami belum tahu di mana dan seberapa jauh Masjid tersebut, maka dari itu saya berempat jalan kaki menyusul yang lain yang sudah duluan pergi.

Usai shalat jum’at, pulangnya saya jalan kaki bersama yang lain. Yohan yang setim piket masak dengan saya, balik duluan dengan Yasin pake motor. Sedangkan saya dengan Zakir, malah ditinggal jalan kaki. Ya sudah, biar saja Yohan sibuk sendirian menyiapkan makanan siang buat teman-teman. Sesudah makan siang, mahasiswa bebas berakifitas. Saya sendiri sibuk mengetik lanjutan tulisan yang  belum jadi. Sejam kemudian, saya tinggal tidur Acer milik saya.

Kumandang adzan Ashar membangunkan kami yang kebanyakan pada tidur siang karena kelelahan, kemudian semua beranjak bersiap-siap dan mengambil air wudlu ke kamar mandi. Saat prosesi shalat tengah berlangsung, anak-anak yang hendak mengaji telah banyak mengisi Mushalla. Kali ini jumlah muridnya lebih banyak dari pada hari kemarin, mungkin ada sekitar 20-an. Sehabis Ashar itu kami pergi seperti biasa bersilaturahmi ke rumah-rumah warga, sekembalinya dari sana saat menjelang maghrib. 

Maghrib usai, saya, Zakir, dan Yohan langsung pergi ke dapur. Tapi, Yohan nih malah pergi lagi keluar sama Rauf, entah pada ke mana. Terpaksa kami berdua saja yang menyiapkan makan malam buat teman-teman. Acara makan kali ini tempatnya berbeda, tidak seperti yang biasanya digelar di depan rumah. hal ini karena di luar lagi rame dan teman-teman lagi pada tidak ada di rumah,  jadi makan malamnya di ruang tengah saja. Menjelang Isya, semuanya sudah beres tinggal mempersiapkan diri shalat berjamaah di Mushalla. 

Setelah shalat Isya dan wirid, kami langsung bertolak kembali ke rumah. Dan tidak lama setelah kami kembali dari Mushalla, barulah bagiannya Rauf dan Yohan balik ke rumah. Lalu, kegiatan malam ini pun berlanjut pada agenda masing-masing. Fahrurrazi menyampaikan sesuatu pada Marhalim, bahwa tetangga sebelah memerlukan tenaganya. Persisnya saya tidak tahu tenaga apa yang diperlukan tetangga tersebut dari dia, mungkin benerin barang elektronik. Yang dipanggilnya Marhalim, Rauf dan yang lain malah ikut-ikutan juga ke tempat tetangga.

Sekembalinya dari rumah sebelah, Marhalim balik ke rumah sambil tangan kanan mengelus-elus perutnya, ditambah ekspresi wajah yang menunjukkan bahwa mereka habis makan-makan di sana. Puasnya mereka, tuh. Kalau tahu begini, kenapa tadi saya nggak ikut juga. Huft. Usai sudah Hari Keempat, 6 Juli 12: Giliran Piket[]
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA

Judul : Hari Ke 4: Giliran Piket
Ditulis Oleh : ridwan yahya
Rating Blog : 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://suratanmakna.blogspot.com/2013/02/hari-keempat-6-juli-12-giliran-piket.html. Sekali lagi terima kasih sudah singgah membaca artikel ini. ^_^

0 Comment/s: