Hari Ke 6: Bersua di Haflah Akhirus Sanah | Suratan Makna

Hari Ke 6: Bersua di Haflah Akhirus Sanah

Posted by ridwan yahya Friday, February 1, 2013 0 Comment/s


Dari kamar tidur saya terbangun jam tiga, kemudian beranjak menuju kamar mandi yang berada di luar rumah. Keluar dari lawang, lagi-lagi saya harus berurusan dengan hawa dingin yang kerap menghadang jalan saya. Namun, tetap saya paksakan diri saya untuk menerjang semua rasa dingin yang menghampiri. 

Pada jam itu saya berniat mandi, supaya saat tiba waktunya nanti akan berangkat ke tempat acara saya tidak repot-repot lagi mengantri untuk mandi. Memang tadi malam saat wirid selesai, Pak Ketua mengharuskan kami menyiapkan diri sepagi mungkin supaya tidak telat menghadiri Haflah Akhirus-Sanah tersebut. 

Usai mandi, saya pergi shalat lail. Tibanya ba’da Shubuh ada dua jam bagi saya untuk menulis deskripsi kegiatan KKN ini sebelum berangkat ke PONPES Miftahul Ulum Mentaraman, Donomulyo. Di sudut lain ada Rauf bertiga bersama yang lain sibuk menyiapkan masakan, karena memang hari ini adalah jadwal mereka untuk piket masak sekaligus kebersihan. Saat sarapan siap, saya pun meninggalkan netbook saya sementara. 

Sarapan pagi waktu itu saya selesaikan dengan cepat, agar saya bisa segera kembali mengerjakan tulisan saya yang belum jadi. Di sisi lain, teman-teman tengah sibuk mempersiapkan diri sebelum berangkat ke tempat acara. Saat semuanya telah siap, mini bus pun datang menjemput kami tepat pada jam tujuh pagi. Namun, selang lima puluh menit kemudian bis tersebut baru bisa menghidupkan mesinnya. Karena, dari tadi kami menunggu tuan rumah yang baru bisa berangkat sejam setelah kami siap.

Dengan mini bus merah yang kami tumpangi, semua pun berangkat menuju PONPES yang didirikan oleh sesepuh asli Lombok itu. Saya kira bahwa tempat yang kami tuju ini akan jauh keluar Donomulyo. Namun, ternyata dekat saja. Saat turun dari bis, kami telah disambut oleh warga dan petugas keamanan yang tengah berjaga di sana. Melalui penampilan kami, mereka pun sudah bisa menebak kalau kami adalah mahasiswa yang lagi KKN di kampungnya. 

Dari seberang jalan yang belum diaspal, rombongan kami pun berjalan menuju gerbang masuk PONPES tersebut. Terlihat ada resepsionis yang sudah siap dari tadi menyambut semua tamu yang datang. Beranjak dari resepsionis, kami pun tak luput dari sambutan bapak-bapak alumni PONPES yang sudah datang duluan dan mengharuskan kami menyalami mereka semua satu persatu. Setelah banyak menyalami tamu undangan, akhirnya kami bisa duduk di teras Masjid yang menghadap langsung ke panggung acara. 

Di saat kami menunggu acara dimulai, ada seorang mbah menghampiri kami dengan sorban hijau yang dikenakan di pundaknya. Beliau menyalami kami semua, dan sempat berbincang-bincang juga dengan kami. Namun, karena saat perbincangan dengan beliau kami kurang aktif, maka beliau pun permisi meninggalkan kami. Awalnya kami belum tahu jika KH. Solikhin ini adalah orang yang dituakan di PONPES. Padahal, ketika beliau berbincang-bincang dengan kami banyak tamu yang menghampiri dan menciumi tangannya. Tapi, kami baru sadar saat ada teman yang memberitahu kami bahwa beliau adalah pendiri Pondok Pesantren ini.

Betapa lamanya kami menunggu acara haflah dan reuni ini dimulai, sampai-sampai saya, Zakir, dan Marhalim yang duduk di sebelah ujung kepanasan terkena teriknya matahari pagi yang menjelang siang. Dalam masa penantian itu pula, kami melihat pemandangan yang tidak kami perkirakan sebelumnya. Ternyata rombongan satu pos mahasiswa KKN UNMUH Malang juga menghadiri acara akbar tersebut. Satu persatu bagian laki-lakinya masuk ke tempat kami duduk dan sebagian dari mereka juga sempat bersalaman dengan kami. 

Sedangkan bagian perempuannya duduk di tribun berbeda yang masih berhadapan dengan tribun laki-laki. Di antara mereka ada dua orang yang bertugas sebagai juru foto, satu di bagian laki-laki dan satu lagi di bagian perempuannya. Dan Kamera yang mereka gunakan bukanlah kamera sembarangan, tapi kamera profesional yang entah apa mereknya. Keren memang, jika dibandingkan dengan kami yang hanya memiliki satu kamera digital yang dikhususkan untuk dokumentasi, dan itupun juga berebut dengan pos-pos yang lain. Namun, hal tersebut tidak menjadi kendala bagi kami. Meskipun keadaan kami seperti ini, kami masih bisa fokus menjalankan program-program KKN yang telah diagendakan. 

Rangkaian acara diisi oleh sambutan-sambutan yang salah satunya disampaikan oleh pendiri PONPES Miftahul Ulum yang tadi sempat bersalaman dengan kami. Terkait beliau, keterangan terakhir yang saya dapati berbeda dengan pernyataan sebelumnya. Menurut Pak Tarmin, beliau aslinya memang orang sini. Jadi, bukan orang asli Lombok. Karena Pak Tarmin merupakan murid beliau, maka saya percaya sama dia. Dalam sambutannya beliau berbicara lembut sekali, suaranya kecil namun meyakinkan. Meskipun sudah lanjut usia, bahasa yang beliau gunakan tidak sepenuhnya bahasa Jawa tapi bahasa Indonesia pun beliau bisa. 

Setelah sambutan KH. Solikhin selesai, kemudian panitia mempersilahkan Ust. Kholili yang didatangkan langsung dari Kepanjen untuk mengisi acara inti, yaitu Mau’idzah Hasanah. Beliau menyampaikan sebagian materi dari kitab Ta’lim Muta’alim yang beliau kuasai. Penyampaiannya sangat khas sekali dengan logat maduranya yang sesekali beliau tunjukkan. Ya, ternyata beliau orang Madura yang sebelumnya banyak tamu tidak menyadari hal tersebut. Itu dikarenakan beliau yang sudah cukup mahir menguasai bahasa Jawa. Dan selama beliau berbicara di depan, bahasa Jawa terus yang mendominasi kata-katanya. Saya dan teman-teman yang hadir kebanyakan tidak mengerti apa yang beliau maksudkan, sekali beliau melucu pun kami malah keheranan, lucu karena apa? kalau kami tertawa juga tertawa yang tidak jelas. Cuma ikut-ikutan yang lain ketawa saja. 

Setelah acara inti, acara pun ditutup. Namun, sebelum kami beranjak pergi meninggalkan tempat acara, panitia menggiring kami ke sebuah rumah yang di dalamnya sudah tersaji makanan yang enak dan banyak sekali. Selain kami, mahasiswa UNMUH juga telah duluan masuk dan menempati tempat duduk strategis  yang dipenuhi dengan piringan kue. Baiklah, biar mereka mendapatkan rejekinya. Dan alhamdulillah, meskipun kami hanya menyantap makanan berat saja. Setelah bagian kami selesai makan semuanya, kami pun pamit meninggalkan rumah tersebut. Singkat memang, tapi karena jemputan sudah menunggu kami pulang, maka tidak ada pilihan lagi selain sehabis makan kami langsung pamit.

Tiba di Pos, kami pun langsung shalat dzuhur. Setelah itu sebagian dari kami ada yang tidur siang, sedangkan saya kembali ke pangkuan netbook guna mengerjakan tulisan yang terus selalu ada. Ba’da asharnya, banyak anak-anak yang mengaji meramaikan suasana Mushalla sore hari itu. Ketika anak-anak pulang ke rumahnya masing-masing, Mushalla pun kembali seperti semula. Hanya kami saja yang meramaikannya.

Sampai tiba waktunya malam, semua aktifitas berjalan sebagaimana biasanya. Waktu menunjukkan pukul sepuluh saat Irsyad dan Umam baru pulang dari Pos kesekretariatan. Kepulangan mereka melanjutkan obrolan Yohan dengan Pak Tarmin yang berlangsung di ruang tengah. Obrolan tersebut berlangsung hingga larut malam, saat saya memutuskan untuk tidur lebih awal dan mengakhiri Hari Keenam, 8 Juli 12: Bersua di Haflah Akhirus-Sanah ini. []

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA

Judul : Hari Ke 6: Bersua di Haflah Akhirus Sanah
Ditulis Oleh : ridwan yahya
Rating Blog : 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://suratanmakna.blogspot.com/2013/02/hari-keenam-8-juli-12-bersua-di-haflah.html. Sekali lagi terima kasih sudah singgah membaca artikel ini. ^_^

0 Comment/s: