Hari Ke 12: Hujan Pertama | Suratan Makna

Hari Ke 12: Hujan Pertama

Posted by ridwan yahya Monday, February 4, 2013 0 Comment/s

Ilustrasi

Terbangun dari lelapnya tidur tadi malam, saya langsung ke luar rumah hendak menuju kamar mandi yang berada di luar. Tersadar dari tidur yang lelap malam tadi, Kultum yang disampaikan oleh Pa Che, telah cukup mengakhiri kegiatan kami di Mushalla pada shubuh tadi. Usai itu, kini saatnya saya, Zakir, dan Yohan sibuk menyiapkan makanan untuk sarapan pagi. Persiapan yang kami lakukan kali ini cukup terlambat, karena kami mulai memasak nasi saja pukul lima lebih dua puluh menit. Berbeda dengan biasanya, yang pukul lima pas sudah bisa dimasak. Keterlambatan ini menuai sedikit protes dari teman-teman saat makanan telah siap disajikan. Karena, mereka merasa sudah terlalu lama menunggu kami menyiapkan makanan yang baru disajikan pada pukul tujuh lebih dua puluh menit.

Agenda hari ini seakan-akan terpending dari segala aktifitas, dikarenakan air hujan yang secara terus menerus turun semenjak tengah malam tadi. Hujannya tidak deras sama sekali, namun butiran airnya tidak henti-henti jatuh sepanjang hari. Seusai sarapan pagi, kami yang biasanya pergi menyebar ke mana pun yang kami kehendaki kini hanya bisa terkurung di dalam rumah. Seolah-olah menanti hujan berhenti, kami benar-benar hanya bisa diam dan tinggal di rumah saja. Jikalau kami memaksakan pergi keluar atau ke ladang, dikhawatirkan tidak ada yang punyanya sama sekali. Maka dari itu, kami lebih memilih untuk tinggal diam di sekitar rumah saja. 

Menyempitnya ruang gerak kami hari ini, terlihat saat beberapa orang dari kami yang biasanya suka pergi ke ladang, namun kali ini dia hanya bisa pergi ke rumah tetangga saja yang jaraknya memang tidak seberapa jauh dari rumah yang kami tinggali. Bagi saya, Zakir, dan Yohan yang merupakan petugas kebersihan dan masak hari ini, menganggap situasi ini biasa saja. Karena, dengan menjadi petugas piket, maka semua kewajiban yang mesti dilaksanakan hanya ada di sekitar rumah saja. Di tengah rintikan hujan waktu itu, saya berada di Mushalla untuk membersihkan tempat tersebut yang sebenarnya tidak tampak kotor sama sekali, karena Mushalla tersebut memang setiap hari dibersihkan. Namun, karena sudah menjadi agenda tempat yang mesti dibersihkan, maka mau tidak mau Mushalla tersebut mesti disapu dan dipel bersih. Serta tidak lupa kaca jendela dan langit-langitnya mesti dibersihkan terlebih dahulu juga.

Di tempat lain, Zakir tengah sibuk membersihkan rumah berikut dengan dapur yang kotor sehabis tadi dipakai masak. Sedangkan, Yohan pergi keluar belanja keperluan dapur. Namun, di sudut lain teman-teman yang tidak bertugas tengah asyik dengan kesibukannya mesing-masing. Menurut salah seorang teman saya, kalau dingin-dingin kayak begitu condong kepingin tidur terus. Alasannya, karena situasi yang memang mendukung untuk begitu ditambah lagi kalau mau berkatifitas juga tidak bisa, tidak seperti biasanya.

Semenjak pertama kami berada di sini, belum pernah ada hujan sama sekali selain hujan yang tengah mengguyur Desa Purwodadi ini. Dan sekalinya hujan turun, sepanjang hari butiran air dari langit tidak ada henti-hentinya jatuh bersamaan dengan dinginnya angin yang berhembus. Menurut warga yang saya temui, di daerah tersebut memang sudah lumayan lama tidak turun hujan yang dimungkinkan juga karena sekarang sudah menginjak musim panas, ujarnya. Sehingga, hujan yang turun ini berlangsung hanya sesekali saja. Menyimak sedikit penjelasan tersebut, maka saya pun memaklumi dan tidak heran lagi jika hujan ini tidak bosan-bosan mengguyuri tanah Sumber Blimbing. Namun, yang disayangkan pakaian yang saya jemur mesti menjadi korban karena hujan tersebut. Semua jemuran yang digantung di belakang rumah menjadi basah semua, padahal sudah dijemur seharian kemarin dan lupa belum saya angkat.

Saat bersih-bersih di Mushalla, tampak dua anak tetangga yang sedang dimandikan di tengah guyuran hujan. Terlihat juga Rauf yang lagi sibuk mengurusi dua anak yang bernama Adil dan Dafa itu. Karena masih bocah, asik saja kedua anak-anak itu mandi di luaran rumah sambil telanjang. Sehingga, terlihat jelas bagaimana bentuk tubuh Adil yang gendut, berbeda dengan tubuh kecil Dafa yang kurus-kurus. Usai dimandikan oleh Rauf, kemudian Dafa dan Adil diambil alih oleh Nur yang biasa mereka sebut sebagai mbak Nung. 

Sedikit menyinggung Nur, seperti yang pernah diceritakan sebelumnya kalau dia adalah anaknya Pak Tarmin sang Kepala Dusun, dia baru saja lulus dari MAN yang ada di Donomulyo sini. Sebelum keberadaan kami, Nur berperan sebagai pengganti Bapaknya yang mengajar anak-anak mengaji di Mushalla. Namun, saat kedatangan kami di sini peranan Nur tergeser oleh kami, dan sekarang dia Cuma perlu menyimak dan sedikit membantu kami mengajari anak-anak TPA. Dengan posisi kami sekarang, harapannya bisa memberikan sesuatu yang baru, yang bermuatan positif demi berlangsungnya aktifitas TPA di Mushalla. Mengingat Mushalla ini adalah sentral dari pada Dusun Blimbing yang membuat semua warga dusun berkumpul di sini. Contohnya, selain kegiatan belajar mengajar seperti TPA, Mushalla ini juga setiap malam minggunya sering menyelenggarakan acara pengajian yang dikhususkan untuk remaja-remaja sini. Adapun pengisinya adalah seorang ustadz yang didatangkan jauh dari luar desa sini, tapi yang terakhir ini dari kami yang mengisi acara pengajian tersebut.

Sampai siang tiba, entah apalagi yang kami lakukan setelah tadi terakhir saya bersih-bersih di Mushalla. Tapi, saat sebelum dzuhur tiba, kami bertiga kembali sibuk menyiapkan makanan siang yang diperuntukkan bagi semua anggota Pos I. Usai makan siang, kini bagiannya  Yohan yang mesti mencuci piring dan membersihkan dapur yang berantakan sehabis dipakai barusan. Kalau Yohan sibuk dengan kewajibannya, maka kami berdua bebas melaksanakan aktifitas apapun. Oleh karena itu, saya langsung buka Netbook guna melakukan kebiasaan saya. 

Sampai tibanya Ashar, aktifitas menulis itu saya akhiri dengan tidur siang. Pada sore hari hujan masih saja mengguyuri tempat kami. Seakan tanpa hentinya, di saat ramainya geliat aktifitas Mushalla pun suara rintikan hujan mengiringi paduan suara anak-anak TPA yang tidak beraturan. Meskipun begitu, anak TPA tetap semangat menjalani  proses belajar bersama kakak-kakak KKN-nya. 

Kumandang adzan Maghrib menggema ke sekitar dusun Sumber Blimbing yang basah, dalam keadaan seperti itu semakin sedikit saja jama’ah yang tertarik untuk pergi shalat ke Mushalla. Namun, beberapa orang di antara kami ada juga yang masih pergi mengisi Mushalla di RT sebelah dengan konsekuensi tidak terlalu banyak orang yang mengapresiasi panggilan ke Mushalla. Meskipun begitu, insya Allah kami tetap konsisten untuk mengisi Mushalla tersebut dan tidak mau kalah dengan Pak Darkoun yang merupakan ketua jamaah di sana.

Ba’da Isya pada Hari Ke 12: Hujan Pertama ini, beberapa orang kembali dari Mushalla Baitussalam tersebut. Selama di sana Pak Darkoun lah ketua jama’ah yang menemani mereka mengobrol ngaloer ngidul. Setibanya di rumah itu, mereka langsung menuju dapur guna menyantap jatah makan malam mereka yang telah disiapkan sedari ba’da Maghrib tadi. Sedangkan, yang lainnya telah duluan makan sebelum Isya datang. []

Gambar: http://andrilex.blogspot.com/2012/04/tentang-hujan.html
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA

Judul : Hari Ke 12: Hujan Pertama
Ditulis Oleh : ridwan yahya
Rating Blog : 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://suratanmakna.blogspot.com/2013/02/hari-ke-12-hujan-pertama.html. Sekali lagi terima kasih sudah singgah membaca artikel ini. ^_^

0 Comment/s: