Hari Ke 10: Antara Shalat Isya dengan Yasinan | Suratan Makna

Hari Ke 10: Antara Shalat Isya dengan Yasinan

Posted by ridwan yahya Sunday, February 3, 2013 0 Comment/s

Shubuh ini saya lalui di sebuah Mushalla yang minim jama’ah itu, Baitussalam namanya. Sebelumnya, saya tidak berencana jika akan shalat di tempat tersebut. Namun, karena Basirun mengajak saya, maka saya pun langsung memenuhi ajakan tersebut. Waktu masih menunjukkan pukul empat pagi, saat kami bertiga berangkat menuju Mushalla tersebut yang berjarak setengah kilo meter dari rumah pos. Di tengah jalanan yang masih gelap, saya, Basirun, dan Yasin mengisi perjalanan dengan obrolan ngaloer ngidul. Sehingga, tak terasa jika kami telah sampai di Mushalla yang dituju.

Pintu yang menyambung ke pagar kayu Mushalla, melintang pada sebuah jalan yang mengantar kami masuk ke dalam Mushalla itu. Pintu Mushalla yang masih tertutup, lalu ditambah juga dengan lampunya yang belum menyala mengartikan bahwa belum ada orang selain kami bertiga di sana. Saat lampunya dinyalakan cahayanya sudah mulai redup, mungkin tidak lama lagi lampu ini akan diganti. 

Sebelum adzan shubuh berkumandang, kami melakukan shalat tahiyyatul masjid yang tidak lama setelah shalat tersebut waktu shubuh pun datang. Dengan suara terbaiknya, Yasin mengambil peranan sebagai muadzin Shubuh ini. Di tengah adzan yang berkumandang, datang seorang bapak-bapak yang sebelumnya telah diceritakan. Beliau adalah ketua jama’ah Mushalla tersebut, namun sayang selama ini beliau kesusahan menggaet jama’ah yang terdiri dari warga sekitar Mushalla. Terkait bapak ini, beliau mempunyai satu anak laki-laki yang sudah 10 tahun mondok dan sekarang tengah menjalani masa tugasnya di daerah Bromo. Menurut beliau, anaknya itu kini telah mengislamkan lima orang asli sana yang sebagaimana diketahui bahwa mayoritas penduduk Bromo, khususnya suku Tengger adalah beragama Hindu. Kini, beliau pun merindukan anaknya, karena beliau merasa sudah cukup lama tidak berjumpa dengan anak semata wayangnya itu.

Setelah iqamat, kemudian beliau maju menjadi imam. Suaranya begitu keras dan menggelegar ke seisi Mushalla. Tapi, sayang makharijul-huruf yang beliau ucapkan banyak yang tidak sampai, pikir kami mungkin itu karena faktor usia beliau yang sudah tergolong sepuh. Ketika shalat masih pada rakaat pertama, shaf kami ditambah lagi oleh seorang jama’ah yang usianya lebih tua ketimbang ketua jam’ah Mushalla tadi. Selesai shalat shubuh, lalu kami sedikit berbincang-bincang. Namun, dari apa yang diperbincangkan banyak yang tidak saya mengerti karena obrolannya yang berbahasa jawa.

Pukul lima lebih sepuluh menit, kami pun pamit meninggalkan Mushalla dengan dua orang bapak-bapak yang masih tinggal di sana. Saat keluar Mushalla ternyata langit masih gelap juga, tapi sekarang tidak terlalu seperti waktu berangkat tadi. Lima belas menit kemudian kami tiba di rumah Pos, di ruang tengah ada anggota Pos III juga yang kumpul bersama anggota Pos kami. Mereka datang ke sini guna berkoordinasi terkait program pengobatan gratis yang segera dilaksanakan.

Sebelum sarapan pagi siap, ada waktu sejam lebih buat saya santai-santai bersama netbook saya. Belum ada sejam saya pun merasa bosan, kemudian saya beranjak pergi ke tanjakan jalan guna mencari sinyal HP lalu menghubungi Aibara. Namun, kayaknya di sana dia lagi sibuk bersiap-siap untuk hari pertama kerjanya. Katanya, dia kerja di sebuah perusahaan penerbitan lalu menjabat sebagai editor PAI. Mendengar berita tersebut, saya pun jadi bahagia. Akhirnya, beberapa bulan mengharapkan kerja di sebuah penerbitan, kini tercapai juga. Memang, Aibara ini orangnya suka sekali bergelut dengan buku-buku, dan tentunya juga dia suka menulis. Maka, ketika kini dia bekerja di tempat semacam itu, insya Allah dia akan menjalaninya dengan senang hati. Sadar akan keadaannya yang lagi repot, maka saya pun mengakhirinya. Lalu, saya turun lagi dan balik ke rumah. Sesampainya di rumah,  Basirun, Yasin, dan Rauf belum juga selesai menyiapkan sarapannya. Sambil menunggu sarapan jadi, kemudian saya kembali ke netbook saya guna menulis lagi. Lima belas menit kemudian barulah sarapan pagi itu siap untuk disantap, dan saya pun beranjak meninggalkan tulisan saya sementara.

Setelah sarapan, kemudian kami membantu Pak Tarmin yang sedang mengayak pasir di samping Mushalla. Dua jam lamanya kami mengayak pasir yang banyak itu, lalu kami lanjut ke sebuah sumur yang ada di belakang rumah untuk menggalinya. Sebelum adzan berkumandang, semua kerjaan sudah kelar. Setelah Dzuhur, yang bagian piket masak sibuk menyiapkan makan siang. Namun, tidak memerlukan waktu lama, makanan pun jadi. Hidangan yang disajikan tidaklah begitu istimewa, biasa saja seperti kebanyakan menu yang telah dibuat. Sampai tiba Ashar kuhabiskan waktu dengan tidak ada mood menulis sama sekali, terlalu banyak kekecewaan pada hari ini sehingga kuberalih untuk langsung tidur saja.

Seorang teman menyadarkan saya jika Ashar telah tiba, aksinya itu memang berbarengan dengan berkumandangnya adzan dari Mushalla. Basirun pun maju menjadi Imam, memimpin kami mendirikan shalat Ashar berjamaah. Geliat aktifitas ba’da Ashar menyambung ramainya aktifitas shalat berjamaah tadi yang telah banyak diisi oleh anak-anak TPA mengaji. Terlihat betapa antusiasnya raut wajah anak-anak, yang tengah menyimak tayangan tata cara berwudlu yang benar yang ditampilkan pada sebuah proyektor/LCD. Kegiatan ini tidak berlangsung lama, karena dari sejam setengah belajar ngaji, waktu mereka mesti dibagi dengan belajar membaca al-Qur’an, menulis aksara Arab, dan lain-lain.

Seusai mengaji, gemuruh suara islami di Mushalla tidak surut begitu saja. Sambil menanti tibanya waktu Maghrib, Fahrurrazi dengan sigap menyetel murottal dari laptopnya. Lalu, dua puluh menit kemudian barulah adzan dikumandangkan. Sampai tibanya Isya, yang bertugas piket lagi sibuk-sibuknya menyiapkan makan malam kami. Sebelum yasinan yang akan dimulai sebelum Isya, makan malam kami sudah siap. Di antara kami yang tinggal di Pos hanya saya, Marhalim, dan Yasin, sedangkan yang lainnya pergi yasinan ke rumah warga yang dapat giliran untuk menggelar acara tersebut. Memang, yasinan di kampung sini biasa digelar di rumah warga secara bergilir, tidak seperti di tempat lainnya yang biasa dilaksanakan di Masjid saja. Lalu,  menurut saya sendiri yang menjadi permasalahan di sini adalah pelaksanaan yasinan ini terlalu mepet ke waktu shalat Isya. Sehingga, seringkali waktunya Isya tiba malah ditabrak begitu saja hanya karena yasinan itu. Dan saya rasa, hal ini tidak hanya terjadi pada acara yasinan saja, tapi acara-acara pengajian warga yang lainnya juga selalu dilaksanakan saat waktu shalat Isya tiba. Hal di atas sangat dikhawatirkan dapat memunculkan paradigma menyimpang terkait pentingnya mendirikan shalat awal waktu pada waktu-waktu shalat lainnya.

Tampak lima menit setelah saya shalat Isya di Mushalla, datang teman-teman yang baru selesai ngaji yasinan. Mereka langsung menuju Mushalla untuk shalat Isya yang belum sempat mereka laksanakan di tempat yasinan tadi. Saking sibuknya karena belum shalat, adzan Isya yang sudah dikumandangkan dua puluh menit yang lalu mau dikumandangkan lagi oleh mereka yang baru datang ini. Namun, kami cegah.

Sebelum menutup Hari Ke 10: Antara Shalat Isya dengan Yasinan ini, kebanyakan dari kami pergi keluar untuk bersilaturahmi ke rumah warga sekitar yang sebagian besar telah kami kenal, dan sering bertemu di banyak kesempatan pula. []
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA

Judul : Hari Ke 10: Antara Shalat Isya dengan Yasinan
Ditulis Oleh : ridwan yahya
Rating Blog : 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://suratanmakna.blogspot.com/2013/02/hari-ke-10-antara-shalat-isya-dengan.html. Sekali lagi terima kasih sudah singgah membaca artikel ini. ^_^

0 Comment/s: