Hari Ke 14: Pergelaran Tabligh Akbar | Suratan Makna

Hari Ke 14: Pergelaran Tabligh Akbar

Posted by ridwan yahya Tuesday, February 5, 2013 2 Comment/s

Hari Ke 14: Pergelaran Tabligh Akbar
Ilustrasi
Jika hari kemarin sibuk dengan acara pengajian, sekarang saya harus banyak berurusan dengan kamar mandi. Akibat dari semalam yang terlalu kebanyakan makan, maka sekarang saya merasakan konsekuensinya. Betapa perut ini tidak enak sekali rasa-rasanya, mungkin inilah yang dinamakan dengan begah. Pagi ini saja saya sudah beberapa kali pergi buang air besar, baru sejam setengah tadi buang air sekarang malah pergi buang air lagi. Tahu begini, saya jadi menyesal telah makan cukup banyak di pengajian-pengajian kemarin itu. 

Padahal jam delapan nanti kami akan dijemput oleh mobil pick up yang mengantar kami ke tempat acara Tabligh Akbar yang akan diselenggarakan nanti malam. Pagi ini kami hanya akan membantu mempersiapkan acara tersebut, bersama teman-teman Pos lainnya yang juga bergabung dengan kami. Sebelum berangkat saya pastikan diri saya siap untuk kerja bakti di sana, maka dari itu saya juga meyakinkan jika perut saya baik-baik saja selama berada di Pos lima tempat acara diselenggarakan tersebut.

Ketika mobil datang, hanya kami bertiga saja yang diangkut, yaitu saya, Zakir, dan Basirun. Sedangkan, yang lainnya telah pergi duluan, ada yang dengan motor berdua, bahkan ada juga yang jalan kaki menempuh jarak kurang lebih satu kilometer dari sini ke tempat tersebut. Dan beberapa orang saja yang tinggal di rumah yaitu mereka yang lagi tugas piket kebersihan dan masak. 

Tiba di tempat, kami langsung gabung bersama teman-teman dari Pos lain dan warga sekitar untuk berkoordinasi menyetting tempat acara sebaik mungkin. Panggung minimalis yang juga merupakan mimbar tempat penceramah tampil, terletak di depan masjid. Dikarenakan tanah kosong yang tersedia kurang luas, maka lahan yang biasanya digunakan untuk tanaman kami sulap menjadi tempat duduk bagi para tamu. Begitupun juga dengan teras rumah warga di sekitar lokasi, yang kami jadikan sebagai tempat lesehannya. Tidak lupa juga dengan tempat parkir yang ditempatkan persis di bahu jalan yang cukup lebar untuk menampung motor dan mobil yang parkir. 

Ada sekitar tiga jam, waktu yang kami habiskan untuk gotong royong tersebut, dan sekarang saatnya kami pulang ke pos masing-masing dengan satu tumpangan yang sama yaitu mobil pick up. Dari Pos lima, awalnya teman-teman minta pergi ke Sumber Blimbing dulu, katanya pengen keliling dulu ke Pos I kami. Jika seandaikan mau ke Sumber Blimbing dulu, maka mobil harus diputar balik. Dan bagaimanapun juga sopir yang lebih tahu, oleh karena itu mobil pun lurus saja searah dengan posisi parkirannya. Jadi, kami pun pergi menuju Pos dua dulu yang tempatnya cukup jauh ke pedalaman. Selanjutnya kami menuju ke Pos tiga yang tempatnya cukup strategis untuk menjangkau posko lainnya, tapi tetap jauh-jauh juga. Tidak usah berhenti terlalu lama, setelah mereka turun,  mobil pun kembali melaju menuju pos selanjutnya yaitu Pos empat. Pos empat ini adalah pos pecahan dari pada Pos tiga, begitupun juga dengan Pos lima yang merupakan pecahan dari pada Pos dua. Jadi awalnya KKN kami ini berjumlah tiga Posko saja, tapi dikarenakan Desa Purwodadi ini cukup luas, maka pergerakan kami pun lebih ekspansif lagi dengan pembentukan Pos yang baru. 

Dari Pos empat, mobil terus melaju menuju jalan raya Donomulyo untuk singgah sebentar di sebuah bengkel mobil. Dari sana, barulah mobil kembali ke jalanan utama Desa Purwodadi dan melewati lagi Posko-Posko yang tadi telah disinggahi termasuk Pos lima tempat kami kerja bakti tadi. Terhitung satu jam lamanya kami berada di atas mobil, selama itu juga kami cukup kepayahan menghadapi panasnya matahari siang yang lumayan panas, ditambah mobil yang kami tumpangi tersebut melaju dengan performa yang kurang baik. Namun, dari pada itu semua kami cukup menikmati perjalanan pulang tersebut. Baru kali itu saya bisa berkeliling desa yang sarat dengan kesan dan siratan makna yang terkandung di dalamnya. Betapa tidak, seolah-olah saya, Rauf, dan Basirun tengah berlomba menyapa orang-orang yang kami lewati dari atas mobil reot itu. Yang di ladang, di depan rumah, dan di jalanan tidak luput dari kami yang hanya mengandalkan kata “monggo” saja ketika menyapa orang-orang tersebut. Meskipun begitu, setiap mereka yang kami sapa tampak senang juga.

Ba’da dzuhur kami tiba di rumah, kemudian ke kamar mandi mengambil wudlu lalu shalat. Di sudut lain, makan siang sudah menunggu kami. Maka, ketika shalat telah selesai kami langsung menyerbu dapur. Perjalanan yang lama tadi cukup menguras perut saya, sehingga betapa lahapnya kami menyantap makanan itu. Usai makan, saya pun beranjak menuju kamar untuk bergelut dengan tulisan yang baru. Sebelum Ashar tiba, saya tutup aktifitas siang ini dengan tidur lelap sampai adzan dikumandangkan.

Seperti biasa, ba’da Ashar geliat aktifitas sore hari diramaikan oleh anak-anak TPA yang mengaji di Mushalla. Namun, kali ini yang mengajar cukup satu orang saja, mengingat banyak dari kami yang tengah bersiap-siap pergi menuju acara Tabligh Akbar yang kami selenggarakan di Pos lima. Namun, sampai Maghrib usai mobil yang dijanjikan akan menjemput kami belum datang juga. Tapi, tidak lama kemudian mobil yang ditunggu-tunggu pun datang juga. Bersama kami ada beberapa warga yang ikut ke pengajian tersebut, termasuk mbah Supi yang pernah saya ceritakan kemarin. Meskipun sudah termasuk sepuh, namun beliau masih cukup bugar untuk menghadiri pengajian-pengajian seperti ini. Mengingat di kampugnya saja, saya sering lihat beliau juga yang selalu hadir di tiap acara yang warga selenggarakan.

Tiba di tempat, adzan Isya tengah dikumandangkan oleh seorang teman kami yang asli Papua. Suaranya begitu bagus sekali, sempat saya kira bahwa suara adzan tersebut bersumber dari music player yang diputar. Tapi, setelah saya dengar dengan seksama, ternyata suara adzan itu adalah suara dia, tidak nyana. Selang satu jam kemudian, barulah acara pun bisa dimulai. Dimulai dengan sambutan dari ketua Takmir Masjid setempat, kemudian sambutan dari Kepala Desa, Pak Suyono yang saat penyambutan kami beliau tidak hadir karena ada urusan di luar. Kemudian dilanjutkan ke acara inti yaitu Mau’idzah-hasanah yang disampaikan oleh Ust. Ahmad Najib yang didatangkan dari Kota Malang. Selama satu jam lebih beliau tampil di panggung, menggugah semua jamaah yang datang dari berbagai dusun sekitar desa Purwodadi.

Pukul sepuluh lebih acara pun selesai, semua warga berhamburan membubarkan diri dari tempat acara menuju jalan utama. Kontan jalanan pun jadi ramai, namun tidak menyebabkan kemacetan sama sekali. Di tempat lain, kami masih harus beres-beres dan mempreteli semua atribut-atribut tempat acara yang digelar secepat mungkin. Panggung, tenda, kursi-kursi dan yang lainnya mesti kami bereskan malam itu juga, mumpung semuanya masih kumpul jadi kami tidak menunda-nundanya lagi.

Tapi, karena tadi kami datang satu mobil bersama warga, maka kami pamit duluan. Di tengah jalan gerimis mulai turun, namun tidak terlalu membasahi kami yang lagi menumpang mobil terbuka. Setibanya di rumah gerimis tetap saja masih gerimis, entah kapan dikonversikan menjadi hujan yang lebat, yang penting kami sudah tiba di rumah dan sekarang saatnya untuk langsung tidur saja dan menyudahi Hari Ke 14: Pergelaran Tabligh Akbar ini. []
Gambar: http://www.solopos.com/2011/08/15/tabligh-akbar-3-111457
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA

Judul : Hari Ke 14: Pergelaran Tabligh Akbar
Ditulis Oleh : ridwan yahya
Rating Blog : 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://suratanmakna.blogspot.com/2013/02/hari-ke-14-pergelaran-tabligh-akbar.html. Sekali lagi terima kasih sudah singgah membaca artikel ini. ^_^

2 Comment/s:

Muro'i El-Barezy said...

semoga sukses acaranya sobat

anisayu said...

ingin menghadiri pergelaran tapi jauh...

moga sukses ya :)