Hari Ke 13: Terkagum Aksi Vokal Seekor Burung | Suratan Makna

Hari Ke 13: Terkagum Aksi Vokal Seekor Burung

Posted by ridwan yahya Monday, February 4, 2013 0 Comment/s

Ilustrasi
Saya tidak menyangka jika hari ini akan sibuk sekali, hal ini bukan karena saya tidak mengetahui adanya agenda yang sudah ada, namun saya sedikit menganggap enteng terhadap acara-acara yang saya ikuti tersebut. Sehingga, saat di tengah acara yang lagi berlangsung baru saya sadari ketidaksiapan saya tersebut untuk mengikutinya. Kesibukan yang sejatinya mengaitkan ketahanan fisik dan mental, namun kali ini justru malah melibatkan perut juga yang harus tahan digempur bertubi-tubi oleh berbagai makanan yang disajikan pada setiap acara yang diikuti. 

Acara-acara kegiatan hari ini yang terbilang belum siap untuk diikuti tersebut berawal dari pagi hari yang biasanya ada kegiatan, namun pagi ini kami terasa kosong. Tidak seperti kemarin-kemarin yang setiap pagi setelah sarapan selalu ada kerjaan di luar, semacam di ladang atau kerja bakti bersama warga sekitar. Pagi ini kami sangat terbuai oleh agenda yang kosong seperti ini, ketiadaan informasi dari wakil ketua yang sekiranya ada sesuatu yang mesti kami kerjakan menjadi alasan kuat kami terkait jam pagi yang kosong tersebut. Hanya saja pagi itu saya bersama Zakir berinisiatif pergi bersilaturahmi ke daerah warga, apa di ladangnya ataupun cuma di rumahnya saja. Maksud kami supaya pagi itu tidak terlalu kosong untuk dilewatkan. Sebenarnya, bagi saya pribadi kekosongan ini masih bisa saja ditambal oleh kegiatan saya sendiri, saya bisa menenggelamkan diri pada cerita harian yang saya tulis. Namun, karena hal itu tercium agak egosentris maka lebih baik saya pergi bersilaturahmi ke ladang warga bersama Zakir menyusul Yohan dan Husairi yang sudah duluan pergi. 

Saat di tengah perjalanan menuju ladang kami melihat mbah Supi yang tengah santai di depan rumahnya, melihat beliau kami pun langsung menyapanya. Sapaan yang maksudnya hanya sekadar menyapa saja itu beliau balas dengan ajakannya agar kami singgah dulu. Baiklah, tidak ada salahnya kami mengobrol-ngobrol bareng beliau. Di depan rumah beliau kami ngomong ngaloer ngidul, dan ada setengah jam lebih kami habiskan waktu di tempat tersebut. Dalam obrolannya secara total kami berdua menggunakan bahasa Indonesia, namun beliau yang biasa berbahasa Jawa malah agak memaksakan diri untuk berbahasa Indonesia juga. Memang, bagusnya harus seperti itu biar obrolan kami dapat dimengerti oleh satu sama lainnya. Bersamaan dengan kicauan burung yang tergantung bersama sangkarnya di depan rumah, kami terus saja mengobrol meski tidak mengerti dengan bahasa jawa beliau yang sesekali keluar.

Sesekali juga saya melirik anggunnya burung yang aktif bergerak di dalam sangkarnya yang sempit, kami juga ditakjubkan oleh aksi vocal burung tersebut yang lihai memainkan berbagai suara. Entah burung apa namanya itu, yang jelas kehebatannya itu bisa menyerupai nada suara tokek dan suara-suara lain yang tidak saya ketahui. Bersama Zakir, saya terkagum-kagum dengan burung tersebut sampai-sampai lupa bahwa kami tengah berbincang-bincang dengan mbah Supi. Di sebelah burung tersebut, ada burung sejenis yang lebih muda dengan bulu-bulunya yang masih acak-acakan. Burung ini belum bisa menyerupai lihainya burung yang dewasa dalam memainkan berbagai macam suara kayak tadi, hanya suara kicauan anak burung saja.

Tidak lama setelah suguhan mengagumkan itu, kami pun pamit meninggalkan kediaman mbah Supi. Kemudian, selanjutnya kami memutuskan untuk balik saja ke rumah. Di tengah perjalanan sebelum ke rumah, kami merubah niat dan menuju rumah tetangga yang sering kami singgahi ladangnya. Di rumah tersebut, bukan suguhan macam-macam yang kami dapati namun di sana kami enjoy menonton TV. Sebelum dzuhur tiba, barulah kami balik ke rumah menyiapkan diri untuk shalat berjamaah di Mushalla karo rencang-rencang. 

Kesibukan saya hari ini dimulai saat ba’da dzuhur, waktu itu kami diundang khataman oleh sebuah rumah yang berada tidak jauh dari tempat kami. Sebelumnya saya sendiri belum tahu khataman itu seperti apa, jadi baru kali ini saya tahu setelah mengikuti acara tersebut.  Pada khataman ini kami seolah-olah dianggap sebagai tamu kehormatan oleh sang tuan rumah, karena selain kami hanya ada Pak Tarmin, Pak Darkoun, dan saudaranya Pak Tarmin saja yang mengikuti khataman tersebut. Jalan acaranya adalah pertama Juz satu sampai tiga puluh ditulis berurutan, kemudian setiap orang melingkari satu nomor juz dari ketiga puluh tersebut. Kemudian, nomor yang dilingkari tersebut dibaca oleh orang yang melingkarinya. Setiap satu juz yang selesai dibaca, maka beralih ke juz lainnya yang belum dilingkari nomornya di kertas yang disediakan tadi. Begitulah seterusnya, sampai semua juz terbaca. Dan salah satu dari kami membacanya menggunakan pengeras suara yang menghadap ke jalanan.

Sebelum khataman usai, kami disuguhi makanan yang banyak sekali oleh tuan rumah. Sehabis makan-makan, kami juga masih dibungkusi makanan sebanyak tiga tingkat, yang pertama makanan besar, kedua makanan ringan, ketiga makanan besar tapi dalam porsi yang lebih kecil. Usai dibungkusi itu, barulah kami bisa meninggalkan tempat yang cukup royal tersebut. 

Acara kedua diselenggarakan sebelum Isya, yang ini pengajian biasa namun suguhannya sama luar biasanya dengan acara tadi siang. Di tengah acara kami disuguhi makan dan sebelum pamitan juga dibungkusi makanan lagi. Dipikir-pikir makanan tadi siang saja masih ada, sekarang siapa yang mau menghabiskan makanan yang baru didapat ini? Masing-masing teman ada, kasih ke tetangga semuanya pada ikut acara juga. Baiklah, akan saya simpan buat besok dan tinggal dihangatkan saja nanti. Pulang dari pengajian itu langsung kami shalat Isya, tidak lama setelah shalat kami diajak oleh Pak Tarmin menghadiri ngaji lagi di rumah warganya. Suguhannya sama, makanan yang banyak telah disediakan bagi kami. Ada makanan besar yang dimakan di tempat, lalu ada juga makanan yang dibungkus dan dibawa pulang. 

Dengan tiga bungkus makanan yang ada, saya menjadi sedikit kebingungan bagaimana menghabiskannya. Selain dibesokkan, makanan ini juga dicampur dengan yang lain. Jadi, yang bagian piket tidak usah capek-capek masak, cukup menghangatkan saja makanan yang sudah ada tersebut. Setelah pulang dari pengajian yang ketiga ini, mata saya sudah terlalu lelah untuk dipaksa terbuka lebih lama. Pada khataman tadi siang saja saya sudah setengah mati menahan kantuk yang sangat, namun karena dapat giliran baca yang dijaharkan pakai speaker, maka ngantuk tersebut menjadi hilang. Tapi, bagaimanapun juga sekarang lebih baik saya langsung tidur saja dan akhiri Hari Ke 13: Terkagum Aksi Vokal Seekor Burung, biar makanan ini urusannya dilanjutkan besok pagi. []
Gambar: http://www.kumpulangambar.com/gambar-burung.php
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA

Judul : Hari Ke 13: Terkagum Aksi Vokal Seekor Burung
Ditulis Oleh : ridwan yahya
Rating Blog : 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://suratanmakna.blogspot.com/2013/02/hari-ke-13-terkagum-aksi-vokal-seekor.html. Sekali lagi terima kasih sudah singgah membaca artikel ini. ^_^

0 Comment/s: