Hari Ke 5: Pengalaman Merantau | Suratan Makna

Hari Ke 5: Pengalaman Merantau

Posted by ridwan yahya Friday, February 1, 2013 0 Comment/s

Hari Kelima, 7 Juli 12: Pengalaman Merantau

Hawa dingin pagi ini tidak seperti dinginnya pagi kemarin, berhembus terbawa angin kencang yang mengerumuni setiap badan yang coba-coba menerjang. Namun, dingin ini masih bisa ditolerir, karena pada waktu tersebut hawa dingin memang sudah pasti selalu ada. 

Terbuai dalam balutan atmosfir pagi, memantapkan selimut untuk tetap melekat di tubuh yang tengah terbaring lelap. Sehingga, seseorang yang berusaha membuyarkan alam bawah sadar temannya, hampir tidak membuahkan hasil sama sekali. Jadi, yang terbaring tetaplah terlelap di tempatnya, sampai waktu bergulir sejam kemudian barulah sebagian dari mereka beranjak memenuhi panggilan adzan Shubuh yang dikumandangkan. 

Semalam usai wirid Isya dilakukan, Pak Ketua menyampaikan sesuatu pada kami bahwa hari ini tidak ada proyek warga yang membutuhkan tenaga kami. Jadi, bisa dikatakan hari ini kami aktifitasnya bebas. Namun, meskipun begitu Pak Ketua berpesan pada anggotanya agar kami selain yang piket di dalam rumah untuk pergi ke kebun-kebun dan membantu siapapun yang kami temui di sana. 

Tiga puluh menit berselang setelah sarapan pagi dilakukan, selain teman-teman yang piket anggota Pos mesti melancarkan manuver aktifitas yang sebagaimana Pak Ketua instruksikan tadi malam. Tadinya kami berencana memenuhi instruksi Ketua untuk pergi ke ladang, namun tampaknya di depan rumah ada Pak Tarmin yang sedang sibuk mengecor, dengan sigap kami pun membantu beliau dan mengurungkan rencana pertama kami untuk pergi ke kebun.

Di tengah aktifitas pengecoran, ada si mbah yang lewat hendak pergi ke kebun. Mintanya bantuin beliau untuk memanen jagung, permintaan si mbah pun kemudian dipenuhi Rauf, Basirun, dan lain-lain. Sedangkan, sisanya yang lain tetap membantu Pak Tarmin mengecor. Jam sembilan pagi mereka kembali dari ladang si mbah tadi, membawa hasil yang cukup membanggakan. Saat tiba di Pos Rauf terlihat memboyong dua ikat jagung besar-besar di atas pundaknya. Sedangkan yang lain, saya lupa lagi mereka membawa apa ke Pos. 

Tidak lama sekembalinya Rauf, Basirun, dan lain-lain dari ladang, kini giliran saya dengan Fahrurrazi alias Pa Che pergi ke kebun. Awalnya Pa Che hendak sendirian pergi ke kebun warga, namun karena ia tidak tahu jalan mana yang hendak dilalui ke tempat yang ditujunya tersebut maka saya pun mengantarnya, karena memang sebelumnya saya pernah ke tempat itu (baca hari keempat).

Di sana, kami membantu Ibu warga mengupas jagung yang habis dipanen. Di tengah aktifitas tersebut, kami semua larut dalam obrolan ringan membicarakan hal-hal yang terkait dengan daerah asal saya, Pa Che, dan tempat-tempat yang pernah Ibu jadikan sebagai sumber pengalaman hidup beliau. Beliau bercerita bahwa ia pernah ke Arab Saudi, dan ke Dubai, UEA pada tahun 1994. Di sana beliau bekerja sebagai pembantu rumah tangga di sebuah rumah milik pengusaha Indonesia. Berbeda jauh pengalamannya dengan bapak yang dulunya pernah merantau ke tanah Papua.

Dalam obrolan yang hangat itu kami disuguhi kelapa yang bapak petik langsung dari pohonnya, sebenarnya malu membiarkan bapak memanjat sendiri pohon kelapanya, padahal sebelumnya beliau terlebih dahulu menawarkan pada kami agar memanjat pohon tersebut. Tapi, sehalus mungkin saya tolak, karena sadar bahwa saya sama sekali tidak ada pengalaman memanjat pohon yang tinggi-tinggi macam itu. Beda dengan Pa Che, alasannya bahwa dia trauma memanjat pohon yang dulu dia pernah jatuh dari pohon tersebut. 

Saat semua pekerjaan telah usai, barulah kami pulang. Dengan motornya Bapak mengangkut jagung yang sudah dibungkus dalam karung dan membawa jagung tersebut ke rumahnya. Di belakang kami menyusul beliau yang sudah ada di rumah. Setibanya di rumah beliau, kami disuguhi lagi dengan air dingin yang segar. Alhamdulillah, cukuplah buat kami mengusir rasa haus yang menggelayut di tenggorokan.

Dari Ibu, kami pergi balik ke rumah dengan hasil sebongkah buah kelapa di tangan yang dipetik oleh Bapak tadi saat di kebun. Di rumah kami pun langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, karena sehabis dari kebun tadi badan terasa gatal sekali. 

Siang itu terasa sejuk di daerah yang kami tinggali ini, tidak terlalu panas dan tidak pula terlalu dingin. Dengan kondisi semacam itu shalat dzuhur yang digelar di Mushalla pun menjadi terasa sangat adem untuk dilaksanakan. Irsyad dan Umam yang dari tadi sudah menyiapkan makan siang,  memanggil kami semua yang berada di kamar supaya keluar lalu makan. Pekerjaan mereka belum berujung sampai di situ saja, sehabis makan-makan kedua orang ini juga mesti mencuci piring bekas kami makan dan peralatan masak lainnya. 

Sampai tibanya waktu Ashar, saya sendiri kembali aktif menulis semua kegiatan yang dilakukan pada hari sebelumnya. Sedangkan yang lain, saya kurang tahu apa yang mereka kerjakan. Yang jelas, bagi saya waktu kosong seperti ini layak dipakai buat nulis. Selain siang hari, saya kerap menulis pada jam-jam ba’da shubuh, siang hari, dan malam. Pada sore hari, orang kesekretariatan datang entah ada keperluan apa. Namun, yang saya tahu Zakir pergi main bola ke daerah Pos lain setelah kedatangan dua orang tersebut.

Malamnya, kami melakukan rapat koordinasi membicarakan agenda besok pagi. Katanya, besok kami akan menghadiri sebuah acara akbar yang bertajuk “Haflah Akhiru Sanah” di Mentaraman, Donomulyo. Seusai rapat, kami pun bubar. Sesampainya di rumah, bagiannya Zakir baru pulang ke rumah. Mungkin, dia Maghribnya di Pos dua sana. 

Jam delapan kurang seperempat aktifitas di rumah berlangsung variatif, ada pula yang pergi silaturahmi ke rumah warga yang pas balik tahu-tahu perut sudah kenyang. Sejahtera memang, KKN di tempat kayak gini. Beberapa hari ini saja, sudah berkali-kali kami dikirimi lauk oleh warga saat menjelang waktunya makan tiba. Jadi, teman yang bagian piket masak tidak usah repot-repot membuat masakan lebih banyak lagi. SubhanAllah wal-hamdulillah.

Saya sendiri tidak luput dari menyibukkan diri saat waktu malam ini tiba. Awalnya saya dedikasikan waktu untuk menulis, namun saat saya merasa bosan aktifitas tersebut sejenak saya tinggalkan guna mencari sesuatu yang dapat merefresh mood menulis saya kembali. Beranjak dari tempat duduk yang ada di ruang tengah, saya mengitari semua ruang yang ada di rumah. Termasuk dua kamar yang diperuntukkan sebagai tempat tidur bagi kami, saat kumenengok di salah satunya kulihat ada seorang Zakir yang duduk termangu di depan laptop Basirun. Ternyata, dia sedang menonton Bollywood Movie. Kemudian saya pun tergiur, lalu terlarut dalam tontonan tersebut. Dan dengan terpaksa saya tinggalkan laptop saya.

Selang dua jam waktu bergulir, film pun selesai dan malam telah larut. Tidak ada pilihan lain lagi bagi saya saat ini selain mengakhiri aktifitas Hari Kelima, 7 Juli 12: Pengalaman Merantau dan beranjak tidur. []

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA

Judul : Hari Ke 5: Pengalaman Merantau
Ditulis Oleh : ridwan yahya
Rating Blog : 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://suratanmakna.blogspot.com/2013/02/hari-kelima-7-juli-12-pengalaman.html. Sekali lagi terima kasih sudah singgah membaca artikel ini. ^_^

0 Comment/s: