Nganggur Bermanfaat | Suratan Makna

Nganggur Bermanfaat

Posted by ridwan yahya Saturday, October 22, 2011 8 Comment/s
Nganggur Bermanfaat
Sabtu sore, 15 oktober  ’11 hanyalah hari biasa sebagaimana hari-hari sebelumnya. Nggak ada pekerjaan, nganggur, dan gak jelas. Coba liat teman saya yang lainnya, jelas, pada punya kerjaan semuanya. Menyebar menempati pos-pos TPA-nya masing-masing, ada juga yang jadi pencari donatur, dan lain-lain. Dulunya, sih.. saya juga termasuk salah satu dari mereka, jadi tenaga pengajar.  Tapi, semester baru sekarang ini sudah nggak lagi. Beda.
Namun, ya.. sebenarnya kerjaan ada aja, sih. Cuma belum ada komando aja dari atasan. Belum ada perintah langsung dari pondok untuk saya aktif bekerja sebagai security. Ya, security,, satpam! Begitulah kata-kata olokan temanku pada saya. Seakan-akan  kalo satpam itu adalah posisi rendahan.  Terus, ada juga yang bilang kalo saya nggak bakalan bisa keluyuran lagi. Hah, terserah. Tapi, aslinya saya kalem-kalem aja dibegituin. Biarin aja, emang orang “sakit” semua kok yang talking rubbish  kayak gitu. Nggak penting amat diladenin.
Buat saya jadi security lumayan juga, itung-itung nambah pengalaman hidup di pondok Hidayatullah yang bersebelahan dengan kampus elit ITS ini. Sekaligus, mudah-mudahan saja kalau jiwa sekuritas saya akan lebih bertambah lagi. O, iya.. berbicara tentang pondok ini, kata teman saya, pondok ini bagaikan “penjara suci”. Ups, sembarang aja teman saya nii. Dibilang “penjara”, katanya. Tapi, ya.. bagaimana nggak juga sih. Pagi sampai siang, kuliah. Habis ashar  tugas departemen (yang saya sebut tugas mengajar dan jadi satpam tadi). Malam, kegiatan pondok. Tidur, bangun malam terus shalat lail. “Hebat”, kan..? jelas, emang ada benarnya juga lah kalau kenyataannya begitu. Tapi, memang nggak apa-apa sudah. Sebab, apa salahnya dengan penjara? Coba liat Sayyid Qutb, sang mujahid yang tidak gentar menghadapi intervensi pemerintah negaranya, Mesir. Sampai dijebloskan ke penjara sekalipun beliau tetap gigih memegang prinsip yang haq di tangannya. Tidak sampai di situ, meskipun di penjara dalam keadaan tertekan beliau masih mampu menggoreskan tinta pikirannya dalam lembaran kertas yang tersedia. Super sekali, kan?
Maka dari itu, tempat seminim apapun ruang geraknya, kiranya masihlah kita mampu memanfaatkannya sebisa mungkin sebagai tempat cipta karya diri kita. Terlepas dari itu, saya bukannya setuju juga dengan penamaan pondok tercinta ini disebut sebagai  penjara kayak tadi. Tapi, setelah mendengar perkataan teman saya tentang pondok ini, di satu sisi saya terbayang dan berharap agar di pondok ini lahir Sayyid Qutb-Sayyid Qutb yang tangguh dan gigih seperti Sayyid Qutb versi aslinya.
Kembali ke suasana sabtu sore yang membosankan. Tadinya saya mau belanja ke Sakinah Supermaket (Hh, nganggur juga ternyata punya duit). Tapi,  berhubung tidak ada kendaraan yang bisa dinaiki, sudah tanya sana-tanya sini..
Akhi, apa ada sepeda nganggur?”
gak ada” Jawabnya kontan.
Sudah, balik ke kamar hanya bisa merenungi nasib yang tengah digeluti itu. Terkenang masa-masa dahulu yang pernah saya lalui, ada sepeda yang bisa dikendarai. Mau ke mana tinggal gowes, melaju tidak terhenti. Setia menemani, ke manapun saya pergi. Mengajar, ke warnet, asrama, mengajar, ke warnet, asrama, ke warnet lagi. Begitulah siklus perputaran roda dua tersebut. Nggak  ke mana-mana lagi. Tapi, sekarang sepeda nasionalis itu pergi pindah kendali. Dengan merah putihnya yang tetap melekat di kerangkanya. Hiks, hiks..
Seiring dengan ketidakberadaannya sepeda di tangan dan pindah tugasnya departemen (dari tenaga pengajar ke satpam), intensitas kunjungan saya ke warnetpun menurun drastis. Dan imbasnya, blog juga tidak terurus. Tapi, Alhamdulillah sesekali saya masih bisa pinjam sepeda ke teman saya. Jadi, blog saya tidak terlalu nganggur juga.
Sisi lain dari revolusi kecil pada diri saya, saya lebih banyak mendapati waktu kosong yang bisa dimanfaatkan. Ya, waktu luang yang ideal untuk dimanfaatkan dengan hal-hal yang baik. Menulis, membaca, mengerjakan makalah, dan hafalan al-Qur’an adalah menu yang mantap siap untuk disantap. Waktu yang kosongpun tidak menjadi habis sia-sia. Justru, kita akan mendulang banyak pahala darinya.
Jadi, orientasikanlah hidup kita ke sana, sesuatu yang ada feedbacknya langsung dari Allah SWT.. Bukan yang lain!

Gambar: indonesiamedia.com
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA

Judul : Nganggur Bermanfaat
Ditulis Oleh : ridwan yahya
Rating Blog : 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://suratanmakna.blogspot.com/2011/10/nganggur-bermanfaat.html. Sekali lagi terima kasih sudah singgah membaca artikel ini. ^_^

8 Comment/s:

muarra said...

Go on bro,, All System are go for your succes,,,
I rock u,,,

Miss 'U said...

manfaatkan waktu sebaik2nya :D
*padahal diri sendiri blom berhasil -_-a

yAhyA said...

:D keep mOvin'..
thanKS for comIng here..

Muhammad Luqmanul Hakim said...

Semuanya ada hikmahnya akhi..ana setuju dengan antum..di manapun tugas kita, tetap akan berguna, malah bisa saja menghasilkan karya cemerlang seperti antum...jadi sangat rugi orang yang merasa terpenjara dalam lingkungan seperti itu...insyaAllah..kita bisa buktikan, bahwa akan muncul sayyid Qutub-Sayyid Qutub baru..dan, semoga salah satunya adalah antum :-)

yAhyA said...

Aamiin,,
haa,, bisa aja.
hmm,, tp, ya.. emank, perlu ditargetkan itu. insya Allah. :)

Sitti Rasuna Wibawa said...

Yappp nice post. Harus memanfaatkan waktu dengan baik, jangan disia-siakan. Aaaa jadi merenung banyak menyianyiakan waktu nih saya :D

Ella Layla said...

Artikelnya seger kali gan, ane suka bangeD. Pipi ini seperti "tertampar" karenanya mengingat banyak waktu yg telah terbuang percuma.
Terus berkarya...!!!

Venomia Blog said...

baru tau saya nganggur itu bermanfaat hahaha.. tapi tetep waktu kosong harus diisi jg dengan rutinitas yg menghasilkan walo nganggur juga,,hehe..