Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) | Suratan Makna

Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)

Posted by ridwan yahya Monday, February 27, 2012 0 Comment/s

Model pembelajaran berbasis masalah dikembangkan untuk pertama kalinya oleh Howard Barrows pada awal tahun 70-an dalam pembelajaran ilmu pendidikan medis di southern Illionis University  Shcool (Barrows,1980). Para siswa mempelajari berbagai kasus yang terjadi pada pasien yang mengidap penyakit kemudian mencari cara atau tehnik untuk penyembuhan yang harus dilakukan. Namun pada perkembangan selanjutnya model ini meluas pada pembelajaran ilmu pengetahuan di perguruan tinggi dan akhirnya dikembangkan di sekolah-sekolah menengah.

Model pengajaran berdasarkan masalah ini telah dikenal sejak zaman John Dewey. Menurut Dewey (dalam Trianto, 2009:91) belajar berdasarkan masalah adalah interaksi antara stimulus dan respon, merupakan hubungan antara dua arah belajar dan lingkungan. Lingkungan memberikan masukan kepada siswa berupa bantuan dan masalah, sedangkan sistem saraf otak berfungsi menafsirkan bantuan itu secara efektif sehingga masalah yang dihadapi dapat diselidiki, dinilai, dianalisis, serta dicari pemecahannya dengan baik.

Definisi pembelajaran berbasis massalah dari berbagai sumber yaitu :
1.    Pembelajran berbasih masalah merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang menyajikan masalah kontekstual sehingga merangsang siswa untuk belajar. Dalam kelas yang menerapkan pembelajaran berbasis masalah, siswa bekerja dalam tim untuk memecahkan masalah dunia nyata (real wolrd) (Major, Claire.H dan Palmer, Betsy, 2001).
2.    Pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu metode pembelajaran yang menantang siswa untuk “belajar bagaimana belajar” bekerja secara berkelompok untuk mencari solusi dari permasalahan dunia nyata. Masalah ini digunakan untuk mengikat siswa pada rasa ingin tahu pada pembelajaran yang dimaksud (Duch J.B, 1995).
3.     Pembelajaran berbasis masalah adalah strategi pembelajaran yang merangsang siswa aktif untuk memecahkan permasalahandalam situasi nyata (Evan Glazer, 2001).

Dari beberapa uraian mengenai pengertian pembelajaran berbasis masalah, dapat di simpulkan bahwa pembelajaran berbasis masalah (PMB) merupakan pembelajaran yang menghadapkan siswa pada masalah dunia nyata (real world) untuk memulai pembelajaran. Pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu pengembangan kurikulum dan model pembelajaran. Barbara J. Duch (1995 dalam karim et al,. 2007) mengemukakan bahwa : in problem based lerning (PBL), students are presented with an interesting, relevant problem “up front”. So that they can experience for them selves the process oe doing science ibrahim, (dalam Nurhasanah, 2007) menyatakan bahwa model PMB merupakan pembelajaran yang menyajikan massalah, yang kemudian digunakan untuk merangsang berpikir tingkat tinggi yang berorientasi pada masalah. Masalah diberikan pada siswa, sebelum siswa pempelajari konsep atau materi yang berkenaan dengan masalah yang harus dipecahkan. Dengan demikian untuk memecahkan masalah tersebut siswa akan mengetahui bahwa mereka membutuhkan pengetahuan baru yang harus dipelajari untuk memecahkan masalah yang diberikan (wood dalam Sugalayhudana, 2005).

Pembelajaran berbasis masalah merupakan pembelajaran dengan pendekatan konstruktivis, karena didini guru hanya berperan sebagai penyaji dapat meningkatkan pertumbuhan inkuiri dan intektual pada peserta didik. Prinsip utama pada pendekatan masalah, penanya, mengadakan dialog, pemberi fasilitas penelitian, menyiapkan dukungan dan dorongan yang dapat meningkatkan pertumbuhan   inkuiri dan intelektual pada peserta didik.

Pembelajaran berbasis masalah dilandasi teori konstruktivis. Pada pembelajaran ini dimulai dengan menyajikan masalah nyata yang penyelesaiannya membutuhkan kerjasama antar siswa, guru memandu siswa menguraikan rencana pemecahan masalah menjadi tahap-tahap kegiatan, guru memberi contoh mengenai penggunaan ketrampilan dan strategi yang dibutuhkan supaya tugas-tugas tersebut dibutuhkan supayatuggas-tugas tersebut dapat diselesaikan. Guru menciptakan suasana kelas yang fleksibel dan berorientasi pada upaya penyelidikan oleh siswa.

Karakteristik Pembelajaran Berbasis Masalah

Menurut Arends dalam Trianto, karakteristik pembelajarn berbasis masalah adalah:
1. Pengujian pertanyaan atau masalah.
Pembelajaran berdasarkan masalah mengorganisasikan pengajaran disekitar pertanyaan dan masalah yang keduanya secara sosial penting dan secara pribadi bermakna pada siswa.
2. Berfokus kepada keterkaitan antar disiplin.
Masalah yang akan diselidiki telah dipilih benar-benar nyata agar dalam pemecahannya siswa meninjau masalah itu dari banyak mata pelajaran.
3. Penyelidikan Autentik.
Siswa dituntut untuk menganalisis dan mendefinisikan maslah, mengembangkan hipotesis, membuat ramalan, mengumpulkan dan menganalisa informasi, melakukan eksperimen (jika diperlukan), membuat inferensi, dan merumuskan kesimpulan.
4. Menghasilkan produk dan memamerkannya.
Produk itu dapat berupa laporan, model fisik, video maupun program komputer.
5. Kolaborasi.

Pembelajaran berdasarkan masalah dicirikan oleh siswa yang berkerjasama satu dengan yang lainnya, secara berpasangan atau dalam kelompok kecil.
Adapun karakteristik PBM menurut Sovie dan Hughes (dalam Santyasa 2008:3) yaitu:
1. Belajar dimulai dengan suatu masalah.
2. Memastikan bahwa masalah yang diberikan berhubungan dengan dunia nyata siswa.
3. Mengorganisasikan pelajaran diseputar masalah, bukan seputar disiplin ilmu.
4. Memberikan tanggung jawab yang besar kepada siswa dalam membentuk dan menjalankan secara langsung proses belajar mereka sendiri.
5. Menggunakan kelompok kecil.
6. Menuntut siswa untuk mendemonstrasikan apa yang telah mereka pelajari dalam bentuk suatu produk atau kinerja.

Sesuai dengan karakteristik tersebut, pembelajaran berbasis masalah memilki tujuan:
a. Membantu siswa mengembangkan ketrampilan berfikir dan ketrampilan pemecahan masalah.
b. Belajar peranan orang dewasa yang autentik.
c. Menjadi pembelajar yang mandiri.

Setelah mengetahui uraian tentang karakteristik dan tujuan dari pembelajaran berbasis masalah maka sudah tampak sangat jelas bahwa dengan adanya masalah yang dapat dimunculkan oleh siswa dan guru, kemudian siswa dapat memperdalam pengetahuannya tentang apa yang mereka telah ketahui dan apa yang perlu diketahui untuk memecahkan masalah tersebut. Fokus masalah dalam pembelajaran berbasis masalah ini adalah masalah yang dapat diselesaikan siswa dan mampu mengembangkan kemampuan penalaran matematis siswa.

Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Berbasis Masalah
Dalam setiap pendekatan pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, begitupun dengan pembelajaran berbasis masalah, menurut Trianto, yaitu:
Kelebihannya adalah:
• Realistik dengan kehidupan siswa
• Konsep sesuai dengan kebutuhan siswa
• Memupuk sifat inquiri siswa
• Retensi konsep menjadi kuat
• Memupuk kemampuan problem solving

Selain memilki kelebihan, pembelajaran berbasis masalah juga memiliki kelamahhan, yaitu:
• Persiapan pembelajaran (alat, problem, konsep) yang kompleks
• Sulitnya mencari problem yang relevan
• Sering terjadi miss-konsepsi
• Memerlukan waktu yang cukup panjang

Sintaks Pembelajaran Berdasarkan Masalah
Pembelajaran berbasis masalah terdiri dari 5 fase dan perilaku. Fase-fase dan perilaku tersebut merupakan tindakan berpola. Pola ini diciptakan agar hasil pembelajaran dengan pengembangan pembelajaran berbasis masalah dapat diwujudkan.

 Pada fase pertama hal-hal yang perlu dielaborasi antara lain:
1.    Tujuan utama pembelajaran bukan untuk mempelajari sejumlah besar informasi baru tetapi untuk menginvestigasi berbagai permasalahan dan menjadi pembelajaran mandiri.
2.    Permasalahan atau pertanyaan yang diinvestigasi tidak memiliki jawaban mutlak “benar” dan sebagian besar permasalahan kompleks memiliki banyak solusi yang kadang-kadang saling bertentangan.
3.    Selama fase investigasi pelajaran, peserta didik didorong untuk melontarkan pertanyaan dan mencari informasi. Guru memberikan bantuan tetapi peserta didik mestinya berusaha bekerja secara mandiri atau dengan teman-temannya.
4.     Selama fase analisis dan penjelasan pelajaran, peserta didik didorong untuk mengekspresikan ide-idenya secara bebas dan terbuka.

Pada fase kedua, guru diharuskan untuk mengembangkan keterampilan kolaborasi di antara peserta didik dan membantu mereka untuk menginvestigasi masalah secara bersama-sama. Pada tahap ini pula guru diharuskan membantu peserta didik merencanakan tigas investigatif dan pelaporan.
Pada fase ketiga, guru membantu peserta didik menetukan metode investigasi. Penentuan tersebut didasarkan pada sifat masalah yang hendak dicari jawabnya atau dicari solusinya.
Pada fase keempat, penyelidikan diikuti dengan pembuatan artefak dan exhibits. Artefak dapat berupa laporan tertulis, termasuk rekaman proses yang memperhatikan situasi yang bermasalah dan solusi yang diusulkan. Exhibits adalah pedomantrasian atas produk hasil ivestigasi atau artefak tersebut.
Pada fase kelima, tugas guru adalah membantu peserta didik menganalisis dan mengevaluasi proses berpikir mereka sendiri dan keterampilan penyelidikan yang mereka gunakan. Terpenting dalam fase ini peserta didik mempunyai keterampilan berpikir sistimatik berdasarkan metode penelitian yang mereka gunakan.
Lingkungan belajar dan sistem pengelolaan pembelajaran berbasis masalah harus ditandai dengan keterbukaan, keterlibatan aktif peserta didik, dan atmosfer kebebasan intelektual. Penting pula dalam pengelolaan pembelajaran berbasis masalah memperhatikan hal-hal seperti situasi multitugas yang akan berimplikasi pada jalannya proses investigasi, tingkat kecepatan yang berbeda dalam penyelesain masalah, pekerjaan peserta didik,dan gerakan dan perilaku di luar kelas. 

Daftar Pustaka
 
Dahlan, M.D. (1990). Model-Model Mengajar. Bandung: Diponegoro. Sugiyono, Prof. Dr. (2008). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta
Duch, J. Barbara. (1995). Problem: A Key Factor in PBL. [Online]. Tersedia:http://www.udel.edu/pbl/cte/spr96-phys.html. [20 oktober 2012].
Glazer, Evan. (2001). Problem Based Instruction. In M. Orey (Ed.), Emerging perspective on learning, teching, and technology [Online]. Tersedia: http//www.coe.uga.edu/epltt/ProblemBasedInstruct.htm. [17 juni 2005].
Sudjana, D. (1982). Model Pembelajaran Pemecahan Masalah. Bandung : Lembang Penelitian IKIP Bandung
Suprijono Agus, 2009, Cooperative Learning, Pustaka Pelajar. Yogyakarta, 68

Gambar : kampus-info.com
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA

Judul : Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)
Ditulis Oleh : ridwan yahya
Rating Blog : 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://suratanmakna.blogspot.com/2012/02/pembelajaran-berbasis-masalah-problem.html. Sekali lagi terima kasih sudah singgah membaca artikel ini. ^_^

0 Comment/s: