Teori Belajar Konstruktivistik | Suratan Makna

Teori Belajar Konstruktivistik

Posted by ridwan yahya Tuesday, February 21, 2012 0 Comment/s

A. Pengertian Teori Belajar Konstruktivistik
            Pembelajaran konstruktivistik adalah pembelajaran yang lebih menekankan pada proses dan kebebasan dalam menggali pengetahuan serta upaya dalam mengkonstruksi pengalaman.  Dalam proses belajarnya pun, memberi kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan gagasannya dengan bahasa sendiri, untuk berfikir tentang pengalamannya sehingga siswa menjadi lebih kreatif dan imajinatif serta dapat menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.

Yang terpenting dalam teori konstruktivitik adalah bahwa dalam proses pembelajaran siswalah yang harus mendapatkan penekanan. Merekalah yang harus aktif mengembangkan pengetahuan mereka, bukannya guru atau orang lain. Peserta didik perlu di biasakan untuk memecahkan masalah dan memenemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya dan bergelut dengan ide-ide.  Penekanan belajar siswa secara aktif ini perlu dikembangkan karena Kreativitas dan keaktifan siswa akan membantu mereka untuk berdiri sendiri dalam kehidupan kognitif siswa.

B. Proses Belajar Menurut Teori Konstruktivistik

            Pada bagian ini akan dibahas proses belajar dari pandangan kontruktifistik dan dari aspek-aspek si belajar, peranan guru, sarana belajar, dan evaluasi belajar.
    1. Proses belajar konstruktivistik
Secara konseptual, proses belajar jika dipandang dari pendekatan kognitif, bukan sebagai perolehan informasi yang berlangsung satu arah dari luar ke dalam diri siswa, melainkan sebagai pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya melalui prosesnya asimilasi dan akomodasi yang bermuara pada pemutahkiran struktur kognitifnya. Kegiatan belajar lebih dipandang dari segi prosesnya dari pada segi perolehan pangetahuan dari fakta-fakta yang terlepas-lepas. Pemberian makna terhadap objek dan pengalaman oleh individu tersebut tidak dilakukan secara sendiri-sendiri oleh siswa, melainkan melalui interaksi dalam jaringan sosial, yang unik yang terbentuk baik dalam budaya kelas maupun di luar kelas. Oleh sebab itu pengelolaan siswa dalam memperolah gagasannya, buksn semata-mata pada pengelolaan siswa dan lingkungan belajarnya bahkan pada unjuk kerja atau prestasi belajarnya yang dikaitkan dengan sistem penghargaan dari luar seperti nilai, ijasah, dan sebagainya.

      2. Peran Siswa (Si-Belajar)
Menurut pandangan kontruktivistik, belajar merupakan suatu proses pembentukan pengetahuan. Pembentukan ini harus dilakukan oleh si belajar. Ia harus aktif melakukan kegiatan, aktif berpikir, menyusun konsep dan memberi makna tentang hal-hal yang sedang dipelajari. Guru memang dapat dan harus mengambil prakarsa unntuk manata lingkungan yang memberi peluang optimal bagian terjadinya belajar. Namun yang akhirnya paling menentukan terwujudnya gejala belajar adalah niat belajar siswa sendiri. Dengan istilah lain, dapat dikatakan bahwa hakekatnya kendala belajar sepenuhnya ada pada siswa.

Paradigma lonstruktivistik memandang siswa sebagai pribadi yang sudah memiliki kemampuan awal sebelum mempelajari sesuatu. Kemampuan awal tersebut akan menjadi dasar dalam mengkonstruksi pengetahuan yang baru. Oeh karena itu meskipun kemamuan awal tersebut masih sangat sederhana atau tidak sesuai dengan pendapat guru, sebaiknya diterima dan dijadikan dasar pembelajaran dan pembimbingan.

      3. Peranan Guru
     Dalam belajar kostruksi guru atau pendidik berpean membantu agar proses pengkonstruksian pengetahuan oleh siswa untuk membentuk pengetahuaanya sendiri. Guru dituntut untuk lebih memahami jalan pikiran atau cara pandang siswa dalam belajar. Guru tidak dapat mengklaim bahwa satu-sarunya cara yang tepat adalah yang sama dan sesuai dengan kemampuannya. Guru dapat memberi siswa anak tangga yang membawa siswa kepemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan siswa sendiri yang harus memanjatnya. 

           Peranan guru dalam interaksi pendidikan adala pengendali, yang meliputi;
1) Menumbuhkan kamandirian dengan menyediakan kesempatan untuk mengambil keputusan dan bertindak.
2) Menumbuhkan kemampuan mengambil keputusan dan bertindak dengan meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan siswa.
3) Menyediakan sistem dukungan yang memberikan kemudahan elajar agar siswa mempunyai peluang optimal untuk latihan.

Sarana belajar. Pendekatan konstruktivistik menekankan bahwa peranan utama dala kegiatan belajar adalah aktiitas siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Segala sesuatu seperti bahan, media, peralatan, lingkungan dan fasilitas lainnya.

      4. Sarana belajar
Pendekatan ini menekankan bahwa peranan utama dalam kegiatan belajar adalah aktifitas siswa dalam mengkontruksi pengetahuannya sendiri. Segala sesuatu seperti bahan, media, peralatan, lingkungan, dan fasilitas lainnya disediakan untuk membantu pembentukan tersebut. Siwa di beri kebebasan untuk mengungkapkan pendapat dan pemikiranya tentang sesuatu yang di hadapinya.  Untuk menyampaikan pengalaman yaitu menyajikan bahan kepada murid-murid yang sekiranya tidak mereka peroleh dari pengalaman langsung. Ini dapat di lakukan dengan melalui film, TV, rekaman suara, dan lain-lain. Hal ini merupakan pengganti pengalaman yang langsung. 

      5. Evaluasi
     Pandangan konstruktivistik mengemukakan bahwa lingkungan belajar sangat mendukung munculnya berbagai pandangan dan interpretasi terhadap realitas, kontruksi pengetahuan, serta aktifitas-aktifitas lain yang didasarkan pada pengalaman.

C. Perbandingan Pembelajaran Tradisional dan Pembelajaran Konstruktivistik

      Proses pembelajaran akan efektif jika di ketahui inti kegiatan belajar yang sesungguhnya. Pada bagian ini akan di bahas ciri-ciri pembelajaran tradisional dan ciri-ciri pembelajaran konstruktifistik.

      Kegiatan pembelajaran yang selama ini berlangsung, yang berpijak pada teori behahioristik banyak di dominasi oleh guru. Guru menyampaikan materi pelajaran melalui ceramah, dengan harapan siswa dapat memahaminya dan memberikan respon sesuai materi yang di ceramahkan. Dalam pembelajaran, guru banyak menggantungkan pada buku teks. Materi yang disampaikan sesuai dengan urutan isi buku teks.           

      Berbeda dengan bentuk pembelajaran di atas, pembelajaran konstruktifistik membantu siswa menginternalisasi dan mentransformasi informasi baru. Tranformasi terjadi dengan menghasilkan pengetahuan baru yang selanjutnya akan membentuk struktur kognitif baru. Pendekatan konstruktifistik lebih luas dan sukar untuk di fahami. Pandangan ini tidak melihat pada apa yang di ungkapkan kembali atau apa yang dapat di ulang oleh siswa terhadap pelajaran yang telah diajarkan dengan cara menjawab soal-soal tes (sebagai perilaku imitasi), melainkan pada apa yang dapat di hasilkan siswa, di demonstrasikan, dan di tunjukanya.
     
D. Kelebihan dan Kekurangan Teori Konstruktivistik
     Dalam suatu proses pembelajaran pasti di pengaruhi oleh situasi dan kondisi yang mendukung, begitu juga degan teori ini juga mempunyai kekurangan dan kelebihan, yaitu: 

1. Kelebihan
•    Berfikir: dalam proses membina pengetahuan baru, murid berfikir untuk menyelesaikan masalah, mencari idea dan membuat keputusan.
•    Faham : Oleh kerana murid terlibat secara langsung dalam mebina pengetahuan baru, mereka akan lebih faham dan boleh mengaplikasikannya dalam kehidupan.
•    Ingat : Oleh kerana murid terlibat secara langsung dengan aktif, mereka akan ingat lebih lama semua konsep. Yakin Murid melalui pendekatan ini membina sendiri kefahaman mereka. Justru mereka lebih yakin menghadapi dan menyelesaikan masalah dalam situasi baru.
•    Kemahiran sosial: Kemahiran sosial diperoleh apabila siswa berinteraksi dengan teman dan guru dalam membina pengetahuan baru.
•    Semangat : Oleh kerena mereka terlibat secara terus, mereka faham, ingat, yakin dan berinteraksi dengan sehat, maka mereka akan timbul semangat belajar dalam membina pengetahuan baru.

2. Kelemahan
•    Siswa mengkonstruksi pengetahuannya sendiri, tidak jarang bahwa hasil konstruksi siswa tidak cocok dengan hasil konstruksi sesuai dengan kaidah ilmu pengetahuan sehingga menyebabkan miskonsepsi,
•    Konstruktivisme menanamkan agar siswa membangun pengetahuannya sendiri, hal ini pasti membutuhkan waktu yang lama dan setiap siswa memerlukan penanganan yang berbeda-beda,
•    Situasi dan kondisi tiap sekolah tidak sama, karena tidak semua sekolah memiliki sarana prasarana yang dapat membantu keaktifan dan kreatifitas siswa, dan yang kebih penting lagi, dan
•    meskipun guru hanya menjadi pemotivasi dan memediasi jalannya proses belajar, tetapi guru disamping memiliki kompetensi dibidang itu harus memiliki perilaku yang elegan dan arif sebagai spirit bagi anak sehingga dibutuhkan pengajaran yang sesungguhnya mengapresiasi nilai-nilai kemanusiaan.

Kesimpulan


        Teori Belajar Konstruktivistik adalah pembelajaran yang lebih menekankan pada proses dan kebebasan dalam menggali pengetahuan serta upaya dalam mengkonstruksi pengalaman.

        Proses belajar jika dipandang dari pendekatan kognitif, bukan sebagai perolehan informasi yang berlangsung satu arah dari luar ke dalam diri siswa, melainkan sebagai pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya melalui prosesnya asimilasi dan akomodasi yang bermuara pada pemutahkiran struktur kognitifnya.

        Kegiatan pembelajaran yang selama ini berlangsung, yang berpijak pada teori behavioristik banyak di dominasi oleh guru. Guru menyampaikan materi pelajaran melalui ceramah, dengan harapan siswa dapat memahaminya dan memberikan respon sesuai materi yang di ceramahkan.Pembelajaran konstruktifistik membantu siswa menginternalisasi dan mentransformasi informasi baru. Tranformasi terjadi dengan menghasilkan pengetahuan baru yang selanjutnya akan membentuk struktur kognitif baru.

         Kelebihan teori konstruktivistik adalah berfikir, faham, ingat, kemahiran sosial semangat. Dan kekuranganya adalah dalam proses belajarnya dimana peran guru sebagai pendidik itu sepertinya kurang begitu mendukung.


DAFTAR PUSTAKA

Budiningsih  C. Asri, 2005, Belajar dan Pembelajaran, Rineka Cipta, Jakarta.

Nasution, 2006, Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar,  PT Bumi Aksara, Jakarta.

Trianto, 2010, Model Pembelajaran Terpadu, PT Bumi Aksatah, Jakarta.

Nadia, 2009, Teori Konstruktivistik,  dalam: http://duadania.blogspot.com/2009/05/teori-konstruktivistik.html.

Suwarna, M.Pd.,dkk, 2005, Pengajaran Mikro, Pendekatan Praktis Dalam Menyiapkan Pendidik Profesional, Tiara Wacana, Yokyakarta.

Hadi Samsul, Teori Konstruktivis Dalam Pembelajaran, dalam blog.tp.ac.id/wp.../2791c527b072f8131b531417280ca114.doc.

Anggai Sajarwo, Teori Belajar Konstruktivistik, dalam http://sajarwo87.wordpress.com/2012/02/27/teori-belajar-konstruktivistik-dan-penerapannya-dalam-pembelajaran/
 

Gambar:   mtsnslawi.wordpress.com
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA

Judul : Teori Belajar Konstruktivistik
Ditulis Oleh : ridwan yahya
Rating Blog : 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke http://suratanmakna.blogspot.com/2012/02/teori-belajar-konstruktivistik.html. Sekali lagi terima kasih sudah singgah membaca artikel ini. ^_^

0 Comment/s: